Gambar

Patung wajah Syekh Yusuf di pelataran Pantai Losari Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Kelahiran 3 Juli 1626, dari rahim ibu yang bernama Sitti Aminah, putri bangsawan Gallarang Moncongloe. Ayahnya bernama Abdullah Khaidir. Dalam Lontara Riwayakna Tuanta Salamaka ri Gowa, ayah Syekh Yusuf, dikisahkan, sebagai orang sakti, dapat berjalan melayang di atas tanah. Dan, menghilang tanpa jejak ketika Syekh Yususf masih dalam kandungan ibunya. Raja Gowa ke-14, I Manga’rangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin kemudian memperistrikan Sitti Aminah, ibunda Syekh Yusuf.
Justru Syekh Yusuf dilahirkan di istana Raja Tallo. Diasuh dan dibesarkan dalam lingkungan Kerajaan Gowa. Meskipun Raja Gowa yang bergelar Tumenanga ri Gaukanna sebenarnya merupakan ayah tiri, namun tetap memperlakukan Yusuf (nama kecil Syekh Yusuf) sebagai anak kandungnya. Seperti terlihat dalam perlakuan keseharian Raja yang menggendong sendiri Yusuf ke tempat buaiannya. Dan, Raja marah kepada setiap orang yang tidak menyebut Yusuf sebagai Putra Raja.

Pusar Bersinar
Al-kisah, ketika masih bayi, dari pusar Yusuf pada malam hari sering tampak keluar seberkas sinar tegak lurus ke langit-langit istana. Dari tanda-tanda tersebut, kemudian ditambah dengan minat belajar yang menggebu serta kecerdasan yang diperlihatkan Yusuf sewaktu usia kanak-kanak, menambah rasa sayang Raja dan rasa hormat orang-orang terhadap Yusuf.
Melalui guru Daeng ri Tasammang, Yusuf diajari membaca Al-Quran. Dalam usia 8 tahun, ia sudah tamat mengaji, mempelajari ilmu sharaf, nahwu dan mantik. Pelajaran fiqih dan tauhid pun dilalapnya, melalui Pusat Pendidikan dan Pengajaran Islam yang diasuh oleh Sayed Ba’ Alwy bin Abdullah al-Allama Thahir di Bontoala.
Ketika berusia 15 tahun, memperdalam ilmu agamanya melalui tempat pengajian Syekh Jalaluddin al-Aidit di Cikoang, daerah Takalar. Syekh Jalaluddin adalah seorang ulama asal Aceh, yang datang ke Sulawesi Selatan setelah dari Kutai, untuk mengajarkan dan menyebarkan syariat Islam kepada masyarakat luas.
Dari Cikoang, Yusuf yang sudah meningkat ke usia remaja lantas mempelajari ilmu-ilmu kebatinan di berbagai tempat di wilayah Sulawesi Selatan. Di antaranya, berguru ke puncak Gunung Bawakaraeng yang pada abad ke-17 merupakan pusat tempat belajar ilmu kebatinan.
Pada saat Kerajaan Gowa telah diperintah oleh Raja I Mannutungi Daeng Mattola Karaeng Lakiung, digelar Sultan Malikussaid, Yusuf yang masih merasa haus pengetahuan mengenai ajaran Islam, mengarahkan langkah menuju Mekah untuk memperdalam ilmunya. Ia berangkat meninggalkan pelabuhan Somba Opu, ibukota Kerajaan Gowa, dengan menumpang sebuah kapal dagang Melayu, 22 September 1644.
Kurang lebih seminggu perjalanan, Kapal Melayu tersebut merapat di pelabuhan Banten, Jawa Barat. Karena Banten, kala itu, juga merupakan Pusat Pengembangan Islam, maka Yusuf tidak menyia-nyiakan kesempatan. Di tempat ini dia segera menghubungi tokoh-tokoh agama untuk mempelajari ilmu-ilmu agama Islam yang belum didapatkandi tanah kelahirannya. Dia juga mampu secara cepat menjalin persahabatan yang erat dengan kalangan petinggi, termasuk dengan Putra Mahkota yang memerintah saat itu. Pangeran Surya, demikian nama Putra Mahkota yang menjadi karibnya.
