Archive for the ‘News’ Category

g10

Tempak efek beckscatter orb bulan sabit mengekor matahari hasil potretan Gerhana Matahari 9 Maret 2016 di waduk Pampang kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Sejak pukul 06.00 pagi wita, sudah ramai warga berdatangan ke tepi Waduk Pampang. Mereka sengaja datang berkendara sepeda motor dan mobil dari berbagai penjuru kota, untuk menyaksikan peristiwa Gerhana Matahari Total (GMT) yang sebelumnya telah diinformasikan juga bakal terlihat di langit kota Makassar, Rabu, 9 Maret 2016. Meskipun gerhananya diprediksi hanya 88 persen. Tidak GMT 100 persen seperti di 12 provinsi lainnya di Indonesia.

Kedatangan warga ke tepian lokasi waduk tunggu Pampang di kelurahan Antang kecamatan Manggala tersebut umumnya atas inisiatif dan pertimbangan pilihan masing-masing guna menyaksikan peristiwa GMT. Pemkot Makassar justeru mendisain acara Festival Gerhana Matahari, 9 Maret 2016, dengan beragam acara dipusatkan di anjungan Pantai Losari.

g6

Inilah waduk Pampang di kelurahan Antang, tengah kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

‘’Di lokasi waduk Pampang ini rasanya dapat lebih bebas kita melihat pergerakan matahari terbit pagi hingga terbenam sore hari. Saya memilih datang ke tempat ini dengan pertimbangan akan dapat melihat langsung peristiwa Gerhana Matahari Total dibandingkan di Pantai Losari. Apalagi gerhananya telah disebut-sebut bakal berlangsung sekitar pukul 7 pagi hari,’’ jelas Hamzah, seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta yang mengaku bermukim di kawasan Perumnas Toddopuli, kl 3 km arah barat waduk Pampang. Dia datang dengan 8 temannya, berboncengan menggunakan 4 sepeda motor.

Sedangkan Erni, karyawan swasta yang mengaku datang sebelum pukul 6 pagi bermobil bersama suami dan 2 anaknya, dari rumahnya di kawasan Pannampu (Sekitar 9 km arah utara waduk) menyatakan, melihat Gerhana Matahari Total secara tidak langsung melalui bayangan di permukaan air waduk Pampang akan lebih aman.

‘’Sekalipun di Makassar gerhana mataharinya hanya 80-an persen, tapi kan cahayanya masih berbahaya untuk dilihat secara langsung tanpa menggunakan filter khusus cahaya matahari,’’ katanya.

Waduk Pampang yang luasnya 36 ha, tengah kota Makassar. Dahulu lokasinya berupa tanah berawa. Setelah waduk buatan ini hadir sejak 10 tahun lalu dalam masa kepemimpinan Walikota Makassar HB Amiruddin Maula, banjir yang menjadi langganan wilayah Minasaupa, Perumnas Toddopuli, Borong, Pampang dan Antang di musim penghujan sudah mulai dapat dikendalikan.

Para pemancing dan pejala ikan yang beraktivitas sekitar waduk menjadi sasaran tontonan para pengunjung yang menanti terjadinya GMT di tepian-tepian waduk. Seperti prakiraan pihak BMKG, sejak pagi (Rabu, 9 Maret 2016) cuaca di kota Makassar cerah. Sekitar pukul 6 hingga pukul 7 pagi, sinar matahari terang menyinari waduk Pampang dan sekitarnya.

Nanti setelah memasuki pukul 7.20 wita, sinar matahari terlihat mulai redup namun suasana sekeliling tetap terang. Hanya sekitar 2 menit suasana terlihat agak temaram, tak terlihat bias sinar matahari di permukaan air waduk yang sebelumnya membinar-binar.

‘’Tidak jelas apa sudah terjadi kontak gerhana atau belum. Redupnya matahari seperti hanya tertutup awan,’’ komentar Simmau, salah seorang dosen dari Unhas, yang sejak pagi terlihat sibuk membidikkan kameranya ke berbagai arah waduk Pampang.

