Archive for the ‘Catatan Harian’ Category

 

ulid11

Salah satu lokasi warung rakyat penjual Tuak Manis Lontar di poros Sengkang – Atapange/Foto:Mahaji Noesa

Tuak Manis juga dapat diperoleh dari sadapan Pohon Lontar, seperti nira dari Pohon Aren atau Enau. Di beberapa tempat di Sulawesi Selatan(Sulsel) yang memiliki banyak Pohon Lontar ditemui warung-warung rakyat yang menjual minuman khas Tuak Manis dari nira Pohon Lontar. Disajikan sebagai minuman dingin dalam botol-botol kemasan air mineral ukuran sedang dan besar.

Harganya relatif murah, Rp 5.000 per botol ukuran sedang berisi 600 ml dan Rp 10.000 per botol kemasan besar berisi 1500 ml.

ulid38

ulid43

Barisan pohon Lontar di hamparan persawahan kabupaten Bone, Sulawesi Selatan/Foto: Mahaji Noesa

Jika anda melakukan perjalanan ke provinsi Sulsel, minuman segar Tuak Manis Lontar, antara lain, dapat ditemui di warung-warung rakyat sepanjang poros jalan kota Pangkajene Sidenreng, ibukota kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) ke arah Batubatu, kabupaten Soppeng, poros Buludua (kabupaten Barru – kabupaten Soppeng), poros kota Sengkang, ibukota kabupaten Wajo ke TarumpekkaE, dan poros kota Sengkang ke Cabbenge, kabupaten Soppeng.

Di poros Sengkang – Cabbenge dan Sengkang – TarumpekkaE, warga sudah paham Tuak Manis nikmat diminum diadon dengan olekan cabe dan garam. Di kedua poros ini juga ada penganan khas terbuat  dari beras ketan dibakar dalam bungkusan daun pisang berbentuk segitiga, popular dengan nama Sokko Peppi, sedap dikunyah saat menikmati segarnya Tuak Manis Lontar.

ulid14

Inilah bentuk buah Lontar/Foto: Mahaji Noesa

Wanio, salah satu perkampungan rakyat di wilayah kabupaten Sidrap, lumbung padinya Sulsel, tapi dikenal sejak dulu justeru banyak warganya berhaji dari hasil usaha penjualan Tuak Manis Lontar.  Selain menggunakan kulkas pendingin, masih banyak warung rakyat di tepi jalan menggunakan kotak gabus berisi es batu untuk mengawetkan kesegaran Tuak Manis Lontar yang dijualnya.

Menurut pengakuan sejumlah penjual Tuak Manis Lontar di Sulsel, proses pengolahan nira Lontar tidak berbeda dengan pengolahan nira Enau. Hanya saja untuk nira Enau dalam hitungan ekonomis lebih menguntungkan diproses lanjut menjadi gula batu alias gula merah. Nira Lontar juga dapat dipanen 2 kali sehari, pagi dan sore hari.

Pohon Lontar yang merupakan flora identitas SulselS konon bibitnya dibawa oleh saudagar-saudagar Gujarrat antara abad 16 – 17 ke Sulawesi Selatan. Pohon Lontar juga disebut-sebut menjadi pertanda jejak wilayah kekuasaan raja-raja Sulawesi Selatan di masa lampau.

ulid12

Segelas Tuak Manis Lontar, Sokko Peppi, telur dan sambal/Foto: Mahaji Noesa 

Keindahan Pohon Lontar sebagai pohon purba dapat dinikmati sepanjang hamparan persawahan di kabupaten Maros, Pangkep, Barru, Sidrap ,Wajo, Bone, Gowa, Takalar, Jeneponto dan Bantaeng.

Selain menghasilkan nira, kulit buah lontar menyebar bau wangi saat matang, isinya berasa kelapa muda, banyak dijual di wilayah selatan  Sulawesi Selatan, seperti kabupaten Gowa, Jeneponto, Takalar, dan Bantaeng. Isi buah Lontar yang berbentuk biji-biji seperti kolang-kaling di wilayah-wilayah tersebut dikenal dengan sebutan Buah Tala.

