Kucingku Jadi Tumbal Ilmu Menghilang

Posted: 14 Desember 2012 in Lawas
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

kucing 2

ilustrasi/sumber google-berita.plasa.msn.com

Mata kucing seperti mata sejumlah binatang bertaring yang buas dan berbisa, mengeluarkan sinar jika terkelebat cahaya di malam yang gelap. Namun begitu, kucing termasuk binatang peliharaan rumah yang paling jinak. Tak banyak binatang peliharaan seperti kucing yang dapat tidur seranjang dengan tuannya.

Semasa sekolah di SLTP saya punya peliharaan seekor kucing jantan. Bertahun lamanya kucing peliharaan tersebut jika malam hari ikut tidur di ranjang, berbaring di bagian kaki. Bahkan sesekali sering aku terbangun malam menghalaunya, lantaran dia ikut menikmati tidur mendengkur di bantal tidur pelapis kepalaku.

Warna bulunya putih diselingi belang-belang hitam dan berekor pendek menggumpal. Kucing ini juga disenangi oleh banyak teman dan anggota keluarga tetanggaku. Selain termasuk kucing jinak, bulunya selalu terlihat mengkilap. Lantaran tubuhnya paling sedikit sekali dalam seminggu kutaburi ampas parutan kelapa yang telah diperas santannya. Dengan cara menaburi ampas kelapa seperti diajarkan ibu, si kucing tak henti menjilati bulunya sehingga selalu kilap dan bersih.

Kucing lokal yang kuberi nama Bulu tersebut kupelihara sejak masih kecil. Dia kudapatkan di bukit yang membatasi sebuah jalan simpang tiga. Di lokasi yang agak jauh dari pemukiman tersebut sering dijadikan tempat pembuangan anak kucing yang baru dilahirkan, termasuk kucing-kucing besar.

Kucing-kucing besar yang diasingkan di tempat ini seringkali terlihat hanya bertahan beberapa saat lalu menghilang. Kemudian, beberapa hari berikutnya kucing itu terlihat kembali dilepas oleh pemiliknya di lokasi tersebut. Kucing binatang peliharaan yang punya instink sangat kuat dengan lingkungan tempat dia dipelihara.

Kucing (pengalaman dengan kucing lokal), sekalipun dimasukkan dalam karung lalu diasingkan sampai sejauh 2 km ia akan mampu kembali secepatnya ke tempat lingkungan rumah tempat dia dipelihara. Tidak seperti monyet, sekalipun bertahun-tahun dipelihara apabila dilepas langsung lari dan tak tahu untuk kembali sendiri ke kandangnya.

Sedangkan tabiat kucing-kucing yang masih kecil yang dibuang terlepas dari induknya, umumnya senang mengikuti jejak langkah orang-orang yang berjalan melintasinya. Dalam gerakan seperti itulah aku mengambil si Bulu, untuk kupelihara sebagaimana anjuran ibu kala itu, agar dapat dijadikan penghalau tikus sekitar lingkungan rumah.

Dalam perkembangannya, si Bulu bertumbuh sebagai kucing peliharaan yang jinak tapi juga lincah menangkap tikus. Beberapa kali saya menyaksikan langsung bagaimana si Bulu menangkap seekor tikus dari atas plafon rumah. Tikus digigit, dicengkram kemudian dimain-mainkan dengan membanting-banting di permukaan lantai hingga tak bergerak. Jika sudah begitu, kebiasaan si Bulu lantas meninggalkan tikus yang sudah mati, dan seperti memerintahkan kami penghuni rumah untuk menyingkirkan bangkai tersebut. Sejak ada si Bulu, cicit tikus memang jarang sekali terdengar di sekitar lingkungan rumah.

Apabila tiba saat makan siang atau makan malam bersama, si Bulu juga selalu hadir memutar-mutar di bawah meja makan sambil menggesek-gesekkan bulu badannya ke kaki-kaki kami. Si Bulu yang dibiarkan berkeliaran sekehendaknya, seperti sudah tahu untuk kembali ke rumah pada saat jam-jam makan.