Burung-burung bangau dan sejumlah burung air lainnya terlihat tetap beterbangan di sekeliling waduk Pampang. Bahkan terdengar teriakan-teriakan keras penjaga sawah di arah utara waduk, ditingkahi bunyi kerek-kerek tarikan tali menggerakkan orang-orangan. Artinya, kawanan burung pipit pemangsa padi bunting pun tidak terpengaruh dengan kejadian suasana temaram yang hanya berlangsung beberapa saat.

Sinar matahari redup dengan suasana tetap terang berlangsung hingga pukul 8.38 wita. Menurut hitungan BMKG, peristiwa GMT 88 persen di kota Makassar, 9 Maret 2016, berlangsung mulai pukul 07.26 hingga pukul 08.35. Secara kasat mata tak ada hal menarik dapat dilihat di atas langit waduk Pampang sepanjang matahari redup. Kecuali gumpalan-gumpalan awan putih belang-belang kelabu tampak terang menutupi sekeliling matahari. Dan, setiap interval sekitar 15 menit ada pesawat melintas dari arah barat ke timur, seolah menuju matahari yang lagi dalam proses gerhana.

Tidak jauh ke arah timur waduk Pampang, memang, berbatasan dengan wilayah kabupaten Maros, lokasi bandara internasional Sultan Hasanuddin dengan frekuensi sudah lebih dari 150 penerbangan setiap harinya.

Dg. Guling, salah seorang pejala ikan di sekitar waduk Pampang justeru merasa apes. Ikan-ikan dituding seolah tidur tatkala orang-orang ramai datang ingin menyaksikan peristiwa gerhana matahari di sekitar waduk. ‘’Biasanya kalau jam 7 pagi sudah puluhan ekor bisa terjala. Tapi ini sudah lewat jam 8 baru beberapa ekor yang bisa didapat,’’ katanya.

Bacaan ayat-ayat suci Al Quran yang dilantunkan para imam shalat gerhana mulai terdengar dari mesjid-mesjid yang ada seputar waduk Pampang sejak pukul 07.30 hingga pukul 09.00 wita. Disusul penyampaian khotbah dari para khatib, seolah sambung menyambung sepanjang matahari redup. Mesjid Luqmanul Hakim di tepi waduk Pampang misalnya, baru mulai melaksanakan shalat gerhana berjamaah setelah pukul 08.50 wita.

Jelang pukul 09.00 ketika cahaya keras matahari sudah memantul di atas permukaan air waduk Pampang, para pengunjung yang didominasi kalangan muda pemilik kamera digital pun satu per satu meninggalkan lokasi. Sesayup terdengar beragam candahan tentang hasil potret GMT para pengunjung yang bergerak meninggalkan lokasi. Mulai dari ketidaktahuan menggunakan filter kamera, ikhwal kacamata gerhana, hingga ketidakmampuan kamera HP merekam peristiwa alam yang langka, didialogkan dengan cekakak-cekikik ala remaja perkotaan

‘’Momennya sudah lewat, tidak ada lagi yang harus disesalkan,’’ komentar serius salah seorang di antara serombongan remaja putri bersepeda motor tatkala bergerak meninggalkan waduk Pampang.

Sejumlah hasil jepretan peristiwa GMT dengan kamera HP tanpa filter di langit Waduk Pampang jelang pukul 09.00 wita, Rabu, 9 Maret 2016, menampakan efek backscatter orb ada semacam bulan sabit mengekor di bawah matahari. Orb dalam istilah teknis fotografi terjadi karena adanya pantulan sinar atau flash dari benda-benda sekitarnya. Bulan sabit itu sesungguhnya hanya tampak di hasil jepretan tapi tidak ada di obyek nyatanya.g16

Saat-saat matahari memasuki proses gerhana di waduk Pampang, 9 Maret 2016/Foto: Mahaji Noesa

 

lu55Tampak lambang Gemeente Makassar  terpasang di depan Museum Kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Lambang pertama Kota Makassar ketika masih berstatus sebagai Gemeente Makassar, berupa dua ekor rusa memegang sebuah piala yang didalamnya bergambar pohon kelapa dan pedang marsose, kini dijadikan sebagai ikon Museum Kota Makassar yang terletak di Jalan Balaikota Makassar.

