Singgapore di Kampung Bajo Konawe Utara

Posted: 12 Januari 2015 in News
Tag:, , , , ,

Sebuah pulau kecil tak berpenghuni dengan latar hamparan laut Banda terlihat elok dipandang bagai gundukan tanah mengapung sekitar 500-an meter di ujung timur dermaga Basule di kecamatan Lasolo kabupaten Konawe Utara.
Potongan panorama pesisir pantai timur wilayah provinsi Sulawesi Tenggara ini menarik perhatian sejumlah kru yang mengikuti perjalanan reses anggota Komite III DPD RI, Muliati Saiman, S.Si, saat mengasoh di kelurahan Basule Minggu terakhir Desember 2014.

Tampak Pulau Keramat  ujung dermaga/Foto : Mahaji Noesa

Tampak Pulau Keramat ujung dermaga/Foto : Mahaji Noesa

Puluhan bagang apung nelayan yang terhampar di laut Banda arah kanan dermaga Basule, plus beragam pepohonan laut yang tumbuh rimbun sepanjang pesisir serta barisan pegunungan yang sebagian telah belang-belang lantaran dikupas sejumlah perusahaan tambang untuk mengambil pasir ore yang mengandung bijih nikel, melengkapi keindahan alam sekeliling pulau.
Hampir semua pendatang, menurut seorang warga asal Tinobu, ibukota kecamatan Lasolo, ketika mula melihat pulau tersebut menduga sebagai tempat rekreasi karena letaknya sangat dekat dengan daratan. Justeru yang terjadi hal sebaliknya, pulau ini sejak lama jarang dikunjungi warga.
Beberapa warga di Basule menyarankan agar membatalkan niat ketika kami berupaya mencari tumpangan ke pulau di depan dermaga Basule. Mereka menceritakan sering terjadi hal aneh terhadap pengunjung terutama jika tidak ada hubungan keluarga dengan mereka yang dimakamkan di pulau tersebut.
Sejumlah kuburan tua bertebaran di daratan pulau. Salah satu kuburan yang disebut-sebut sebagai makam Syekh Abdullah, moyang suku Bajo, sering berpindah-pindah tempat. Penduduk mengaku banyak ular aneh sering muncul di sekitar kuburan. Mungkin itulah sebabnya sehingga pulau ini diberi nama sebagai Pulau Keramat.
Namun seorang warga di Basule yang mengaku ada memiliki hubungan keluarga dengan Syekh Abdullah menyatakan, selama ini warga sekitar Lasolo banyak yang salah mengartikan karena sebutan Pulau Keramat diidentikkan dengan tempat angker atau menakutkan. Pada hal, katanya, Pulau Keramat itu Palau Suci. Dicontohkan, beberapa orang bukan suku bajo yang pernah mampir di Pulau Keramat dan menemukan makam Syekh Abdullah kemudian semua mendapat keberuntungan hidup sejahtera karena semua usaha yang dilakukan berjalan baik dan lancar.a bajo8
Kuburan tua suku bajo yang banyak terdapat di Pulau Keramat dapat menjadi bukti bahwa wilayah pesisir Lasolo pantai timur Sulawesi Tenggara yang berbatasan dengan Sulawesi Tengah sebenarnya sejak lama menjadi wilayah teritorial lokasi pergerakan suku bangsa laut Indonesia.
Sejumlah pulau lain dan wilayah pesisir sekitar Pulau Keramat sekarang tumbuh perkampungan desa-desa yang dihuni mayoritas suku bajo dengan tingkat kesejahteraan yang sejajar dengan penduduk desa-desa non suku bajo lainnya. Desa Lemo Bajo, Mandiodo, Mowundo, Barasanga, Tanjung Bunga, Kampoh Bunga, Boenaga, Watu Rambaha, dan Boedingi merupakan kawasan pemukiman suku bajo di pesisir pantai kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Suku bajo yang telah mendarat tersebut sebagian besar tetap menjadikan laut sebagai ‘kebun’ tempat mencari nafkah kehidupan. Mereka sudah tidak menjadikan perahu sebagai kendaraan sekaligus rumah untuk hidup berkelana di pesisir pantai sebagaimana moyangnya dahulu, tetapi aktivitas kehidupan sebagai orang laut tetap mewarnai keseharian lingkungan dan perairan laut di sekitar pemukiman-pemukiman suku bajo yang telah mendarat.
