Archive for the ‘News’ Category

re46

Puluhan pemuda yang tergabung dalam Walhi, Forum Gabungan Makassar Tolak Reklamasi dan Aliansi Selamatkan Pesisir, Minggu (7/2/2016) pagi, menggelar aksi pajang poster di keramaian pengunjung Pantai Losari kota Makassar.

Puluhan poster yang dipegang para pemuda maupun yang dihamparkan di permukaan jalanan, intinya semua menyatakan menolak terhadap reklamasi yang dilakukan khususnya di Pantai Barat kota Makassar.

Sebagaimana diketahui ratusan hektar pantai barat kota Makassar sejak tahun 2000 telah direklamasi dan dikembangkan menjadi kawasan pemukiman, bisnis dan wisata.

Reklamasi pantai barat kota Makassar yang kini lebih dikenal dengan nama Kawasan Tanjung Bunga masih terus berlangsung. Di antaranya saat ini sedang dilakukan proses penimbunan terhadap lebih dari 150 hektar kawasan pesisir barat oleh Pemprov Sulsel kerja sama salah satu pengembang nasional untuk membangun kawasan Centre Point of Indonesia (CPI) di dalamnya terdapat pembangunan Wisma Negara.

Menariknya, di antara poster-poster yang dipajang bernada menolak kegiatan reklamasi, terdapat sejumlah poster justeru bermuatan tudingan jahat terhadap Walikota Makassar Danny Pomanto.

Walikota Makassar jahat karena ngotot reklamasi pesisir Makassar#Rekalamasi bukti Danni Pomanto pro pengusaha#Pengusaha – Walikota jahat. Demikian tulisan poster yang menyebut Walikota Makassar.

Isi poster lainnya yang menarik perhatian puluhan ribu pengunjung Pantai Losari, Minggu (7/2) pagi : ”Reklamasi tak pro rakyat, Reklamasi mengusir nelayan demi perut pejabat, reklamasi untuk rakyat adalah kebohongan pemerintah, Reklamasi terjadi rakyat mati, Timbunan = Kuburan Nelayan.”

wa101

Halaman rumah jabatan (Rujab) walikota Makassar di Jalan Penghibur, juga ikut dihiasi sejumlah lampion Imlek 2567. Lampion berwarna merah tersebut digantung mengelilingi pagar halaman Rujab.

Kehadiran lampion di halaman rumah jabatan walikota dilakukan beberapa hari sebelum Tahun Baru China alias Imlek 2567 bertepatan dengan 8 Pebruari 2016.

Sejumlah warga kota yang bermukim di jalan-jalan arah timur Rujab mengaku, tahun ini sebagai kali pertama melihat Rujab Walikota Makassar dihiasi lampion dalam menyambut perayaan Tahun Baru China.

Sehubungan dengan perayaan Imlek 2567, pihak Paguyuban Sosial Masyarakat Tionghoa Indonesia (PTMSI) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat akan melaksanakan Bai Nian atau Temu Hati pada 10 Pebruari 2016 di Restoran Bambuden III (Lantai 2), Jalan Gunung Latimojong, kota Makassar.

Acara Bai Nian yang akan berlangsung mulai sore hari Rabu pukul 18.00 hingga pukul  21.30 wita sebagai ajang silaturahmi dinyatakan terbuka untuk umum.

”Perayaan Imlek itu adalah kegiatan budaya, jadi semua orang dari semua agama dapat saja mengikutinya,” jelas Jusman Riyanto, salah seorang panitia kepada wartawan di Makassar.

Penyelenggaraan Bai Nian yang didukung sejumlah organisasi dan yayasan sosial etnis Tionghoa, Klenteng serta Vihara di kota Makassar, akan dimeriahkan sejumlah penampilan seni budaya Tionghoa, seperti tarian Dewi Kwan Im, tarian Dewa Rejeki, dan atraksi meja Barongsai. Juga ada fashion show busana kebaya peranakan Tionghoa Makassar.

Terdapat agenda sekaitan dengan perayaan Imlek 2567, Walikota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto akan meresmikan dimulainya pengembangan kawasan pecinaan kota Makassar sebagai destinasi China Town Makassar.

 

Sejak Sabtu (19/12/2015) siang warga di Kampung Baru RW 001/RT 006 Kelurahan Antang Kecamatan Manggala kota Makassar geger dengan kemunculan mata air panas berasap di rumah salah seorang warga.