Museum yang direnovasi sejak tahun lalu dengan anggaran Rp 3 miliar tersebut meskipun hingga memasuki Maret 2016 belum rampung secara keseluruhannya, namun di bagian depan sudah terlihat terpajang lambang kota Makassar saat masih berstatus sebagai Gemeente Makassar. Menariknya, sebuah meriam jagur berukuran boncel terkesan antik ikut dipajang di bawah lambang tersebut.

Gedung Museum Kota Makassar ini merupakan salah satu bangunan tua bersejarah sebagai bekas gedung balaikota pertama setelah pemerintah Hindia Belanda memberikan hak otonom Makassar sebagai suatu kota dengan nama Gemeente Makassar, melalui Ordinansi 12 Maret 1906, Staatsblad 1906 No.17 yang dinyatakan mulai berlaku 1 April 1906. Namun begitu, nanti setelah tahun 1918 barulah diangkat walikota pertama (Burgemeester) Makassar J.E Damrink, berkantor di gedung yang kini menjadi Museum Kota Makassar.

lu36

Lambang Gemeente Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Hingga tahun 1993 gedung ini masih ditempati sebagai kantor Walikota Makassar. Jelasnya, di masa pemerintahan kolonial terdapat 7 walikota, 2 walikota di masa pendudukan Jepang, 2 walikota di masa pemerintahan NICA, 2 walikota di masa pemerintahan Negara Indonesia Timur (NIT), dan 12 walikota Makassar berikutnya masih berkantor di bekas gedung Gemeente Makassar tersebut.

Setelah 6 tahun kantor Walikota Makassar pindah ke bekas kantor Gubernur Sulsel yang kini jadi Balaikota Makassar, tepatnya di tahun 2000 bekas gedung Gemeente Makassar yang secara fisik belum banyak berubah bentuknya dijadikan sebagai Museum Kota Makassar.

Renovasi atau pemugaran yang dilakukan terhadap Museum Kota Makassar sekarang diharapkan, setelah rampung dapat lebih menarik minat dikunjungi para pihak sebagai obyek wisata sejarah, pendidikan, dan penelitiaan.

14kanal terbuka

Inilah bagian selatan benteng Fort Rotterdam yang kini terbuka tanpa dinding/Foto: Mahaji Noesa

Berdasarkan catatan lama, areal benteng Fort Rotterdam seluas 3 hektar merupakan wilayah tertutup dikelilingi susunan batu-batuan alam setinggi 4 hingga 6 meter sebagai dinding penghalang. Hanya terdapat pintu gerbang utama dibuat di tengah bentangan dinding benteng arah timur, dan sebuah pintu di tengah bentangan dinding benteng arah barat.

Herannya, hingga kini para sejarahwan maupun arkelog belum pernah menyoal terhadap bagian selatan benteng yang telah cukup lama terlihat terbuka tanpa dinding. Pun belum pernah ada penjelasan dari para pihak, sejak kapan, serta apa penyebab kehancuran dinding sepanjang sekitar 150 meter dari arah bastion Bacan hingga bastion Amboina.

Pastinya, seiring dengan revitalisasi benteng Somba Opu tahun 2012, juga telah digelontorkan dana lebih Rp 20 miliar melalui kementerian PU untuk membuat taman RTH disertai pembuatan kanal menempel di lokasi benteng arah selatan. Kanal sepanjang sekitar 300-an meter tembus ke arah laut, antara lain, dibuat juga untuk menghidupkan kembali suasana zonasi benteng yang dahulu dikelilingi semacam kanal dari arah laut Selat Makassar.

ketika gereja dipugar

Bangunan bekas gereja ketika belum dipugar di benteng Fort Rotterdam/Foto:repro

Kehadiran kanal tempo dulu dapat menjadi semacam bagian dari strategi menghambat lawan agar tidak mudah merapat ke dinding benteng. Sebuah jembatan khusus dibuat melintasi kanal untuk masuk keluar gerbang utama yang terletak di dinding timur benteng. Terdapat alur kanal menjadi akses armada laut dapat bergerak masuk dari arah laut ke pintu belakang di tengah bentangan dinding benteng sebelah barat.

