Standing Aplause Musik Tradisi di 5 Benua

Posted: 28 November 2012 in Potret

Gambar

ABdi Bashit alias Cucut

Puluhan tahun sudah irama musik tradisi redup ditelan hingar-bingar hentakan musik modern. Namun Cucut, lebih 30 tahun mampu bertahan hidup memainkan irama tinggalan moyang Indonesia di Sulawesi Selatan. Dia bahkan sudah mengenalkan irama-irama lawas tersebut ke 5 benua.

Dari sisi irama, menurut putra kelahiran Soppeng, Sulawesi Selatan, 12 April 1961 yang nama lengkapnya Abdi Basit, musik-musik tradisi, apakah dalam jenis petik, tiup, gesek maupun tabuh semuanya pentatonis. Nadanya terbatas. Akan tetapi, jika mampu dikemas, dikolaborasi dengan irama-irama modern, dengan tetap menonjolkan irama tradisi akan sangat menarik.    

‘’Hal itu sudah saya buktikan setelah mendatangi 30 kota pada 17 negara di 5 benua memainkan musik tradisi, dan di semua tempat pertunjukkan warga dunia menyambut dengan penuh semangat,’’ jelas suami Nurmila tersebut.

Penerima Celebes Award dari Dewan Kesenian Daerah Provinsi Sulsel tahun 2002 mengungkap, saat memainkan musik tradisi di 4 kota di Rusia — Moskow, St Peterburg, Kazan, dan Vladimir beberapa waktu lalu, mendapat sambutan luar biasa. Selama dua jam pertunjukkan musik tradisi di masing-masing kota, penonton di sana tak henti-hentinya memberikan standing aplause.

‘’Itu artinya, musik tradisi kita cukup bagus. Terbukti, iramanya seperti jenis musik lainnya dapat dicerna sebagai bahasa universal yang disenangi warga macanegara. Sekarang, kesempatan dan upaya pengembangannya saja yang terbatas sehingga musik tradisi kita saat ini ibarat ditelan bumi di negeri sendiri,’’ katanya.

Alumni Fakultas Ekonomi, Unhas, 1988 ini termasuk salah satu dari 40 crew pemusik tradisi Indonesia yang dipakai oleh Sutradara Robert Wilson dari Lembaga Water Mill Centre New York, AS, untuk memperkuat pertunjukan internasioanl Teater Musik dan Tari I Lagaligo di  benua Asia, Australia, Amerika, dan Eropa dalam kurun 2004 – 2008.

Dia sangat memuji orang-orang Indonesia yang punya kepedulian untuk memberi kesempatan mengenalkan musik-musik tradisi di pentas nasional maupun internasional. ‘’Saya kagum dengan pribadi seperti Hamid Awaluddin yang selama menjadi Dubes Rusia, setiap kesempatan berupaya menampilkan pertunjukkan musik tradisi Indonesia di tempat tugasnya. Demikian terhadap Nurdin Abdullah. Bupati Bantaeng ini sejak masih menjalani studi tingkat doktoralnya di Jepang, senantiasa berupaya memanfaatkan kesempatan mengenalkan musik tradisi di negeri Sakura tersebut,’’ paparnya.

Dalam kondisi sekarang, berulangkali Cucut menyatakan, diperlukan tingkat kepedulian tinggi dari berbagai pihak untuk menumbuhkan kecintaan sekaligus pengembangan musik-musik tradisi Indonesia, jika tak ingin semuanya lalu hilang ditiup angin pergerakan zaman. Kecapi, jenis musik petik asal Sulsel contohnya, dulu menjadi irama merdu saat-saat malam purnama atau menanti panen padi di wilayah pedalaman. Kini, sudah jadi barang langka.

‘’Sudah banyak musik tradisi kita punah, mati tanpa kubur,’’ katanya sambil mengarah pandang ke angkasa lepas. Nelansa. Musik tradisi, nasibmu! (Mahaji Noesa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s