Ramainya jual beli ikan laut hasil tangkapan setiap pagi hari mewarnai pemukiman-pemukiman suku bajo di pesisir Konawe Utara. Tak hanya aktivitas kapal-kapal penangkap ikan, tapi juga bagang apung, bentangan jaring hingga pengeringan ikan menjadi panorama khas kehidupan di perkampungan suku bajo. Lingkungan dan kehidupan original suku bajo sebagai suku bangsa laut yang tetap terpelihara perlu mendapat perhatian pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dikemas sebagai obyek wisata khas suku laut yang satu-satunya di dunia hanya dapat disaksikan di perairan-perairan Indonesia, termasuk di sepanjang pantai timur kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Saat ini, menurut Sekretaris Kerukunan Keluarga Bajo ‘Kekar Bajo’ kabupaten Konawe Utara, Syamsul Bahri, S.Si, terdapat lebih 1.000 Kepala Keluarga atau sekitar 5.000 jiwa suku bajo yang menghuni desa di pulau-pulau dan pesisir timur kabupaten Konawe Utara.
Mantan Kepala Desa Basule (1999 – 2004) ini mengaku, melanjutkan pengabdian diangkat langsung melalui SK Bupati Lukman Abunawas sebagai pejabat Kepala Desa di Pulau Labengki tahun 2004. Desa di pulau yang berbatasan dengan wilayah perairan Sulawesi Tengah kala itu masih berstatus desa persiapan tanpa warga penghuni tetap.
Penduduk yang awalnya hanya 8 KK, kenang Syamsul Bahri, juga selalu keluar masuk maklum mereka adalah suku bajo yang menjadikan Pulau Labengki hanya tempat persiggahan saat cuaca di laut tidak bersahabat.
Untuk membetahkan orang-orang bajo bermukim di Desa Labengki, Syamsul menyediakan kapling tanah pemukiman gratis seluas 15 x 20 meter untuk setiap KK. Dibantu pihak satuan Angkatan Laut dan Polair dilakukan perburuan terhadap warga bajo yang masih hidup berpindah-pindah bersama keluarga menggunakan perahu di hol-hol yang ada seputar pulau Labengki Kecil dan sekitarnya.
Dengan diiringi pemberian pengertian laut tetap sebagai ‘kebun’ dan usai kerja atau saat isterahat harus ke rumah, hanya dalam tempo 6 bulan desa persiapan Labengki dapat menjadi sebuah desa definitif yang dihuni suku bajo di kecamatan Lasolo, Konawe Utara.
Desa suku bajo yang sekarang ini maju pesat terjadi atas tingginya kesadaran warga untuk membangun desanya. Tingkat kesejahteraan warganya cukup baik, rumah-rumah mereka umumnya sudah permanen. Sudah terdapat SD, SMP dan sarana layanan kesehatan di Pulau Labengki. Untuk keperluan air bersih warga sudah menggunakan teknologi mengolah air laut menjadi air tawar.
‘’Desa Labengki pernah dijuluki sebagai Singapura Kecil setelah saya memberi tulisan Singgapore di gerbang desa,’’ papar Syamsul Bahri yang menjabat sebagai Kades Labengki hingga tahun 2009.
Tulisan Singgapore dipertanyakan bahkan minta dihapus oleh Bupati Lukman Abunawas ketika bersama rombongannya menyambut tahun baru 1 Januari 2005 di Pulau Labengki, tapi Syamsul bersikukuh tulisan tersebut dipertahankan.
‘’Singgapore adalah bahasa asli suku bajo yang berarti Tempat Persinggahan. Apa salahnya kita gunakan kata itu karena Pulau Labengki Kecil yang kini menjadi Desa Labengki awalnya hanya menjadi lokasi persinggahan suku bajo di pesisir timur pantai Konawe Utara,’’ tandas Syamsul mengulang alasannya saat mempertahankan pemampangan kata Singgapore di gerbang Desa Labengki.
Syamsul yang mengaku berdarah suku bajo dari garis keturunan ibunya mengatakan, satu-satunya suku di Indonesia yang memiliki presiden tersendiri yaitu Presiden Suku Bajo. Justeru dia merasa bangga apabila pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dapat membuat disain pengembangan lingkungan dan aktivitas kehidupan pemukiman-pemukiman suku bajo termasuk yang cukup besar jumlahnya di pesisir timur kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara agar dapat diangkat sebagai obyek wisata khas suku laut yang hanya terdapat di Indonesia.(HL di kompasiana.com 28 Desember 2014)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s