Dari Banten, Yusuf kemudian bertolak ke Aceh. Sama seperti di Banten, di Aceh, Yusuf secara tekun menimba ilmu-ilmu agama serta memperdalam ilmu-ilmu yang telah diketahui melalui para ulama terkenal. Setelah berhasil mempelajari tarekat Qadiriyah dari Syekh Nuruddin Ar-raniri di Aceh, Yusuf lalu menuju Mekah menunaikan ibadah haji.
Di negeri Timur Tengah pusat ajaran Islam, Yusuf berpindah dari kota yang satu dengan kota lainnya dalam rangka memperdalam ilmu agamanya. Di Yaman, memperdalam tarekat Naqsyabandi dan tarekat al-Baalawiyah.
Di Medinah, memahiri tarekat Syattariyah. Di Damaskus, mendalami tarekat Khalwatiyah. Di tempat inilah Yusuf dikukuhkan dengan gelar Tajul Khalwati Hadiyatullah oleh gurunya, Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Qurasyi, yang juga adalah imam di masjid Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi di Damaskus.
Selain ilmu-ilmu yang telah disebutkan, dalam pengembaraannya, Yusuf juga mempelajari tarekat-tarekat sufi Dsukiyah, Syaziliyah, Hasytiyah, Rifaiyah, al-Idrusiyah, Ahmadiyah, Suhrawardiyah, Maulawiyah, Kubrawiyah, Madariyah, dan Makhduniyah.
Yusuf diperkirakan bertolak ke Timur Tengah pada tahun 1649, dan kembali ke Tanah Air pada tahun 1664. Atau, setelah memperdalam ilmu selama 15 tahun di pusat ajaran Islam, negeri Arab.
Ketika di Mekah, Syekh Yusuf menikahi Sitti Hadijah, putri Imam Masjid Haram, Imam Syafi. Memperoleh keturunan seorang anak yang diberi nama Sitti Samang. Isterinya kemudian meninggal dunia.
Dalam perjalanan pulang, sesuai alur pelayaran dari Timur Tengah, kala itu, Syekh Yusuf mampir lagi di Banten. Sahabatnya, Pangeran Surya telah memegang kendali kekuasaan Kesultanan Banten, bergelar Sultan Ageng Tirtayasa.
Kedatangan kembali Syekh Yusuf di Banten disambut hangat sahabat dan masyarakat. Maklum, sebelum kembali ke Banten, kehebatan Syekh Yusuf telah tersebar luas di masyarakat, melalui ceritera-ceritera yang dibawa oleh para jamaah haji asal Banten. Masyarakat Banten, kala itu, menghormati Syekh Yusuf sebagai Ulama Tasauf dan Syekh Tarekat.
Sultan Ageng Tirtayasa lantas menunjuk Syekh Yusuf untuk mendidik keluarga Kesultanan Banten mengenai ilmu-ilmu agama Islam. Sampai akhirnya, Sultan Ageng Tirtayasa sendiri tertarik untuk mendalami ajaran tarekat Khalwatiyah yang diajarkan Syekh Yusuf.
Sebagai orang yang dianggap berjasa, Syekh Yusuf pun akhirnya dikawinkan dengan Syarifah, putri Sultan Ageng Tirtayasa. Pengajian-pengajian yang dibuka untuk masyarakat, begitu juga ceramah-ceramah keagamaan yang diberikan dalam setiap kesempatan membuat nama Syekh Yusuf makin cepat terkenal di Banten dan daerah sekitarnya. Termasuk orang-orang Bugis-Makassar, daerah tempat kelahirannya berdatangan untuk berguru kepada Syekh Yusuf di Banten.