Tuak Manis Lontar tidak memabukkan sekalipun diminum banyak. Minuman ini justeru diminati lantaran warga telah cukup lama merasakan khasiatnya sebagai tonic bagi yang lowbatt. Yuk….ke Sulawesi Selatan.

bahaya1

Buku Bahaya Komunisme koleksi Perpustakaan Kota Makassar/Foto:Mahaji Noesa

Bahaya Komunisme, tergolong buku tua. Masih menggunakan teks ejaan lama Bahasa Indonesia yang belum disempurnakan. Diterbitkan oleh penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1968. Namun buku karangan bersama Andi Zainal Abidin,SH dan Baharuddin Lopa, SH tersebut, termasuk salah satu buku edisi terpandang di masanya.

Buku yang juga menjadi kekayaan koleksi Perpustakaan Kota Makassar, covernya berjas kain merah, menggunakan judul huruf tekan berwarna kuning emas. Presiden RI Jend. Soeharto dan Jaksa Agung Mayjen Soegih Arta secara khusus memberikan Prakata dalam buku Bahaya Komunisme tersebut.

Terdapat sebuah catatan di lembar teras buku menyatakan, buku Bahaya Komunisme masuk koleksi Perpustakaan Kota Makassar, 17 Oktober 2006 atas pemberian dari Jancy Raib (pernah menjabat sebagai Walikota Makassar, pen).

bahaya2.jpg

Halaman 50 buku Bahaya Komunisme mengulas kondisi perekonomian Indonesia tahun 60-an/Foto: Mahaji Noesa

Buku setebal 258 halaman tak hanya mengurai ikhwal kepalsuan ideologi dan politik komunis, kebengisan strategi, taktik dan propagandanya, serta fakta-faktanya di seluruh dunia. Akan tetapi juga mencatat sejumlah suasana kebatinan dan kondisi penguasa di Indonesia sebelum dan setelah terjadinya pemberontakan G 30 S/PKI tahun 1965 di Indonesia.

Sebenarnya, seperti dipapar dalam Kata Pengantar penulisnya, buku Bahaya Komunisme tersebut sudah disusun dan dipersiapkan untuk diterbitkan jauh hari sebelum terjadi peristiwa pemberontakan G 30 S/PKI tahun 1965. Kedua penulisnya kemudian terkenal, masing-masing Prof Dr H Andi Zainal Abidin Faried, SH, MH sebagai guru besar Universitas Hasanuddin, atropolog dan sejarahwan. Sedangkan Baharuddin Lopa, SH, mantan Jaksa Agung RI yang dijuluki Jaksa Pendekar Hukum di Indonesia. Keduanya telah wafat.

Sebuah Catatan Kaki (hal. 136 – 137) dalam buku ini terbilang cukup menarik lantaran memuat utuh perbedaan ciri karakter antara pemerintahan Orde Baru (Orba) dengan Orde Lama Orla) versi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Berikut dikutipkan Catatan Kaki tersebut:

Jenderal Soeharto (pada sidang paripurna Kabinet Ampera tanggal 19 April 1967, menegaskan pengertian Orde Baru: ‘’Orde Baru adalah tatanan seluruh pri kehidupan rakyat, bangsa dan Negara RI yang diletakkan kepada kemurnian pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945.’’ Sebagai kekuatan inti Orde Baru, maka perlu juga kami muat perumusan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) mengenai perbedaan antara Orde Baru dan Orde Lama sebagai berikut :

ORDE BARU:

