Somba Opu: Kota Makassar Tempo Dulu

Posted: 9 Desember 2012 in Opini
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Gambar

Dinding Barat Benteng Somba Opu/Foto: Mahaji Noesa

Tak pernah ada kerajaan Makassar. Kerajaan Makassar hanya istilah para sejarawan untuk menyebut dua kerajaan bersahabat, yakni Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Justeru Sagimun Mulus Dumadi, penyusun buku ‘Sultan Hasanuddin’ serial ‘Mengenai Pahlawan-pahlawan Nasional’ (Bhratara Karya Aksara, Jakarta, 1983) dengan tegas menyatakan: ‘’Makassar bukanlah nama sebuah kerajaan, tapi nama suku bangsa.’’

Perkataan Makassar itu sendiri menurut Prof.Dr.Mattulada dalam ‘Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah’ (Bhakti Baru, Ujungpandang, 1982), sudah tertera dalam buku Negara Kertagama yang ditulis Prapanca tahun 1364. Sebutan Makassar dalam kitab Prapanca tersebut dimaksudkan sebagai nama salah satu negeri taklukan Kerajaan Majapahit di Pulau Sulawesi.

Namun, dimana tepatnya lokasi negeri Makassar seperti disebutkan dalam kitab terbitan abad XIV tersebut, tak ada keterangan yang jelas.

Sejarah tentang Kerajaan Gowa pun baru tercatat mulai awal abad XVI. Kala itu berkuasa Raja Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Mangutungi Tumapa’risi’ Kallonna. Sebelum itu, catatan tentang Kerajaan Gowa diistilahkan oleh Mattulada sebagai masa gelap.

Dalam masa kekuasaan Raja Gowa IX (1510 – 1546), dibangun Benteng Somba Opu. Benteng seluas 11 hektar lebih yang kini dijadikan sebagai obyek wisata sejarah dan budaya di delta muara Sungai Jeneberang – perbatasan Kabupaten Gowa dan Kotamadya Ujungpandang, di masa lampau merupakan ibukota Kerajaan Gowa.

Menurut catatan Dr.Anthony Raid, sejarawan dan peneliti dari Universitas Nasional Australia, antara tahun 1620 – 1660, ibukota Kerajaan Gowa tersebut tercatat sebagai salah satu dari 6 kota pelabuhan yang tergolong ramai di kawasan Asia Tenggara. Kota Somba Opu dan sekitarnya, kala itu dihuni sekitar 160.000 jiwa penduduk. Padahal dalam kurun yang sama kota Paris dan Napoli baru berpenduduk sekitar 100.000 jiwa.

PETA RAHASIA

Prjanjian Bungaya , 18 Nopember 1667 merupakan bagian dari taktik licik Belandqa untuk menancapkan kuku kekuasaannya di wilayah Kereajaan Gowa. Dalam perjanjian antara lain disebutkan, semua benteng pertahanan Gowa harus dihancurkan. Kecuali, Benteng Somba Opu untuk Sultan Hasanuddin, dan Benteng Ujungpandang untuk pihak Belanda.

Somba Opu sebagai benteng induk Kerajaan Gowa, dikawal 12 benteng pertahanan berukuran lebih kecil. Terdapat 5 benteng pengawal berjajar di garis pantai arah utara Benteng Somba Opu, yakni Benteng Tallo, Benteng Ujung Tanah, Benteng Ujungpandang, Benteng baro’boso, dan Benteng Mariso. Bagian selatan terdapat Benteng Panakkukang, Garassi, Barombong, Galesong, dan Benteng Sanrobone. Arah timur Benteng Somba Opu dikawal Benteng Anak Gowa dan Benteng Kale Gowa.

Het Bongaais Verdrag (Perjanjian Bongaya) terdiri atas 30 pasal, juga dengan tegas membatasi kekuasaan pemerintahan, perdagangan, dan daerah pelayaran armada kerajaan Gowa. Namun perjanjian inibukan merpakan Piagam Kekalahan. Kerajaan Gowa tetap menentang dan melakukan perlawanan gigih terhadap setiap tindakan sewenang-wenang dilakukan pihak Belanda setelah Perjanjian Bungaya.

Sebelum Perjanjian Bungaya, sebenarnya telah ada perjanjian antara Kerajaan Gowa dengan Belanda. Ringkasan isi perjanjian pertama yang dibuat 26 Juni 1637 tersebut, dituliskan oleh Mattulada, sebagai berikut:

‘’Perdamaian kekal, perdagangan bebas, akan tetapi Belanda tak boleh mendirikan tempat tinggal yang permanen di kota Makassar (Somba Opu).’’

Makassar selain sebagai nama etnis, oleh sejarawan banyak digunakan untuk mengganti penyebutan nama kota Somba Opu, ibukoya Kerajaan Gowa di masa silam.