Protes Hukuman Mati
Ketika Sultan Ageng Tirtayasa menyerahkan kekuasaannya, 1 Mei 1608 kepada putranya, Abu Nazar Abdulkahar yang bergelar Sultan Haji, kedamaian Kesultanan Banten mulai terusik oleh pihak kompeni Belanda. Sultan Haji berhasil dibujuk berpihak Belanda. Keadaan di Banten kemudian mulai memburuk, akibat taktik adu domba yang berhasil dilancarkan pihak kompeni terhadap Sultan Haji dan ayahnya, Sultan Ageng.
Pada tahun 1682, terjadilah perang saudara di Banten. Sultan Ageng menyerang Kraton Surosoan, tempat Sultan Haji memerintah dikawal pasukan kompeni. Sultan Haji dalam serangan ini berhasil lolos, kemudian meminta bantuan kekuatan dari kompeni.
Serangan yang dilakukan kompeni dari darat maupun dari laut dalam bulan Mei 1682, berhasil membumihanguskan Banten. Sultan Ageng, Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya (panglima Perang, saudara kandung Sultan Haji), dan pembesar-pembesar lainnya, dipaksa untuk mundur meninggalkan Kota Tirtayasa, Banten. Mereka mundur bersama pasukan perang yang setia, tetapi tetap melakukan perlawanan secara bergerilya.
Atas petunjuk Sultan Haji, tempat persebunyian ayahnya, Sultan Ageng dapat diketahui oleh kompeni. Melalui surat damai dibuat oleh Sultan Haji kepada Sultan Ageng atas permintaan kompeni. Sultan Ageng akhirnya keluar dari medan gerilya. Serta-merta kesempatan tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh kompeni, menangkap Sultan Ageng.
Pasukan dibawa pimpinan Syekh Yusuf lepas dari kejaran, terus bergerilya di daerah-daerah pegunungan Jawa Barat, sambil menyerang kubu-kubu pertahanan kompeni. Demikian halnya dengan pasukan dibawa komando Pangeran Purbaya dan Pangeran Kidul.
Berbulan-bulan pasukan Syekh Yusuf, sekitar 5.000 orang, di antaranya sekitar 1.000 orang Bugis-Makassar, melakukan perlawanan secara bergerilya. Namun akhirnya pada 14 Desember 1683, Syekh Yusuf keluar dari persembunyian akibat taktik licik pihak kompeni yang menyandera isteri dan anaknya. Syekh Yusuf pun ditangkap pihak kompeni.
Ketika Syekh Yusuf bersama keluarga dan 12 orang pengawalnya dikirim ke penjara Batavia, pihak kompeni juga memulangkan anggota pasukan yang terdiri atas orang-orang Bugis-Makassar dengan sebuah kapal ke Makassar.
Sebenarnya, pihak kompeni akan menjatuhkan hukuman mati terhadap Syekh Yusuf. Tetapi sebelum rencana hukuman mati tersebut dilaksanakan, muncul protes dan reaksi yang menentang dari masyarakat dunia. Di antaranya datang dari Sultan Aureng Zeb di India, sehingga hukuman mati diganti dengan hukuman pembuangan seumur hidup ke Ceylon.
Sebelum Syekh Yusuf bersama keluarganya diasingkan ke Ceylon, ada utusan dari Raja Gowa Sultan Abdul Djalil menemui pemerintah Belanda di Batavia, memohon agar Syekh Yusuf dikembalikan ke Makassar. Tetapi, permohonan tersebut tidak dikabulkan.
Tanggal 12 September 1684, Syekh Yusuf dan keluarganya dibawa ke Ceylon. Sebagai ulama, dalam waktu singkat Syekh Yusuf dapat menarik pengikut di Ceylon. Di tempat pengasingan tersebut dia mengajarkan ilmu syariat dan tasauf yang sangat diminati, termasuk murid-muridnya berdatangan dari India dan Sri Langka.
Orang-orang Indonesia yang melakukan perjalanan haji dengan kapal laut, kala itu, banyak yang menyempatkan diri singgah belajar ilmu-ilmu keagamaan pada Syekh Yusuf di Ceylon. Dalam kesempatan ini, Syekh Yusuf juga dengan semangat ksatrianya tetap mengobarkan semangat untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda di tanah air. Pesan-pesan politik maupun keagamaan dikirimkan kepada para raja di Indonesia.
