Melukis Wajah Leluhur Tak Berpotret

Posted: 24 November 2012 in Potret

Melukis wajah manusia yang telah wafat berabad lamanya, manusia yang tak punya potret diri, itulah kini ditekuni oleh Bachtiar Hafid. Namun, alumni Akedemi Seni Rupa IKIP Yogyakarta (1970) tersebut tak mau disebut sebagai pelukis mistis.

‘’Saya dapat melakukan hal ini dalam kondisi normal-normal saja. Tuhan yang memberi saya sebuah kelebihan dapat melihat dengan mata supra, wajah orang-orang yang telah wafat  ratusan tahun lalu,’’ katanya ketika ditemui Independen, Senin (29/10) di sanggarnya, lantai I Bastion Mandarsyah, komplek Benteng Ujungpandang, Kota Makassar.

Sanggar yang ditempati sejak 1987 tersebut sekaligus menjadi ruang pameran karya lukis Bachtiar. Di antaranya, berupa lukisan para leluhur, sejumlah tokoh, raja dan pahlawan asal berbagai daerah kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan yang dalam masa hidupnya tidak memiliki potret diri. Termasuk terdapat sejumlah lukisan wajah Pahlawan Nasional Indonesia.

Dalam gedung buatan Belanda abad XVII dengan pintu-pintu masuk yang tingginya tak lebih semeter, saat ini dapat disaksikan lukisan Karaeng Galesong, Laksamana Speelman, Datuk Ribandang, Datuk Patimang, Datuk Ditiro, Raja Bone Arung Palakka, pahlawan nasional Sultan Hasanuddin, guru religi pahlawan nasional Syekh Yusuf, dan panglima perang kerajaan Bangka Belitung Batin Tikal.

Selain itu, terdapat lukisan berjenis model perahu Bugis-Makassar yang digunakan pada masa kerajaan tempo dulu. Terdapat lukisan bentuk Benteng Ujungpandang dari masa ke masa. Dari benteng abad XVI tatkala bangunan di dalamnya masih berbentuk rumah-rumah adat Bugis-Makassar, benteng abad XVII, abad XVIII, abad XIX, hingga benteng abad XX yang bangunan di dalamnya telah berarsitektur campuran Eropa, Portugis, dan Jepang. Juga ada lukisan Benteng Somba Opu abad XVII saat sebelum dihancurkan kolonialis Belanda.

Terdapat banyak sekali lukisan kaligrafi, dan sketsa-sketsa seni, budaya dan tradisi  Sulawesi Selatan dalam goresan hitam-putih gaya Bachtiar menghias dinding melengkungnya Bastion Mandasyah. Seperti sketsa warga Sulsel dahulu ketika berburu rusa (maddengngeng), pesta mattojang atau permainan berayun setinggi lebih 20 meter, pesta kawin, pesta panen padi (mappadendang), pakkacapi (permainan kecapi tradisional), ma’raga (sepak raga tradisional), dan banyak lagi sketsa adat, budaya dan tradisi Sulawesi Selatan yang justeru saat ini mulai jarang terlihat.

Banyak juga karya sketsa hitam putih yang dibuat berilustrasikan pesan-pesan leluhur asal Sulawesi Selatan menggunakan huruf Lontara plus Latin, dapat dibawa pulang sebagai souvenir oleh setiap pengunjung sanggar Bachtiar. Dalam setiap sketsa ukuran folio sudah disediakan ruang putih untuk mensketsa wajah pengunjung.

‘’Lima sampai sepuluh menit, sketsa wajah pemesan sudah dapat selesai dibuat di atas goresan pesan-pesan leluhur itu. Bayaran per sketsa, suka-suka sesuai kerelaan hati pengunjung mengisi ke kotak donasi,’’ kata Pak Tiar, panggilan akrab keseharian pelukis supranatural Bachtiar Hafid.

Salah satu dari tiga petak ruang pamernya, memajang lukisan para wali dan tokoh penyebar agama Islam dari berbagai nusantara. Di petak ini terpampang serial lukisan pahlawan nasional Pangeran Dipnegoro bersama isterinya. Suasana lukisan menggambarkan saat-saat ketika pangeran ditawan Belanda di salah satu ruang tahanan komplek Benteng Ujungpandang.