Pemilik rumah, Jures menceritakan, awalnya ia mendengarkan seperti ada suara gelegap air mendidih di bawah lantai tegel ruang tamunya. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata lantai sekitar suara gelegap air tersebut terasa panas. Ketika beberapa lantai tegel dibuka ada seperti mata air menyembul dengan tekanan kecil. Mengherankan, lantaran selain airnya terasa panas juga mengeluarkan asap.

Ceritera tentang munculnya mata air panas tersebut amat cepat menyebar dari mulut ke mulut warga khususnya di kelurahan Antang. Akibatnya, sejak Sabtu hingga Minggu (20/12/2015) siang rumah Jures tampak selalu ramai dikunjungi warga untuk menyaksikan langsung.

Beberapa warga telah meletakkan telur ayam di genangan mata air panas tersebut dan hasilnya telur dapat matang dengan sempurna.

Rumah yang jadi lokasi munculnya mata air panas, seperti halnya rumah-rumah warga sekitar Kampung Baru, lingkungannya yang rendah di kelilingi genangan air setelah hujan deras melanda kota Makassar sejak Kamis (17/12/2015). Bahkan beberapa rumah warga di Kampung Baru terlihat terisolir akibat di kelilingi genangan air.

Sejumlah warga pengunjung merasa kuatir air panas yang muncul tersebut berkaitan dengan adanya gangguan terhadap instalasi kabel listrik di bawah tanah antarrumah warga yang saling berhimpitan. Namun hingga Minggu (20/12) siang pihak petugas PLN yang telah berkali-kali dikontak warga belum juga datang ke lokasi.

Beberapa warga sekitar menyatakan, telah melakukan pengecekan dan tidak menemukan adanya aliran atau kabel listrik yang terpasang sekitar lokasi kemunculan air panas tersebut. Mata air panas dengan tekanan kecil di rumah warga Kampung Baru masih terus mengalir dan mengeluarkan asap.

Sebuah pulau kecil tak berpenghuni dengan latar hamparan laut Banda terlihat elok dipandang bagai gundukan tanah mengapung sekitar 500-an meter di ujung timur dermaga Basule di kecamatan Lasolo kabupaten Konawe Utara.
Potongan panorama pesisir pantai timur wilayah provinsi Sulawesi Tenggara ini menarik perhatian sejumlah kru yang mengikuti perjalanan reses anggota Komite III DPD RI, Muliati Saiman, S.Si, saat mengasoh di kelurahan Basule Minggu terakhir Desember 2014.

