UMP Naik Jerit Berlanjut

Posted: 28 November 2012 in Potret

Gambar

Demo buruh tuntut kenaikan UMP di Kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) setiap tahun dijadikan standar bagi perusahaan menetapkan gaji pekerjanya, juga selalu beriring langkah para pengusaha menaikkan tarif penjualan produk-produknya. Harga-harga naik secara umum, dampaknya, kenaikan UMP sama halnya dikalikan nol dalam hitungan kenaikan pendapatan bagi pekerja sektor swasta.

Untuk wilayah Sulawesi Selatan, misalnya. Melalui Surat Keputusan (SK) Sulsel Nomor 2550/X/2012, telah ditetapkan kenaikan UMP Sulsel dari Rp 1,2 juta tahun 2012 menjadi Rp 1.440.000 juta tahun 2013. Atau mengalami kenaikan 20 persen. Namun keputusan yang dinyatakan mulai berlaku efektif per 1 Januari 2013 tersebut, serta merta disambut pihak pengusaha sebagai kebijakan yang memberatkan.

‘’Idealnya prosentase kenaikan UMP 2013 di Sulsel hanya sekitar 10 persen seperti tahun-tahun sebelumnya,’’ ujar Anggiat Sinaga, GM Grand Clarion Hotel & Convention Makassar. Sementara di lain sisi masih berhembus cerita lepas, ada kajian sejumlah pihak menginginkan kenaikan UMP 2013 di Sulsel di atas Rp 1,5 juta. Berdasarkan UMP 2013 Sulsel tersebut, Pemkot Makassar telah mengincar Upah Minimum Kota (UMK) 2013 bagi Kota Makassar sebesar Rp 1,5 juta, sama dengan UMP 2012 untuk Provinsi DKI Jakarta.

Penetapan UMP 2013 untuk Sulsel, memang, lebih rendah dibandingkan nilai UMP 2013 untuk wilayah Papua yang telah ditetapkan sebesar Rp 1,7 juta. Bahkan bedanya lebih jauh lagi jika dibandingkan tuntutan para buruh di Tangerang, Jawa Barat, untuk menaikkan UMP 2013 sampai Rp 2,8 juta dari nilai UMP 2012 sebesar Rp 1,5 juta.

Anggiat pesimis banyak pengusaha di Sulsel khususnya akan kewalahan untuk membayar upah pekerjanya menggunakan standar UMP 2013 sebesar Rp 1,4 juta. Tapi dalam aturannya, menurut Saggaf Saleh, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnaker) Sulsel, pengusaha yang tidak mampu mengikuti ketetapan UMP dapat memajukan permohonan penangguhan kepada gubernur untuk kemudian diadakan pengecekan.

Tapi Assegaf, maupun Latunreng yang Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulsel mengharapkan UMP 2013 untuk Sulsel dapat diterima oleh para pekerja serta dapat dilaksanakan oleh pengusaha. Alasannya, besaran UMP tersebut ditetapkan sesuai usulan dari Dewan Pengupahan Provinsi yang beranggotakan unsur dari pemerintah, pakar, asosiasi pengusaha, dan wakil serikat pekerja.

‘’Penetapan pun dilakukan setelah diadakan pengkajian berdasakan hitungan inflasi, pertumbuhan ekonomi, usaha marjinal, serta angka kebutuhan hidup layak tahun 2013,’’ jelas Latunreng.

Namun begitu, dalam hitungan Anggiat yang juga Ketua BPD Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel, tanpa diimbangi naiknya tingkat hunian hotel secara signifikan, tahun depan harus dilakukan penyesuaian dengan menaikkan tarif hotel antara 15 hingga 20 persen dari tarif sekarang. ‘’Hanya dengan begitu para pengusaha hotel dapat menjaga stabilitas dari sektor usaha perhotelan yang memerlukan biaya operasional cukup tinggi,’’ katanya.