Seiring dengan perjalanan waktu kanal-kanal tersebut semua telah tertimbun, dan sebagian kini menjadi lokasi pemukiman dan perkantoran yang menutup view memandang benteng Fort Rotterdam dari arah utara Jl Karaeng Riburane, dan dari arah selatan Jl Slamet Riyadi. Sejumlah hotel dan bangunan tinggi di atas 10 lantai telah tumbuh mengelilingi wilayah yang dahulu juga merupakan zoning benteng Fort Rotterdam.

Sayangnya, kanal buatan bernama Kanal Fort Rotterdam yang baru dihadirkan dengan gaya millenium tersebut sepertinya kurang terurus. Kebersihannya tak terpelihara, digenangi banyak sampah. Gulma liar tumbuh sepanjang tepian hingga mengapung ke permukaan kanal, menghadirkan kesan jelek sekitar lokasi obyek wisata sejarah purbakala Fort Rotterdam yang telah tersohor hingga ke mancanegara.

ba17

Jejak kaki benteng Fort Rotterdam yang sudah hancur di bagian selatan/Foto: Mahaji Noesa

Kurangnya perhatian, penataan serta pemeliharaan kebersihan di lokasi arah selatan benteng, juga terlihat (Kamis, 28 Januari 2016) dari kondisi bangku-bangku serta lampu-lampu taman yang rusak dan pecah-pecah tanpa perbaikan. Lingkungan taman dipenuhi suburnya tumbuhan semak belukar, menandakan sudah cukup lama tak mendapat perhatian. Siang hari, bangku, meja, kursi-kursi jualan dan gerobak pedagang K-5 terlihat ditumpuk di areal taman. Jorok. Padahal, taman yang menempel di selatan benteng ini juga dibuat bersamaan sebagai bagian dari pembuatan taman RTH di sebelahnya yang hanya dibatasi kanal buatan selebar 4 hingga 7 meter tersebut.

Pihak pemelihara benteng belakangan tampak menutup akses jalan dari arah timur bastion Amboina maupun dari arah barat bastion Bacan. Akibatnya, pengunjung tidak bebas masuk menjelajah arah selatan benteng yang terbuka tanpa dinding. Namun begitu, suasana jorok di arah selatan tersebut tetap dapat jelas terlihat ketika berada di gundukan bastion Amboina maupun bastion Bacan.

Dipasang pagar kawat berduri di bagian terbuka benteng yang berbatasan dengan kanal buatan. Bagian selatan benteng Fort Rotterdam yang kini tak berdinding, agaknya merupakan sisi selama ini belum tersentuh kerja-kerja pemugaran maupun revitalisasi. Hal itu terlihat dari kondisi balok-balok batu tangga serta penyanggah gundukan bagian dalam bastion Bacan tampak kumuh berantakan.

 

Jika saja areal lokasi dan taman di selatan benteng tertata dan dipelihara dengan baik, sudah tentu dapat menjadi tempat relaksasi yang nyaman karena berhadapan langsung dengan pelataran taman RTH di Jalan WR Supratman yang sekitarnya juga telah dijadikan sebagai lokasi kuliner tradisional ‘Kampung Baru’ kota Makassar. Kehadiran banyak space taman untuk relaksasi di kompleks benteng Fort Rotterdam dan sekitarnya, setidaknya dapat membantu mengatasi kegusaran banyak pengunjung yang merasa tidak respek dengan pemanfaatan banyak gedung tua sebagai perkantoran.

