Gambar

Pelabuhan Makassar/ Foto: Mahaji Noesa

Seperti dugaan banyak pihak sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Sulsel tahun 2013 diperkirakan akan tetap dalam posisi baik berada di atas angka pertumbuhan ekonomi secara nasional. Tanda-tandanya dapat dilihat dari data BI yang dirilis kepada wartawan, dalam triwulan pertama 2013, pertumbuhan ekonomi di wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulamampu) mencapai 8,26%.

Bahkan menurut Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia Wilayah I Sulamampu, Mahmud Arsin, pertumbuhan ekonomi untuk wilayah Sulsel jauh lebih baik dibandingkan pertumbuhan provinsi lain di wilayah ini.

Angka pertumbuhan ekonomi Sulsel 2013, menurutMahmud, akan relatif stabil dengan adanya berbagai instrumen ekonomi daerah yang tetap terjaga. Antara lain, masih berlanjutnya sejumlah proyek infrastruktur serta masih masuknya sejumlah investasi baru.

Pihak Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sulsel menargetkan investasi  Rp 6,7 triliun masuk dalam tahun 2013. Tahun lalu, target investasi Rp 5,9 triliun di Sulsel, realisasinya mencapai Rp 6,1 triliun.

Justru Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulsel La Tunreng menyatakan, tahun  2013 ekonomi Sulsel berpeluang tumbuh hingga 9%, dengan catatan pemda fokus pembangunan infrastruktur dan pembenahan kawasan industri untuk mendukung pertumbuhan industrialisasi di daerah ini.

Data BPS, pertumbuhan ekonomi Sulsel 2012 secara kumulatif 8,3 %, sedangkan rata-rata nasional hanya 6,23 %. Pertumbuhan ekonomi melebihi pertumbuhan nasional terjadi sejak 2007. Pihak BI mencatat pertumbuhan ekonomi Sulsel 2012 mencapai 8,58 %.

Bankir memberikan dukungan besar terhadap kegiatan perekonomian masyarakat di Sulsel tahun 2012. Hal itu bisa dilihat dari aset bank umum tumbuh 23,4 perse (yoy) dari Rp 61,4 triliun menjadi Rp75, 7 triliun. Dana yang dihimpun mencapai Rp 51,3 triliun atau tumbuh 23,5 persen (yoy).

Dalam amatan BI, kegiatan konsumsi dan investasi mendominasi pertumbuhan ekonomi Sulsel 2012. Kegiatan konsumsi menyumbang 6,79 % dan investasi 20,14 %, selain ditunjang pulihnya sektor tambang dan laju sektor tersier. Hal sama terjadi tahun sebelumnya, kegiatan konsumsi menyumbang 4,78 % dan kegiatan investasi 10,20 % terhadap pertumbuhan ekonomi Sulsel 2011 sebesar 7,61 persen.

Namun dalam diskusi panel perkembangan ekonomi Sulsel dilakukan BI Wilayah I Sulamampu awal April 2013 di Makassar, dua ekonom Sulsel, Hamid Paddu dan Madjid Sallatu masih mengkritisi capaian angka-angka pertumbuhan ekonomi Sulsel tersebut sebagai pertumbuhan yang belum merata.

Gambar

Kota Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan/Foto: Mahaji Noesa

Hamid Paddu, pakar ekonomi Unhas menyodorkan contoh, pertumbuhan ekonomi Sulsel yang terdiri atas 24 kabupaten/kota hampir sebagian merupakan kontribusi dari dua daerah saja. Yaitu kontribusi pertumbuhan sekitar 31 % dari kota Makassar dan 16 % dari kabupaten Luwu Timur.

‘’Angka pertumbuhan ekonomi tinggi dicapai Sulsel selama ini belum berjalan secara merata, masih banyak wilayah belum mampu memberikan pertumbuhan ekonomi yang besar,’’ katanya.

Ketua Dewan Pakar Badan Koordinasi Pembangunan Regional Sulawesi, Prof. DR. Madjid Sallatu mengistilahkan pertumbuhan ekonomi Sulsel sebagai pertumbuhan fluktuatif, strukturnya masih rapuh. Apabila dilihat lebih ke dalam, katanya, hanya didorong sektor pertambangan.

‘’Pertumbuhan ekonomi kita di tingkat kabupaten selama lima tahun terakhir sangat lamban, hanya kota Makassar dan kabupaten Luwu Timur yang pertumbuhan ekonomi daerahnya maju,’’ jelasnya.

Senada dua pakar Unhas ini menyatakan, untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih maju dan merata pemerintah harus menggenjot sektor pertanian yang menjadi basis andalan Sulsel. ‘’Sektor ini punya potensi besar untuk dikembangkan, dan akan paling banyak menyerap tenaga kerja dibandingkan sektor lainnya,’’ jelas Hamid Paddu.

Madjid Sallatu menekankan perlu dilakukan pengembangan pengolahan hasil-hasil tani yang selama ini pergerakannya dirasakan sangat lamban. ‘’Pemerintah harus fokus ke arah itu, karena melalui industri pengolahan akan menaikkan lebih besar nilai jual setiap produksi petani,’’ katanya.

Manariknya, di balik hitung-hitungan dan analisa angka pertumbuhan ekonomi Sulsel yang tinggi dalam lima tahun terakhir, ternyata belum signifikan dengan angka penurunan kemiskinan. Data BPS, sampai penghujung tahun 2012 masih terdapat lebih 800 ribu jiwa penduduk miskin di Sulsel.

Lebih menarik lagi, karena  angka penurunana penduduk miskin Sulsel dari 825 ribu jiwa (posisi Maret 2012) menjadi 805 jiwa (September 2012), jumlah persebaran penduduk miskin di wilayah perkotaan mengalami peningkatan sekitar 4 ribu orang. Sedangkan di daerah perkotaan dicatat BPS berkurang sekitar 24 ribu orang.

Korelasi angka-angka pertumbuhan ekonomi dengan penduduk miskin tersebut masih membingungkan. Apalagi jika dikaitkan dengan analisa dua daerah – kota Makassar dan Luwu Timur memberikan kontribusi lebih 45 % terhadap pertumbuhan ekonomi Sulsel. (Mahaji Noesa, Koran Independen Makassar, Edisi 32, 29 April – 5 Mei 2013) 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s