Tampak Pulau Keramat  ujung dermaga/Foto : Mahaji Noesa

Tampak Pulau Keramat ujung dermaga/Foto : Mahaji Noesa

Puluhan bagang apung nelayan yang terhampar di laut Banda arah kanan dermaga Basule, plus beragam pepohonan laut yang tumbuh rimbun sepanjang pesisir serta barisan pegunungan yang sebagian telah belang-belang lantaran dikupas sejumlah perusahaan tambang untuk mengambil pasir ore yang mengandung bijih nikel, melengkapi keindahan alam sekeliling pulau.
Hampir semua pendatang, menurut seorang warga asal Tinobu, ibukota kecamatan Lasolo, ketika mula melihat pulau tersebut menduga sebagai tempat rekreasi karena letaknya sangat dekat dengan daratan. Justeru yang terjadi hal sebaliknya, pulau ini sejak lama jarang dikunjungi warga.
Beberapa warga di Basule menyarankan agar membatalkan niat ketika kami berupaya mencari tumpangan ke pulau di depan dermaga Basule. Mereka menceritakan sering terjadi hal aneh terhadap pengunjung terutama jika tidak ada hubungan keluarga dengan mereka yang dimakamkan di pulau tersebut.
Sejumlah kuburan tua bertebaran di daratan pulau. Salah satu kuburan yang disebut-sebut sebagai makam Syekh Abdullah, moyang suku Bajo, sering berpindah-pindah tempat. Penduduk mengaku banyak ular aneh sering muncul di sekitar kuburan. Mungkin itulah sebabnya sehingga pulau ini diberi nama sebagai Pulau Keramat.
Namun seorang warga di Basule yang mengaku ada memiliki hubungan keluarga dengan Syekh Abdullah menyatakan, selama ini warga sekitar Lasolo banyak yang salah mengartikan karena sebutan Pulau Keramat diidentikkan dengan tempat angker atau menakutkan. Pada hal, katanya, Pulau Keramat itu Palau Suci. Dicontohkan, beberapa orang bukan suku bajo yang pernah mampir di Pulau Keramat dan menemukan makam Syekh Abdullah kemudian semua mendapat keberuntungan hidup sejahtera karena semua usaha yang dilakukan berjalan baik dan lancar.a bajo8
Kuburan tua suku bajo yang banyak terdapat di Pulau Keramat dapat menjadi bukti bahwa wilayah pesisir Lasolo pantai timur Sulawesi Tenggara yang berbatasan dengan Sulawesi Tengah sebenarnya sejak lama menjadi wilayah teritorial lokasi pergerakan suku bangsa laut Indonesia.
Sejumlah pulau lain dan wilayah pesisir sekitar Pulau Keramat sekarang tumbuh perkampungan desa-desa yang dihuni mayoritas suku bajo dengan tingkat kesejahteraan yang sejajar dengan penduduk desa-desa non suku bajo lainnya. Desa Lemo Bajo, Mandiodo, Mowundo, Barasanga, Tanjung Bunga, Kampoh Bunga, Boenaga, Watu Rambaha, dan Boedingi merupakan kawasan pemukiman suku bajo di pesisir pantai kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Suku bajo yang telah mendarat tersebut sebagian besar tetap menjadikan laut sebagai ‘kebun’ tempat mencari nafkah kehidupan. Mereka sudah tidak menjadikan perahu sebagai kendaraan sekaligus rumah untuk hidup berkelana di pesisir pantai sebagaimana moyangnya dahulu, tetapi aktivitas kehidupan sebagai orang laut tetap mewarnai keseharian lingkungan dan perairan laut di sekitar pemukiman-pemukiman suku bajo yang telah mendarat.
Ramainya jual beli ikan laut hasil tangkapan setiap pagi hari mewarnai pemukiman-pemukiman suku bajo di pesisir Konawe Utara. Tak hanya aktivitas kapal-kapal penangkap ikan, tapi juga bagang apung, bentangan jaring hingga pengeringan ikan menjadi panorama khas kehidupan di perkampungan suku bajo. Lingkungan dan kehidupan original suku bajo sebagai suku bangsa laut yang tetap terpelihara perlu mendapat perhatian pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dikemas sebagai obyek wisata khas suku laut yang satu-satunya di dunia hanya dapat disaksikan di perairan-perairan Indonesia, termasuk di sepanjang pantai timur kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Saat ini, menurut Sekretaris Kerukunan Keluarga Bajo ‘Kekar Bajo’ kabupaten Konawe Utara, Syamsul Bahri, S.Si, terdapat lebih 1.000 Kepala Keluarga atau sekitar 5.000 jiwa suku bajo yang menghuni desa di pulau-pulau dan pesisir timur kabupaten Konawe Utara.
Mantan Kepala Desa Basule (1999 – 2004) ini mengaku, melanjutkan pengabdian diangkat langsung melalui SK Bupati Lukman Abunawas sebagai pejabat Kepala Desa di Pulau Labengki tahun 2004. Desa di pulau yang berbatasan dengan wilayah perairan Sulawesi Tengah kala itu masih berstatus desa persiapan tanpa warga penghuni tetap.
Penduduk yang awalnya hanya 8 KK, kenang Syamsul Bahri, juga selalu keluar masuk maklum mereka adalah suku bajo yang menjadikan Pulau Labengki hanya tempat persiggahan saat cuaca di laut tidak bersahabat.
Untuk membetahkan orang-orang bajo bermukim di Desa Labengki, Syamsul menyediakan kapling tanah pemukiman gratis seluas 15 x 20 meter untuk setiap KK. Dibantu pihak satuan Angkatan Laut dan Polair dilakukan perburuan terhadap warga bajo yang masih hidup berpindah-pindah bersama keluarga menggunakan perahu di hol-hol yang ada seputar pulau Labengki Kecil dan sekitarnya.
Dengan diiringi pemberian pengertian laut tetap sebagai ‘kebun’ dan usai kerja atau saat isterahat harus ke rumah, hanya dalam tempo 6 bulan desa persiapan Labengki dapat menjadi sebuah desa definitif yang dihuni suku bajo di kecamatan Lasolo, Konawe Utara.
Desa suku bajo yang sekarang ini maju pesat terjadi atas tingginya kesadaran warga untuk membangun desanya. Tingkat kesejahteraan warganya cukup baik, rumah-rumah mereka umumnya sudah permanen. Sudah terdapat SD, SMP dan sarana layanan kesehatan di Pulau Labengki. Untuk keperluan air bersih warga sudah menggunakan teknologi mengolah air laut menjadi air tawar.
‘’Desa Labengki pernah dijuluki sebagai Singapura Kecil setelah saya memberi tulisan Singgapore di gerbang desa,’’ papar Syamsul Bahri yang menjabat sebagai Kades Labengki hingga tahun 2009.
Tulisan Singgapore dipertanyakan bahkan minta dihapus oleh Bupati Lukman Abunawas ketika bersama rombongannya menyambut tahun baru 1 Januari 2005 di Pulau Labengki, tapi Syamsul bersikukuh tulisan tersebut dipertahankan.
‘’Singgapore adalah bahasa asli suku bajo yang berarti Tempat Persinggahan. Apa salahnya kita gunakan kata itu karena Pulau Labengki Kecil yang kini menjadi Desa Labengki awalnya hanya menjadi lokasi persinggahan suku bajo di pesisir timur pantai Konawe Utara,’’ tandas Syamsul mengulang alasannya saat mempertahankan pemampangan kata Singgapore di gerbang Desa Labengki.
Syamsul yang mengaku berdarah suku bajo dari garis keturunan ibunya mengatakan, satu-satunya suku di Indonesia yang memiliki presiden tersendiri yaitu Presiden Suku Bajo. Justeru dia merasa bangga apabila pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dapat membuat disain pengembangan lingkungan dan aktivitas kehidupan pemukiman-pemukiman suku bajo termasuk yang cukup besar jumlahnya di pesisir timur kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara agar dapat diangkat sebagai obyek wisata khas suku laut yang hanya terdapat di Indonesia.(HL di kompasiana.com 28 Desember 2014)

