Gambar

Air Terjun Moramo di Provinsi Sulawesi Tenggara/Foto:google-teguhsantoso.com

Penduduk dunia kini dilanda krisis ketersediaan air bersih. Peringatan tersebut sesungguhnya sudah disampaikan oleh Badan Air Dunia (World Water Council) sejak tahun 1997, namun tidak serta merta mendapat tanggapan dari pemerintah dan penduduk dunia secara luas.

Akibatnya,banyak pihak yang terperanjat tatkala Peringatan Hari Lingkungan Hidup Internasional 2003 menyodorkan tema yang agak mengerikan: ‘’Air, 2 Miliar Penduduk Kesulitan untuk Memperolehnya.’’

Selain ketersediaan air bersih saat ini berkurang secara kuantitas akibat merosotnya debit dari sumber-sumberdaya air, juga lantaran secara kualitas air yang tersedia kini sebagian besar tidak layak konsumsi.

Krisis ketersedian air bersih bagi penduduk sebenarnya tidak perlu terjadi, sekiranya sejak lama pemerintah di tingkat negara, provinsi, kota dan kabupaten menyadari betapa pentingnya air bersih bagi kehidupan manusia.

Saya menyatakan ‘sekiranya menyadari’ karena selama inipemerintah di tingkat pusat, provinsi, kota/kabupaten di Indonesia misalnya sudah berpuluh tahun melaksanakan pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan maupun meningkatkan kualitas sumberdaya penduduknya, tapi nyatanya belum pernah menfokuskan perhatian secara serius  terhadap pembangaunan yangberkaitan dengan penyediaan kebutuhanair bersih bagi penduduknya.

Padahal, air bersih merupakan kebutuhan vital dalamkehidupan manusia dan sangat signifikan dengan peningkatan derajat kehidupan penduduk.

Air bersih yang dimaksud adalah ‘air sehat’ yang layat minum yaitu air yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa, bebas bakteri, tidak mengandung bahan-bahan kimia, tidak beracun, mempunyai kandungan mineral yang dibutuhkan tubuh dan mengandung oksigen larutan, sangat diperlukan bagi setiap tubuh manusia yang berisi sekitar 70 persen cairan.

Justeru setiap orang sedikitnya harus mngonsumsi ‘air sehat’ sebanyak 2 liter atau 6 hingga 8 gelas setiap hari guna mengganti cairanyang keluar dari tubuh berupa peluh dan urine. Tubuh yang kekurangan air (dehidrasi) atau mengonsumsi ‘air tak sehat’ akan menyebabkan timbulnya berbagai penyakit seperti gangguan ginjal, sembelit, sakit kepala dan sakit pinggang.

Bahkan, mengonsumsi air yang tercemar limbah detergen misalnya, dapat menghambat pertumbuhan tingkat kecerdasan seseorang.

Minimnya pengetahuan tentang betapa pentingnya mengonsumsi ‘air sehat’ serta bahaya yang dapat ditimbulkan akibat mengonsumsi ‘air tak sehat’. Demikian pula tidak dimilikinya pengetahuan tentang teknis memperoleh atau mendapatkan ‘air sehat’ menyebabkan penduduk di Provinsi Sulawesi Tenggara selama ini menjadi kurang kepeduliannya untuk menjaga, memelihara, melestarikan mengolah sumbetr-sumberdaya air yang ada di sekitar mereka.

Sampai saat ini belum pernah ada data pasti atau penelitian khusus yang dilakukan mengenai bagaimana sesungguhnya ketersediaan air bersih secara kuantitatif maupun tingkat kualitas air baku khusunya di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Namun secara jelas dirasakan bahwa sampai hari ini belum pernah terdengar ada jeritan mencemaskan dari penduduk akibat tidak memperoleh air dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Masalah yang muncul masih sebatas keluhan dari beberapa daerah yang penduduknya harus bersusah payah mengambil air untuk kebutuhan hidupnya yang berjarak puluhan kilometer dari lokasi pemukiman mereka yang memang tidak memiliki sumberdaya air.

Akan tetapi secara kualitas, sumber-sumber air baku yang dijadikan sebagai sumber air minum penduduk di daerah ini boleh dikata juga masuk kategori buruk.

Buktinya, pelayanan air bersih yang dinilai sebagai air layak konsumsi dari Perusahaan-perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Sulawesi Tenggara baru mencakup pelayanan air bersih di wilayah perkotaan saja. Itupun cakupan pelayanannya belum mampu mencapi 50 persen dari keseluruhan penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan di provinsi ni.

Perlu diingat, bahwa PDAM sampai saat ini masih merupakan satu-satunya lembaga pemasok air bersih untuk penduduk di daerah-daerah di Indonesia.

Sekalipun tidak memaparkan data detail, namun apa yang diungkapkan Alimaturrahim, salah seorang tokoh LSM Lingkungan di Sulawesi Tenggara telah memberikan gambaran betapa mengerikannya tingkat kualitas air baku yang ada di Sulawesi tenggara.

‘’Dari 20 sungai yang ada di daerah ini, sebagian besar airnya sudah tercemar. Jangankan untuk diminum, disentuh saja dapat mengakibatkan penyakit kulit,’’ katanya (SKM Suara Prima Edisi No.3 Minggu II – Mei 2003). Artinya, secara kuantitas ketersediaan sumber-sumber daya air di Sulawesi Tenggara sesungguhnya belum terlalu memprihatinkan, namun secara kualitas telah sampai pada tahap yang merisaukan.

Menyimak fenomena tersebut, maka untukmenjaga agar daerah ini tidak mengalami krisis air bersih memang sangat perlu untuk dilakukan upaya-upaya pemeliharaan dan pelestaraian sumber-sumberdaya air yang memang masih cukup tersedia sekalipun dalam kondisi sebagian sudah tercemar.

Untuk itu, selain diperlukan dorongan dari pihakpemerintah melaui gerakan-gerakan nyata terhadap pelestarian dan pemeliharaan sumber-sumberdaya air yang ada. Diperlukan sebuah gerakan khusus sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan ‘air sehat’ terhadap penduduk agar mereka merasa berkepentingan untuk selanjutnya secara sadar menjaga, , memelihara, dan melestarikan sumber-sumberdaya air yang ada di sekitar mereka.

Upaya pemberian pengetahuan tentang pentingnya ‘air sehat’ dalam kehidupan penduduk di Sulawesi Tenggara juga sedapat mungkin diberikan pengetahuan tentang teknis untuk memperoleh atau mendapatkan ‘air sehat’ tersebut. Hal ini dapat dilakukan dan dipertajam melaui upaya-upaya yang berkaitan dengan program ‘Menuju Indeonesia Sehat 2010’.

Demi memenuhi kebutuhan ‘air sehat’ untuk pendudukkhususnya di Provinsi Sulawesi Tenggara, momentum ‘Tahun Air Internasional 2003’ sangat tepat untuk dijadikan sebagai titik statrt (Entry Point) untuk menciptakan ‘Desa-desa dan Kelurahan Sehat’ dengan menetapkan titik berat ketersediaan ‘air sehat’ bagi penduduk di desa-desa dan kelurahan di provinsi Sulawesi Tenggara. (Mahaji Noesa, Surtkabar Mingguan Suara Prima, Kendari, Edisi No.8 Minggu IV – Juni 2003, Hal.9)     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s