‘’Saya tidak tahu apa penyebabnya, selama ini sudah cukup banyak pengunjung yang kesurupan ketika berada di petak pamer lukisan Pangeran Diponegoro tersebut. Saya hanya melihat kejadian seperti itu, saya tidak tahu mau berbuat apa,’’ jelas Pak Tiar.

Lelaki kelahiran Kabupaten Pinrang tahun 1947 tersebut, berulangkali menyatakan sejak tahun 1990 ketika mulai diberikan Tuhan kemampuan menangkap rona wajah orang-orang yang telah wafat ratusan tahun lalu untuk kemudian menuangkan ke kanvas, tidak pernah melalui proses mistis.

Meski begitu, pengasuh acara untuk anak-anak ‘Mari Menggambar’ di TVRI Makassar (1976 -1980) mengakui, ketika pada tahun 1993 melukis tokoh ulama Syekh Yusuf asal Gowa, Sulsel, beberapa kali dalam tidurnya bermimpi ada orang yang datang memberitahu untuk melakukan ritual dengan menyajikan sesajen di depan kanvas sebelum menyelesaikan lukisan tersebut.

‘’Ajakan di alam tidur itu tak pernah saya lakukan. Justru sejak ada mimpi seperti itu saya lebih meningkatkan bacaan zikir setiap hari, seusai shalat,’’ ujar mantan dosen seni rupa (1976 -1987) di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) yang kini telah berubah menjadi Universitas Negeri Makassar (UNM) yang terlihat tak pernah lepas memegang tasbih saat melukis sekalipun.

Beberapa kali lukisan Syekh Yusuf karya Bachtiar Hafid dipajang memeriahkan pameran-pameran pembangunan yang dilaksanakan Departemen Penerangan masa Orde Baru di Sulawesi Selatan. Akan tetapi ketika Syekh Yusuf diusulkan dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional tahun 2005, justru bukan lukisan Pak Tiar yang ditampilkan.

‘’Untuk lukisan-lukisan tokoh atau pahlawan, kostumnya dapat diubah-ubah sesuai kebutuhan atau permintaan. Tapi dalam soal bentuk wajah, tidak ada kompromi dengan orang lain karena itu menjadi tanggung jawab saya pribadi di dunia sampai ke akkhirat,’’ katanya.

Sudah tiga lukisan Pak Tiar yang kini digunakan secara resmi. Yaitu, lukisan Raja Gowa ke-14 (1593 -1639), I Manngarangngi Daeng Manrabbia bergelar Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna, raja yang memaklumkan agama Islam sebagai agama resmi Kerjaaan Gowa-Tallo.  Lukisan tersebut telah resmi menjadi milik Senat Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin yang kemudian berubah menjadi Univesitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Makassar. Kemudian, lukisan La Maddukkelleng, pahlawan nasional asal Kabupaten Wajo, Sulsel, menjadi milik Pemkab Wajo, dan lukisan Raja Kutai ke-14, Sultan Aji Muhammad Idris, yang kini sedang diusulkan sebagai Pahlawan Nasional, menjadi milik Pemkab Kutai Kertanegara.

Banyak yang menantang saat dilakukan seminar penetapan karya lukis Sultan Alauddin. Pak Tiar cuma menyatakan itulah wajah yang muncul dalam penglihatan supranaturalnya. Dan, terdiam saat kemudian didatangkan seorang mursyid (cenayang) dari Mesir masuk ke ruang terdapat banyak lukisan tak berlabel, justru memilih lukisan Pak Tiar sebagai lukisan Sultan Alauddin.

Perlu Anda tahu, Bahtiar Hafid sudah lebih 20 tahun setiap hari bolak balik dari kediamannya (Benteng Somba Opu,Gowa) ke sanggarnya yang berjarak lebih 10 km di Benteng Ujungpandang (Fort Rotterdam). ‘’Terkadang jika keuangan seret saya harus pulang malam jalan kaki dari Benteng Ujungpandang ke Benteng Somba Opu,’’ katanya, lalu tertawa ngakak. Itulah lukisan nyata Sang Pelukis………(Mahaji Noesa) 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s