Prajurit Pelestari Sejarah

Posted: 5 Desember 2012 in News
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Selain menjadi pelaku, prajurit juga ternyata mampu sebagai pelestari jejak sejarah yang apik. Hal itu terlihat dari sejumlah bangunan tinggalan lama yang kini dalam penguasaan prajurit TNI khususnya di Kota Makassar. Tak hanya dipelihara dari keasliannya, tapi bangunan-bangunan tua tersebut sampai kini masih difungsikan.

Bekas Markas Kodam XIV/Hasanuddin sebelum berintegrasi menjadi Kodam VII/Wirabuana meliputi seluruh teritorial Pulau Sulawesi di Jl. Wolter Mongisidi Kota Makassar, sebagai salah satu contoh. Bangunan peninggalan Belanda yang pada tahun 60-an juga pernah dijadikan markas Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dari tangan kolonial Belanda, kini bentuknya masih belum banyak berubah.

Bangunan bekas kantor sekaligus tempat kediaman mantan Presiden RI Soeharto saat menjadi Panglima Komando Mandala, kini difungsikan sebagai Kantor Markas POM Kodam VII/Wirabuana.

Beberapa orang tua di sekitar Kelurahan Maricaya mengakui, bentuk bangunan peninggalan Belanda tersebut, belum banyak berubah seperti ketika Jl. Mongisidi dahulu masih dinamai Jl. Clover Land. Bahkan kondisi bangunan saat ini disebut lebih segar.

Makassar yang telah bergeliat sebagai kota pelabuhan, kota niaga, dan kota pusat pemerintahan pada abad XVII, memiliki banyak bangunan peninggalan lama. Termasuk bangunan-bangunan berstatus eigendom verponding, lokasi dan bangunan Belanda yang ditinggalkan sejak pendudukan Jepang 1942 hingga diusirnya Tentara NICA bentukan Belanda dari Kota Makassar tahun 1947.

Dalam tangan kekuasaan kolonial — setelah Perjanjian Bungaya tahun 1667, Belanda mengembangkan Kota Makassar dalam radius sampai 20 km persegi dari Benteng Ujungpandang.

Tak heran sampai awal tahun 90-an masih banyak dijumpai lokasi eigendom verponding dalam bentuk kantor maupun rumah peninggalan tentara serta pejabat  Belanda di seputar Pantai Losari dan sekitarnya. Meliputi Jalan Amanna Gappa, Jl.Sultan Hasanudddin, Jl.Kajao Laliddo, Jl. Kenari, Jl. Kelapa, Jl. Sawerigading, Jl. Maipa, Jl. Datumuseng, Jl.Jend Sudirman, Jl.Ratulangi, Jl.Sungai Saddang, Jl. Mongisidi, Jl. Lanto Dg Pasewang, Jl.HA.Mappanyukki, Jl.Cendrawasih, Jl. Garuda, Jl. Rajawali hingga Jl Rajawali di arah selatan Kota Makassar.

Akan tetapi bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang ada di jalan-jalan tersebut kini sebagian besar telah berubah berganti bangunan baru. Banyak bangunan dipindah-tangankan serta alihfungsikan, dirombak untuk usaha komersial tanpa hirau dengan kandungan catatan penting sekaligus bukti sejarah di dalamnya.

Rumah Jabatan Wali Kota Makassar di Jl. Penghibur (Pantai Losari) merupakan salah satu peninggalan Belanda yang sampai kini belum banyak perubahan. Demikian halnya dengan bangunan rumah jabatan Gubernur Sulsel di Jl. Jend Sudirman, Gedung MULO di Jl. Ratulangi, gedung bagian depan Balai Kota Makassar di Jl. A.Yani, Kantor Pengadilan Negeri Makassar di Jl. Kartini, dan Gedung Dewan Kesenian Societeit de Harmonie di Jl. Riburane, masih merupakan bangunan peninggalan Belanda yang belum banyak berubah bentuk, kecuali dari segi fungsinya yang berbeda.

Bekas Kantor Wali Kota Makassar (Burgemester) pada jaman Belanda di Jl. Balai Kota, misalnya. Sekalipun dari segi bentuk dan konstruksinya belum banyak berubah, tapi fungsinya saat ini sudah menjadi Museum Kota Makassar.

Salah satu bangunan bekas  Esconto Bank berarsitektur khas Eropa abad pertengahan pada masa Belanda di utara kota sudah dirobohkan, seiring dengan penggusuran Jl. Martadinata yang dijadikan sebagai areal pelabuhan peti kemas.

Lainnya, kompleks penjara jaman Belanda (hoogepad) di utara lapangan Karebosi kini sudah lenyap berganti dengan pertokoan. Komplek penjara yang terkenal sel-selnya dengan julukan ‘kandang macan’ dahulu menjadi penjara bagi masyarakat sipil, termasuk para pejuang kemerdekaan di Sulsel. Pahlawan Nasional H.A.Mappanyukki pernah diinapkan di penjara tersebut.

Lokasi Freylingsplein kini bernama lapangan Gelora Hasanuddin yang diapit Jl. Jend Sudirman dan Jl. S.Tangka merupakan alun-alun lama, selain lapangan Karebosi yang masih tersisa saat ini di Kota Makassar. Di bawah pengelolaan prajurit Kodam VII/Wirabuana, lapangan yang luasnya hampir 2 ha tersebut tampak indah, hijau, bersih dan segar sebagai tempat jogging, lapangan sepakbola dan berbagai jenis olah raga lainnya. Termasuk untuk arena latihan olah raga panjat tebing dari para prajurit Kodam VII/Wirabuana.

Sesekali, lapangan yang sekelilingnya masih ditumbuhi banyak tanaman asam berusia ratusan tahun dijadikan sebagai lokasi pameran serta even-even bersifat massal. Anda tahu, di lapangan Gelora Hasanuddin ini pada 30 April 1945 para pejuang dan pemuda pergerakan di Sulawesi Selatan mengibarkan Bendera Merah Putih. Inilah lokasi bersejarah di Kota Makassar, tempat pengibaran sang dwi warna tersebut sebelum diproklamirkan Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.

Ada hal menarik jika kita ke Jl. Rajawali Kota Makassar sekarang. Di sana, selain masih terdapat Tangsi Kist (Kist Kampament) – penjara militer jaman Belanda yang kini masih dijadikan sebagai Instalasi Tahanan Militer Kodam VII/Wirabuana. Juga, sejumlah kantor dan asrama militer yang terdapat di sekitar Tangsi Kist tersebut seperti asrama Lompobattang, Kantor dan Asrama Batalyon Zeni Tempur 8/SMG, sebagian besar merupakann bangunan tinggalan lama yang tetap dipelihara dan dimanfaatkan oleh prajurit TNI Kodam VII/Wirabuana.

Tulisan: ‘’Kweeksschool voor inlandsche pelingen, Anno 1915’’ yang tetap dilestarikan di salah satu pintu gerbang Yon Zipur 8 Kodam VII/Wirabuana di Jl. Rajawali Kota Makassar, menguatkan bukti jika jajaran prajurit TNI sangat menghargai sekaligus memaknai jejak bersejarah sebelum kelahiran TNI di negeri ini. (Mahaji Noesa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s