Bantaeng 757 Tahun, Membuka Kembali Gerbang Kejayaan

Posted: 13 Desember 2011 in News
Tag:, , , ,

Bupati Bantaeng HM.Nurdin Abdullah melihat hasil-hasil bumi rakyatnya/Foto:Istimewa

Memperingati Hari Jadi ke-757, 7 Desember 2011, Kabupaten Bantaeng semakin ramai diperbincangkan di berbagai forum maupun pertermuan-pertemuan berskala regional dan nasional sebagai salah satu daerah sukses di selatan Sulawesi Selatan, dalam pelaksanaan pembangunan, pemerintahan, dan urusan-urusan kemasyarakatannya.

Bahkan untuk kajian berskala internasional, pihak Bank Dunia terlihat memberikan perhatian khusus mengenai Kabupaten Bantaeng yang Anggaran Pedapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta Pendapatan Asli Daerah (PAD)-nya masih terbilang kecil, namun mampu memenuhi kebutuhan pembangunan, urusan pemerintahan dan kemasyarakatan di daerahnya.

Lembaga keuangan dunia tersebut, telah beberapa kali mengundang Bupati Bantaeng HM. Nurdin Abdullah melakukan ekspos untuk mengetahui rahasia kemampuan Kabupaten Bantaeng mengelola pemerintahan, pembangunan dan urusan kemasyarakatan dengan dana yang terbatas.

Bupati Bantaeng HM.Nurdin Abdullah ketika mengikuti panen jagung/Foto:Istimewa

Bayangkan, Kabupaten Bantaeng yang luasnya sekitar 395 km2 dengan penduduk saat ini lebih dari 176 ribu jiwa, sampai dengan tahun 2010 kemarin hanya memiliki isi pundi PAD sebanyak Rp 16,4 miliar dari APBD sekitar Rp 371,5 miliar.

Salah satu indikator keberhasilan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Bantaeng di tangan kepemimpinan Bupati Nurdin Abdullah selama tiga tahun terakhir (2008 – 2011), dapat dilihat dari angka kenaikan pendapatan perkapita dari Rp 5,2 menjadi Rp 10,3 juta. Suatu lonjakan yang luar biasa. Kenaikan inkam menghampiri 100 persen dalam kurun yang terbilang relatif singkat.

Inkam perkapita masyarakat Kabupaten Bantaeng ini merupakan yang tertinggi di antara 6 kabupaten berada di wilayah selatan Sulawesi Selatan.

Adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi serta peningkatan inkam masyarakat seperti itu, menurut Sekretaris Kabupaten Bantaeng, Drs.H.Muhammad Yasin,MT, dapat menjadi pertanda bahwa paket-paket kebijakan pembangunan, pemerintahan dan urusan-urasan kemasyarakat yang dilaksanakan di daerah ini berjalan dalam koridor yang benar.

‘’Bahkan, sejumlah upaya yang dilakukan untuk peningkatan produksi serta dan sejumlah bidang lain yang pencapaiannya ditargetkan nanti tahun 2013, justru sudah dapat dicapai dalam tahun 2011 di Kabupaten Bantaeng,’’ katanya.

Dalam kesempatan perbincangan, Muhammad Yasin berulangkali menyatakan, keberhasilan memajukan suatu wilayah amat ditentukan oleh figur pemimpin wilayah yang mampu mengawal regulasi dan membentuk sistem sehingga semua dapat berjalan lancar. Dapat dilakukan masing-masing pihak yang mendapat amanah dan tanggung jawab tanpa harus semua tergantung dari kebijakan pimpinan wilayah.

‘’Pola dan model kepemimpinan seperti itu yang dalam tiga tahun terakhir ini mulai diterapkan dan dirasakan hasilnya di Kabupaten Bantaeng,’’ katanya.

 

Tiga Zona

            MenghadirkanThe New Bantaeng — Bantaeng Baru, sebagai wilayah maju di selatan Sulawesi Selatan dengan masyarakatnya yang sejahterah menjadi obsesi Nurdin Abdullah tatkala dipilih masyarakat menjadi Bupati Bantaeng periode 2008 – 2013. Kini, sudah mulai terujud melalui penjabaran dalam tiga zona pengembangan wilayah.

Ketiga zona tersebut ditetapkan berdasarkan karakteristik wilayah Kabupaten Bantaeng yang terdiri atas wilayah pesisir, dataran dan dataran tinggi. Wilayah pesisir yang panjangnya lebih dari 21 km dibatasi Laut Flores, ditetapkan sebagai Zona 1.