– mementingkan rakyat

– berpikir secara realistis

– mengemban Ampera

– berpikir secara bebas

– lepas dari mythos

– berdasarkan fakta

– taat dengan reserve, ketaatan dibatas oleh norma hukum

– the right man on the right place

– membersihkan penyelewengan dari siapa saja dan dimanapun juga

– social control terhadap pimpinan siapa saja

– tindakan konsekwen dan prinsipil

– tidak puas dengan semboyan dan dari kata-kata muluk

– mendukung orang-orang ahli, jujur dan efisien

– revolusioner ialah menjebol untuk membangun

– bersifat konsekwen dan tegas

– anti musuh/lawan revolusi Pancasila secara mutlak

– pikiran positif dan konstruktif secara nyata

 

ORDE LAMA:

– mementingkan golongan/klik atau diri sendiri

– berfikir irriil saja

– tidak memikirkan dan terharu oleh penderitaan rakyat

– bersikap ‘’yes man’’ asal bapak senang

– berdasarkan mythos

– memutarbalikkan fakta, puas dengan hayalan belaka

– taat tanpa reserve, taat tanpa tanggung jawab sendiri

– sistem relasi dan proteksi

– mempertahankan penyelewengan dan kepentingannya/golongan atau diri sendiri

– menyerahkan saja kepada pimpinan

– tindakan pli plan, bunglon

– puas dengan semboyan-semboyan yang bagus tetapi tidak dilaksanakan

– menerima koruptor, mismanagement dan birokrasi

– menjebol tanpa kecakapan untuk membangun

– bersikap kompromi, lemah, tawar menawar

– takut terhadap musuh revolusi Pancasila, pro nasakom, panca azimat, pro PKI/komunis

– pikiran negatif, ialah selalu anti-anti dan destruktif terhadap mereka yang mau membangun tanpa pemikiran vested interst

– orang yang tidak mengakui kenyataan

– politik mencari musuh

– politik zona phobi (takut kepada asing)

Catatan perbedaan Orba dan Orla versi KAMI tersebut, dijelaskan dikutip dari Bulletin Gerakan Mahasiswa Sosialis Makassar. Catatan berharga salah satu bukti betapa sejak lama sumbangsih pergerakan mahasiswa dalam ikut menjaga dan mempertahankan keutuhan NKRI, justeru lembaran aslinya tidak pernah mencuat dalam dinamika kepadatan aktivitas mahasiswa di kampus-kampus selama ini. Catatan Kaki di buku Bahaya Komunisme tersebut dapat menjadi sangat berharga sebagai bahan banding kekinian karakter pemerintahan Indonesia sejak memasuki era reformasi tahun 1998. Dahsyatnya buku sebagai pencatat masa, pembanding perubahan.

Indahnya tanaman hias bunga oleander di kota Pasangkayu merupakan salah satu pemandangan menarik saat melintas jalur Trans Sulawesi sepanjang lebih 800 km dari kota Makassar (Sulsel) ke kota Palu (Sulteng). Penanaman pohon berbunga warna merah muda dan pink di sebagian besar halaman rumah dan di tepi-tepi jalan protokol, kini seolah menjadi penanda khas kota Pasangkayu. Banyak warga di ibukota kabupaten Mamuju Utara (Matra) provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) tersebut menyakini oleander sebagai bunga rezeki lantaran umumnya mereka yang menanam, kehidupannya sejahtera.

Masih sangat sedikit warga di Pasangkayu mengetahui jika oleander, tanaman hias berdaun pita yang pohonnya dapat mencapai ketinggian lebih dari 3 meter tersebut merupakan salah satu jenis pohon beracun. Mulai dari daun, bunga, akar, kulit dan batang pohonnya mengandung zat dapat mematikan apabila masuk ke tubuh manusia. Begitu keras daya rusaknya , getah pohon oleander apabila mengenai luka di tubuh seseorang dapat menyebabkan kelumpuhan.

Tidak jelas siapa awalnya yang mengenalkan tanaman hias asal Maroko dan Portugal ini kepada warga kota Pasangkayu. Sejumlah penduduk sekitar pantai Pasangkayu menyebut oleander sebagai bunga Donggala. Mereka menamai demikian karena sebelumnya banyak memperoleh bibit dari kota Donggala, kl 80 km dari Pasangkayu. Donggala, ibukota sebuah kabupaten di Sulawesi Tengah (Sulteng)  berbatasan langsung dengan wilayah kabupaten Matra, Sulbar.

