Cari Perlengkapan Mayat ke Pasar Kalimbu

Posted: 10 Desember 2012 in Potret
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Gambar

Pasar Kalimbu di Jl.Veteran, Kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Bisnis penyediaan barang-barang untuk keperluan prosesi pengurusan jenazah beragama Islam — mulai dari saat hendak dimandikan hingga dikafani, saat ini mulai diminati khususnya di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Hal tersebut terlihat melalui papan-papan usaha atau spanduk-spanduk yang secara mencolok bertuliskan ‘’Menjual Perlengkapan Mayat’ banyak dibentangkan di depan kios atau toko di sejumlah daerah kabupaten.

Sebelumnya, tempat-tempat seperti itu amat sulit ditemukan. Bahkan hingga akhir tahun 2000 di daerah-daerah kabupaten di Sulawesi Selatan tidak satupun tempat atau toko yang secara khusus menjual alat-alat untuk perlengkapan mayat. Untuk keperluan tersebut, biasanya dilakukan setelah sebelumnya dikonsultasikan dengan para imam masjid atau pemandi jenazah yang kemudian peralatan dibeli satu per satu dari berbagai tempat.

Kecuali di Kota Makassar, sejak tahun 60-an sudah ada usaha yang secara terang-terangan memberi label sebagai toko penjual ‘Perlengkapan Mayat.’ Paling terkenal toko Perlengkapan Mayat milik H.Najamuddin (alm) yang berlokasi di Jl. Veteran Selatan, berhadapan dengan pintu barat Pasar Kalimbu.

Toko Perlengkapan Mayat yang sudah ada sejak tahun 1962 tersebut, termasuk salah satu yang masih bertahan hingga saat ini, dan ditunggui oleh H.Abdullah (71 th), anak sulung H. Najamuddin (meninggal 28 Desember 2008).

‘’Saya 8 bersaudara semuanya masih hidup, mengikuti jejak ayah menjadi penjual perlengkapan mayat,’’ jelas H.Abdullah ketika ditemui usai Jumat (14/10/2011), didampingi istrinya, H. Nurhayati (66).

Sepuluh toko yang menjual Perlengkapan Mayat di sekitar wilayah pintu barat Pasar Kalimbu, Jl.Veteran Selatan Kota Makassar sekarang, pemiliknya adalah keturunan dari H.Najamuddin.

Hanya saja, menurut H.Abdullah, saat ini sulit untuk mengandalkan penghasilan dari usaha tunggal sebagai penjual Perlengkapan Mayat. Sudah banyak yang membuka usaha seperti ini. ‘’Pernah dalam sebulan, tak ada yang membeli satu paket dari alat perlengkapan mayat di toko saya,’’ katanya.

H. Abdullah sendiri, selain menjual barang-barang campuran lainnya di toko penjualan Perlengkapan Mayat yang sekaligus merupakan tempat kediamannya di Jl. Veteran Selatan, memiliki tiga kios penjualan berbagai jenis sandang di Makassar Mall – Pasar Sentral Kota Makassar yang terbakar beberapa waktu lalu. ‘’Kios saya ikut terbakar. Dalam peristiwa itu saya mengalami kerugian hampir Rp 1 miliar. Sekarang anak-anak mengurusi usaha di kios-kios darurat Pasar Sentral,’’ kata lelaki kelahiran Sulawesi Selatan berdarah Pangkajene Kepulauan (Pangkep) yang mengaku sudah 4 kali berhaji bersama isterinya.

Bagi H.Abdullah, menurut cerita isterinya, beda dengan penjual alat Perlengkapan Mayat lainnya di Kota Makassar. ‘’Aji (panggilan keseharian terhadap suaminya-pen) itu berdagang seperti Nabi. Orang-orang menjual satu paket Perlengkapan Mayat dengan harga antara Rp 350 ribu sampai Rp 500 ribu. Tapi Aji menjual hanya antara Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per paket. Itupun kain kafannya sampai 20 meter. Padahal orang-orang paling banyak memberi 15 meter kafan di setiap paket,’’ urai Hj. Nurhayati.

Dalam setiap paket Perlengkapan Mayat untuk jenazah Islam yang dijual di Sulawesi Selatan saat ini, sedikitnya berisi 15 macam benda atau peralatan  keperluan memandikan hingga mengafani jenazah. Di antaranya, kain kafan, kapas, tikar plastik atau tikar anyaman, kapur barus (camper), minyak pewangi (cologne), timba, mangkok, piring, sisir, cermin, sabun, hingga odol dan sikat gigi.

‘’Di daerah-daerah lain ada juga paket yang dijual dilengkapi dengan alat pembakaran dupa. Tapi bagi saya, untuk penjualan paket Perlengkapan Mayat itu tidak memburu banyak keuntungan, dijual dengan harga asal tidak rugi karena pembeli adalah orang-orang yang sedang berduka. Itulah sebabnya saya memberi merek toko dengan sebutan menjual Perlengkapan Mayat sosial,’’ kata H. Abdullah yang mengaku baru sekitar tahun 2003 ikut menangani usaha penjualan Perlengkapan Mayat tersebut.

Dialah yang menjadi penyuplai bahan baku kain kafan untuk semua kebutuhan toko penjualan Perlengkapan Mayat milik saudara, anak dan kemanakannya di Jl. Veteran Selatan. Untuk keperluan tersebut, setiap bulan dia harus memesan 100 pis (1 pis = 50 meter) kain kafan dari Surabaya, Jawa Timur.

Selama ini, katanya, tidak pernah ada pihak dari Kantor Kementerian Agama yang menjelaskan mengenai alat-alat yang wajib digunakan untuk keperluan prosesi memandikan hingga mengafani jenazah orang muslim. Dari etnis lain di luar Sulsel, menurut pengalaman H.Abdullah, ada yang hanya memesan tiga jenis benda untuk keperluan pengurusan jenazah Islam, yaitu kain kafan, kapas dan kapur barus.

Ketika disodorkan cerita bahwa seorang perempuan anggota pemandi mayat yang juga menjual alat Perlengkapan Mayat di sebuah kabupaten di timur Sulawesi Selatan, apabila tengah malam mendengar ada semacam gerakan orang berjalan di teras atau tangga rumahnya, menjadi pertanda bahwa keesokan hari akan ada pembeli alat Perlengkapan Mayat.

‘’Hal seperti itu hanya perasaan saja yang bisa diartikan macam-macam oleh pihak bersangkutan. Reseki seseorang dari setiap usaha sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Berusahalah saja di jalan halal, tidak perlu mengaitkan dengan macam-macam cerita yang sama sekali tidak ada hubungannya,’’ ujar H. Abdullah yang kemudian menyatakan ayahnya meninggal dalam usia 102 tahun. Demikian pula dengan sejumlah saudara kandung ayahnya, meninggal setelah berusia lebih 100 tahun.

Apakah keawetan usia tersebut ada hubungannya dengan usaha yang ditekuni berjualan Perlengkapan Mayat? ‘’Tidak, itu sudah gen, ketentuan Tuhan, ayah bersaudara semua meninggal setelah berusia lebih satu abad,’’ tandas H.Abdullah, ayah dari 6 orang anak yang telah melahirkan 12 orang cucu dan 13 orang cicit. Tapi masih awet, tambahnya, kemudian tertawa ngakak. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 14 Oktober 2011)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s