Gambar

Pentas I La Galigo/Sumber foto: jendelasastra.com

Pembacaan puisi panjang berjudul ‘The Birth of I La Galigo’ (I La Galigo lahir) oleh seniman dan penyair senior Sulsel H.Udhin Palisuri, menandai hari pertama dibukanya ‘Dialog Akhir Tahun’ yang digelar selama tiga hari (25-27/12/05) oleh Badan Koordinasi kesenian Indonesia (BKKI) kota Makassar di gedung kesenian Sulsel Societeit de Harmony.

Puisi yang menggambarkan hubungan percintaan yang sakral, suci, dan mulia antara Sawerigading dan I We Cudai tersebut sempat mengheningkan suasana di antara riuh peserta – terdiri atas seniman, budayawan, dan akademisi, dialog hari pertama yangmembahas seputar pentas I La Galigo versi Robert Wilson.

Tiga nara sumber yangdijadikan sebagai pengantar dialog, masing-masing Moh Salim, Halilintar, dan Rahman Arge berhasil menggugah emosi peserta untuk tampil menyampaikan tanggapan, saran, maupun kritik.

Paling menarik, muncul sorotan bahwa pertunjukkanyang digali dari naskah Bugis kuno yang telah berusia 7 abad itu, dan belakangan berhasil diangkat ke pentas dunia internasional dalam bentuk teater musikal oleh Robert Wilson –sutradara ternama asal Amerika yang pernah berkolaborasi dengan Louis Vuitton dalam pentas ‘Fluo Monogram Vernis’ serta Giorgio Armani untuk Karya Instalasi, dinilai miskin filosofi.

Gambar

Pentas I La Galigo/Sumber foto:cabiklumik.blogspot.com

Namun menurut Rahman Arge, Robert Wilson adalah manager cerdas karena berhasil menjual I La Galigo ke masyarakat manca negara. Meskipun Robert Wilson secara gamblang menyatakan bahwa I La Galigo yang disuguhkan dalam bentuk teater musikal tersebut hanya terinspirasi dari naskah I La Galigo.

‘’Jadi baginya, soal apakah teater musikal I La Galigo yang disuguhkan itu tanpa harus memperlihatkan filosofi yang dikandung dalam cerita I La Galigo, bukan yang utama, tapi bagaimana ia dapat mengangkatnya dalam suguhan teater kolaborasi – teater entertaiment dengan pesona pancaran teknologi, dan ia berhasil untuk itu di pentas dunia internasional,’’ katanya.

Kita harus bangga ujar Arge, lantaran melalui olah kreasi Robert Wilson, maka cerita I La Galigo asal Sulawesi Selatan ini mampu diperkenalkan ke dunia internasional.

i La Galigo

I La Galigo versi lukisan Bachtiar Hafid, Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Arge mengakui, dalam pertunjukkan teater I La Galigo versi Robert Wilson, filosofi yang menjadi pandangan orang Bugis khususnya dalam kaitan kesemestaan yang bersumber dari dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah seperti dalam cerita I La Galigo, tak ditemukan. Elemen-elemen teaterikalnya diangkat dalam bentuk parsial.

‘’Mestinya ada pelebaran makna dengan aroma lokal. Namun begitu, lewat pentas I La Galigo versi Wilson, ada pelajaran berharga yang bisa dipetik, yaitu melalui kesenian dengan idiom-idiom lokal sebenarnya juga kita bisa menciptakan lokal globalisasi,’’ katanya.

Pendapat semakna, dikemukakan H. Udhin Palisuri, salah seorang seniman asal Sulsel yang ikut menyaksiukan pertunjukkan pentas seni kontemporer I La Galigo versi Robert Wilson di Teater Tanah Airku Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta dengan biaya sendiri. Tidak santun rasanya, katanya, menghadapi Robert Wilson tanpa memberi ruang kepada apresiasi, kepada etika serta kejujuran makhluk yang bernama seniman memandang kesenian.

‘’Robert Wilson datang dan ia berbuat. Sebagai sutradara ia memiliki tanggung jawab moral dan etika untuk menghargai tradisi dan menghormati adat. Dari tangannya I La Galigo menjadi milik dunia. Menjadi milik siapa saja yang menghormati leluhur, adat, dan tradisi, serta budayanya. Ia sanggup memunculkan tokoh legende Bugis kuno di tengah arus peradaban modern, di zaman globalisasi yang serba canggih,’’ tandas Udhin Palisuri, meyakinkan.

Setelah I La Galigo versi Robert Wilson berhasil memukau pentas di Singapura, sejumlah kota di daratan Eropa, Amerika, dan Jakarta. Menurut rencana, tahun ini akan tampil dalampertunjukkan besar di sejumlah kota di Benua Australia. Namun sebelum melanglang di wilayah Kanguru itu, menurut rencananya, akan dipentaskan di kota Makassar yang merupakan bagian dari wilayah kampung halaman I La Galigo.

Jika Robert Wilson masih mengabaikan filosofi dari cerita mitologi Bugis yang aslinya bernarasi 6.000 halaman dalam pertunjukkan selama ini, maka menurut Rahman Arge, menjadi kewajiban para seniman Sulsel yang senantiasa dilibatkan dalam pertunjukkan I La Galigo oleh Robert Wilson untuk mengingatkannya.

‘’Seniman Sulsel yang ikut dalam setiap pertunjukkan Wilson, jangan hanya jadi batu catur, tapi sebaiknya bisa menjadi sumber dialogis untuk Wilson agar bisa lebih memperhatikan unsur filosofi dari cerita I La Galigo dalam pertunjukkannya yang kini selalu dinanti masyarakat dunia,’’ katanya.

Untuk peralatan penataan cahaya pertunjukkan I La Galigo versi Robert Wilson saja, menurut Udhin Palisuri, modalnya sudah mencapai Rp 3,4 miliar. ‘’Ini suatu keberhasilan, kemampuan mengangkat cerita lokal menjadi bernilai tinggi dan diminati di pentas dunia. Luar biasa!’’ Katanya. (Mahaji Noesa, Tabloid Mingguan DEMOs, Makassar, Edisi No.331 Thn VIII/Minggu I, Januari 2006. Hal.4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s