Sebenarnya sekitar 6 tahun lalu bunga oleander tersebut pernah menghebohkan warga kota Bandung, Jawa Barat. Mereka melakukan aksi ramai-ramai membabat tanaman oleander yang sebelumnya telah cukup lama dipelihara sebagai tanaman hias pekarangan dan ruang publik, setelah diketahui sebagai pohon mengandung zat beracun mematikan.

Zat racun bernama oleandrin yang meliputi seluruh bagian pohon oleander, tak hanya berbahaya apabila terkontaminasi ke dalam tubuh manusia tetapi juga hanya dengan kandungan 0,5 miligram zat tersebut mampu mematikan hewan. Sudah diteliti, dalam kondisi kering pun seluruh bagian dari pohon oleander masih mengandung racun berbahaya bagi manusia maupun hewan.

Ketika  memangkas daun dan ranting pohon oleander  yang rimbun di Jalur Dua Tengah, tampak sejumlah warga Pasangkayu tak hirau dengan getah-getah putih oleander yang terbercik liar dari daun dan ranting yang dipotong. Padahal, di getah oleander itulah berakumulasi oleandrin dan neriine sebagai toksin mematikan.

Ramainya minat warga di kota Pasangkayu saat ini memelihara tanaman oleander diharapkan perlu diiringi perhatian dari pemerintah setempat untuk menghindari dampak buruk dari pohon beracun tersebut. Aksi pembabatan tanaman  hias oleander yang pernah dilakukan pemerintah dan warga kota Bandung tahun 2009, semestinya dapat menjadi catatan penting masyarakat dan pemerintah di Indonesia agar menghindarkan penanaman tanaman-tanaman hias mengandung racun membahayakan di ruang-ruang publik. (Oleh Mahaji Noesa, tulisan ini pertama kali terposting di kompasiana.com)

Kulit pohon kayu Jati Putih ternyata amat disukai sapi dan kerbau. Puluhan batang pohon Jati Putih berusia lebih 5 tahun lokasi Ode (40) mengembalakan sapi dan kerbaunya di Kelurahan Watulondo kecamatan Puwatu di pinggiran utara kota Kendari kini kulit batangnya sebagian sudah penuh luka terkelupas bekas gigitan sapi dan kerbau.a aspi5
Sekalipun hewan memamah biak yang dipelihara Ode tersebut hanya 5 ekor terdiri atas 2 induk sapi betina, 2 anak sapi (betina dan jantan) serta seekor kerbau jantan, namun semuanya terlihat amat rakus apabila berada di sekitar pohon jati putih yang ditanam sebagai pembatas lahan milik penduduk yang satu dengan lainnya.
Sejak sapi dan kerbau milik seseorang yang dipelihara dengan sistem bagi anak oleh Ode sekitar dua tahun lalu, apabila siang hari digiring untuk merumput di antara suburnya pohon-pohon jati putih di Watulondo. Ode mengamati selama ini sapi dan kerbau peliharaannya sesekali setelah merumput terlihat secara bergantian atau bersamaan menggigit-gigit kulit batang-batang pohon jati putih hingga terkelupas dan mengunyah dengan lahap.
‘’Jika mengunyah kulit Jati Putih, sapi dan kerbau yang dewasa maupun anaknya kelihatan begitu lahap,’’ jelas Ode ketika menggiring kerbau peliharaannya ke sekitar pohon Jati Putih untuk sekilas memperlihatkan bagaimana tertariknya sapi dan kerbau terhadap kulit pohon Jati Putih.

