Indahnya Bunga Beracun Oleander di Pasangkayu

Posted: 2 November 2015 in Catatan Harian
Tag:, , , , ,

Indahnya tanaman hias bunga oleander di kota Pasangkayu merupakan salah satu pemandangan menarik saat melintas jalur Trans Sulawesi sepanjang lebih 800 km dari kota Makassar (Sulsel) ke kota Palu (Sulteng). Penanaman pohon berbunga warna merah muda dan pink di sebagian besar halaman rumah dan di tepi-tepi jalan protokol, kini seolah menjadi penanda khas kota Pasangkayu. Banyak warga di ibukota kabupaten Mamuju Utara (Matra) provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) tersebut menyakini oleander sebagai bunga rezeki lantaran umumnya mereka yang menanam, kehidupannya sejahtera.

Masih sangat sedikit warga di Pasangkayu mengetahui jika oleander, tanaman hias berdaun pita yang pohonnya dapat mencapai ketinggian lebih dari 3 meter tersebut merupakan salah satu jenis pohon beracun. Mulai dari daun, bunga, akar, kulit dan batang pohonnya mengandung zat dapat mematikan apabila masuk ke tubuh manusia. Begitu keras daya rusaknya , getah pohon oleander apabila mengenai luka di tubuh seseorang dapat menyebabkan kelumpuhan.

Tidak jelas siapa awalnya yang mengenalkan tanaman hias asal Maroko dan Portugal ini kepada warga kota Pasangkayu. Sejumlah penduduk sekitar pantai Pasangkayu menyebut oleander sebagai bunga Donggala. Mereka menamai demikian karena sebelumnya banyak memperoleh bibit dari kota Donggala, kl 80 km dari Pasangkayu. Donggala, ibukota sebuah kabupaten di Sulawesi Tengah (Sulteng)  berbatasan langsung dengan wilayah kabupaten Matra, Sulbar.

Sebenarnya sekitar 6 tahun lalu bunga oleander tersebut pernah menghebohkan warga kota Bandung, Jawa Barat. Mereka melakukan aksi ramai-ramai membabat tanaman oleander yang sebelumnya telah cukup lama dipelihara sebagai tanaman hias pekarangan dan ruang publik, setelah diketahui sebagai pohon mengandung zat beracun mematikan.

Zat racun bernama oleandrin yang meliputi seluruh bagian pohon oleander, tak hanya berbahaya apabila terkontaminasi ke dalam tubuh manusia tetapi juga hanya dengan kandungan 0,5 miligram zat tersebut mampu mematikan hewan. Sudah diteliti, dalam kondisi kering pun seluruh bagian dari pohon oleander masih mengandung racun berbahaya bagi manusia maupun hewan.

Ketika  memangkas daun dan ranting pohon oleander  yang rimbun di Jalur Dua Tengah, tampak sejumlah warga Pasangkayu tak hirau dengan getah-getah putih oleander yang terbercik liar dari daun dan ranting yang dipotong. Padahal, di getah oleander itulah berakumulasi oleandrin dan neriine sebagai toksin mematikan.

Ramainya minat warga di kota Pasangkayu saat ini memelihara tanaman oleander diharapkan perlu diiringi perhatian dari pemerintah setempat untuk menghindari dampak buruk dari pohon beracun tersebut. Aksi pembabatan tanaman  hias oleander yang pernah dilakukan pemerintah dan warga kota Bandung tahun 2009, semestinya dapat menjadi catatan penting masyarakat dan pemerintah di Indonesia agar menghindarkan penanaman tanaman-tanaman hias mengandung racun membahayakan di ruang-ruang publik. (Oleh Mahaji Noesa, tulisan ini pertama kali terposting di kompasiana.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s