Pengunjung benteng Fort Rotterdam selama ini lebih banyak menyaksikan bentuk fisik gedung-gedung abad silam dari luar, tidak dapat bebas melihat langsung ke dalamnya, lantaran sebagian besar dijadikan sebagai tempat aktivitas perkantoran banyak aparat sipil negara Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar. Kendaraan aparat, mobil dan sepeda motor banyak diparkir sembarangan dalam areal benteng pada hari-hari kerja — pagi hingga sore hari. Kondisi itu tentu juga perlu perhatian khusus. Diperlukan penataan dalam kaitan menjaga kelestarian, keasrian, kenyamanan, serta untuk terus meningkatkan citra keunggulan terhadap obyek wisata langka berskala internasional benteng Fort Rotterdam.

Bahkan beberapa kalangan menyarankan, diperlukan keterlibatan kerja pendisain pariwisata profesional agar benteng Fort Rotterdam dengan properti tinggalan lamanya tidak statis hanya berdenyut siang hari, tapi juga terbuka mendapat kunjungan publik malam hari. Selama ini benteng yang berada di pusat kota metropolitan Makassar tersebut, malam hari lebih sering tertutup tanpa aktivitas. Arealnya kelam dan sepi. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kompasiana, Januari 2016)

4 bastion

Sejumlah bastion di benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Memasuki obyek wisata sejarah dan purbakala seringkali pengunjung tertarik dapat melihat langsung kondisi atau benda-benda sejarah dan purba yang masih berada di lokasi. Fort Rotterdam masih punya banyak tinggalan utuh seperti dicatat sejarah pada masanya. Kecuali hal angker dan mistis yang sering ditakutkan pengunjung jika berada di situs-situs tua tak akan dijumpai di lokasi benteng peninggalan masa kerajaan Gowa ini.

Sejumlah ruang sekitar bastion Amboina yang disebut-sebut pernah dijadikan penjara dan tempat penyiksaan para tawanan di masa kolonial, justeru sudah lama dijadikan bagian dari ruang kerja aparat sipil negara Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar. Gedung bastion Bacan yang dilabeli sebagai bekas ruang tahanan Pangeran Diponegoro dan keluarganya di Fort Rotterdam tahun 1834 hingga 1855, justeru telah dipugar dengan ruang-ruang cerah.

Bangunan rumah kecil berbentuk teduhan makam di gundukan lokasi bastion Buton, areal sekitarnya hampir setiap hari ramai dijadikan sebagai lokasi pelatihan seni dan kursus percakapan bahasa asing oleh komunitas-komunitas remaja.

10kendaraan parkir

Bastion Bacan yang pernah dijadikan sebagai ruang tahanan Pangeran Diponegoro dalam Benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Tidak ada tempat yang angker di komplek Fort Rotterdam. Begitu penegasan banyak aparat Balai Pelestarian Cagar Budaya yang setiap hari berkantor menggunakan banyak gedung buatan masa kolonial di Fort Rotterdam. Guna meyakinkan, ada yang menunjuk beberapa ruang di lantai atas bangunan bastion Mandarsyah sudah cukup lama dijadikan sebagai mess, penghuninya tidak pernah ada yang kesurupan dan semacamnya. Kondisi aman seperti itu juga diungkap, dirasakan bagi mereka yang sering nginap di sejumlah ruang di gedung sisi kiri depan bastion Buton.

Justeru sebuah tiang bendera besi peninggalan masa lalu di atas gundukan areal bastion Bone, terlalu sering dikunjungi warga dari berbagai kabupaten di Sulsel sebagai tempat lokasi bernazar.

‘’Doa dan permintaan yang baik sering cepat terkabulkan jika diucapkan di sekitar tiang bendera ini,’’ jelas seseorang dari rombongan penazar saat ditemui beberapa waktu lalu di gundukan bastion Bone.

ba50

Bagian belakang bangunan bastion Buton di benteng Fort Rotterdam/Foto : Mahaji Noesa

Nama-nama bastion yang telah disebutkan, merupakan bagian dari pengubahan dilakukan pihak kolonial setelah menguasai benteng buatan leluhur bangsa Indonesia tersebut. Terdapat 5 bastion dibuat guna memperkuat posisi dan konstruksi benteng sebagai markas komando sekaligus pusat pertahanan.