Sudah puluhan tahun menjalankan bisnis sebagai pedagang obat keliling, namun H Abd Wahid M tidak mendaftarkan diri sebagai anggota organisasi Persatuan Penjual Obat Seluruh Indonesia (Perposi). Maklum, pria kelahiran 21 April 1957 asal Welado, kabupaten Bone, Sulawesi Selatan tersebut bukan tipe pedagang obat seperti yang sering berkoar-koar di kaki lima.

H Abdul Wahid/Ft: Mahaji Noesa

H Abdul Wahid/Ft: Mahaji Noesa

‘’Saya memang sudah puluhan tahun hampir tiap hari berkeliling ke pasar-pasar tradisional yang terdapat di sekitar kota Kendari, Sulawesi Tenggara menyalurkan obat-obat dibutuhkan masyarakat tapi bukan sembarang obat, melainkan obat-obat generik bebas untuk umum yang terdaftar dengan harga relatif terjangkau,’’ aku Sang Haji ketika dijumpai di kediamannya, Powatu, kota Kendari, Rabu (19/11/2014) siang.

Masyarakat pedagang serta pengunjung setia pasar tradisional khususnya pasar rakyat Abeli Sawa, Pohara, Batu Gong, dan Paku Jaya sudah sangat akrab dengan sosok H. Abd Wahid. Mereka sudah mengenal suami dari Hj Jastian, S.Ag sejak pasar-pasar tradisional tersebut masih merupakan bagian dari wilayah Kota Madya Kendari, belum masuk wilayah administrative Kabupaten Konawe, seperti sekarang.

Menurut kakek dari 8 cucu tersebut, lantaran akrabnya dengan warga seputar pasar-pasar tradisional tersebut, dirinya juga sering dititipi pelanggannya untuk membelikan obat-obat paten khusus sebagaimana diresepkan dari dokter.

‘’Tanpa ada tip khusus selama ini saya sering layani titipan mereka. Pesanan obat itu saya belikan di apotek-apotek yang ada di kota Kendari, kemudian saya berikan saat saya datang berjualan di pasar-pasar yang minimal saya kunjungi sekali dalam seminggu. Sejuk rasanya dapat kepercayaan dan mampu melayani permintaan kebutuhan pelanggan seperti itu,’’ kata pengurus komite sekolah selama 18 tahun dan menjadi ketua Komite Sekolah selama dua periode yang masih dijalani sampai sekarang di SMA Negeri 6 kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara.