inilah sejumlah potret  saat sapi menguliti dan menggunyah kulit pohon jati putih/Foto-foto: Mahaji Noesa

inilah sejumlah potret saat sapi menguliti dan menggunyah kulit pohon jati putih/Foto-foto: Mahaji Noesa


a aspi2
a aspi3
a aspi4
Benar, hanya selang beberapa menit setelah merumput, terlihat ternak sapi dan kerbau masing-masing mulai mendekati batang pohon Jati Putih. Umumnya gerakan dimulai dengan cara menyium-nyium batang pohon Jati Putih. Bekas gigitan sebelumnya di batang pohon Jati Putih yang sudah luka mengering dilewatkan. Gigitan dilakukan terhadap kulit batang Jati Putih yang masih utuh. Saat mengunyah sapi atau kerbau tersebut sesekali mendongakkan moncongnya. Nikmat kaliiii….???
Pastinya, dalam beberapa waktu belakangan Ode menjauhkan ternak gembalaannya dari pohon Jati Putih. ‘’Jika sudah mengunyah kulit Jati Putih binatang ini seolah menjadi liar, meronta-ronta apabila diikat,’’ katanya.
Sudah beberapa kali ia mengaku direpotkan satu-satunya kerbau jantan peliharaan, setelah mengunyah kulit Jati Putih lalu ngamuk hingga memutuskan tali ikatan, lari sekencang-kencangnya menyeruduk sana-sini, dan uniknya beberapa kali ditemukan menjinak setelah bertemu dengan kawanan sapi atau kerbau betina. Pernah kerbaunya tersebut lari dan ditemukan berada di kumpulan sapi betina berjarak lebih 3 km dari tempat gembalaan mengunyah kulit Jati Putih.
Suatu hari juga, kenangnya, setelah mengunyah kulit Jati Putih, kerbau peliharaannya yang tali pengikatnya dikalutkan di sebuah batu berukuran besar berlari liar menarik batu tersebut amat menakutkan orang-orang yang dilewati.
Kerbau jantan itu terlihat mengalami birahi hebat setiap sesudah mengunyah kulit Jati Putih. ’’Kulit Jati Putih ini seperti obat perangsang seks bagi sapi dan kerbau, karena setelah mengunyahnya sapi-sapi betina pun terlihat gelisah dan liar,’’ jelas Ode, lalu ngakak seolah ada yang menggelitiknya.

Bundaran stainless di jalan bypass kota Kendari

Bundaran stainless di jalan bypass kota Kendari


Perkembangan pesat perluasan kota Kendari dalam 10 tahun terakhir ditandai dengan kehadiran pembangunan banyak bundaran. Istilah bundaran diberikan oleh warga kota Kendari terhadap jalan-jalan simpang empat yang baru dibuka seiring dengan perluasan lokasi pemukiman, kawasan perkantoran serta kawasan bisnis di berbagai penjuru ibukota provinsi Sulawesi Tenggara ini.
Jalan-jalan simpang empat yang ditandai dengan pembuatan bundaran di tengahnya umumnya dibuat dalam ukuran jalanan yang lebar 8 hingga 15 meter. Antara bundaran yang satu dengan lainnya menjadi pertanda kawasan perluasan pengembangan kota semacam blok wilayah. Bundaran itu masing-masing diberi tanda dan nama julukan tersendiri oleh warga kota.
Bundaran Panser di poros Andounohu kota Kendari

