Waduk Bilibli/Foto: ASY

Tak selang lama setelah terjadi bencana longsor Gunung Bawakaraeng, Maret 2004, tim Geologi dan Mitigasi Bencana dari Bandung mengeluarkan sejumlah peringatan. Antara lain menyatakan, bencana tersebut menyebabkan tertutupnya mata air Sungai Jeneberang yang menjadi sumber air andalan Waduk Bilibili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Akan tetapi, hingga saat ini pihak Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air (PSDA) Sulawesi Selatan maupun pihak Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan – Jeneberang (BBWSPJ) sebagai penanggungjawab Waduk Bilibili, sepertinya mengabaikan pemberitahuan mengenai tertutupnya mata air Sungai Jeneberang pascabencana longsor Gunung Bawakaraeng tahun 2004 tersebut.

Justru yang senantiasa terdengar ramai dalam perbincangan dari tahun ke tahun pascabencana, menyangkut hitung-hitungan kebutuhan dana untuk mengatasi pergerakan material longsoran Gunung Bawakaraeng yang akan dan sudah masuk mengendap ke Waduk Biblibili. Dengan alasan utama tersebut, miliar-miliar dana dari berbagai sumber terus dialirkan ke atas nama penyelamatan bendungan terbesar di Provinsi Sulawesi Selatan ini.

Padahal, menurut berbagai pihak, dengan telah tertutupnya mata air Sungai Jeneberang pascabencana longsor 2004, sesungguhnya sudah diperlukan upaya mencari alternatif pengganti Waduk Bilibili lantaran tidak lagi akan mampu mengemban fungsi-fungsinya. Apalagi untuk bertahan mencapai usia teknis selama 50 tahun sebagaimana design awalnya. Tanpa ada lagi mata air sebagai sumber air utama, cerita sebuah waduk sebenarnya sudah harus diakhiri.

Berlokasi sekitar 30 km di arah timur Kota Makassar. Bendungan Bilibili yang dibangun di wilayah Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa menggunakan pinjaman luar negeri sebesar Rp 780 miliar, dan mulai dioperasikan Agustus 1999.

Waduk yang dibuat dengan luas genangan 16,5 kimometer bujursangkar tersebut, awalnya memang dirancang memanfaatkan air dari Sungai Jeneberang dengan luas daerah pengaliran 384 km bujursangkar.Sungai ini berhulu di Gunung Bawakaraeng dengan elevasi 2.880 m dari atas permukaan laut, berjarak sekitar 75 km dari Waduk Bilili.

Justru waduk yang dibangun atas kerjasama pihak Japan International Coorperation Agency (JICA), dirancang sebagai bendungan multifungsi. Kehadiran bendungan ini telah diperhitungkan dapat mengairi persawahan sampai seluas 24.600 ha yang ada di Kabupaten Gowa, Kabupaten Takalar, dan Kota Makassar. Juga dapat digunakan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik tenaga air sampai 16,3 mega watt.

Sedangkan untuk penyediaan air baku bagi keperluan rumah tangga perkotaan dan industri di Kota Makassar, dan Kota Sungguminasa, ibukota Kabupaten Gowa, dalam rancangannya waduk mampu menyediakan hingga 3.300 liter/detik. Tahap awal sudah dimanfaatkan lebih dari 1.000 liter/detik melalui Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sombaopu.

Terdapat danau buatan di area bendung Bilibili seluas 1.650 ha untuk keperluan rekreasi/iwisata dan pengembangan ikan air tawar. Selain fungsi paling utama bendungan ini, sebagai pengendali banjir kiriman dari Sungai Jeneberang yang sebelumnya sering melanda seputar wilayah Daerah Aliran Sungai hingga Kota Makassar. Sapuan banjir dengan debit 2.200 meterkubik/detik, kini sudah mampu dikurangi hingga 1.200 meterkubik/detik dengan kehadiran Bendung Bilibili.

Namun pascabencana longsor 2004, hampir semua hitungan kemampuan teknis serta kemanfaatan bendungan mengalami pergeseran mundur atau berkurang. Akan tetapi, dari segi pembiayaan justru nilai kebutuhan mengalami peningkatan yang cukup besar dari tahun ke tahun.

Dalam hitungan yang telah dilakukan berbagai pihak, terdapat sekitar 300 juta meterkubik material runtuhan bencana longsor Gunung Bawakaraeng tahun 2004. Longsoran material berupa pasir, tanah, dan batu inilah yang ikut menutup sumber mata air Sungai Jeneberang. Material ini juga yang senantiasa ditakuti pada musim hujan akan mengalir sebagai banjir debris (bermuatan lumpur campur batu-batuan) masuk ke Waduk Bilibili yang cuma dirancang dengan daya tampung sedimen (volume dead sedimen ) sebesar 29 juta meterkubik.