Haji Abdul Wahid ketika belajar jurnalis TV/Ft: dok

Haji Abdul Wahid ketika belajar jurnalis TV/Ft: dok

Sebelum terjun ke profesi sebagai penyalur obat keliling yang didasari prinsip dengan menyediakan kebutuhan obat keperluan warga merupakan bagian dari pekerjaan berguna membantu manusia, H Abd Wahid bergerak di dunia kontraktor. Dimulai tahun 1977 bersentuhan dengan kegiatan kontraktor mengerjakan Perumahan Transmigrasi di Tinanggea. Tahun 1985 ikut kegiatan di CV Bintang Raya Kendari, sebagai pengawas. Kemudian selama 7 tahun menjadi Direktur CV kemudian berubah menjadi PT Cahaya Petir Bumi Permai dengan mengerjakan proyek-proyek fisik bernilai ratus-ratus juta.

Namun nurani alumnus sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Sungguminasa, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan tahun 1975 ini berontak setelah merasakan lika-liku dunia konstruksi yang ditekuni. ‘’Ibarat pipa, jadi kontraktor itu banyak bocor-bocornya,’’ ujar Pembina Badan Pengajian Mesjid Babussalam di kecamatan Ponggolaka (d/h. Tobuha) kota Kendari.

Sebelum berbisnis menggunakan mobil menyalur obat keliling pasar rakyat, H. Abd Wahid juga serius menekuni berbagai organisasi sosial kemasyarakatan serta pernah terjun di dunia politik dan pers.

Pernah selama 20 tahun menjadi Ketua RT di kelurahan Ponggolaka (d/h. Tobuha). Tahun 1976 jadi kader partai PPP di kota Kendari. Tahun 1987 bergabung di Golkar. Tahun 1998 tampil sebagai deklarator pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di kota Kendari.

Sebelumnya, mantan Wakil Sekretaris KNPI kota Kendari ini, tahun 1987 menjadi Sekretaris dan Wakil Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor kota Kendari. Dalam kiprah dan prestasinya membina organisasi NU tersebut H Abd Wahid sejak 2012 hingga sekarang dipercaya menjadi pengurus wilayah Nahdhatul Ulama (NU) Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sejak tahun 2002 hingga saat ini H. Abd Wahid adalah Pengurus Ikatan persaudaraan Haji (IPH) di kota Kendari. Dia juga selama dua periode pernah mendapat kepercayaan sebagai Pengurus DDI Provinsi Sulawesi Tenggara. Dan, sampai sekarang juga dipercaya sebagai Ketua Komite SD 1 Mandonga. Bahkan juga pernah terlibat dalam kegiatan jurnalis di majalah kriminal Fakta terbitan Surabaya, SK Target, dan suratkabar Timur Indonesia terbitan lokal di kota Kendari.

Anda tahu, ayah dari 4 orang anak (2 meninggal dunia) ini sejak tahun 1999 hingga saat ini merupakan salah seorang penyuluh agama dan juru da’wah NU yang tercatat di Kantor Kementerian Agama kota Kendari. Lantaran itu, selain mempunyai jadwal setiap Jumat bertugas sebagai khatib di mesjid dalam wilayah kota Kendari, H Abd Wahid juga seringkali harus menangani acara ritual keagamaan secara Islam, seperti untuk acara pernikahan, doa syukuran, hingga urusan kematian mulai penanganan memandikan jenazah hingga pemakaman serta mengisi ceramah tazzia.

Bahkan pernah, ceritanya, dia dipanggil mendoakan seseorang yang sudah tiga hari dalam kondisi sekarat dan bertindak ‘aneh-aneh’ selalu ingin telanjang. ‘’Alhamdulillah………setelah memohon ampunan dari Allah yang bersangkutan dapat berpulang dengan tenang,’’ jelas H Abd Wahid.

Pekerjaan sebagai penyalur obat, penyuluh agama dan juru da’wah itu yang kini ditekuni H.Abd Wahid. Dia setiap hari usai shalat subhuh rutin meninggalkan kediamannya meluncur dengan mobilnya membawa berbagai jenis obat generik ke pasar-pasar tradisional. Dia sudah menyusun jadual lokasi yang akan dikunjungi maupun acara yang akan dihadiri setiap hari. Jika hari Jumat, memilih mengunjungi pasar rakyat terdekat, karena adanya kewajiban menjadi khatib di mesjid yang sudah dijadualkan di kota Kendari.