Kota Bantaeng, ibukota Kabupaten Bantaeng berada di Zona 1. Tak mengherankankan jika zona ini yang paling tampak terlihat sangat drastik perubahan serta kemajuan fisiknya dibandingkan dinamika kedua zona lainnya. Masalahnya, selain sebagai wilayah pusat pemerintahan, Kota Bantaeng dan sekitarnya setiap saat berupaya dilengkapi dengan berbagai utilitas dan fasiltas perkotaan.

Apalagi pengembangan wilayah Zona 1 ini fokusnya adalah sebagai kawasan pesisir dan wilayah perdagangan. Untuk pesisir yang dilintasi jalan negara poros Makassar – Bulukumba, pantai dan lautnya tak hanya dijadikan sebagai lahan nelayan penangkap ikan laut serta untuk pengembangan budidaya rumput laut. Tapi juga dikembangkan sebagai obyek wisata pantai, pelabuhan perikanan, dan pelabuhan kapal Samudera.

Kerjasama Pemkab Bantaeng dan Pemkab Karangasem, Bali membuka rute pelayaran, tak hanya sebatas membuka akses pemasaran hasil-hasil pertanian berupa sayur mayur, buah-buahan dan tanaman horti lainnya yang selama ini menjadi salah satu hasil terbanyak andalan masyarakat Bantaeng. Akan tetapi sekaligus membuka gerbang baru masuk keluarnya arus barang dan manusia di wilayah selatan Sulawesi Selatan. Termasuk potensial berkembang menjadi pintu masuk wisatawan dari Bali ke Bantaeng melintasi Taman Laut Nasional Taka Bonerate, Selayar.

Lantaran Kota Bantaeng berada di dalam Zona 1, tentu saja, sangat relevan dengan pengembangannya sebagai kawasan perniagaan. Pembangunan Pasar Lambocca yang merupakan salah satu contoh model pembangunan dan pengembangan Pasar Tradisional modern di Indonesia sedang dalam tahap perampungan di zona ini.

Hiruk pikuk pembangunan zona perniagaan berbaur dengan upaya membangun Kota Bantaeng, Kota Bersih peraih Piala Adipura kategori Kota Kecil tahun 2010. Ada pembangunan sebuah rumah sakit bertaraf internasional. Rencana pembangunan hotel berbintang. Pengembangan kawasan industri, termasuk sebagai lokasi kilang depo gas untuk 6 kabupaten di wilayah selatan Sulawesi Selatan.

Tak heran jika masuk Zona 1 sebagai zona pesisir dan perniagaan,  justru kesan yang terasa kuat seperti memasuki area pembangunan sebuah Kota Baru dengan kehadiran berbagai keragaman kebutuhan masyarakat perkotaan. Terdapat berbagai fasilitas olahraga, kolam renang, hotel, penginapan, rumah makan, layanan perbankan, tempat rekreasi, pusat pertokoaan, perumahan hingga Rusun. Tersedia layanan dasar, berupa sarana dan fasilitas telekomunikasi, listrik, air bersih, sarana dan fasilitas pendidikan, kesehatan, maupun keagamaan.

Pembangunan dan pelebaran jalan negara dengan kualitas hotmix yang melintas di Zona 1, menguatkan kesan Zona 1 sebagai zona pembangunan Kota ‘Multidimensi’ Bantaeng.           Zona 2, meliputi 7 dari 8 kecamatan di Kabupaten Bantaeng yang selama ini sudah menjadi sentra penghasil berbagai jenis tanaman pangan padi, perkebunan, buah-buahan, dan berbagai jenis tanaman horti dataran rendah. Dipush untuk pengembangan komoditas unggulan. Termasuk pengembangan tanaman talas di areal tersedia seluas sekitar 875 hektar.

Sedangkan Zona 3, meliputi wilayah dataran tinggi atau pegunungan antara 1300 – 1.500 dpl yang juga selama ini merupakan bagian dari wilayah penghasil sayur-mayur terbesar di Sulawesi Selatan. Selain dikembangkan dengan penguatan jaringan pasar, kelembagaan usaha, juga dilakukan diversifikasi usaha dengan pengembangan jenis tanaman baru seperti buah apel, strawberry, bunga crysan serta berbagai jenis bunga bernilai ekonomis lainnya.

Zona 3 yang memiliki berjuta pesona keindahan alam dan udara pegunungan yang sejuk inilah yang dikembangkan sebagai kawasan agrowisata Kabupaten Bantaeng. Wilayah yang bersisian dengan obyek wisata pegunungan Malino, Kabupaten Gowa ini merupakan tempat penghasil kentan terbesar di Sulawesi Selatan selevel dengan Kabupaten Enrekang. Hasilnya, selama ini mengisi pasar kebutuhan kentan di provinsi lain di kawasan timur Indonesia.