Bastion dikokohkan dengan pembuatan gundukan susunan batu alam serta timbunan tanah sejajar tembok benteng di 4 sudut berbentuk lancip. Model pembuatan saluran pembuangan air tempo dulu yang terukur, terlihat sebagai penjamin areal bastion-bastion setinggi 6 meter selama lebih 3 abad hingga kini masih awet, tidak pernah terendam atau digenangi air saat musim hujan.

Terdapat 3 bastion di dinding bagian barat benteng Fort Rotterdam. Bastion Buton di sudut kanan (utara), Bastion Bone di tengah dan bastion Bacan di sudut kiri (selatan). Di dinding bagian timur terdapat bastion Mandarsyah di sudut sebelah kiri (utara) dan bastion Amboina di sudut kanan (selatan). Penamaan bastion oleh pihak kolonial, menggunakan nama wilayah kerajaan yang berhasil ditaklukkan atau dibujuk kerjasama. Bagian dari taktik kolonial untuk memecah belah kekuatan serta persatuan antarkerajaan di nusantara, kala itu.

6 sumur

Sumur-sumur tua dalam benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Catatan sejarah yang kemudian pernah di-sassus-kan ada semacam negeri-negeri seteru di masa kolonial, seharusnya sudah lenyap. Perlu keluasan pemahaman wawasan kebangsaan untuk mengobarkan semangat abadi bela Negara. Antara lain, dapat dihidupkan melalui penjelasan mendalam dan intensif terhadap kesejarahan. Semua raja serta generasi muda dari semua daerah telah menyatakan mendukung perjuangan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, 17 Agustus 1945. Penghianat bangsa sekarang adalah para koruptor, yang harus diperangi.

Keberadaan 5 areal bastion bersudut lancip itulah yang membuat dinding benteng dari atas bagai bentuk seekor kura-kura sedang merayap ke pantai Selat Makassar. Bastion Bone ibarat kepala kura-kura, bastion Bacan dan bastion Buton sebagai kaki depan. Bastion Mandarsyah dan bastion Amboina sebagai kaki belakang.

Saat ini 3 gundukan areal bastion di dinding barat benteng, setiap sore hari cerah tampak selalu ramai dipenuhi warga, didominasi kalangan muda untuk menikmati keindahan perguliran matahari senja di hamparan laut Selat Makassar.

Bastion-bastion di Fort Rotterdam memiliki jalan penghubung dibuat semacam parit bertrap terlindung menempel di dinding benteng bagian dalam. Pengunjung dapat berkeliling menyusur dinding benteng Fort Rotterdam melalui parit-parit tersebut. Berjalan menapak parit dapat mengenang kepanikan tentara kolonial bergerak dari bastion ke bastion yang dahulu disebut-sebut sekaligus menjadi tempat konsentrasi penembakan meriam-meriam jagur untuk menghalau serangan lawan, terutama berasal dari pihak kerajaan Gowa sebagai pemilik benteng.

Sejarah mencatat, banyak bangsawan kerajaan Gowa tidak setuju dengan Perjanjian Bungaya, 18 Nopember 1667, yang juga isinya menyerahkan benteng ke pihak kolonial. Sejumlah bangsawan memilih meninggalkan wilayah kerajaan dan melakukan perlawanan. Tersebut, antara lain, nama bangsawan Gowa, Karaeng Bonto Langkasa kerjasama Aru (Raja) Sengkang, La Maddukelleng, April 1739, memimpin penyerangan ke benteng Fort Rotterdam yang telah dikuasai kolonial. Sekalipun hanya dalam tempo sekitar 3 bulan dapat menguasai situasi, karena pihak kolonial kemudian mampu memukul mundur mereka dalam pertempuran 17 Juli 1739.