Pengkhotbah yang tetap menjunjung falsafah leluhurnya dari Tana Bugis yaitu Resopa Temmanginggi Naiya Naletei Pammase Dewata (artinya: Hanya dengan kerja keras rakhmat Tuhan akan diperoleh) dijuluki banyak warga sebagai bukan pedagang obat sembarangan. ‘’Saya sangat menyukai pekerjaan yang dapat memberi manfaat buat banyak orang,’’ ujarnya. (Terposting di Kompasiana, 19 Nopember 2014)

a jejak bso11

Konstruksi dinding Benteng Somba Opu (BS0), bekas istana kerajaan Gowa yang dibangun dalam abad XVI (1545) tidak berbentuk persegi empat sebagaimana terdapat dalam catatan dan peta lama sejumlah bangsa asing. Termasuk dalam kenyataannya  tidak sama dengan peta lama BSO yang dilukiskan berbentuk segi empat panjang yang sekarang dipajang sebagai lukisan pantul di langit-langit museum Patingaloang di dalam areal BSO.

Bukti dinding BSO tidak berbentuk empat persegi panjang dapat dilihat secara kasat mata di puing bekas dinding BS0 bagian selatan. Sejak dilakukannya eskavasi (penggalian) tahun 1989 terhadap puing BS0 yang telah tertanam lebih 3 abad setelah dihancurkan pihak kolonial usai ditandatangani Perjanjian Bungayya tahun 1667 dengan Kerajaan Gowa, sebenarnya sudah terlihat hasil eskavasi dinding BS0 dengan ketebalan dinding sekitar 2 meter di arah selatan tidak dalam bentuk lurus tetapi berkelok-kelok menyerupai sejumlah huruf S yang sambung menyambung dalam beragam lekuk ukuran.

a jejak bso8Lekukan tersebut sekarang dapat ditelusuri dari sudut dinding barat benteng ke arah rumah adat Kajang, memutar museum Patingaloang, membelok ke arah Baruga Somba Opu, berkelok samping lokasi treep top, rumah adat Toraja dan Mamasa, seterusnya melengkung ke dinding BS0 arah timur yang berimpit dengan Taman Burung milik Gowa Discovery Park, menjadi bukti nyata bahwa dinding BS0 tidak berbentuk persegi empat.

Anehnya, hingga sekarang sejumlah data termasuk catatan Latar Historis dan arkeologi yang dipajang pihak terkait sebagai papan bicara di situs BS0 masih memaparkan bahwa berdasarkan hasil stilasi Francois Valentijn dan kemudian disempurnakan oleh Bleau dalam sebuah peta tahun 1638, dinding BS0 berbentuk segi empat panjang.

Berdasarkan hasil pemetaan praeskavasi pihak Suaka Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Sulselra tahun 1986, luas BS0 113.590 meter bujursangkar. Dinding benteng yang terbuat dari susunan batu bata dan batu padas saat dieskavasi umumnya sudah dalam kondisi hancur.

Hanya di bekas dinding BS0 bagian barat yang tampak masih ada sebagian dinding yang tegak tinggi sekitar 3 meter dengan ketebalan susunan batu bata selebar 3 hingga 4 meter. Konstruksi dinding melintang lurus arah utara – selatan.

a jejak bso4Sedangkan dinding BS0 di bagian timur dan selatan sudah dalam kondisi hancur tertimbun tanah namun masih terlihat alur dan susunan batu bata bekas kaki dinding benteng. Termasuk tampak jelas bekas kaki dinding benteng di arah selatan yang meliuk-liuk kemungkinan mengikuti kontur tepian sungai Garassi atau Binanga Barombong yang dahulu berimpit dengan dinding BS0 bagian selatan.

Sedangkan jejak dinding BS0 sebelah utara sama sekali tidak ditemukan hingga saat ini. Arah utara BS0 dahulu berbatasan dengan Sungai Jeneberang.