Bundaran Panser di poros Andounohu kota Kendari


Seperti bundaran Tapak Kuda yang menjadi pertemuan jalan dari arah Kendari Beach ke Bundaran Stainless, Jl Malik Raya dan ke arah Jembatan Tripping Andonohu. Bundaran stainlees di arah barat bundaran Tapak Kuda merupakan perempatan jalur Jalan By Pass ke Pasar Baru dan Jl Made Sabara – Jembatan Tripping Andonohu. Warga menamai sebagai bundaran Stainless lantaran di tengah bundaran terdapat ornamen taman yang terbuat dari besi-besi kilap anti karat stainless steel.
Ke arah selatan terdapat bundaran Andonohu yang juga sering disebut bundaran Panser lantaran di tengah bundaran terdapat asesori sebuah kendaraan militer jenis Panser yang sudah tak terpakai lagi. Bundaran ini menandai perempatan jalanan arah Andonohu dan kawasan kampus Universitas Halu Oleo (UHO).
Ke arah selatan menenggara terdapat bundaran Polda. Disebut demikian menandai perempatan jalan menuju markas Polda Sultra yang berhadapan dengan Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara. Dari bundaran ini ke arah timur bersambung dengan poros jalan ke Moramo kabupaten Konawe Selatan (Konsel).
Sekitar 6 km ke arah barat bundaran Polda terdapat bundaran Bola Dunia. Bundaran yang di tengahnya terdapat tugu Bola Dunia, merupakan persimpangan jalan dari arah Mandonga ke bandara Halu Oleo (d/h. bandara Wolter Monginsidi).
Bundaran Pesawat Terbang di poros menuju bandara Halu Oleo Kendari

Bundaran Pesawat Terbang di poros menuju bandara Halu Oleo Kendari


Masih terdapat sejumlah bundaran lain yang menjadi ikon baru kota Kendari seperti bundaran Abunawas di depan RSUD Abunawas Andonohu dan bundaran Pesawat yang di tengahnya terdapat sebuah reflika pesawat jet tempur yang menandai persimpangan dari arah Mandonga menuju Konda dan ke Pintu Gerbang perbatasan kota Kendari dengan kabupaten Konsel.
Antarbundaran juga terdapat jalan-jalan penghubung kualitas hotmix dengan lebar jalan di atas 6 meter. Bundaran-bundaran tersebut selain menjadi penanda kawasan, sekaligus mencerminkan kesungguhan kerja Pemkot Kendari menata ruang meluaskan kota dengan membangun jalan mengantisipasi perkembangan lalu-lintas perkotaan bebas dari kemacetan.
Untuk mempercepat mencapai tujuan, para sopir taksi kota Kendari umumnya menanyakan nama bundaran yang terdekat dengan alamat yang hendak dituju penumpangnya.
Mengamati penataan jalan serta keapikan pengaturan arus lalu-lintas antarbundaran yang terdapat di pusat kota Kendari yang juga dijuluki sebagai Kota Lulo, bukan tidak mungkin dalam tahun 2014 ini dapat meraih penghargaan Wahana Tata Nugraha di bidang penataan serta pengaturan perlalu-lintasan kota.
Kota Kendari luasnya lebih dari 300 km persegi dua kali lebih besar dari wilayah kota Makassar. Masih terdapat lahan cukup luas untuk pengembangan wilayah kota terutama di arah selatan Teluk Kendari, ke arah timur, dan ke arah utara poros perbatasan dengan kabupaten Konawe.
Penduduk kota saat ini kurang lebih 300 ribu jiwa. Tak heran jika di berbagai penjuru kota masih terlihat banyak wilayah lengang penduduk.
Jika Jembatan Bahteramas melintas Teluk Kendari dari Kota Lama ke Lapulu dapat terujud dipastikan akan jadi pemicu perkembangan wilayah bebas banjir yang masih lengang di arah timur kota hingga Sambuli.
Banyak warga menyarankan pengembangan kota Kendari kelak tetap mempertahankan ciri pembangunan bundaran-bundaran yang dibuat tematik untuk penanda kawasan.
Bundaran Mandonga yang dibangun sejak 25 tahun lalu merupakan bundaran pertama jadi kebanggaan pertanda pusat kota Kendari, setelah sebelumnya berstatus sebagai Kota Administratif (Kotif). Bundaran ini menjadi pengurai jalan simpang tiga dari dan menuju arah timur kota lama Kendari, menuju bandara Halu Oleo arah selatan dan poros keluar arah utara ke kabupaten Konawe dan kabupaten Kolaka
Terdapat sejumlah bundaran telah dirombak, seperti bundaran Wuawua, bundaran Pasar Baru, dan bundaran Kota Lama untuk mengakomodasi kian berkembangnya keramaian dan kepadatan arus lalu-lintas kota. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kreport kompas.com 26 Agustus 2014)