Dalam peta rahasia VOC buatan suatu tim perancang dipimpin Bleau tahun 1670, dilukiskan betapa Kota Somba Opu dan sekitarnya sebagai suatu kota pelabuhan yang cukup ramai. Sejarah tentang kerajaan Gowa pun mencatat bagaimana padatnya aktivitas pemerintahan, perdagangan serta urusan diplomatik berlangsung di kota Somba Opu dan sekitranya dalam abad XVI – XVII.

Peta rahasia kota Somba Opu dan sekitarnya yang kini menjadi salah satu kekayaan koleksi Perpustakaan Nasional di Austria, dengan jelas menggambarkan di sekitar benteng Somba Opu terdapat sejumlah perwakilan dagang orang-orang Portugis, Denmark, Belanda, dan Inggris. Bahkan digambarkan adanya tempat kediaman Antonio de Costa, seorang pedagang Portugis yang lari dan meminta perlindungan pada kerajaan Gowa. Demikian pula sejumlah perkampungan rakyat, perkampungan orang-orang Melayu – Pahang, Campa, Minangkabau dan Johor, Arab, Gujarat, pakistan dan Cina mengitari benteng Somba Opu.

STAD VLAARDINGEN

Dalam suatu peperangan berlangsung 15 -24 Juni 1669, pihak Belanda akhirnya dapat menguasai dan menghancurkan pula benteng Somba Opu yang menjadi inti Kota Makassar.

Sejak itu, menurut catatan sejarah, keramaian kota Makassar berpindah ke wilayah sekitar benteng Ujungpandang yang dikuasai pihak kompeni Belanda.

Benteng Ujungpandang dan sekitarnya menjadi wilayah pemukiman para pejabat Belanda dan sekutunya disebut sebagai Stad Vlaardingen. Sedangkan nama Bneteng Ujungpandang diubah menjadi Fort Rotterdam.

Stad Vlaardingen selanjutnya dikembangkan sebagai kota pusat pemerintahan dan perdagangan untuk menggantikan kedudukan kota Somba Opu yang telah dihancurkan. Tetapi pengembangannya sudah diatur dalam semangat dan menurut struktur pemerintahan Hindia Belanda. Stad Vlaardingen dan sekitarnya kemudian disebut-sebut oleh pihak Belanda dengan nama Kota Makassar.

Penggunaan sebutan resmi Makassar untuk Stad Vlaardingen dan sekitarnya pertama kali terlihat dalam surat Gubernur Celebes dan daerah taklukannya tertanggal 28 Maret 1895 No.764/47, sebagai balasan atas surat dari majelis Perniagaan dan Kerajinan (Kameryan Koophandel en Nijverheid) tertanggal 26 Maret 1895 (Sumber: Kenangan 50 Tahun Makassar, koleksi perpustakaan Makassar,1956).

Perkembangan Stad Vlaardingen dan sekitarnya dari hai ke hari mengalami kemajuan pesat sebagai sebuah kota, akhirnya pemerintah Hindia Belanda memberikan suatu hak otonom (Ordinansi 12 Maret 1906, Staatsblad 1906 No.17) dengan nama ‘Gemeente Makassar’. Hak otonomi tersebut dinyatakan mulai berlaku 1 April 1906. Meskipun nanti dalam tahun1918 baru diadakan pengangkatan terhadap J.E.Damrink sebagai Burgemeester atau walikota pertama (1918 – 1927) ‘Gemente Makassar.’

Dalam perkembangan selanjutnya, periode Walikota H.M.Dg Patompo (1965 – 1978), wilayah kota Makassar diperluas dari sekitar 24 km2 menjadi lebih 175 km2. Seiring dengan pengembangan wilayah tersebut, melalui PP No.51 tahun 1971 nama Kota Maikassar diubah menjadi Kota Ujungpnadang.

Bicara tentang Kota Makassar tempo dulu, memang mestinya bicara tentang kota Somba Opu ibukota Kerajaan Gowa masa silam. Sejarah yang bicara dan menyodrkan fakta, bahwa kota Makassar tempo dulu tak lain dari Kota Somba Opu, ibukota Kerajaan Gowa.

Menghidupkan kembali kota Somba Opu, tak hanya bernilai tambah dalam sisi arkeologi, sejarah, upaya pelestarian budaya dan jati diri bangsa. Tetapi juga sangat prospektif dalam kaitan pengembangan pariwisata.

Membangun kembali duplikasi sejumlah bangunan bangsa asing yang pernah ada di seputar kawasan benteng Somba Opu dalam masa kejayaan kerajaan Gowa, bahkan dapat membuka kerjasama kebudayaan lebih luas serta mempererat persahabatan antarnegara. (Mahaji Noesa/Tabloid Phinisi No.2, Oktober 1997/Harian Pedoman rakyat, 29 Nopember 1997).

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s