Gambar

Bekas kediaman Mochtar Lufthi di Kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Ketika kini jalanan sepanjang sisi kanan-kiri umumnya telah ditumbuhi rumah-rumah hunian beton bertingkat dengan gaya arsitektur mutakhir, rumah peninggalan masa Belanda (verponding) di Jalan Muchtar Lufhti No. 26 Kota Makassar, bentuknya masih tetap tidak berubah.

Rumah tersebut beratap genteng berundak. Pintu jendela berukuran besar dengan teras terbuka sebagai ciri rumah-rumah pejabat militer Belanda tempo dulu di Kota Makassar. Dinding depan bangunan tak terawat, sebagian plasterannya terkelupas memperlihatkan susunan batu bata tua yang melepuh

Di halaman kosong seputaran rumah dalam areal 18 x 40 meter tersebut, tampak tumbuh sejumlah tanaman pisang dengan buah menanti matang. Ada juga pohon nangka, pohon jeruk nipis, dan tanaman pepaya. Di lahan kosong sebelah timur rumah ini tumbuh gulma liar. Sebuah pemandangan minor layaknya rumah pedesaan di tengah pesatnya perkembangan Kota Metropolitan Makassar.

Pintu pagar halaman terbuat dari kayu tambal-sulam, tertutup. Rumah tersebut Selasa siang (07/08/2012) tampak sepi. Tak terlihat ada gerakan orang di dalamnya. ”Mungkin mereka tidur,” sahut Mudding Dg Ngewang (60) yang meleseh di balai-balai salah satu pos keamanan tak jauh dari rumah tersebut.

Lelaki asal Karunrung Jipang di selatan Kota Makassar mengaku, sejak tahun 1979 menumpang membuka usaha tambal ban di halaman kosong depan rumah tersebut. ”Di dalam rumah itu sekarang tinggal dua keluarga. Mereka adalah keponakan dan cucu dari almarhun Sitti Maimunah, orang asal Banjar, Kalimantan, sebagai pemilik rumah,” jelasnya.

Penjelasan Mudding tersebut menimbulkan tanya, lantaran sejak lama di salah satu pilar teras halaman depan rumah terpampang tulisan mencolok, sebagai berikut:

”Di rumah ini H.Mochtar Luthfie Tokoh Perjuangan Kemerdekaan Indonesia tewas ditembak oleh tentara kolonial Belanda KNIL dalam peristiwa 5 Agustus 1950 di Makassar”

Dari berbagai sumber diketahui, jika Muchtar Luthfie, pemuda kelahiran tahun 1900 di Balingka,  Kabupaten Agam, Sumatera Barat adalah salah satu sosok ulama pejuang Perintis Kemerdekaan Indonesia.

Anak dari ulama H.Abdul Latief Rasyidi di Padang Panjang ini, ketika sekolah agama tahun 1908 di Sungai Batang, Maninjau, tinggal bersama dan dididik langsung oleh H.Rasul – ayahanda Buya Hamka.

Dia dikenal di lingkungannya kala itu sebagai pemuda yang pandai berpidato dan berdiskusi dalam soal-soal keagamaan (Islam). Bahkan dalam perkembangannya, Muchtar Luthfie, yang sebelumnya pernah dipercayakan memimpin Diniyah School Padang Panjang Cabang Sibolga, jadi guru di sekolah khusus sekolah anak-anak bangsawan Hollands Inlandsche Kweekschool dan OSVIA (School tot Opleiding van Inladsche Ambtenaren), berbakat besar menjadi penulis buku.

Bukunya berjudul Hikmatul Muchtar berisikan pikiran yang menentang imperialisme dan kolonialisme kala itu, membuat berang pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Bukunya disita, dan Muchtar Luthfie dicari pihak Belanda untuk mendapatkan hukuman karena dinilai sebagai pengacau situasi.

Gurunya, H.Rasul membantu mengamankan Muchtar Luthfie menyeberangkan ke wilayah pesisir Semenanjung Malaka, sekarang Malaysia. Dari sini, pemuda yang juga penentang keras ajaran komunis tersebut, justru melangkahkan kaki menuju ke Mesir.

Selain untuk memperdalam ilmu-ilmu keagamaannya, di Mesir bersama pemuda-pemuda Indonesia lainnya dia membentuk organisasi serta berbagai kegiatan yang ditujukan untuk melakukan penantangan terhadap kaum penjajah kolonialis Belanda di Indonesia.

Salah satunya, pada tahun 1926, bersama Ilyas Yacoub, mahasiswa Universitas Al-Azhar di Mesir, mendirikan organisasi pemuda bernama Perhimpunan Penjaga Indonesia. Untuk menyebarluaskan gagasan serta ide-ide berkaitan dengan perlawanan penjajah Belanda di Indonesia, atas prakarsanya diterbitkan juga majalah Seruan Al-Azhar dan Pilihan Timur.

Tahun 1931 kembali ke Sumatera, tempat kelahirannya. Dia menjadi Ketua Dewan Propaganda Permi (Persatuan Muslimin Indonesia) Sumatera Barat yang kegiatannya mencakup pengembangan kader di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, dan politik.

Selain mengajar di berbagai sekolah, Muchtar Luthfie juga pernah membentuk sebuah sekolah khusus untuk pemberdayaan perempuan Indonesia bernama Normal School. Kehadiran kembali Muchtar Luthfie ke Indonesia dinilai pemerintah kolonial Belanda aktivitasnya makin membahayakan, sehingga harus ditangkap tahun 1932. Dua tahun kemudian, bersama dua rekannya – H. Jalaluddin Thalib dan H.Ilyas Yacoub diasingkan ke penjara Belanda di Digul, Irian. Lantas ketika tentara Jepang tahun 1942 berhasil mengusir pendudukan Belanda di Indonesia, Muchtar Luthfie diasingkan ke Australia.