a mata2
Sebuah meriam anti serangan udara berlaras sepanjang 3,5 meter dengan lop berdiameter kl 8 cm hingga kini masih utuh terpasang di sebuah goa bekas pertahanan Jepang di Kelurahan Mata, kurang lebih 3 km arah timur kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara.
Meriam tersebut terpasang kokoh di tengah sebuah bungker beton berukuran 3 x 4 meter dengan tinggi 2 meter yang terletak di atas sebuah bukit menghadap perairan Laut Banda di hadapan muara Teluk Kendari.
Bungker tersebut merupakan salah satu peninggalan yang tersisa dari banyak bungker pertahanan Jepang yang pernah dibangun mengitari Teluk Kendari pada masa pendudukan Jepang 1940 – 1945 di Indonesia.
a mata3
Kota Kendari kala itu selain dijadikan sebagai wilayah aman perlindungan armada laut tentara Jepang dalam masa Perang Dunia II, juga ibukota provinsi Sulawesi Tenggara ini dijadikan lokasi pangkalan udara strategis untuk manuver ke wilayah Pasifik melalui Morotai, Maluku Utara.
Sebagian besar bungker pertahanan Jepang yang pernah dibuat di kaki bukit pesisir Teluk Kendari kini sudah dihancurkan untuk pengembangan pembangunan wilayah kota Kendari.
Bungker peninggalan Jepang bermeriam di kelurahan Mata tersebut disebut-sebut oleh sejumlah warga berusia lanjut di Kendari dahulu berhubungan langsung dengan sejumlah bungker Jepang yang ada di sekitar bukit Manggadua, Kampung Salo, Kampung Butung dan Kendari Caddi di pesisir dalam Teluk Kendari.
a mata4
Sekalipun meriam anti serangan udara di bungker peninggalan Jepang di kelurahan Mata itu sudah tidak berfungsi namun bentuknya masih utuh, besi peralatan meriam yang terbuat dari baja tebal tidak dimakan karat.
Dilihat dari posisi dudukannya, meriam ini dahulu dapat dIgerakkan berputar 180 derajat ke arah kanan dan kiri, dan dapat mendongak ke atas hingga posisi 60 derajat. Di pangkal meriam terdapat tulisan THE – BHLM STEEL COMPANY GUN MARK X MODE 8 N 1584L. E P I E P A P H E I. U S D 1910.
Terdapat deretan tangga beton dibuat dari tepi jalan poros Mata – Toronipa mendaki ke kaki bukit lokasi bungker menunjukkan bahwa pernah dijadikan obyek kunjungan, tapi kondisinya kini tak terpelihara lagi diselimuti tumbuhan belukar mengesankan sebagai lokasi angker. (Teks/foto : Mahaji Noesa)

Taman Baca di lokasi Pantai Toronipa/Ft: Mahaji NoesaSekelompok anak-anak usia sekolah dasar mengusik seekor binatang Kuskus yang merayap lambat di pucuk pohon cemara angin di Pantai Toronipa, Kamis (4/9/2014) siang. Sejumlah pengunjung pantai di Kecamatan Soropia kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara ikut menyaksikan gerakan lelet kuskus endemik Sulawesi itu berpindah-pindah di jejeran cemara angin yang seolah memagar Pantai Toronipa.

Pantai yang berbatasan langsung dengan alam pegunungan hanya berjarak sekitar 15 km dari Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara. Warga desa Toronipa dan sejumlah desa lain yang masuk kecamatan Soropia apabila hendak berurusan ke Unaaha, ibukota kabupaten Konawe memilih jalan terdekat melalui kota Kendari. Kota Kendari ke Unaaha berjarak sekitar 60 km.

Lagi pula setiap hari–pagi hingga sore hari, terdapat angkutan penumpang umum (pete-pete) rute Pasar Sentral Kota Lama (kota Kendari) ke Soropia (kabupaten Konawe) dengan tarif Rp 10.000 per orang.