Pemerintah kolonial Belanda mencium gerakan terselubung yang dilakukan Syekh Yusuf melalui para jemaah haji Indonesia. Pesan-pesannya dinilai oleh kompeni sangat berbahaya dalam hubungan mengobarkan perlawanan terhadap kompeni di Indonesia. Maka, pada 7 Juli 1693 oleh pemerintah kolonial Belanda, memutuskan untuk memindahkan Syekh Yusuf beserta keluarga dan pengikutnya dari Ceylon ke Kaap de Goede Hoop, tanjung paling selatan di Benua Afrika.

Kobbanga
Di tempat pengasingan di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap mampu memperlihatkan kehebatan dan kebesarannya, menarik banyak pengikut. Syekh Yusuf tersohor di Afrika Selatan sebagai pembawa ajaran Islam pertama bagi orang-orang di benua kulit hitam tersebut. Kaum muslim di Afrika Selatan yang kini telah berjumlah ratusan ribu jiwa itu, disebut sebagai orang Slammejer.
Di tempat pembuangan Afrika Selatan inilah Syekh Yusuf pada tanggal 23 Mei 1699, dalam usia 73 tahun menghembuskan nafas terakhir. Atas permohonan yang berkali-kali dilakukan oleh Raja Gowa, maka akhirnya pada tahun 1704 pihak kompeni mengabulkan untuk dapat membawa kembali jenazah Syekh Yusuf ke Makassar. Dengan menumpang kapal de Spigel, 5 April 1705, keranda Syekh Yusuf yang dikawal oleh keluarganya tiba di Makassar.
Kobbanga (Kobbang), itulah sebutan bagi makam Syekh Yusuf yang terletak di Lakiung, Katangka, Kabupaten Gowa. Seperti halnya makam pertama Syekh Yusuf yang tetap dihormati masyarakat di Afrika Selatan, makamnya di Lakiung setiap saat selalu ramai didatangi peziarah.
Semasa hidupnya, Syekh Yusuf menulis puluhan karya yang berkaitan dengan kesufian. Dia pun disebut-sebut banyak orang sebagai Waliullah terbesar dan terakhir dari wali-wali yang pernah ada. Wallahualam. (Mahaji Noesa/dari berbagai sumber).

Bergelar Tuanta Salamaka di Gowa

Surat Keputusan Presiden RI mengenai pengukuhan Syekh Yusuf sebagai Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan, diumumkan pertamakali oleh Menteri Sosial, Inten Suweno, 9 Oktober 1995 di Jakarta. Dalam pengumuman ini disebut dengan nama Syekh Yusuf Tajul Khalwati.
Bagi masyarakat di Sulawesi Selatan nama Syekh Yusuf telah lama popular, dikenal sebagai tokoh agama, penyebar ajaran tarekat khalwatiyah. Di daerah leluhurnya, Kabupaten Gowa, Syekh Yusuf lebih dikenal dengan gelar Tuanta Salamaka (pembawa berkah/keselamatan).

Ketika masyarakat muslim memperingati 300 tahun pendaratan Syekh Yusuf di Afrika Selatan, 2 April 1994. Pihak Universitas Hasanuddin di Makassar pun menggelar seminar tentang tokoh Syekh Yusuf. Dari forum ini disimpulkan Syekh Yusuf pantas jika mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional. Dua pembicara utama dari Jakarta yang diundang waktu itu, Dr.H.Ruslan Abdulgani dan Taufik Ismail, juga sepakat untuk pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Syekh Yusuf.
Penyair yang tersohor melalui sajaknya berjudul ‘Tirani’ tahun 1966, memberikan kesaksian bahwa pada tahun 1993 ketika bersama sejarahwan dari Aceh dan Malaysia berkunjung ke Afrikan Selatan. Di Benua kulit hitam tersebut ia menghimpun informasi, terdapat sekitar 400.000 jiwa kaum muslim yang mengaku keturunan Melayu.
