Gambar

Durian alam Mamuju/Foto: Mahaji Noesa

Seikat durian yang disodorkan seorang teman, Kamis (13/12/2012) siang langsung mengingatkan saya ketika berkunjung pertama kali ke Kota Mamuju. Ketika itu Kota Mamuju masih menjadi ibukota Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Selatan.

Selain bentuk buah duriannya yang khas, kecil-kecil tapi isinya harum dan manis. Mungkin 5 sampai 6 buah durian Mamuju untuk disamakan dengan sebuah durian Lompo Tele dari Palopo, Luwu, atau durian Otong yang kini banyak dikembangkan di Kabupaten Sinjai maupun Kabupaten Wajo. Durian alam Mamuju yang kecil-kecil dengan biji yang tipis disebut-sebut sebagai durian alam, durian yang tumbuh secara alami di hutan-hutan Mamuju.

Kali pertama ke Mamuju bersama M.Yahya Djabal Tira (alm), mantan Ketua PWI Cabang Palopo, dalam suatu tugas untuk penulisan laporan sebuah penerbitan. Kota Mamuju kala itu masih kumuh. Di tengah kota masih tampak rawa yang ditumbuhi tanaman nipa. Kala itu Bupati Mamuju dijabat oleh Atiek Suteja.

Ayah dari Kepala Biro Humas dan Protokol Kantor Gubernur Sulsel  (sekarang), Agus Sumantri, inilah bupati Mamuju yang pertama mulai merintis pembukaan jalan-jalan ke berbagai penjuru wilayah Mamuju, sampai ke arah Pasangkayu, perbatasan Sulawesi Tengah. Dialah yang memprakarsai  pemanfaatan Bandara perintis Tampapadang saat perjalanan darat Majene – Mamuju sekitar 100-an km masih harus ditempuh sehari semalam, lantaran jalanan berlumpur sekalipun tidak musim hujan. Mata air setiap saat masih mengalir dari arah pegunungan mememenuhi badan jalan Majene – Mamuju yang saat itu  masih berupa jalan tanah.

Atiek Suteja sedang Membangunkan Raksasa Tidur ! Demikian kesimpulan kami setelah beberapa hari berkeliling melihat dinamika kehidupan dan aktivitas pemerintahan di Mamuju kala itu.

Siporennu, jika tak keliru, itulah nama penginapan rumah kayu berlantai dua yang kami tempati kala itu di Mamuju.  Berjarak sekitar  300 m dari Pasar Sentral Mamuju. Usai magrib, dari sekitar pasar kami membeli sekitar 30-an biji durian Mamuju. Durian yang hampir memenuhi  satu karung terigu tersebut kami boyong ke penginapan.

Bersama Pak Yahya di teras kamar penginapan di lantai dua, kami bersantai menyicipi durian tersebut. Nikmat, apalagi  kulit durian bisa langsung kami lemparkan ke arah laut yang berbatasan dengan penginapan tersebut. Untuk kuat makan durian saya berguyon resep kepada Pak Yahya agar diawali dengan menguyah biji durian. Tapi dia justeru memberi resep lain, yaitu  dengan cara memberi air di kelopak kulit durian lalu meminumnya. Malam itu tidak terasa kami seperti berlomba makan durian. Durian yang puluhan biji itu pun ludes.

Menariknya, persis saat durian baru saja habis, bapak pemilik penginapan menemui kami berdua. Dia meminta satu atau dua biji durian kami untuk memenuhi permintaan anaknya. Dia mengaku baru saja dari pasar tapi semua penjual durian sudah tidak ada. Anaknya tak mengerti, terus  mendesak dengan menangis meminta durian. Anda tahu, bapak itu lantas terlihat menutup mulut dengan telapak tangan kanannya ketika kami nyatakan durian sudah habis.

‘’Habis…..habis…..,’’ katanya berdecak-decak  meninggalkan kami turun ke lantai bawah. Mungkin bapak ini tidak percaya, dalam waktu yang singkat kami berdua mampu secepat itu habiskan durian sekarung yang kami barusan seret di depannya ketika membawa naik ke lantai dua penginapan.

Keesokan paginya, ketika kami akan keluar dari penginapan, si bapak itu berujar dalam bahasa daerah yang kami tidak pahami. Penjemput kami yang orang sana mengartikannya, bahwa bapak itu bilang, kami bukan orang biasa……. hahaaaa…..kisah inilah yang kemudian membayang ketika melihat durian kecil-kecil itu. Sejak Mamuju menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Barat tahun 2004, saya belum pernah lagi berkunjung melihat  kota yang dulunya dijuluki sebagai ‘Bumi Manakarra’ tersebut. (Mahaji Noesa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s