Melawan ‘Manusia Binatang’ di Sekeliling Kita

Posted: 25 Oktober 2011 in Opini
Tag:, , , , , , , ,

Manusia berwajah binatang

ilustrasi:google

Notes 1 – Binatang adalah mahluk tak berakal. Kalimat ini tentu saja menyalahi logika bahasa. Lantaran yang namanya binatang sejak dulu dari sononya memang tidak punya akal. Akal, itulah pembeda paling nyata antara manusia dengan binatang. Binatang lebih banyak hidup dengan mengandalkan insting. Justru orang-orang yang tak menggunakan akal sehatnya, sejak dulu sering diumpat dengan kata ‘Manusia Binatang.’
Manusia yang dengan sadar sengaja mengambil atau memakan hak orang lain, misalnya, dalam bahasa kehidupan sering disebut sebagai pencopet, pencuri, jambret, perampok, rompak, ataupun koruptor. Mereka punya akal tapi tidak berfungsi sebagai akal normal manusia, sehingga juga otomatis menjadi semacam binatang yang hidup tanpa memahami apalagi mematuhi norma-norma, etika, aturan, adat, tradisi, dan budaya.
Lapangan rumput yang terhampar hijau tidak akan pernah dipertanyakan yang namanya binatang, apakah rumput yang tumbuh di halaman istana negara, kantor eksekutif, legislatif atau yudikatif, markas besar tentara atau polisi, halaman kampus, rumah ibadah, rumah jabatan atau rumah-rumah pribadi pejabat, atau di lapangan-lapangan desa bukan tumbuh liar tapi merupakan rumput peliharaan. Serta-merta rumput itu pasti akan diembat habis oleh kawanan sapi, kerbau atau kambing yang dilepas di tempat tersebut.
Sambil memakan rumput milik siapa saja, kawanan binatang seperti itu pun biasanya melengkapi pesta poranya dengan tabiat kebinatangannya saling adu kuat atau saling embat antara jantan dan betina. Tanpa mengenal aturan atau larangan untuk tidak melakukan persebadanan di alam terbuka, maupun larangan antara yang berstatus sebagai ayah dengan, ibu dengan anak, saudara adik dan kakak atau dengan kelompok lain.
Rasanya, sudah bisa dipahami siapa saja manusia di sekeliling kita yang dapat dikategorikan berperangai binatang seperti itu.

Notes 2 – Sekejam-kejamnya harimau tidak akan mencakar muka atau memakan anaknya-anaknya sendiri. Kenyataan dalam dunia kebinatangan yang tak memiliki akal seperti itu, mengingatkan kita betapa lebih kejamnya para aparat koruptor di negeri ini dibandingkan dengan binatang sesungguhnya.
Betapa tidak, mereka yang dipilih sebagai wakil rakyat atau diangkat menjadi aparat semua digaji dan difasilitasi negara yang menggunakan uang hak rakyat. Jika kemudian melakukan perbuatan korup, sama artinya mereka juga tega untuk menghancurkan atau memakan induknya sendiri demi kenikmatan, kesenangan atau keuntungan bagi pribadi-pribadi atau kelompoknya.
Dipastikan suatu negeri hanya menunggu waktu kehancuran jika manusia berperangai binatang dibiarkan bebas berkeliaran mengurus rakyat, pemerintahan atau urusan kenegaraan.
Membiarkan kehadiran manusia-manusia berperangai binatang secara sendiri-sendiri atau kelompok, sama artinya memberi ruang agar situasi dan kondisi selalu kacau-balau. Membiarkan yang kuat untuk memangsa yang lemah. Apalagi telah terbaca dari perangai-perangai Manusia Binatang, tak hanya lihai mengembat uang tunai atau barang berharga bukan miliknya, namun juga punya kemampuan memangsa sekalipun terhadap binatang buas yang sesungguhnya.
Notes 3 – ‘’Buttikaleleee…buttikalelee….buttikalelee…’’ Saya teringat dengan kata-kata yang sampai sekarang tidak saya ketahui artinya tersebut. Ramai terdengar dinyanyikan kelompok anak-anak saat malam-malam gelap kurun 25 tahun lalu di sepanjang kaki Bukit Nipanipa, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
Ketika kata-kata itu didendangkan berulang, anak-anak terlihat saling berhadapan untuk saling menghitung jumlah kunang-kunang yang terbang dari sepanjang kaki bukit yang kelam menuju ke atas kepala masing-masing anak yang bernyanyi: ‘’……buttikalele….buttikalele….’’
Sampai sekarang saya tidak tahu apakah kata buttikalele yang dilantunkan berulang itu merupakan salah satu dari bahasa binatang. Pastinya, menghadapi keganasan manusia berperangai binatang sudah banyak bukti tak bisa diredam apalagi dimusnahkan hanya dengan senjata kata-kata. Mereka adalah ujud binatang yang paling pandai bersilat lidah.
Notes 4 – Tatkala penggalian parit sekeliling ladang dan pagar batu tak mampu lagi membendung keganasan hama babi hutan. Para peladang yang hampir putus asa di wilayah Andonohu, arah selatan Kota Kendari, kemudian mendapat ide membentang jaring ikan di antara pepohonan yang ada di hutan-hutan sekitar ladang tempat berkembang-biaknya hama babi tersebut.
Satu per satu babi hutan dapat terjebak dalam jaring yang tadinya hanya dimanfaatkan menjaring ikan di laut dan sungai-sungai. Dan, ketika para peladang bersatu menyisir lokasi, membawa pentungan, tombak, dan senjata tajam lainnya. Lalu mereka ramai-ramai mengetuk kentongan, babi-babi hutan yang biasa hanya beroperasi malam hari justru berhamburan keluar sarang siang hari. Jika tak terperangkap jaring yang ditebar, akan tertangkap oleh peladang secara manual. Cerita tentang hama babi hutan perusak ladang di Andonohu lalu berakhir, sirna.
Pasang jaring lalu kerahkan kekuatan rakyat ! Metode basmi hama babi hutan di Andonohu tersebut, mungkin dapat dikembangkan untuk mematikan sepak terjang manusia-manusia berperangai binatang sebelum seluruh ruang kehidupan dan pemerintahan negeri ini berada dalam kendali mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s