Selain hotel dan restoran, sektor usaha lain dipastikan akan menaikkan nilai tarif penjualan dari berbagai hasil produksinya. Hal itu dilakukan guna mengimbangi naiknya pembayaran gaji terhadap para pekerja sesuai UMP. Apalagi penetapan standar Upah Minimum masing-masing Kabupaten/kota (UMK) sering lebih tinggi dari UMP. Di samping itu, dunia usaha secara keseluruhan tahun 2013 akan menghadapi penambahan cost operasional dengan akan diberlakukannya kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk sektor industri dan usaha, sekalipun kenaikan hanya berkisar 15 persen.

Tapi bagi Erna (21) tidak terusik dengan gonjang-ganjing kenaikan UMP. Tamatan SMA ini mengaku sudah tiga tahun bekerja sebagai karyawan sebuah toko di bilangan Rappocini, Makassar. ‘’Waktu pertama masuk diberi upah Rp 600 ribu sebulan, sekarang sudah naik menjadi Rp 800 ribu, bekerja melayani pembeli mulai dari pukul 8 pagi hingga pulang pukul 5 sore setiap hari kecuali hari libur,’’ jelasnya.

Arman (26) pekerja toko pakaian, Umar (30) pekerja toko bahan bangunan di Jl. Cendrawasih, Adora (19) pekerja di toko campuran Jl. Sultan Alauddin, Erni (20) pekerja toko di seputar Pasar Daya, dan sejumlah pekerja toko lainnya di berbagai tempat di kota Makassar kepada Independen Kamis (15/11) mengaku menerimah upah tidak sampai Rp 1 juta sebulan saat berlaku UMP Rp 1,2 juta tahun 2012.

Sedangkan Rin (25) yang sudah lebih 5 tahun berkerja di sebuah toko elektronik Jl.Bawakaraeng, Makassar, mengaku saat ini diupah Rp 1,5 juta sebulan. Hanya saja gaji sebesar itu masih pas-pasan untuk dipakai memenuhi kebutuhan hidup seorang diri sehari-hari selama sebulan. ‘’Soalnya, saya tidak bisa cari tambahan pendapatan lain, karena masuk pukul 8 pagi dan pulang nanti pukul 10 malam. Capek rasanya, tapi tidak belum ada pilihan kerjaan lain yang lebih enteng dan mendapat hasil yang lebih banyak,’’ katanya.

Selain banyak pengusaha yang tidak tahu, dan sengaja tidak menerapkan pengupahan berdasarkan ketentuan UMP berlaku. Dari sekitar 980 ribu pekerja bestatus buruh dan karyawan di Sulsel kebanyakan tidak paham dan pasra menerima upah di bawah UMP. Kenaikan UMP 2013 menjadi Rp 1,4 juta, dipastikan masih tidak punya pengaruh berarti dikaitkan perbaikan tingkat kesejahteraan hidup mereka. Bahkan pekerja akan lebih menjerit lagi dengan naiknya harga-harga barang kebutuhan pokok secara otomatis apabila dilakukan kenaikan TDL atau harga BBM untuk industri dan dunia usaha tahun 2013.

Bagi pekerja yang belum punya tempat hunian, jangan pernah bermimpi tahun depan dapat memperoleh kesempatan menyicil rumah melalui program penyediaan rumah murah dari pemerintah dengan mengandalkan pendapatan yang ditetapkan berdasarkan UMP 2013. Pasalnya, sekarang tidak ada lagi pemberiaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang dapat dicicil di bawah Rp 1 juta sebulan. Dan, tahun 2003 diperkirakan harga semua tipe rumah akan mengalami kenaikan 15 hingga 30 persen.

Nasibmu, para pekerja. Semua pihak masih mengamini, perbaikan kesejahteraan hidup banyak pekerja sektor swasta dengan kenaikan UMP 2013, masih jauh dari harapan. Saran mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla saat berbicara di sejumlah kampus beberapa di Makassar, bulan kemarin: ‘’Jika ingin bebas mengatur sendiri besar kecilnya pendapatan, jadilah wirausaha!’’ (Mahaji Noesa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s