Catatan Safari Jurnalistik (1) Mencret Sedikit ke Rumah Sakit

Posted: 15 Mei 2013 in Lawas
Tag:, , , , , , ,

Gambar

Empat belas pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Sulsel sasaran kunjungan ‘Safari Jurnalistik’ wartawan yang tergabung dalam organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulsel (6-10 Oktober 2010), semuanya menyatakan kebijakan ‘Dua Gratis’ Pemprov Sulsel menyangkut ‘Pendidikan dan Pelayanan Kesehatan Gratis’ yang diluncurkan sejak 1 Juli 2008 berdampak positif menguntungkan pemerintah dan masyarakat di daerah.

Berikut laporan Mahaji Noesa, setelah mengikuti perjalanan ‘Safari Jurnalistik’ bertajuk ‘Implementasi Program Pendidikan dan Pelayanan Kesehatan Gratis di Sulsel’. Laporannya disajikan dalam tiga bagian tulisan. Ditulis di Tabloid Mingguan DEMOs Makassar Edisi No.400 Nopember 2010/Tahun XII, dengan judul utama: Pelaksanaan ‘Dua Gratis’ di Sulsel Perbaiki Sistem Mantapkan Kebijakan.

 ***

 Dalam waktu relatif singkat telah terjadi gelombang kesadaran masyarakat yang begitu besar untuk memeriksakan atau meminta pelayanan kesehatan diri maupun keluarga ke tempat atau pusat-pusat pelayanan kesehatan yang ada di daerah. Itulah salah keuntungan yang diperoleh pemerintah kabupaten/kota di Sulsel khususnya berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan Pelayanan Kesehatan Gratis Pemprov Sulsel.

Munculnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan dalam kehidupan, dinilai pemerintah kabupaten/kota yang jadi sasaran ‘Safari Jurnalistik’, merupakan modal paling mendasar untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan yang diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang selanjutnya mampu meningkatkan produktifitas kerja masyarakat.

Tumbuhnya kesadaran untuk hidup sehat seperti itu, diyakini kelak akan menjadi kebutuhan. ‘’Jika hidup sehat telah disadari menjadi bagian penting dalam kehidupan, maka sekalipun harus dibayar masyarakat akan berupaya untuk memperolehnya. Apalagi jika tersedia layanan kesehatan gratis seperti yang disodorkan melalui kebijakan Pelayanan Kesehatan Gratis yang kini sedang digencarkan oleh Pemprov Sulsel,’’ komentar Halim (32), seorang pengusaha di Kota Parepare.

Di Kabupaten Enrekang, sejak adanya kebijakan Pelayanan Kesehatan Gratis jumlah kunjungan masyarakat ke pusat-pusat pelayanan kesehatan selalu melebihi estimasi yang dibuat. Dalam tahun 2010, contohnya. Diestimasikan hanya sekitar 28.000 kunjungan masyarakat ke Puskesmas dan rumah sakit yang ada di wilayah ‘Massenrempulu’ guna mendapatkan pelayanan kesehatan dasar.

‘’Ternyata, sampai September 2010 saja, sudah tercatat lebih dari 62.000 kunjungan masyarakat meminta pelayanan kesehatan dasar yang digratiskan,’’ papar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Enrekang, dr.Muh Yamin.

Dalam penilaian secara nasional, Kabupaten Enrekang saat ini sudah termasuk dalam kategorti Kabupaten Sehat. ‘’Untuk pelayanan dasar kesehatan, Kabupaten Enrekang menempati peringkat pertama di Provinsi Sulsel dan peringkat 30 secara nasional,’’ jelas Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Enrekang, Muh. Aminuddin,SH. 