Keturunan yang dimaksud adalah keturunan para pejuang dari Indonesia yang diasingkan ke Afrika Selatan oleh pihak kolonial Belanda. Dari mereka dicatat, terdapat keturunan Syekh Yusuf dari Makassar, Imam Abdullah dari Tidore, Sultan Ahmad dari Ternate, Said Abdurahman dari Madura, dan Raja Tambora dari Nusa Tenggara.
‘’Di antaranya Syekh Yusuf yang paling terpandang, sebagai tokoh ulama di Afrika Selatan,’’ jelas Taufik Ismail.
Lain lagi dengan cerita Dr.H.Ruslan Abdulgani (alm-pen). Dalam suatu kunjungan kerja sebagai Duta Besar Indonesia di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) ke Lusaka, ibukota Zambia tahun 1968, ia sempat didatangi 5 orang tokoh muslim Afrika Selatan yang mengaku sebagai keturunan Syekh Yusuf.
Setelah pertemua itu, ceriteranya, beribu tanda Tanya bergolak dibenaknya tentang tokoh Syekh Yusuf. Ia pun lalu mencari buku-buku dan dokumentasi tentang riwayat Syekh Yusuf dari Indonesia yang begitu terkenal di Afrika Selatan.
‘’Ternyata, Syekh Yusuf selain sebagai ulama, beliau juga adalah pejuang yang militan menentang kehadiran penjajah Belanda di Indonesia pada abad ke-17,’’ kata Ruslan Abdulgani.
Dia mengakui, antara lain memperoleh informasi mengenai kehebatan Syekh Yusuf sebagai ulama maupun pejuang melalui buku berjudul ‘The Preaching of Islam’ yang ditulis oleh Prof.T.W.Arnold tahun 1931.
Dalam buku berjudul ‘Syekh Yusuf, Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang’ yang ditulis oleh Prof.Dr.Abu Hamid, diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 1994, dalam uraian tentang naskah-naskah menyangkut Syekh Yusuf yang pernah diterbitkan sejak tahun 1885 hingga tahun 1987 sebanyak 30 buah buku. Tidak termasuk buku The Preaching of Islam.
Dari berbagai penerbitan pustaka tentang Syekh Yusuf, dimulai dari tulisan B.F.Matthes tahun 1885 berjudul ‘Eenige Makassarche en Boegineshe Legenden’, semua telah melukiskan adanya perlawanan gigih yang dilakukan oleh Syekh Yusuf terhadap pemerintahan colonial Belanda di Indonesia pada abad ke-17. Tapi ide untuk mengokohkan Syekh Yusuf sebagai seorang Pahlawan, baru muncul pada tahun 1956, melalui tulisan Gaffar Ismail di harian ‘Sulawesi bergolak’ dengan judul ‘Syech Jusuf Pahlawan Asia jang Berkaliber Internasional.’
Kemudian ide untuk mengukuhkan Syekh Yusuf sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, tertuang dengan jelas dalam tulisan H.D.Mangemba (alm-pen) yang dimuat dalam Majalah Lontara No.6 Tahun 1981 terbitan Universitas Hasanuddin, di bawah judul ‘’5 Tokoh Sulawesi Selatan Bertarung di Pulau jawa Abad XVII.’’
Ide tersebut kembali bergaung melalui hasil wawancara yang dimuat pada suratkabar Mingguan Gema, Ujungpandang, menyambut Hari Pahlawan, 10 Nopember 1988. Menyusul kemudian dilakukan seminar di Ujungpandang, dan di Jakarta tahun 1994 mengenai Syekh Yusuf yang dianggap layak mendapat gelar Pahlawan Nasional Indonesia.
Pemberian gelar Pahlawan Nasional tahun 1995 dari pemerintah RI kepada Syekh Yusuf, merupakan perwujudan dari berbagai pendapat, usul, dan keinginan masyarakat. (Mahaji Noesa/Majalah Semangat Baru, Makassar, Oktober/Nopember 1995).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s