Selain bastion, terdapat 4 terowongan pendek tinggalan lama yang masih utuh, dapat disaksikan di Fort Rotterdam. Tiga terowongan berfungsi sebagai jalan penghubung dari areal benteng ke parit pertahanan yang menghubungkan antarbastion. Di antaranya terowongan yang menerobos bangunan di bastion Buton, terowongan menerobos bangunan dekat pintu gerbang di arah timur dinding benteng, dan terowongan di sekitar bastion Amboina. Terowongan yang satunya berlekuk leher angsa sehingga dari luar sepintas terlihat bagai lorong buntu. Terowongan ini dahulu merupakan jalan keluar masuk pintu gerbang utama di arah timur benteng yang kini ditutup karena di bagian luar terhempang bangunan pemukiman penduduk.

 

Juga masih ada 6 sumur tua sebagai sumber air tawar yang hingga kini masih dapat dilihat terpencar dalam komplek benteng Fort Rotterdam. Pelukis mantan pengasuh acara ‘Mari Menggambar’ di TVRI Makassar, Bachtiar Hafid, mengaku pernah menyimpan air yang diambil dari sumur tua di depan bangunan bastion Mandarsyah, diisi dalam sebuah botol plastik. Selama lebih tiga bulan air tersebut terlihat tetap bening, tidak berlumut.

Aneka sensasi, selain 4T-5B-6S, berkaitan dengan peristiwa sejarah dan ihwal kepurbakalaan dapat dirasakan jika berkunjung ke benteng Fort Rotterdam. Areal benteng masih merupakan ruang meditatif yang cukup baik memaknai keagungan peradaban maupun kegigihan perjuangan leluhur masa silam, guna menapaki perjalanan hari-hari ke depan bangsa lebih cemerlang. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kompasiana, Januari 2016)

ba23

Bangunan bekas gereja di benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Awalnya, di dalam komplek benteng Fort Rotterdam terdapat banyak rumah panggung khas etnik Makassar tempat bermukim kalangan raja-raja Gowa beserta keluarga dan para petinggi kerajaan. Suasana lingkungan damai dan asri tatkala benteng masih berbentuk segi empat polos, terlihat melalui hasil terawangan seniman pelukis supranatural Bachtiar Hafid yang dituangkan dalam serial lukisan Benteng Fort Rotterdam dari Abad ke Abad.

Benteng buatan leluhur kerajaan Gowa tersebut diambil masuk dalam kekuasaan pihak kompeni Belanda seusai ditandatangani Perjanjian Bungaya, 18 Nopember 1667, antara Gubernur Jenderal Belanda Cornelis Jansen Speelman dengan Raja Gowa XVI Sultan Hasanuddin.

Akan tetapi bangunan milik kerajaan di dalam benteng, diperkirakan baru mulai dibongkar setelah pihak kompeni memilih benteng Fort Rotterdam sebagai markas pertahanan, usai membumihanguskan benteng Somba Opu, benteng induk kerajaan Gowa di delta muara Sungai Jeneberang, tahun 1669.

buatan jepang

Inilah bangunan buatan Jepang di benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Bangunan-bangunan baru didirikan kompeni secara permanen, ditata berderet mengelilingi dinding bagian dalam benteng. Bangunan dibuat semua dua lantai dengan ukuran bervariasi sesuai fungsinya. Konstruksi atapnya bersudut lancip tinggi, dan model pintu serta jendela berukuran besar. Seperti terlihat dapat bertahan awet melalui pemeliharaan hingga sekarang dalam usia lebih dari 300 tahun.

Melalui foto-foto dukumentasi yang dibuat antara tahun 1901 hingga 1932, terekam jelas suasana lingkungan dalam komplek benteng Fort Rotterdam banyak ditumbuhi pohon pelindung berukuran besar, menghutan. Sejumlah warga kota Makassar masih mengingat hingga tahun 50-an terdapat banyak pohon kelapa dalam tumbuh di komplek benteng. Pucuk-pucuknya tinggi menjulang, dikatakan terlihat dari luar benteng. Dalam catatan pascakemerdekaan RI, antara tahun 1950 hingga 1969 areal benteng pernah dijadikan sebagai lokasi pemukiman rakyat dan tentara.