Peningkatan kunjungan masyarakat ke tempat-tempat pelayanan kesehatan juga terjadi di Kabupaten Gowa, Bantaeng, Sinjai, Bone, Wajo, Pinrang, Pankep, Maros, Luwu, Toraja, Toraja Utara, Kota Palopo dan Kota Parepare yang dikunjungi lebih dari 60 wartawan media cetak dan elektronik peserta ‘Safari Jurnalistik’ PWI Cabang Sulsel kerjasama Pemprov Sulsel. Dari pencatatan kunjungan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar di masing-masing kabupaten/kota, setelah adanya kebijakan Pelayanan Kesehatan Gratis, rata-rata mengalami peningkatan di atas 100 (seratus)  persen dibanding tahun sebelumnya.

Peningkatan drastis kunjungan masyarakat sangat dirasakan di 8 Puskesmas yang ada di Kabupaten Bantaeng. ‘’Di Puskesmas Tona  yang sepi-sepi saja sebelum ada kebijakan Pelayanan Kesehatan Gratis, kini menjadi ramai dengan kunjungan antara 100 hingga 150 warga setiap harinya,’’ ungkap Sekretaris Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bantaeng, Drs.Ansar Kuba.

Peningkatan kunjungan seperti itu,  tak hanya terlihat di Puskesmas-puskesmas yang berada di wilayah pedalaman kabupaten yang berjuluk ‘Butta Toa’ ini, tapi juga terjadi di wilayah perkotaan. Bayangkan, Pustu (Puskesmas Pembantu-red) yang ada di Kota Bantaeng,  ibukota Kabupaten Bantaeng, saat ini mendapat kunjungan antara 50 hingga 100 warga setiap hari. ‘’Hampir sepanjang hari terlihat antrian warga untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di Pustu tersebut,’’ kata Ansar Kuba.

Idealnya, menurut Bupati Luwu, Ir.H.A.Muzakkar, keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan, salah satunya dilihat dari makin berkurangnya orang sakit yang dilayani di pusat-pusat pelayanan kesehatan dari waktu ke waktu.

Namun begitu, Bupati Luwu yang baru sekitar sembilan bulan dilantik menduduki jabatan kebupatiannya, berulangkali menyatakan menyambut baik kebijakan Pemprov Sulsel mengenai Pendidikan dan Pelayanan Kesehatan Gratis. ‘’Kita lihat dari Nawaitu kebijakan ini yang sangat baik dalam rangka memberikan jaminan pendidikan dasar kesehatan dasar bagi masyarakat. Justru kebijakan ini harus diwujudkan dengan baik. Jika masih terjadi plus-minus dalam pelaksanaannya, saya kira itu hanya soal sistemnya yang perlu kita perbaiki bersama,’’ katanya.

Pemkab Luwu sendiri,  dalam kaitan upaya memantapkan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakatnya, kini sedang berupaya meningkatkan status 21 Puskesmas yang tersebar di 21 kecamatan menjadi Puskesmas Plus. ‘’Sekarang sudah ada 10 dari 21 Puskesmas tersebut yang telah berstatus sebagai Puskesmas Plus yaitu Puskesmas yang telah memiliki fasilitas untuk melayani pasien rawat inap,’’ jelas Bupati H.A.Muzakkar.

Akan tetapi meningkatnya kunjungan masyarakat ke tempat-tempat pelayanan kesehatan, setelah dimulainya pelayanan Kesehatan Gratis 1 Juli 2008, menurut Sekretaris Kota (Sekkot) Palopo, H. Martin Jaya, SH, Msi, tidak dapat serta merta dijadikan sebagai ukuran ketidakberhasilan pembangunan di bidang kesehatan.

Alasannya, dengan adanya pelayanan kesehatan dasar yang gratis saat ini, untuk sakit-sakit ringan saja warga langsung meminta pelayanan ke Puskemas. ‘’Hal ini sangat dirasakan di Kota Palopo. Sejak ada pelayanan kesehatan gratis, warga yang mencret-mencret sedikit saja sudah langsung minta pelayanan kesehatan di Puskesmas, bahkan ada yang langsung ke rumah sakit. Hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini merupakan salah satu gejala positif dari kebijakan gratis ini, dimana dalam waktu relatif singkat mampu membangkitkan besarnya kesadaran warga mengenai pentingnya menjaga dan memelihara kesehatan diri, keluarga dan lingkungannya,’’ kata Martin Jaya.

