Memoles ‘Martabak’ Patompo

Posted: 24 November 2012 in Potret

Maju pesat ! Kata yang tepat menilai perkembangan fisik Kota Makassar dalam sepuluh tahun terakhir di tangan kepemimpinan Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin. Sekalipun kemajuan tersebut, masih memoles ‘martabak’ buatan periode Walikota H.M. Dg Patompo.

Bagi warga yang 5, apalagi 10 tahun lalu meninggalkan Kota Makassar, kemudian kini kembali ke ibukota Provinsi Sulawesi Selatan ini, dibalik decak kagumnya dipastikan akan kebingungan untuk menerobos kehadiran banyak wilayah baru.

Tak hanya lahan dataran setiap saat disesaki kehadiran pemukiman serta gedung baru untuk berbagai kegiatan usaha. Garis batas pantai arah barat kota sepanjang lebih 30 km berkembang jadi lokasi rekreasi, pemukiman serta lokasi perdagangan. Bahkan, kehadiran sekitar 700 kios tempat usaha di Karebosi Link, menjadi trend alternatif baru dikembangkan di Makassar untuk memanfaatkan ruang bawah tanah dalam keterbatasan lahan strategis di pusat perkotaan.

Lembaga program pembangunan internasional di bawah naungan PBB, United Nation Development Program (UNDP), memuji model pemanfaatan ruang bawah tanah seperti di Karebosi Link Makassar, tanpa mengganggu lingkungan serta rutinitas aktivitas di atasnya.

Sepuluh walikota paling inovatif dari Asia diundang bersama tim ahlinya dalam pertemuan UNDP, 29 – 31 Oktober 2012 di Bangkok, memberikan ‘Standing Applause’  kepada Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin ketika memaparkan berbagai model pembangunan perkotaan yang dilaksanakan di Makassar. Termasuk mengagumi model pemanfaatan ruang bawah tanah seperti di Karebosi Link.

Memandang viuew langit Makassar dari bentang-bentang jalan kota, saat ini pun sudah mulai tersekat-sekat dengan kehadiran banyak gedung menjulang 10 hingga lebih  20 lantai. Fisik Kota Makassar benar-benar telah berubah pesat beraroma metropolitan.

Seiring kemajuan tersebut, selama hampir 10 tahun terakhir kota ini menempati pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara kota-kota di Indonesia. Pertumbuhannya mencapai 9 persen saat pertumbuhan ekonomi nasional berkisar enam koma persen. Geliat usaha dan dinamika kehidupan di Makassar pun terbilang fantastis, karena dari keseluruhan nilai peredaran duit di 23 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, sekitar 40 persen berputar di Kota Makassar.

Tahun lalu, Walikota Ilham Arief Sirajuddin mengungkap, uang yang beredar di Kota Makassar setiap hari mencapai Rp 1 triliun. Sedangkan berdasarkan data Bank Indonesia (BI) wilayah I, sampai Juni 2012, tercatat warga Kota Makassar kelas menengah ke atas sudah punya kemampuan membelanjakan Rp 4 juta hingga Rp 5 juta sebulan setiap orang. Pendapatan per kapita warga Kota Makassar yang saat ini berjumlah sekitar 1,3 juta jiwa telah menembus angka Rp 35 juta.

Namun, dalam tataran teori, menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi Unhas, Madjid Sallatu, indikator keberhasilan dan pesatnya perkembangan suatu daerah tidak semata dilihat dari sisi kemajuan ekonomi. Akan tetapi, daerah dikatakan berhasil apabila kemajuan ekonominya seiring dengan keberhasilan antara fungsi-fungsi pemerintahan dan pembangunan.

Sedangkan menurut pakar hukum properti nasional, Erwin Kallo, pembangunan suatu kota masih belum dapat dikatakan berhasil apabila belum mampu menghadirkan fundamental of living — ruang kehidupan warga yang nyaman serta aman.

Nah…itu dia masalahnya. Kota Makassar hingga kini masih memiliki sekitar 10 persen dari 30 persen Ruang Terbuka Hijau (RTH) dari luas wilayah yang dipersyaratkan bagi sebuah kota. Justru selain udara kota masih bersuhu gerah, di musim hujan hampir sebagian besar jalan harus mengalami kebanjiran. Lantaran sistem drainase kota yang masih amburadul.

Produksi sampah warga setiap hari masih belum dapat diangkut secara keseluruhan akibat keterbatasan sarana dan tenaga.Banyak sampah bertumpuk menyebar bau berhari-hari di TPS baru dapat giliran diangkut.

