Parkir Semrawut, Melanggar dan Bocor

Posted: 24 November 2012 in Opini
Tag:, , , , ,

IMG00055-20120928-1349

Tenda acara pun bebas dibangun di tengah jalan/Foto: Mahaji Noesa

Secara kasat mata dapat disaksikan, setiap hari terjadi pertambahan atau perluasan lahan-lahan parkir yang memanfaatkan badan jalan sebagai tempat parkir kendaraan sepeda motor (R2) maupun mobil (R4).

Tak hanya berlangsung di jalanan-jalanan protokol dengan lebar jalan lebih 6 meter. Tapi di ruas dengan lebar kurang 5 meter juga dijadikan sebagai lokasi perparkiran. Lebih parah lagi, karena di jalan sempit dua arah sekalipun juga dapat dijadikan lahan parkir.

Di Jl Kajao Lalido, Jl. Botolempangan, Jl. Sulawesi, Jl. Cenderawasih, Jl. Veteran, Jl. Sungai Saddang, Jl. Pelita, Jl. Gunung Latimojong, Jl Bulusaraung, Jl. Mesjid Raya, dan ratusan ruas jalan lainnya di Kota Makassar setiap hari, sebagian muka jalannya bebas digunakan sebagai tempat parkir R2 maupun R4.

Akibatnya, menimbulkan perlambatan laju pergerakan kendaraan. Bahkan menimbulkan kemacetan panjang dengan terjadinya pergerakan lambat pertemuan arus kendaraan terutama di persimpangan-persimpangan jalan.

Menurut pihak PD Parkir Makassar Raya, tahun 2011 mengelola sekitar 700 titik parkir, bertambah menjadi lebih 900 titik  tahun 2012. Sebagian besar titik parkir tersebut menggunakan badan jalan, karena hingga saat ini pihak PD Parkir Makassar Raya belum miliki satupun lahan dibangun khusus untuki parkir kendaraan R2 atau R4.

Jumlah tersebut belum terhitung banyak sekali titik parkir yang dikembangkan oleh kelompok-kelompok warga. Perparkiran di luar jangkauan pengawasan PD Parkir Makassar Raya tersebut, cenderung dalam praktiknya lebih serampangan lagi. Mereka tidak pusing menumpuk parkiran walaupun mendominasi penggunaan muka jalanan.

Contoh paling mencolok di Jl. Cenderawasih – sekitar Pasar Senggol Mattoanging. Setiap malam di sini terjadi kemacetan parah. Kendaraan antre sampai berbilang jam untuk menerobos jalanan tak lebih 400 meter, lantaran di sisi kanan kiri jalanan dijadikan sebagai lokasi parkir kendaraan pengunjung Pasar Senggol.

Tak terkendalinya muka jalanan dijadikan lahan parkir, pun dapat dilihat di lebih 20 titik yang dinyatakan pihak PD Parkir Makassar Raya sebagai lokasi tak boleh dijadikan lahan parkir. Seperti di Jl. A.Yani, Jl.AP Pettarani, Jl. Jend Sudirman, Jl. Ratulangi dll, tapi dalam kenyataan hingga saat ini tetap bebas dijadikan sebagai lahan parkir. Menariknya, karena juru parkir di lokasi tersebut banyak yang mengenakan seragam juru parkir PD Parkir Makassar Raya.

Pertambahan areal parkir menggunakan jalanan tersebut tak signifikan pertambahan ruas jalan maupun laju peningkatan jumlah kendaraan. Apalagi untuk pembuatan jalan baru, tidak selamanya ada setiap tahun. Anggaran untuk infrastruktur jalanan yang dialokasikan di APBD Kota Makassar tahun 2012 sebesar Rp 22 miliar lebih, misalnya. Keseluruhan hanya untuk pemeliharaan, perbaikan dan peningkatan muka jalanan yang sudah ada. Tak ada penambahan jalan baru.

Kondisinya lebih diperparah dengan laju pertambahan kendaraan bermotor sekitar 20 persen setiap tahun. Sekarang terdapat lebih 700 ribu unit kendaraan R2, dan sekitar 180 ribu unit R4 setiap hari melata di jalanan sepanjang sekitar 1.500 km di Kota Makassar.