Sejak awal dipelihara, sebagaimana anjuran ibu, si Bulu tak pernah diberi makan sisa tulang ikan. Menu makanan sehari-harinya, nasi plus daging ikan rebus, bakar, atau goreng. Larangan pemberian tulang ikan, dengan alasan semua kucing akan lahap menyantap tulang ikan, apalagi jika tulang-tulang ikan rebus. Dalam kondisi lahap seperti itu, berdasarkan pengalaman, kucing juga seringkali ketulangan, dan muntah. Yang terakhir ini dihindari sehingga lauk makan si Bulu hanya diberi daging ikan rebus. Mungkin karena menu seperti itu, si Bulu pun lantas tidak doyan menyantap daging tikus tangkapannya.

Rekan-rekan serta para orang tua tetanggaku seringkali bercanda dengan memanggil-manggil nama si Bulu, seperti kebiasaan yang kulakukan. Jika nama kucing peliharaan itu kuucapkan berulang-ulang, si Bulu dalam jarak yang jauh sekalipun apabila mendengarnya langsung datang mendekat, memutar-mutariku. Gerakan si Bulu seperti itu tak henti apabila tidak kuelus bagian kepalanya. Cerdik. Lantaran gerakan seperti itu tidak dilakukan kepada orang-orang lainnya yang juga sering memanggil-manggil namanya.

Namun suatu sore, kami sekeluarga terkejut lantaran datang seseorang yang sekampung mengadukan bahwa akan membunuh si Bulu. Sekalipun kami jelaskan bahwa kucing itu jinak, dia tidak mengerti. Soalnya, katanya, sudah dua kali dia melihat langsung si Bulu menangkap dan memakan anak-anak ayamnya. Kami pasrah. Tiga hari kemudian kami sekeluarga melihat orang tersebut menyeret si Bulu dengan seutas tali yang menjerat dilehernya lewat di jalanan dekat rumah.

Menurut sejumlah anak yang mengikuti, si Bulu ditenggelamkan di sebuah rawa di ujung kampung. Tali yang mengikat lehernya digantungi batu besar sebagai pemberat. Sedih mendengar, tapi kami pasrah apalagi yang melakukan adalah dari keluarga orang yang dijagokan di kampung. Lagi pula, si Bulu adalah kucing, mungkin saja di luar kontrol kami dia tetap tampil sebagai binatang bertaring yang ganas. Sebab, seperti kesaksian si orang tersebut, dia melihat langsung anak-anak ayamnya diterkam si Bulu.

Namun setelah makan malam tanpa gesekan Si Bulu, ketika kami sekeluarga santai di ruang tamu tiba-tiba pintu seperti ada yang menabrak. Ketika dibuka, ternyata si Bulu nongol mengeong masuk ke rumah dalam keadaan tubuh basah kuyup dan seutas tali masih membelit di lehernya.

Ayah lantas melepas tali ikatan di lehernya. Ibu menyiapkan makannya, adik saya justru membuat perapian untuk mengeringkan tubuh si Bulu. Kami semua sibuk. Tapi malam itu ayah memutuskan agar si Bulu diasingkan ke rumah sanak keluarga yang ada di pulau seberang kampung untuk menghindari terulangnya perlakuan sadis yang baru saja menimpanya. Singkat cerita, lebih sebulan kemudian, mungkin hanya secara kebetulan, penyeret si Bulu tewas ketika kendaraan bus yang ditumpangi untuk suatu perjalanan terperosok ke jurang.

Setelah peristiwa tersebut, saya kemudian tertarik untuk memelihara kucing berbulu tiga warna – hitam, putih, dan orange. Orang-orang di kampung saat itu menyebut sebagai ‘Kucing Mpalo.’ Sayang sekali karena ibu tidak mengijinkan jika memelihara kucing betina. Alasannya, memelihara kucing betina agak repot karena sering melahirkan banyak anak. Sedangkan kucing tiga warna seperti itu, umumnya berkelamin betina.

Ada cerita yang beredar sejak masa kecil di kampung, induk kucing akan memakan anak-anak jantan yang dilahirkan apabila memiliki bulu tiga warna. Untuk menyelamatkan anak kucing jantan berbulu tiga warna, dianjurkan begitu dilahirkan segera dipisahkan dari induknya. Dua kali saya berburu anak kucing jantan tiga warna, tapi selalu terlambat karena sang induk sudah lebih dahulu melumatnya.

