Fort Rotterdam (1): Benteng Purba Karya Leluhur Indonesia

Posted: 11 Februari 2016 in News
Tag:, , , ,

ba47

Sepotong suasana dalam komplek benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Berwisata ke kota metropolitan Makassar tak lengkap rasanya apabila tidak mengunjungi benteng Fort Rotterdam. Lokasi properti lawas tinggalan abad XVI ini berada di pusat kota, sekitar 300 meter di arah barat kantor Balaikota Makassar. Selain taksi, dapat dijangkau menggunakan bus angkutan umum trans Mamminasata maupun angkutan kota (angkot) Petepete. Sampai sekarang tak ada pungutan biaya masuk bagi pengunjung.

Pasca dilakukan revitalisasi benteng tiga tahun lalu, tak hanya turis mancanegara tapi juga selalu padat pengunjung lokal, warga kota, dan warga dari antarkabupaten kota di Sulawesi Selatan. Pun setiap hari ramai didatangi warga asal provinsi lain di Indonesia.

Terdapat museum Lagaligo di areal Fort Rotterdam, menyajikan lebih 6.000 koleksi benda sejarah dan purbakala. Lebih dari itu, sebagai situs banyak hal yang dapat diapresiasi ihwal sejarah dan kepurbakalaan saat berada dalam benteng seluas lebih 3 hektar tersebut.

3 gedung bagian luar btg

Suasana di arah barat benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Dinding benteng yang kokoh terbuat dari susunan puluhan ribu balok batu alam, menguatkan bukti sejak masa silam tingkat kemajuan olah pikir dan rangcang bangun nenek moyang bangsa Indonesia sudah cukup tinggi.

Berbentuk trapesium dengan empat sudut lancip, denah benteng menyerupai seekor kura-kura sedang merayap. Dengan panjang keliling dinding lebih 600 meter, tinggi 4 hingga 6 meter, tebal antara 2 hingga 3 meter, dapat dibayangkan saat-saat benteng dibangun juga ditopang semangat serupa ketika leluhur membangun Candi Borobudur di Yogyakarta jaman masih serba manual mengandalkan tenaga manusia.

Benteng Fort Rotterdam satu-satunya benteng tersisa dari 12 benteng yang pernah ada dalam masa Kerajaan Gowa. Dibangun ketika Raja Gowa IX, I Mannutungi Daeng Matanre Karaeng Tumapaqrisi Kallonna berkuasa (1510-1546). Awalnya, seperti halnya benteng Somba Opu, benteng induk pertama dibangun tahun 1512 tempat istana raja, setelah pusat Kerajaan Gowa dipindahkan dari Tamalate (wilayah agraris) ke wilayah pesisir pantai Maccini Sombala (Somba Opu), dinding benteng dibuat menggunakan gundukan tanah.

Saat Raja Gowa X, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung yang dijuluki Karaeng Tunipalangga Ulaweng berkuasa (1546 – 1565), kemudian mulai dilakukan renovasi mengganti dinding-dinding benteng dengan menggunakan susunan batu bata (tanah lempung yang dibakar) dan potongan batu-batuan alam (andesit).

Melalui sejumlah karya seniman pelukis supranatural Bahtiar Hafid yang terpajang di Sanggar Ujungpandang Visual Art Fort Rotterdam, terhayalkan perubahan bentuk suasana benteng dengan konstruksinya dari abad ke abad. Abad XVI hingga abad XVII, terlukis rumah-rumah adat etnik Makassar tampak ramai di dalam lingkungan benteng yang menjadi pemukiman kalangan raja serta para petingginya.

Seiring perjalanan waktu plus beragam peristiwanya, telah terjadi banyak perubahan terhadap tata massa dan konstruksi bangunan dalam benteng Fort Rotterdam dan sekitarnya. Kondisi bertahan saat ini, di dalamnya terdapat bangunan permanen bergaya portugis, dan ada bangunan yang dibuat masa pendudukan Jepang. Paling banyak bangunan bergaya Eropa abad pertengahan, buatan Belanda. Perubahan-perubahan terjadi dicatat sejarah, banyak dilatari keserakahan pihak asing masa silam untuk menguasai negeri. Kini, tidak satupun bangunan berbentuk rumah adat etnik Makassar di komplek benteng Fort Rotterdam.

Benteng ini mulanya dikenal dengan sebutan benteng Ujungpandang. Kemudian diubah, dilabeli nama sebagai benteng Fort Rotterdam oleh pihak kompeni Belanda usai ditandatangani Perjanjian Bungaya 18 Nopember 1667. Mengabadikan nama tempat kelahiran komandan kompeni, Cornelis Jansen Speelman yang pernah bermarkas di benteng. Mirisnya, penamaan tersebut sampai sekarang dipatenkan tehadap benteng purba yang merupakan karya asli leluhur bangsa Indonesia. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kompasiana, Januari 2016)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s