Data tersebut memperjelas jika laju ekspansi perluasan titik parkir PD Parkir Makassar Raya, jelas mempersempit muka jalanan. Tahun 2011, hanya memiliki sekitar 700-an titik perparkiran. Jumlahnya meningkat tahun 2012 menjadi sekitar 900 titik parkir resmi dikelola PD Parkir Makassar Raya.

‘’Gimana tidak macet jika jalanan diperluas tapi lokasi parkir di muka jalan pun tetap dibiarkan diperluas, seperti yang terjadi sekarang di Jalan Pettarani,’’ kata Burhan, seorang karyawan swasta yang bermukim di Kawasan Panakkukang, Makassar.

Jl. AP Pettarani merupakan jalan lingkar tengah membentang sepanjang 3 km dari mulut Tol  Reformasi ke Jl Sultan Alauddin, sejak tahun lalu diperlebar dari 6 lajur menjadi 8 lajur. Namun jalan provinsi di tengah Kota Makassar yang telah dilebarkan dangan dana lebih Rp 17 miliar tersebut, saat ini tetap saja setiap hari macet panjang hingga berjam lamanya. Pasalnya, areal jalan tetap digunakan sebagai lokasi parkir, bahkan areanya lebih luas dibandingkan sebelum jalanan diperlebar.

Ikhwal jalanan maupun trotoar dijadikan lokasi parkir sebenarnya sudah lama disorot warga. Bahkan sudah sering diingatkan bahwa dalam Undang-undang No.22/2009 tentang Lalu Lintas Jalan secara tegas dinyatakan larangan menggunakan badan jalan maupun trotoar sebagai tempat parkir.

‘’Termasuk sudah berulangkali diingatkan melalui media massa, bahwa berdasarkan Undang-undang No.38/2004 dengan PP No.34 tahun 2006 tentang Jalan, tidak membenarkan penggunaan badan jalan sebagai tempat parkir. Pelanggarnya dapat dikenai sanksi pidana 18 bulan penjara atau denda Rp 1 miliar.  Tapi sampai sekarang semua seolah tidak ada yang mau peduli dengan aturan itu. Justru tidak jarang pelanggaran seperti itu, berlangsung nyata di sekitar kantor-kantor polisi,’’ kata Abd.Halim, anggota Forum Kajian Multimasalah ‘Biring Tamparang’ Makassar.

Tak hanya di Kota Makassar, pelanggaran undang-undang menggunakan badan jalan sebagai tempat parkir terjadi di hampir semua wilayah Indonesia. Ada yang menengarai, pelanggaran undang-undang jalan dan lalu lintas ini dapat terjadi secara nasional, lantaran terdapat ‘uang besar’ yang  beredar di sekitar lahan-lahan perparkiran tersebut.

PD Parkir Makassar Raya, dalam tahun 2012 menargetkan pendapatan sebanyak sekitar Rp 9 miliar, setelah tahun 2011 berhasil mencapai target yang ditetapkan Rp 7 miliar lebih. Saat ini ditetapkan tarif sekali parkir untuk R2 Rp 1.000 dan R4 Rp 2.000 Tapi, pihak Lembaga Sertifikasi Profesi Manajemen Keuangan menyebut, target pendapatan Rp 9 miliar dari lahan perparkiran Kota Makassar tersebut terlalu kecil.

Dalam hitungan mereka, dari potensi kendaraan R2 dan R4 di Kota Makassar saat ini, jika 40 persen saja melakukan sekali parkir sehari dalam 700-an titik parkir yang ada, maka seharusnya bisa diperoleh pendapatan sampai Rp 155 miliar setahun. Bocor? ‘’Dari hitung-hitungan kami, seharusnya pendapatan parkir di Kota Makassar bisa lebih besar dari apa yang ditargetkan selama ini,’’ kata Bastian Lubis, pimpinan Lembaga Sertifikasi Profesi dan Manajemen Keuangan tersebut. Nah….(Mahaji Noesa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s