Benteng kerajaan Gowa yang pernah diduduki pihak asing dari tahun 1667 hingga 1945, baru dapat dipugar kembali tahun 1973. Pemugaran dilakukan atas bantuan dana dari Kementerian Kebudayaan, Rekreasi dan Sosial Belanda. Diberikan setelah Pangeran Belanda Benhar berkunjung ke kota Makassar (waktu itu masih bernama kota Ujungpandang), 19 hingga 22 Pebruari 1973.

Pemugaran dilakukan terhadap 15 bangunan di Fort Rotterdam yang sebagian besar konstruksi atap, dinding, dan lantainya mengalami kerusakan berat. Pekerjaan pemugaran dilaksanakan CV Sinar Karya, kala itu mendapat pengawasan ketat dari Badan Pengawas Pembangunan (BPP) yang terdiri atas Gubernur Sulsel H Achmad Lamo, Walikota Makassar HM Dg Patompo, Kepala DPU Provinsi Sulsel Ir H Latekko Tjambolang, Kepala Perwakilan Departemen P dan K Provinsi Sulsel Agussalim Makodompit MA, dan Asisten Kepala Perwakilan Departemen P dan K Sulsel Bidang Kebudayaan Drs. A.Abubakar Punagi. Pemugaran dilaksanakan mulai Nopember 1973, dapat diselesaikan April 1974. Nama-nama BPP tersebut dikutipkan kembali mengenang dedikasi mereka melancarkan pekerjaan kali pertama penyelamatan benteng yang sudah terancam rusak berat.

ba60

Bangunan bergaya neo gotic di selatan benteng Fort Rotterdam/Foto:Mahaji Noesa

Melalui revitalisasi benteng Fort Rotterdam dan Museum Lagaligo tahun 2012, lingkungan benteng ikut ditata dalam suasana sebagai taman modern di antara gedung-gedung lawas. Bahkan atas bantuan pemerintah pusat, di dinding luar arah selatan Jl WR Supratman yang masih merupakan zonasi benteng, dibangun sebuah taman Ruang Terbuka Hijau (RTH) dilengkapi kanal yang tembus ke laut. Kanal terlihat seringkali beriak bagai sungai alami di antara areal benteng dan tepian taman.

Sensasi pemukiman berarsitektur neo gotic Eropa abad pertengahan, itulah menjadi salah satu daya tarik pengunjung tak bosan berulang mengunjungi benteng Fort Rotterdam. Inilah benteng purba tersisa masih tegak anggun dengan properti lawas di tengah pesatnya pertumbuhan bangunan modern berasesori abad millenium di kota metropolitan Makassar.

Dalam catatan sejarah, sebuah bangunan bergaya Portugis di tengah areal benteng pernah difungsikan sebagai gereja. Artinya, bangunan yang sekarang lantai bawahnya dijadikan sebagai ruang pamer tetap dan lantai 2 dijadikan sebagai aula, sebenarnya merupakan gereja pertama yang pernah ada di kota Makassar. Lantaran gereja Katedral yang dianggap sebagai gereja tertua di kota Makassar dibangun dalam tahun 1898, abad XIX.

Tatkala balatentara Jepang merajai perang Asia Timur Raya, tahun 1942 mendarat di kota Makassar, menguasai benteng Fort Rotterdam dijadikan sebagai pusat pelatihan bahasa dan pertanian. Sekalipun hanya dalam waktu singkat, pasukan dari negeri Sakura tersebut harus menyerah, kalah Perang Dunia II atas tentara Sekutu tahun 1945. Namun kehadirannya juga tetap meninggalkan jejak monumental di benteng Fort Rotterdam. Terdapat sebuah gedung dibangun dengan sejumlah ruang untuk melengkapi kebutuhan sarana perkantoran, berdekatan dengan bastion Mandarsyah. Bangunan tidak bertingkat buatan Jepang tersebut sampai sekarang juga masih terawat awet. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kompasiana, Januari 2016)