Dalam hitungan normal, 3 Sabo Dam untuk menghabat percepatan terjadinya sedimentasi di waduk, dan 5 Sand Pocket sebagai penahan sedimen pasir masuk ke waduk yang dibangun tahun 2000, sudah cukup untuk mereduksi pergerakan sedimen tahunan ke Waduk Bilibili. Tetapi dengan bencana longsor 2004, terjadi land slide atau pergerakan tanah yang jumlahnya cukup besar di luar perhitungan.

Data terakhir dari PSDA Sulawesi Selatan, saat ini sudah terdapat sekitar 80 juta meterkubik sedimen — material yang mengendap di Waduk Bilibili. Itulah yang antara lain yang sering menyebabkan tingginya tingkat kekeruhan air dari Bendung Bilibili, dan membutuhkan biaya perjernihan yang cukup besar sebelum dialirkan untuk keperluan air baku. Tahun 2005 misalnya, tingkat kekeruhan pernah mencapai 125.000 NTU. Padahal dengan kekeruhan 7.000 NTU saja, disebut-sebut sudah melewati persyaratan ambang batas untuk diolah menjadi air baku.

Dengan overnya material endapan yang masuk ke Waduk Bilibili saat ini, maka sudah pasti akan menurunkan kapasitas tampung air yang gilirannya akan mempengaruhi suplai air baku maupun untuk kepentingan irigasi. Melalui pinjaman luar negeri (JIBIC) 2006 -2013, sebenarnya telah dialirkan dana sebesar 8.104 juta Yen untuk pembangunan berbagai fasilitas berkaitan dengan terjadinya penurunan fungsi-fungsi Waduk Bilibili pascabencana longsor 2004.

Sudah ada sinyal dari pihak Kepala Kantor PSDA Sulsel, Soeprapto Budisantoso, bahwa pemerintah pusat sudah menganggarkan dana sebesar Rp 80 miliar di tahun 2012 untuk pengerukan endapan sedimen yang ada di Waduk Bilibili. Inilah untuk pertama kalinya sebuah dredge atau kapal keruk dihadirkan di sebuah waduk yang terdapat di tengah lingkungan alam pegunungan.

Di antara aliran uang pinjaman luar negeri maupun APBN yang cukup besar digunakan atas nama penyelamatan Waduk Bilibili pascabencana 2004, banyak pihak pun mengingatkan, agar dilakukan pengawasan yang ketat. Termasuk pengawasan ketat terhadap pembuatan program yang benar-benar didanai untuk mengatasi masalah. Bukan membuat program sebagai siasat juga untuk memperoleh ‘jatah.’ Apalagi ditunjang kenyataan selama ini, Bendung Bilibili yang senantiasa mendapat aliran dana cukup besar pascabencana longsor 2004, setiap tahun menimbulkan masalah, debit airnya berkurang di musim kemarau dan meninggi tingkat kekeruhannya di musim penghujan.

Sering berbedanya ungkapan antara pihak PSDA Sulsel dengan pihak BBWSPJ selaku penanggungjawab mengenai jumlah endapan material di Waduk Biilibili maupun material yang masih mengancam mengalir masuk waduk, menimbulkan ‘kesan miring’ banyak pihak terhadap penanganan penyelamatan waduk. Lantaran besaran volume material endapan, sangat berkaitan dengan penentuan alokasi biaya yang harus digunakan.

Juli lalu, contohnya, Kepala BBWSPJ, Adang S Ahmad merilis data ke wartawan di Kota Makassar, bahwa jumlah material akibat bencana longsor Gunung Bawakaraeng 2004 hanya sebanyak 230 juta meterkubik, 90 juta meterkubik dapat ditahan di hulu dengan Sabo Dam, 80 juta meterkubik material tertahan di Sand Pocket, dan ada 60 juta meterkubik material masuk ke Waduk Bilibili. Sedangkan pihak PSDA Sulsel belum lama ini mengungkap bahwa sebenarnya ada sekitar 80 juta meterkubik material yang kini mengendap di Waduk Bilibili.

Suatu perbedaan ungkapan data yang mengindikasikan bahwa dalam waktu sekitar 3 bulan terdapat sekitar 20 juta meterkubik material mengalir masuk ke Bendung Bilibili. Jika hitungan itu benar, apabila tak segera diatasi maka hanya dalam waktu sekitar setahun lagi Bendungan Bilibili yang memiliki daya tampung efektif 346 juta meterkubik itu tak dapat lagi berfungsi, akan tertutup sedimen. Artinya, SOS Bendung Bilibili…. (Mahaji Noesa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s