Tak hanya tertarik dengan kuskus, para pengunjung siang itu memperhatikan tingkah kelompok anak-anak pengusik kuskus karena masing-masing terlihat  membawa dan sesekali meniup suling bambu.

Seorang warga sekitar menjelaskan, anak-anak tersebut berasal dari perkampungan etnik Bajo di arah selatan tempat rekreasi Pantai Toronipa, beberapa waktu sebelumnya ikut meramaikan permainan musik bambu dalam rangka perayaan HUT Kemerdekaan RI di Soropia, ibukota kecamatan Soropia. Mereka kemungkinan masih terkesan dengan permaianan musik bambu sehingga masih enggan melepas suling yang digunakan.toro2

Lebih menarik lagi, menurut Hasni, anak-anak dari perkampungan Bajo sebelum mengusik kuskus siang itu baru saja menyimak sejumlah buku koleksi di Taman Bacaan Pantai Toronipa. Nah…luar biasa kan…..

Di pojok utara lokasi tempat rekreasi Pantai Toronipa yang indah menawan terdapat sebuah rumah panggung kayu berukuran 5 x 6 meter sengaja dibuat sebagai perpustakaan bagi pengunjung Pantai Toronipa diberi nama Taman Bacaan Pantai Toronipa.

Namun begitu taman bacaan ini kemudian terbuka gratis untuk umum. Awalnya, taman bacaan ini hanya dikunjungi sebatas beberapa pengunjung Pantai Toronipa saat hari Minggu atau hari-hari libur lainnya.

Belakangan justeru setiap hari tak pernah sepi dikunjungi anak-anak terutama dari pemukiman suku Bajo. Sekitar tempat rekreasi Pantai Toronipa terdapat 5 desa berpenduduk etnik Bajo, yaitu desa Bokori, Bajoe, Mekar, Leppe, dan Bajo Indah.toro3

Ina, seorang wanita penjual ikan di poros jalan Desa Mekar mengatakan, awalnya orang Bajo hanya menempati wilayah pemukiman di pantai Desa Leppe. Mereka adalah orang Bajo penghuni Pulau Bokori yang di-resettle ke daratan pesisir pantai Leppe.

Maklum, ketika Pulau Bokori masih berada dalam wilayah Kabupaten Kendari, Pemkot Kendari di tahun 70-an berencana mengembangkan pulau pasir yang permukaannya timbul tenggelam mengikuti pasang surut air laut sebagai lokasi penelitian dan wisata pulau.

Sekarang Pulau Bokori yang sudah tak berpenghuni dan 4 desa Bajo lainnya yang berimpitan dengan desa Leppe (salah satunya juga diberi nama desa Bokori)  masuk wilayah administratif kecamatan Soropia kabupaten Konawe.

Taman Bacaan Pantai Toronipa baru dibuka Januari 2014 oleh pemilik tempat Rekreasi Pantai Toronipa Brigjenpol (P) Drs Edhi Susilo Hadisutanto,SH, MBA, mantan Kapolda Sulawesi Tenggara periode 2004 – 2006.

Menurut Hasni, sang ibu penjaga perpustakaan, sejumlah pengunjung menyarankan agar koleksi taman baca diperkaya dengan buku-buku yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan anak didik khususnya sekitar lokasi taman baca. Koleksi sekarang kebanyakan berupa buku dan majalah umum dari koleksi pribadi sang pemilik.

Sejak didirikan, menurut Hasni tak pernah ada aparat perpustakaan kabupaten Konawe maupun petugas perpustakaan umum Provinsi Sulawesi Tenggara yang datang melirik apalagi menyumbangkan buku ke Taman Baca Pantai Toronipa. Padahal kehadiran taman baca serupa Taman Baca Pantai Toronipa dibicarakan sejumlah pengunjung yang pernah mampir, dapat dijadikan model dalam menggalakkan serta menggenjot minat baca masyarakat. (Mahaji Noesa, kreport kompas.com 4 September 2014)