Hilangnya jejak bekas dinding BS0 di arah utara banyak yang menduga jika tergerus arus banjir sungai setelah dibombardir kolonial lebih dari 300 tahun lalu.

a jejak bso3Alur sungai Jeneberang di arah utara sudah ditutup dan dialihsatukan ke sungai Garassi sebelah selatan BS0 seiring dengan dilakukannya eskavasi BS0 tahun 1989. Bekas alur sungai Jeneberang di arah utara BS0 seluas lebih dari 110 hektar itulah yang kini menjadi Danau Tanjung Bunga dan masuk wilayah kelurahan Maccini Sombala, kota Makassar.

Bahkan situs BS0 arah utara dan barat kini sebagian besar telah menjadi area pemukiman. Kondisi terkini puing bekas dinding BS0 sebagian besar berlumut dan berantakan. Rumah-rumah adat etnis Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar yang dibangun di areal situs BS0 dalam masa kepemimpinan Gubernur Sulawesi Selatan Prof Dr HA Amiruddin Pabittei (alm) kini konstruksinya sudah banyak yang rusak.

Sejumlah rumah adat tampak banyak yang ditawarkan untuk dipersewakan dengan ditempeli nomor-nomor HP yang dapat dihubungi bagi yang hendak menggunakannya. Termasuk Baruga Somba Opu yang merupakan rumah adat etnik Makassar yang bangunannya dibuat lebih dari 100 tiang kini dalam kondisi mulai kumuh tak terpelihara. Demikian halnya rumah adat tradisional Gowa, Luwu, Bulukumba, Soppeng, Makassar, Sidrap, Toraja, dan Mamasa terkesan tidak terurus. Beberapa warung atau kios tampak bebas dibangun berimpit dengan bangunan-bangunan rumah adat.

a jejak bso2Sebagian besar jalan paving blok dalam areal BS0 terutama di arah barat telah rusak tak nyaman untuk dilalui berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan. Areal BS0 tidak mengesankan sebagai obyek kunjungan rekreasi, wisata atau taman yang dipelihara atau dikelola secara profesional.

Tanpa kepedulian para pihak atau perhatian khusus penanganan,  pemeliharaan dan pengembangan areal situs BS0 yang telah gagal dikembangkan sebagai Taman Miniatur Sulawesi (TMS) sebagaimana pernah dicanangkan sejarawan DR Mukhlis Paeni, maka secara pelan tapi pasti bukti jejak peradaban, bukti jejak sejarah kebesaran masa lalu di Sulawesi Selatan tersebut akan kembali tertimbun atau pupus oleh beragam musabab dan kepentingan lainnya. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kreport kompas.com 11 Agustus 2014)

Gambar

Pelabuhan Makassar/ Foto: Mahaji Noesa

Seperti dugaan banyak pihak sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Sulsel tahun 2013 diperkirakan akan tetap dalam posisi baik berada di atas angka pertumbuhan ekonomi secara nasional. Tanda-tandanya dapat dilihat dari data BI yang dirilis kepada wartawan, dalam triwulan pertama 2013, pertumbuhan ekonomi di wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulamampu) mencapai 8,26%.

Bahkan menurut Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia Wilayah I Sulamampu, Mahmud Arsin, pertumbuhan ekonomi untuk wilayah Sulsel jauh lebih baik dibandingkan pertumbuhan provinsi lain di wilayah ini.

Angka pertumbuhan ekonomi Sulsel 2013, menurutMahmud, akan relatif stabil dengan adanya berbagai instrumen ekonomi daerah yang tetap terjaga. Antara lain, masih berlanjutnya sejumlah proyek infrastruktur serta masih masuknya sejumlah investasi baru.

Pihak Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sulsel menargetkan investasi  Rp 6,7 triliun masuk dalam tahun 2013. Tahun lalu, target investasi Rp 5,9 triliun di Sulsel, realisasinya mencapai Rp 6,1 triliun.

Justru Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulsel La Tunreng menyatakan, tahun  2013 ekonomi Sulsel berpeluang tumbuh hingga 9%, dengan catatan pemda fokus pembangunan infrastruktur dan pembenahan kawasan industri untuk mendukung pertumbuhan industrialisasi di daerah ini.

Data BPS, pertumbuhan ekonomi Sulsel 2012 secara kumulatif 8,3 %, sedangkan rata-rata nasional hanya 6,23 %. Pertumbuhan ekonomi melebihi pertumbuhan nasional terjadi sejak 2007. Pihak BI mencatat pertumbuhan ekonomi Sulsel 2012 mencapai 8,58 %.

