Fort Rotterdam (2): Gerbang Utama Berpindah dari Timur ke Barat

Posted: 11 Februari 2016 in News
Tag:, , , ,

ba62

Salah satu terowongan di dinding timur benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Satu-satunya jalan masuk ke benteng Fort Rotterdam saat ini melalui pintu yang terletak di tengah bentangan dinding arah barat. Di sisi kanannya terdapat sebuah taman bunga tertata menawan berasesori patung Sultan Hasanuddin berkuda. Anda tahu, pintu masuk yang berhadapan dengan resto Kampung Popsa di Jalan Ujungpandang tersebut, sejatinya bukan merupakan pintu masuk gerbang utama ke benteng Fort Rotterdam.

Melalui gambar dan skertsa-sketsa yang dibuat para peneliti, arkeolog dan sejarahwan, gerbang utama pintu masuk benteng Fort Rotterdam sesungguhnya berada di pertengahan bentangan dinding benteng bagian timur. Namun gerbang utama tersebut sejak lama tertutup puluhan bangunan kantor dan pemukiman rakyat yang menempel langsung dengan dinding benteng di arah timur.

Sejak lama sudah pernah berhembus kabar, zoning benteng Fort Rotterdam dan sekelilingnya akan dibebaskan dari semua bangunan dan pemukiman. Akan tetapi kabar itu hingga kini masih tetap berupa kabar tanpa tindak lanjut.

Dalam sejumlah foto dokumentasi yang dibuat tahun 30-an, terlihat gerbang masuk utama benteng Fort Rotterdam di arah timur dahulu dihubungkan dengan sebuah jembatan panjang. Jembatan tersebut melintas di atas semacam kanal yang mengalir sejajar dinding luar benteng arah timur.

Di dalam benteng hingga kini masih terlihat jelas arah jalan keluar ke Gerbang Utama dalam bentuk terowongan sepanjang sekitar 5 meter, dari lantai bawah sebuah bangunan menerobos ke dinding benteng. Hanya saja jalan keluar masuk pintu utama benteng telah ditutup beton. Tidak tembus dengan pemukiman penduduk yang menghimpit dinding luar benteng di arah timur.

ba63

Terowongan menembus ke dinding benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

 

Tidak terdapat cacatan yang jelas, sejak kapan pintu belakang arah barat benteng Fort Rotterdam yang dahulu terkoneksi langsung dengan laut Selat Makassar itu kemudian mulai difungsikan sebagai pintu masuk menggantikan pintu utama di bagian timur.

Melalui foto lama tahun 1915 saat pihak asing masih menguasai dan bermarkas di benteng Fort Rotterdam, pintu belakang dari arah barat benteng mendapat penjagaan ketat. Pilar gerbang masuk berlapis 3 dilengkapi pos jaga. Masih tampak ada bangunan di lokasi bastion Bone, dekat pintu belakang tersebut. Kini pilar luar gerbang telah tiada dan bastion Bone tinggal puing tanpa bangunan.

Tanpa diberikan penjelasan detil atau menyimak seksama lembaran sejarah, dipastikan letak pintu utama benteng Fort Rotterdam yang sesungguhnya akan kabur. Dan, pintu masuk di arah barat akan terus menguat seperti umumnya sebutan sekarang sebagai pintu depan Fort Rotterdam.

Dinding bagian barat sepanjang 225 meter, memang, saat ini merupakan bagian terbuka tanpa terhalang satu pun bangunan. Bersisian langsung dengan Jl Ujungpandang. Bagian inilah yang sekarang disebut banyak orang sebagai lokasi depan benteng Fort Rotterdam.

Berbagai event, termasuk berskala nasional maupun internasional yang pernah digelar di pelataran depan pintu barat Fort Rotterdam, umumnya pihak penyelenggara menyebut lokasinya dengan nama Depan Benteng Fort Rotterdam.

ba14

Relief Singa di benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Sedangkan dinding di arah utara sepanjang 152 meter, kini masih dihempang bangunan-bangunan milik Stasion RRI Makassar termasuk auditorium yang menghadap Jl Karaeng Riburane. Dinding bagian selatan menghadap Jl WR Supratman sepanjang 165 meter, sebagian sudah bebas terbuka dengan pembuatan taman plus kanal yang berhimpit langsung dengan dinding benteng. Sebagiannya lagi masih terhalang bangunan milik Legiun Veteran RI Sulawesi Selatan.

Paling parah, kondisi dinding di arah timur tempat gerbang utama yang dahulu merupakan bagian depan benteng Fort Rotterdam. Selain dinding sepanjang 204 meter tersebut dihimpit pemukiman penduduk, juga ditutupi bangunan sejumlah perkantoran di Jl Slamet Riyadi.

Bagi pengunjung saat menyusuri lorong di atas susunan balok-balok batu di dinding timur, dapat melihat langsung betapa sumpeknya bangunan yang menghimpit dari luar di arah timur dinding benteng Fort Rotterdam. Ini merupakan salah satu view yang terasa tak enak di situs peninggalan abad XVI masa kerajaan Gowa tersebut. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kompasiana, Januari 2016)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s