Rahasia Berani Meniti Bahaya

Posted: 4 Januari 2011 in Catatan Harian

Seorang nelayan tua di bilangan Kecamatan Mariso Kota Makassar, juga ikut begadang pada malam pergantian tahun 2010-2011. Hingga sekitar pukul tiga subuh, ia masih terlihat berbincang di sebuah teras rumah dengan beberapa lelaki berusia di atas 30 tahun yang sehari-hari disapa dengan panggilan sebagai anak. Mereka serius berbicara berganti-ganti topik, sembari sesekali menengok kembang api yang masih saja terlihat menghamburkan kilatan aneka cahaya di langit arah utara dan timur Kota Makassar.
Salah satu perbincangan menarik dari lelaki yang telah berusia hampir 70 tahun tersebut, menyangkut pengalamannya selama berpuluh tahun sebagai nelayan penangkap ikan di perairan Selat Makassar. Pada tahun 70-an, ceritanya, sebagian besar nelayan di pesisir pantai Kota Makassar masih memakai perahu layar menuju tempat pencarian ikan di laut lepas sekitar pulau-pulau yang ada di depan pelabuhan laut Makassar.
Dia mengaku mencari ikan dengan cara memancing dan menjaring sampai ke Pulau Lakkang yang berjarak sekitar 8 mil dari pantai Kota Makassar. Pekerjaan yang ditekuninya tersebut, dilakukan meskipun masuk musim barat dengan curah hujan yang tinggi, berangin kencang dan gelombang laut yang besar.
Setiap akhir tahun – bulan Desember, bersamaan dengan musim barat, akunya, hanya satu-dua nelayan yang berani melaut, Termsauk dirinya. Dengan menyiasati waktu saat jedah hujan, dia tetap turun melaut. Dia menyatakan tidak takut, jika dalam perjalanan melaut kemudian harus bertemu ombak besar, hujan atau angin kencang yang sering diiringi halilintar.
Nyalinya cukup kuat melaut menantang bahaya di musim buruk seperti itu. Percaya atau tidak, katanya, bahaya apapun yang akan dihadapi jika manusia masih memiliki sedikitnya tiga tanda di tubuhnya, dia akan tetap selamat melewatinya. ‘’Insya Allah, tenapa ni mate’’ Katanya dalam dialeg Makassar yang berarti ‘‘Insya Allah, kita belum mati’’ jika masih memiliki ketiga tanda tersebut.
Tanda-tanda itu diungkapkan, pertama, apabila masih terdengar seperti ada suara api bergemuruh ketika menutup rapat kedua lubang daun telinga dengan kedua telapak tangan. Kedua, masih ada kilatan cahaya terlihat dari kedua kelopak mata yang ditekan bergantian dengan ujung jari telunjuk. Ketiga, masih ada rasa geli ketika disentuhkan lidah ke arah langit-langit dalam rongga mulut.
Ketiga tanda itu, sebutnya, tidak saja diperiksa pada tubuhnya saat akan melaut tapi juga dalam menghadapi suasana genting lainnya. Beberapa kali ia mendatangi tempat dimana orang bertikai, juga ke sejumlah tempat yang dianggap angker, tapi ia tetap tak gentar mendatanginya dan selamat tanpa ada kekurangan atau gangguan pada dirinya.
‘’Jika salah satu tanda di tubuh itu tak ada, lebih baik jangan meninggalkan rumah. Begitu pesan kakek,’’ katanya. Sembari menceritakan, dirinya pernah memaksakan melaut padahal tidak merasa ada kegelian ketika menyentuhkan ujung lidah secara berulang ke langit-langit mulutnya. Hari itu perahunya terbalik dihantam gelombang sekitar Pulau Barrang Lompo.
Tanda –tanda yang diajarkan kakeknya tersebut, diyakininya dengan alasan merupakan bagian dari banyak sekali ilmu atau tanda-tanda keselamatan yang diberikan Tuhan yang belum diketahui manusia.
Sejak dulu sampai sekarang pelaut dari Sulawesi, katanya, selalu dapat terhindar dari sambaran petir di lautan karena menancapkan bulu-bulu ijuk di ujung tiang perahu atau kapalnya. Ijuk diyakini sebagai penangkal petir atau badai lantaran sejak dulu rumpunan pohon enau penghasil ijuk sekalipun tingginya sampai berpuluh meter tapi tak pernah ada yang tersambar petir. ‘’Kenapa bisa begitu, ini juga merupakan pemberian Tuhan seperti ketiga tanda selamat di tubuh manusia tadi,’’ katanya.
Percaya atau tidak? Si Nelayan tampak bercerita tentang pengalamannya tersebut dengan sangat meyakinkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s