Bankir memberikan dukungan besar terhadap kegiatan perekonomian masyarakat di Sulsel tahun 2012. Hal itu bisa dilihat dari aset bank umum tumbuh 23,4 perse (yoy) dari Rp 61,4 triliun menjadi Rp75, 7 triliun. Dana yang dihimpun mencapai Rp 51,3 triliun atau tumbuh 23,5 persen (yoy).

Dalam amatan BI, kegiatan konsumsi dan investasi mendominasi pertumbuhan ekonomi Sulsel 2012. Kegiatan konsumsi menyumbang 6,79 % dan investasi 20,14 %, selain ditunjang pulihnya sektor tambang dan laju sektor tersier. Hal sama terjadi tahun sebelumnya, kegiatan konsumsi menyumbang 4,78 % dan kegiatan investasi 10,20 % terhadap pertumbuhan ekonomi Sulsel 2011 sebesar 7,61 persen.

Namun dalam diskusi panel perkembangan ekonomi Sulsel dilakukan BI Wilayah I Sulamampu awal April 2013 di Makassar, dua ekonom Sulsel, Hamid Paddu dan Madjid Sallatu masih mengkritisi capaian angka-angka pertumbuhan ekonomi Sulsel tersebut sebagai pertumbuhan yang belum merata.

Gambar

Kota Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan/Foto: Mahaji Noesa

Hamid Paddu, pakar ekonomi Unhas menyodorkan contoh, pertumbuhan ekonomi Sulsel yang terdiri atas 24 kabupaten/kota hampir sebagian merupakan kontribusi dari dua daerah saja. Yaitu kontribusi pertumbuhan sekitar 31 % dari kota Makassar dan 16 % dari kabupaten Luwu Timur.

‘’Angka pertumbuhan ekonomi tinggi dicapai Sulsel selama ini belum berjalan secara merata, masih banyak wilayah belum mampu memberikan pertumbuhan ekonomi yang besar,’’ katanya.

Ketua Dewan Pakar Badan Koordinasi Pembangunan Regional Sulawesi, Prof. DR. Madjid Sallatu mengistilahkan pertumbuhan ekonomi Sulsel sebagai pertumbuhan fluktuatif, strukturnya masih rapuh. Apabila dilihat lebih ke dalam, katanya, hanya didorong sektor pertambangan.

‘’Pertumbuhan ekonomi kita di tingkat kabupaten selama lima tahun terakhir sangat lamban, hanya kota Makassar dan kabupaten Luwu Timur yang pertumbuhan ekonomi daerahnya maju,’’ jelasnya.

Senada dua pakar Unhas ini menyatakan, untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih maju dan merata pemerintah harus menggenjot sektor pertanian yang menjadi basis andalan Sulsel. ‘’Sektor ini punya potensi besar untuk dikembangkan, dan akan paling banyak menyerap tenaga kerja dibandingkan sektor lainnya,’’ jelas Hamid Paddu.

Madjid Sallatu menekankan perlu dilakukan pengembangan pengolahan hasil-hasil tani yang selama ini pergerakannya dirasakan sangat lamban. ‘’Pemerintah harus fokus ke arah itu, karena melalui industri pengolahan akan menaikkan lebih besar nilai jual setiap produksi petani,’’ katanya.

Manariknya, di balik hitung-hitungan dan analisa angka pertumbuhan ekonomi Sulsel yang tinggi dalam lima tahun terakhir, ternyata belum signifikan dengan angka penurunan kemiskinan. Data BPS, sampai penghujung tahun 2012 masih terdapat lebih 800 ribu jiwa penduduk miskin di Sulsel.

Lebih menarik lagi, karena  angka penurunana penduduk miskin Sulsel dari 825 ribu jiwa (posisi Maret 2012) menjadi 805 jiwa (September 2012), jumlah persebaran penduduk miskin di wilayah perkotaan mengalami peningkatan sekitar 4 ribu orang. Sedangkan di daerah perkotaan dicatat BPS berkurang sekitar 24 ribu orang.

Korelasi angka-angka pertumbuhan ekonomi dengan penduduk miskin tersebut masih membingungkan. Apalagi jika dikaitkan dengan analisa dua daerah – kota Makassar dan Luwu Timur memberikan kontribusi lebih 45 % terhadap pertumbuhan ekonomi Sulsel. (Mahaji Noesa, Koran Independen Makassar, Edisi 32, 29 April – 5 Mei 2013)