Kondisi sama kocaknya terjadi dalam hal peruntukan lahan. Di sana-sini terlihat wilayah pemukiman justru dapat ditumbuhi hotel atau pusat perbelanjaan. Ruang yang didominasi perkantoran pun dapat dizinkan hadirnya tempat perbelanjaan. Perbengkelan banyak yang tumbuh di tengah wilayah pemukiman.

Kenyamanan warga kota setiap hari masih terusik dengan kemacetan lalu-lintas di hampir semua jalanan. Pada hari-hari kerja jalanan sepanjang 200 sampai 300 meter seringkali diterobos setelah antre berbilang jam lamanya. Berbagai analisa pemikiran dilontarkan banyak kalangan untuk mengurai kemacetan lalu-lintas yang terasa makin hari kian parah.

Namun ikhwal padatnya ruang publik Kota Makassar saat ini, menurut Aji Nugraha dari Forum Kajian Mulitimasalah ‘Biring Tamparang’, lebih banyak akibat Pemkot Makassar sesudah periode Walikota Patompo (1965 -1978), masih tetap menumpukkan aktivitas dalam Kota Lama. Pengembangan kota belum keluar dari wilayah ‘martabak’ yang dibuat Patompo. ‘’Akibatnya…ya…,ruang publik kota pasti akan padat, galau dan kacau. Karena saat kota masih berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa, Patompo sudah melakukan pengembangan kota. Sekarang penduduk kota telah 1,3 juta jiwa, bahkan siang hari sampai 1,5 juta jiwa, luas wilayah pergerakan masih tetap seperti dulu. Ya…kota pasti sumpek,’’ katanya.

Atas upaya walikota Patompo tahun 1971, wilayah Kota Makassar dapat diperluas dari 21 km2 menjadi 175 km2. Dengan mengambil 3 wilayah kecamatan di Kabupaten Maros untuk pengembangan di arah utara dan timur, serta 1 kecamatan di Kabupaten Gowa untuk pengembangan ke arah selatan Kota Makassar.

Seiring pertambahan wilayah yang sebagian besar berupa tanah kosong, Patompo mencanankan visi pengembangan Makassar sebagai Kota 5 Dimensi – Kota Pemerintahan, Niaga, Pendidikan, Budaya dan Pariwisata. Tahap awal dibuka akses jalan di utara yang kini menjadi jalan tol. Di timur kota, dibuka jalan AP Pettarani dan di selatan ada jalan lingkar Cendrawasih tembus ke arah utara Jl. Penghibur hingga Jl. Martadinata yang kini menjadi area Pelabuhan Peti Kemas.

Masih cukup luas wilayah Kota Makassar di luar wilayah jalan lingkar yang dibangun tersebut. Menurut wartawan senior anggota PWI Sulsel, H.Andi Syahrir Makkuradde, dalam suatu kesempatan dialog Patompo ketika masih menjabat Walikota, dia menyatakan membangun wilayah Makassar yang sudah dikembangkan dengan teori ‘Martabak’.  ‘’Maksudnya seperti kue martabak, dimana yang ditekan atau dipijat  di situ akan melebar,’’ jelas Andi Syahrir, mengenang.

Tapi yang terjadi, sampai sekarang masih tetap wilayah ‘Martabak’ Patompo yang dipoles dan dibanguni berbagai infrasturuktur. Tak terlihat ada pijatan baru. Di arah utara kota, wilayah Tallo masih lengang dari utilitas dan fasilitas perkotaan. Bahkan di arah selatan, wilayah Kelurahan Barombong, kondisinya sampai saat ini masih berantakan tak dijamah dengan pengaturan maupun penataan infrastruktur perkotaan. Suasana lingkungannya masih mengesankan suatu wilayah perkampungan.

Setelah peringatan Hari Jadi Kota Makassar ke-405, 9 Nopember 2012, Pemkot Makassar dipastikan masih harus kerja keras untuk mengembangkan ruang kota secara utuh sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi warganya. Apalagi hingga saat ini, dari analisa kebutuhan untuk pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur Kota Makassar dibutuhkan dana sekitar Rp 200 miliar setahun, sedangkan kemampuan APBD Kota Makassar baru mencapai Rp 80 miliar setahun. Lebih parah, karena Kota Makassar ternyata termasuk salah satu kota dari 275 daerah di Indonesia yang hingga kini belum memiliki Perda mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Ehemmm………Dirgahayu 405 Tahun Kota Makassar ! (Mahaji Noesa) 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s