Masih berdasarkan cerita lawas, konon kucing jantan berbulu tiga warna itulah kucing yang dapat bertanduk. Sebagian masyarakat sampai sekarang masih memercayai jika ada kucing yang bisa bertanduk. Mereka di antaranya, memercayai tanduk kucing dapat dijadikan mustika yang jika dipakai seorang wanita, jika melahirkan tak akan merasakan sakit sedikitpun. Diibaratkan seperti induk kucing, sesaat setelah melahirkan telah mampu melompat dan menerkam mangsanya tanpa ada rasa lemas atau takut terjadi perdarahan. Ada juga yang sering terdengar mencari tanduk kucing untuk kepentingan kelaki-lakian, tangguh sekalipun dalam perkelahian melawan kekuatan yang lebih banyak. Wallahualam.

Yang pasti, sekitar dua bulan lalu di sebuah kedai sekitar Pelabuhan Makassar, saya menyaksikan seseorang yang mempromosikan sepasang tanduk kucing kepada sejumlah pengunjung. Dua buah tanduk berwarna kuning gading, ukuran panjang sekitar 3 cm melengkung seperti kuku itulah disebut Tanduk Kucing Mpalo.

Ketika orang-orang berdebat mengenai berbagai macam keunikan termasuk keanehan yang dapat terjadi bagi pemegang tanduk kucing. Saya pun lalu nimbrung dengan berguyon, bahwa saya memiliki sepasang tanduk kuda yang berkhasiat sebagai aprodate bagi lelaki. ‘’Wah…bohong, masaiya ada tanduk kuda,’’ ucap spontan salah seorang pengunjung kedai Kaki-5 tersebut.

Saya lalu menjawab lantang, bahwa sama bohongnya dengan cerita tanduk kucing dengan segala khasiat serta manfaatnya, karena dalam pengetahuan umum tidak ada kucing yang bertanduk. Lelaki yang bertubuh kekar pemilik sepasang tanduk kucing memelototi saya yang segera berlalu meninggalkan kedai tersebut.

Dalam masa SMA, kemudian saya pernah memelihara seekor kucing jantan lokal dengan bulu berwarna hitam mengkilap. Seperti si Bulu, kucing hitam ini kupelihara mulai usia kecil. Kuberi nama Dulla. Seperti anjuran ibu, kupegang kulit leher bagian atasnya kemudian kudongakkan moncong si hitam itu lalu kusebut nama Dulla, lantas berludah angin sebanyak 3 kali ke arah moncong kucing.

Prosesi pemberian nama kucing yang kulakukan seperti itu aneh tapi nyata. Karena seperti prosesi pemberian nama terhadap sejumlah kucing lainnya, sejak itu si Hitam bertumbuh menjadi kucing peliharaan yang jinak dan akrab dengan panggilan nama Dulla. Hanya saja Dulla tidak seperti si Bulu. Dulla seperti kucing jantan lainnya, punya kebiasaan menggesek bagian pantat ke benda-benda apa saja lalu menyemprotkan air seninya yang sangat berbau sengit. Dan, Dulla yang memiliki ekor panjang pun tidak sampai setahun akrab sebagai kucing peliharaanku. Ia kemudian menghilang tanpa jejak.

Nanti setelah tamat SLA baru kutahu, jika Dulla, si kucing hitam kesayanganku tersebut justru jadi korban tumbal sebuah pengikut ajaran sesat yang mencari jimat penghilang tubuh dari pandangan. Seorang dari anggotanya yang sudah keluar dari perkumpulan menjelaskan, bahwa si Dulla mereka matikan dengan cara tak berdarah. Dibekap dengan karung goni hingga tewas. Lalu dilakukan prosesi terhadap bangkai Dullah seperti ketika akan memakamkan mayat manusia.

Selanjutnya dilakukan juga doa-doa khusus hingga hari keseratus ditanamnya bangkai kucing tersebut. Setelah itu, kuburannya digali dengan mengambil semua tulang kucing. Dengan prosesi tersendiri, para anggota perguruan yang terlibat dalam pembunuhan tak berdarah terhadap si Dulla, atas panduan sang guru lalu disilakan memilih tulang-tulang si Dullah.di depan cermin. Jika memegang tulang lalu seketika bayangan tubuhnya tak terlihat dalam cermin, itulah yang dijadikan jimat. Dari seekor kucing hitam hanya ada satu tulang yang dinyatakan dapat dijadikan jimat tubuh lenyap dari pandangan umum.

Siapa yang mendapat jimat menghilangkan tubuh dari pandangan umum dari tulang-tulang si Dulla, anggota perguruan yang membelot tersebut tidak mengetahuinya. ‘’Ajaran sesat, mencari jimat untuk perbuatan jahat,’’ katanya. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 29 April 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s