‘’Pengembangan potensi di daerah ini sebelum dibuatkan klaster dalam tiga zona pengembangan seperti sekarang, hasilnya tidak terfokus karena terjadi bias,’’ tandas Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bantaeng, Ir.H.Zainuddin Tahir, MSi.

Paling menarik dirasakan selama tiga tahun mengikuti irama kepemimpinan Bupati Bantaeng, HM.Nurdin Abdullah, menurut pamong senior di Kabupaten Bantaeng ini, adalah kecepatan pemikirannya. ‘’Membuat kita, pembantu dan staf-stafnya juga untuk senantiasa belajar menjadi visioner, membuat perencanaan pembangunan dari segi kemanfatan maupun hasil minimal dapat menguntungkan hingga 30 tahun ke depan,’’ katanya.

Bangun Desa

            Sekalipun Kabupaten Bantaeng  telah mengalami banyak kemajuan, keberhasilan, dan bahkan keunggulan di semua sektor, namun dalam rana perbincangan politik masih juga sering terdengar nada miring, menggunakan kacamata kuda melihat kondisi Butta Toa saat ini.

Masih sering ada nada sumbang menyatakan  rakyat di wilayah pedesaan Bantaeng kini memerlukan sentuhan pembangunan yang serius. Padahal selama ini fokus perhatian kebijakan pembangunan         di Kabupaten Bantaeng justru kea rah pengatan pembangunan, kehidupan dan ekonomi masyarakat pedesaan.

Bukti perhatian Pemkab Bantaeng membangun desa, menurut Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kabupaten Bantaeng, Ir.Meyriyani,MSi, antara lain dapat dilihat melalui hadirnya kebijakan pengembangan usaha ekonomi pedesaan melalui pembetukan Badan-badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Pemkab Bantaeng memberikan dana stimulans untuk Bumdes yang sudah terbentuk di 46 desa, masing-masing Rp 100 juta per Bumdes. Di samping adanya pemberian fasilitas lainnya.

Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah ketika melakukan panen di kebun apel Kecamatan Ulu Ere/Foto: Istimewa

Pemkab Bantaeng juga telah mem-back up hasil-hasil  komoditi petani ketika melimpah dan harga jualnya merosot dengan pemberlakukan resi gudang, dengan jaminan kerjasama perbankan hingga 70 persen dari nilai produk, hingga produk bisa dijual saat harga jual normal. Kebijakan ini membentengi petani dari jeratan bunga rentenir atau permainan kotor para tengkulak.

‘’Model pembangunan dan penguatan ekonomi masyarakat pedesaan seperti itu tak dijumpai di daerah lain. Pembangunan sarana jalan telah membuka akses kemudahan komunikasi hampir semua desa dengan wilayah pusat pemerintahan kecamatan hingga kabupaten di Bantaeng. Sistem pemerintahan desa yang kuat, profesional dan demokratis pun sudah terbangun baik. Lihat saja, jumlah Alokasi Dana Desa di Bantaeng sudah dapat bervariasi antara Rp 100 juta hingga Rp 300 juta setiap tahun, menandakan kehidupan masyarakat desa di daerah ini begitu dinamis untuk senatiasa bergerak maju,’’ katanya.

Ditetapkannya  pelaksanaan PNPM di Kabupaten Bantaeng sebagai Juara untuk tingkat Provinsi Sulawesi Selatan dalam tahun 2011 ini, menjawab pandangan kacamata kuda yang menyatakan desa-desa di Bantaeng masih kurang tersentuh pembangunan.

PNPM adalah proyek pembangunan infrastruktur desa yang dilaksanakan secara nasional. Program PNPM, perencanaannya, pelaksanaan serta pengawasannya dilakukan sendiri oleh masyarakat. Pemerintah hanya menyediakan pendanaan.

‘’Pelaksanaan PNPM di Kabupaten Bantaeng juga meraih juara II pendampingan tingkat Nasional. Ini juga bukti nyata jika semangat dan dinamika membangun masyarakat pedesaan di Kabupaten Bantaeng saat ini cukup tinggi,’’ jelas Meyriyani.

Dia punya kesan tersendiri terhadap kepemimpinan Bupati Nurdin Abdullah yang berwawasan gender. ‘’Selain sebagian dari dari jabatan sebagai penentu kebijakan di Bantaeng dipercayakan kepada wanita, sejak dua tahun ada kebijakan di Bantaeng yang namanya Musrembang Perempuan khusus untuk menampung aspirasi dari kalangan wanita,’’ katanya. Mahaji Noesa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s