Bundaran stainless di jalan bypass kota Kendari

Bundaran stainless di jalan bypass kota Kendari


Perkembangan pesat perluasan kota Kendari dalam 10 tahun terakhir ditandai dengan kehadiran pembangunan banyak bundaran. Istilah bundaran diberikan oleh warga kota Kendari terhadap jalan-jalan simpang empat yang baru dibuka seiring dengan perluasan lokasi pemukiman, kawasan perkantoran serta kawasan bisnis di berbagai penjuru ibukota provinsi Sulawesi Tenggara ini.
Jalan-jalan simpang empat yang ditandai dengan pembuatan bundaran di tengahnya umumnya dibuat dalam ukuran jalanan yang lebar 8 hingga 15 meter. Antara bundaran yang satu dengan lainnya menjadi pertanda kawasan perluasan pengembangan kota semacam blok wilayah. Bundaran itu masing-masing diberi tanda dan nama julukan tersendiri oleh warga kota.
Bundaran Panser di poros Andounohu kota Kendari

Bundaran Panser di poros Andounohu kota Kendari


Seperti bundaran Tapak Kuda yang menjadi pertemuan jalan dari arah Kendari Beach ke Bundaran Stainless, Jl Malik Raya dan ke arah Jembatan Tripping Andonohu. Bundaran stainlees di arah barat bundaran Tapak Kuda merupakan perempatan jalur Jalan By Pass ke Pasar Baru dan Jl Made Sabara – Jembatan Tripping Andonohu. Warga menamai sebagai bundaran Stainless lantaran di tengah bundaran terdapat ornamen taman yang terbuat dari besi-besi kilap anti karat stainless steel.
Ke arah selatan terdapat bundaran Andonohu yang juga sering disebut bundaran Panser lantaran di tengah bundaran terdapat asesori sebuah kendaraan militer jenis Panser yang sudah tak terpakai lagi. Bundaran ini menandai perempatan jalanan arah Andonohu dan kawasan kampus Universitas Halu Oleo (UHO).
Ke arah selatan menenggara terdapat bundaran Polda. Disebut demikian menandai perempatan jalan menuju markas Polda Sultra yang berhadapan dengan Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara. Dari bundaran ini ke arah timur bersambung dengan poros jalan ke Moramo kabupaten Konawe Selatan (Konsel).
Sekitar 6 km ke arah barat bundaran Polda terdapat bundaran Bola Dunia. Bundaran yang di tengahnya terdapat tugu Bola Dunia, merupakan persimpangan jalan dari arah Mandonga ke bandara Halu Oleo (d/h. bandara Wolter Monginsidi).
Bundaran Pesawat Terbang di poros menuju bandara Halu Oleo Kendari

Bundaran Pesawat Terbang di poros menuju bandara Halu Oleo Kendari


Masih terdapat sejumlah bundaran lain yang menjadi ikon baru kota Kendari seperti bundaran Abunawas di depan RSUD Abunawas Andonohu dan bundaran Pesawat yang di tengahnya terdapat sebuah reflika pesawat jet tempur yang menandai persimpangan dari arah Mandonga menuju Konda dan ke Pintu Gerbang perbatasan kota Kendari dengan kabupaten Konsel.
Antarbundaran juga terdapat jalan-jalan penghubung kualitas hotmix dengan lebar jalan di atas 6 meter. Bundaran-bundaran tersebut selain menjadi penanda kawasan, sekaligus mencerminkan kesungguhan kerja Pemkot Kendari menata ruang meluaskan kota dengan membangun jalan mengantisipasi perkembangan lalu-lintas perkotaan bebas dari kemacetan.
Untuk mempercepat mencapai tujuan, para sopir taksi kota Kendari umumnya menanyakan nama bundaran yang terdekat dengan alamat yang hendak dituju penumpangnya.
Mengamati penataan jalan serta keapikan pengaturan arus lalu-lintas antarbundaran yang terdapat di pusat kota Kendari yang juga dijuluki sebagai Kota Lulo, bukan tidak mungkin dalam tahun 2014 ini dapat meraih penghargaan Wahana Tata Nugraha di bidang penataan serta pengaturan perlalu-lintasan kota.
Kota Kendari luasnya lebih dari 300 km persegi dua kali lebih besar dari wilayah kota Makassar. Masih terdapat lahan cukup luas untuk pengembangan wilayah kota terutama di arah selatan Teluk Kendari, ke arah timur, dan ke arah utara poros perbatasan dengan kabupaten Konawe.
Penduduk kota saat ini kurang lebih 300 ribu jiwa. Tak heran jika di berbagai penjuru kota masih terlihat banyak wilayah lengang penduduk.
Jika Jembatan Bahteramas melintas Teluk Kendari dari Kota Lama ke Lapulu dapat terujud dipastikan akan jadi pemicu perkembangan wilayah bebas banjir yang masih lengang di arah timur kota hingga Sambuli.
Banyak warga menyarankan pengembangan kota Kendari kelak tetap mempertahankan ciri pembangunan bundaran-bundaran yang dibuat tematik untuk penanda kawasan.
Bundaran Mandonga yang dibangun sejak 25 tahun lalu merupakan bundaran pertama jadi kebanggaan pertanda pusat kota Kendari, setelah sebelumnya berstatus sebagai Kota Administratif (Kotif). Bundaran ini menjadi pengurai jalan simpang tiga dari dan menuju arah timur kota lama Kendari, menuju bandara Halu Oleo arah selatan dan poros keluar arah utara ke kabupaten Konawe dan kabupaten Kolaka
Terdapat sejumlah bundaran telah dirombak, seperti bundaran Wuawua, bundaran Pasar Baru, dan bundaran Kota Lama untuk mengakomodasi kian berkembangnya keramaian dan kepadatan arus lalu-lintas kota. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kreport kompas.com 26 Agustus 2014)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s