Membaca Catatan Kaki Bahaya Komunisme

Posted: 15 Maret 2016 in Catatan Harian, Lawas
Tag:, , , , ,

bahaya1

Buku Bahaya Komunisme koleksi Perpustakaan Kota Makassar/Foto:Mahaji Noesa

Bahaya Komunisme, tergolong buku tua. Masih menggunakan teks ejaan lama Bahasa Indonesia yang belum disempurnakan. Diterbitkan oleh penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1968. Namun buku karangan bersama Andi Zainal Abidin,SH dan Baharuddin Lopa, SH tersebut, termasuk salah satu buku edisi terpandang di masanya.

Buku yang juga menjadi kekayaan koleksi Perpustakaan Kota Makassar, covernya berjas kain merah, menggunakan judul huruf tekan berwarna kuning emas. Presiden RI Jend. Soeharto dan Jaksa Agung Mayjen Soegih Arta secara khusus memberikan Prakata dalam buku Bahaya Komunisme tersebut.

Terdapat sebuah catatan di lembar teras buku menyatakan, buku Bahaya Komunisme masuk koleksi Perpustakaan Kota Makassar, 17 Oktober 2006 atas pemberian dari Jancy Raib (pernah menjabat sebagai Walikota Makassar, pen).

bahaya2.jpg

Halaman 50 buku Bahaya Komunisme mengulas kondisi perekonomian Indonesia tahun 60-an/Foto: Mahaji Noesa

Buku setebal 258 halaman tak hanya mengurai ikhwal kepalsuan ideologi dan politik komunis, kebengisan strategi, taktik dan propagandanya, serta fakta-faktanya di seluruh dunia. Akan tetapi juga mencatat sejumlah suasana kebatinan dan kondisi penguasa di Indonesia sebelum dan setelah terjadinya pemberontakan G 30 S/PKI tahun 1965 di Indonesia.

Sebenarnya, seperti dipapar dalam Kata Pengantar penulisnya, buku Bahaya Komunisme tersebut sudah disusun dan dipersiapkan untuk diterbitkan jauh hari sebelum terjadi peristiwa pemberontakan G 30 S/PKI tahun 1965. Kedua penulisnya kemudian terkenal, masing-masing Prof Dr H Andi Zainal Abidin Faried, SH, MH sebagai guru besar Universitas Hasanuddin, atropolog dan sejarahwan. Sedangkan Baharuddin Lopa, SH, mantan Jaksa Agung RI yang dijuluki Jaksa Pendekar Hukum di Indonesia. Keduanya telah wafat.

Sebuah Catatan Kaki (hal. 136 – 137) dalam buku ini terbilang cukup menarik lantaran memuat utuh perbedaan ciri karakter antara pemerintahan Orde Baru (Orba) dengan Orde Lama Orla) versi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Berikut dikutipkan Catatan Kaki tersebut:

Jenderal Soeharto (pada sidang paripurna Kabinet Ampera tanggal 19 April 1967, menegaskan pengertian Orde Baru: ‘’Orde Baru adalah tatanan seluruh pri kehidupan rakyat, bangsa dan Negara RI yang diletakkan kepada kemurnian pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945.’’ Sebagai kekuatan inti Orde Baru, maka perlu juga kami muat perumusan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) mengenai perbedaan antara Orde Baru dan Orde Lama sebagai berikut :

ORDE BARU:

– mementingkan rakyat

– berpikir secara realistis

– mengemban Ampera

– berpikir secara bebas

– lepas dari mythos

– berdasarkan fakta

– taat dengan reserve, ketaatan dibatas oleh norma hukum

– the right man on the right place

– membersihkan penyelewengan dari siapa saja dan dimanapun juga

– social control terhadap pimpinan siapa saja

– tindakan konsekwen dan prinsipil

– tidak puas dengan semboyan dan dari kata-kata muluk

– mendukung orang-orang ahli, jujur dan efisien

– revolusioner ialah menjebol untuk membangun

– bersifat konsekwen dan tegas

– anti musuh/lawan revolusi Pancasila secara mutlak

– pikiran positif dan konstruktif secara nyata

 

ORDE LAMA:

– mementingkan golongan/klik atau diri sendiri

– berfikir irriil saja

– tidak memikirkan dan terharu oleh penderitaan rakyat

– bersikap ‘’yes man’’ asal bapak senang

– berdasarkan mythos

– memutarbalikkan fakta, puas dengan hayalan belaka

– taat tanpa reserve, taat tanpa tanggung jawab sendiri

– sistem relasi dan proteksi

– mempertahankan penyelewengan dan kepentingannya/golongan atau diri sendiri

– menyerahkan saja kepada pimpinan

– tindakan pli plan, bunglon

– puas dengan semboyan-semboyan yang bagus tetapi tidak dilaksanakan

– menerima koruptor, mismanagement dan birokrasi

– menjebol tanpa kecakapan untuk membangun

– bersikap kompromi, lemah, tawar menawar

– takut terhadap musuh revolusi Pancasila, pro nasakom, panca azimat, pro PKI/komunis

– pikiran negatif, ialah selalu anti-anti dan destruktif terhadap mereka yang mau membangun tanpa pemikiran vested interst

– orang yang tidak mengakui kenyataan

– politik mencari musuh

– politik zona phobi (takut kepada asing)

Catatan perbedaan Orba dan Orla versi KAMI tersebut, dijelaskan dikutip dari Bulletin Gerakan Mahasiswa Sosialis Makassar. Catatan berharga salah satu bukti betapa sejak lama sumbangsih pergerakan mahasiswa dalam ikut menjaga dan mempertahankan keutuhan NKRI, justeru lembaran aslinya tidak pernah mencuat dalam dinamika kepadatan aktivitas mahasiswa di kampus-kampus selama ini. Catatan Kaki di buku Bahaya Komunisme tersebut dapat menjadi sangat berharga sebagai bahan banding kekinian karakter pemerintahan Indonesia sejak memasuki era reformasi tahun 1998. Dahsyatnya buku sebagai pencatat masa, pembanding perubahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s