Selama di Benua Kanguru tersebut, dia bersama rekan-rekannya digodok oleh Belanda untuk kembali ke Indonesia merebut kekuasaan Belanda yang telah diambil alih oleh tentara Jepang. Atas saran Gubernur Jenderal Belanda, Van Der Plas yang pernah menjadi kepala pemerintahan kolonial di Makassar, Muchtar Luthfie yang memiliki banyak ilmu tentang Agama Islam tersebut dikirim ke Makassar bersama Jalaludddin Thalib dalam kedudukan sebagai anggota konstituante Negara Indonesia Timur (NIT) bentukan Belanda.

Menurut rancangan pihak kolonial, misi yang diemban Muchtar Luthfie adalah mendekati para ulama khususnya di Sulawesi Selatan mencitrakan bahwa pihak Belanda memperhatikan masalah keagamaan dengan akan membangun sebuah mesjid terbesar di Makassar.

Namun, darah patriot dan jiwa nasionalisme yang telah mengalir di tubuh Muchtar Luthfie, membuat batinnya lebih berontak. Mulutnya mengatakan yes terhadap misi Belanda itu, tapi sesuai dengan kata hatinya ketika di Makassar justru ia melangkah lain untuk kepentingan nasional Indonesia. Menggalang kekuatan dengan sejumlah ulama di Makassar untuk membangun sendiri sebuah mesjid dalam kaitan menguatkan kekuatan benih persatuan dan kesatuan untuk terus melawan kehadiran pihak kolonial.

Bersama 28 ulama, pengusaha dan tokoh masyarakat di Kota Makassar, Muchtar Luthfie mengetuai pembangunan Mesjid Jami’ tahun 1949. Anemer atau pemborongnya dari warga keturunan Tionghoa bernama Jie Pak Fong. Mesjid Jami’ yang bekapasitas tampung lebih 1.000 jamaah tersebut, merupakan mesjid terbesar dan termegah pertama di Sulawesi Selatan. Mesjid Jami’ inilah yang telah dipugar megah dan sampai sekarang dikenal dengan nama Mesjid Raya Makassar.

Langkah Muchtar Luthfie tersebut membuat kecewa tentara KNIL Belanda. Sementara di lain pihak simpati warga di Kota Makassar dan Provinsi Sulawesi Selatan terhadap Muchtar Luthfie kian besar. Hingga dia kemudian diangkat sebagai Ketua Partai Masyumi Cabang Sulawesi Selatan.

Saat masyarakat sedang ramai-ramainya menentang kehadiran Negara-negara Federal dengan tuntutan segera membubarkan NIT, subuh hari 5 Agustus 1950, ketika Muchtar Luthfie berdiri menguak jendela rumahnya usai shalat subuh, tiba-tiba saja dia diberondong tembakan oleh sejumlah tentara KNIL. Termasuk jidatnya ditembus peluru. Sang isteri menangis meraung memeluknya tapi nyawa Muchtar Luthfie tak dapat terselamatkan. Dia tewas pada subuh hari yang lengang di rumah tempat kediamannya yang kini masih tegak di Jl. Muchtar Luthfi No.26 Kota Makassar.

Namun rumah tersebut sekarang tidak ada lagi hubungan dengan keluarga atau keturunan dari Muchtar Luthfie. Menurut penuturan beberapa generasi yang hidup di tahun 50-an, pada masa Walikota Makassar dijabat oleh H.Arupala (1962 -1965), rumah tersebut telah dijual oleh isteri Muchtar Luthfie sebelum kembali ke kampung halamannya di Aceh. Pembelinya adalah sahabat dari almarhum Muchtar Luthfie yang juga pernah terlibat dalam panitia pembangunan Mesjid Jami’. Pembeli disebut-sebut sebagai H.Banjar, karena berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dia (sebelum meninggal) lalu menyerahkan rumah tersebut kepada seorang anak putri bungsunya bernama Sitti Maimuna.

Belakangan ketika Sitti Maimuna meninggal dunia, anak-anaknya yang menempati rumah tersebut. Namun pada tahun 1998 lalu, menurut cerita Mudding, datang seorang anak lelaki almarhum H. Banjar dari Bandung menyatakan juga punya hak terhadap rumah di Jl. Muchtar Luthfie tersebut.

”Dia yang memberikan tulisan di rumah tersebut sebagai tempat ditembaknya Muchtar Luthfie. Saya tidak tahu bagaimana selanjutnya tuntut menuntut hak atas rumah tersebut. Yang jelas rumah itu tidak pernah ada perubahan. Sepengetahuan saya, sejak tahun 1979 tidak pernah ada pihak veteran atau pihak pemerintah yang datang melihat atau memberikan bantuan untuk perbaikan rumah tersebut,” katanya.

Bukan tidak mungkin, jika pihak anak, kemanakan dan cucu almarhum H. Banjar sepakat, mereka dapat menjual rumah bekas kediaman Muchtar Luthfie kepada pihak lain untuk kemudian dirobohkan dan dijadikan bangunan komersial seperti bangunan-bangunan yang kini sudah tumbuh di sekitarnya. Dengan begitu, akan punahlah jejak ulama yang pejuang asal Sumatera Barat yang sebenarnya juga pantas jika diusulkan mendapat anugerah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 7 Agustus 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s