Lebih menarik lagi, karena menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wajo, dr.Azis, banyak warga yang tergolong ekonomi mampu di daerahnya sekarang ini justru rajin memeriksakan kesehatan mereka, memanfaatkan fasilitas Pelayanan Kesehatan Gratis. ‘’Sekalipun mereka diketahui tergolong orang kaya, tetapi harus tetap dilayani secara gratis jika datang ke Puskesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar, karena memang begitu aturan main Pelayanan Kesehatan Gratis tersebut,’’ katanya.

Kebijakan Pelayanan Kesehatan Gratis yang dicanangkan Pemprov Sulsel sejak 1 Juli 2008 tersebut, meliputi pemberian pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan semua jaringannya kepada seluruh penduduk di Provinsi Sulsel. Kecuali, penduduk yang telah memiliki jaminan Asuransi Kesehatan, seperti pemegang Kartu Askes bagi PNS, Kartu  Asabri bagi anggota TNI/Polri, pemegang kartu Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat), Jamsostek, dan semacamnya, tidak ditanggung dalam Pelayanan Kesehatan Gratis ini.

Dalam kaitan pelaksanaan kebijakan ini, Pemprov Sulsel menerbitkan Kartu Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) yang diberikan kepada warga untuk melancarkan pelayanan di Puskemas dan rumah sakit. Bagi penduduk yang belum memiliki Kartu Jamkesda, dilayani dengan menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Kartu Keluarga (KK) yang membuktikan sebagai penduduk Provinsi Sulsel.

‘’Tapi dalam keadaan emergency atau gawat darurat, pemberian pelayanan kesehatan selalu harus didahulukan. Pasien harus segera dilayani. Mengenai masalah birokrasi, identitas atau rujukan si pasien, urusannya belakangan,’’ tandas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, dr.H.Rachmat Latief, SpPD, M.kes,FINASIM ketika memberikan pemaparan mengenai kebijakan Pelayanan Kesehatan Gratis di hadapan wartawan peserta ‘Safari Jurnalistik’ di Baruga Sangiang Seri’, Gubernuran Sulsel.  

Kebijakan Pelayanan Kesehatan Gratis Pemprov Sulsel, meliputi gratis pembayaran pemeriksaan kesehatan dasar hingga operasi, gratis pemberian obat (sebatas obat generik), dan gratis biaya perawatan hingga rawat inap kelas III di Puskesmas, rumah sakit atau balai kesehatan milik pemerintah daerah atau yang ditunjuk oleh Pemprov Sulsel.

Namun bagi warga atau pasien yang harus menjalani operasi jantung, kateterisasi jantung, pemasangan cincin jantung, CT Scan dan MRI, cuci darah (haemodialisasi), bedah syaraf, bedah plastic (kosmetik medik), penyakit kelamin dan atau penyakit akibat hubungan seksual, serta alat bantu kesehatan tidak termasuk jangkauan Pelayanan Kesehatan Gratis Pemprov Sulsel.

‘’Layanan gratis diberikan tak membedakan orang kaya atau miskin, diperlakukan sama sepanjang memenuhi persyaratan, memiliki identitas berupa KTP atau KK sebagai penduduk Sulsel, serta mau menerima pelayanan yang telah ditentukan dalam kebijakan Pelayanan Kesehatan Gratis Pemprov Sulsel sebagaimana diatur dalam Perda No. 2 Tahun 2009 tentang Kerjasama Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Gratis,’’ tandas Rachmat Latief.

Dengan adanya kebijakan ini, katanya, minimal tak ada lagi penduduk Sulsel yang sakit, lalu pasrah tinggal di rumah dengan alasan tak mampu membayar biaya pelayanan kesehatan. (Mahaji Noesa,  Tabloid Mingguan DEMOs Makassar Edisi No.400 Nopember 2010/Tahun XII)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s