ba23

Bangunan bekas gereja di benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Awalnya, di dalam komplek benteng Fort Rotterdam terdapat banyak rumah panggung khas etnik Makassar tempat bermukim kalangan raja-raja Gowa beserta keluarga dan para petinggi kerajaan. Suasana lingkungan damai dan asri tatkala benteng masih berbentuk segi empat polos, terlihat melalui hasil terawangan seniman pelukis supranatural Bachtiar Hafid yang dituangkan dalam serial lukisan Benteng Fort Rotterdam dari Abad ke Abad.

Benteng buatan leluhur kerajaan Gowa tersebut diambil masuk dalam kekuasaan pihak kompeni Belanda seusai ditandatangani Perjanjian Bungaya, 18 Nopember 1667, antara Gubernur Jenderal Belanda Cornelis Jansen Speelman dengan Raja Gowa XVI Sultan Hasanuddin.

Akan tetapi bangunan milik kerajaan di dalam benteng, diperkirakan baru mulai dibongkar setelah pihak kompeni memilih benteng Fort Rotterdam sebagai markas pertahanan, usai membumihanguskan benteng Somba Opu, benteng induk kerajaan Gowa di delta muara Sungai Jeneberang, tahun 1669.

buatan jepang

Inilah bangunan buatan Jepang di benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Bangunan-bangunan baru didirikan kompeni secara permanen, ditata berderet mengelilingi dinding bagian dalam benteng. Bangunan dibuat semua dua lantai dengan ukuran bervariasi sesuai fungsinya. Konstruksi atapnya bersudut lancip tinggi, dan model pintu serta jendela berukuran besar. Seperti terlihat dapat bertahan awet melalui pemeliharaan hingga sekarang dalam usia lebih dari 300 tahun.

Melalui foto-foto dukumentasi yang dibuat antara tahun 1901 hingga 1932, terekam jelas suasana lingkungan dalam komplek benteng Fort Rotterdam banyak ditumbuhi pohon pelindung berukuran besar, menghutan. Sejumlah warga kota Makassar masih mengingat hingga tahun 50-an terdapat banyak pohon kelapa dalam tumbuh di komplek benteng. Pucuk-pucuknya tinggi menjulang, dikatakan terlihat dari luar benteng. Dalam catatan pascakemerdekaan RI, antara tahun 1950 hingga 1969 areal benteng pernah dijadikan sebagai lokasi pemukiman rakyat dan tentara.

Benteng kerajaan Gowa yang pernah diduduki pihak asing dari tahun 1667 hingga 1945, baru dapat dipugar kembali tahun 1973. Pemugaran dilakukan atas bantuan dana dari Kementerian Kebudayaan, Rekreasi dan Sosial Belanda. Diberikan setelah Pangeran Belanda Benhar berkunjung ke kota Makassar (waktu itu masih bernama kota Ujungpandang), 19 hingga 22 Pebruari 1973.

Pemugaran dilakukan terhadap 15 bangunan di Fort Rotterdam yang sebagian besar konstruksi atap, dinding, dan lantainya mengalami kerusakan berat. Pekerjaan pemugaran dilaksanakan CV Sinar Karya, kala itu mendapat pengawasan ketat dari Badan Pengawas Pembangunan (BPP) yang terdiri atas Gubernur Sulsel H Achmad Lamo, Walikota Makassar HM Dg Patompo, Kepala DPU Provinsi Sulsel Ir H Latekko Tjambolang, Kepala Perwakilan Departemen P dan K Provinsi Sulsel Agussalim Makodompit MA, dan Asisten Kepala Perwakilan Departemen P dan K Sulsel Bidang Kebudayaan Drs. A.Abubakar Punagi. Pemugaran dilaksanakan mulai Nopember 1973, dapat diselesaikan April 1974. Nama-nama BPP tersebut dikutipkan kembali mengenang dedikasi mereka melancarkan pekerjaan kali pertama penyelamatan benteng yang sudah terancam rusak berat.

ba60

Bangunan bergaya neo gotic di selatan benteng Fort Rotterdam/Foto:Mahaji Noesa

Melalui revitalisasi benteng Fort Rotterdam dan Museum Lagaligo tahun 2012, lingkungan benteng ikut ditata dalam suasana sebagai taman modern di antara gedung-gedung lawas. Bahkan atas bantuan pemerintah pusat, di dinding luar arah selatan Jl WR Supratman yang masih merupakan zonasi benteng, dibangun sebuah taman Ruang Terbuka Hijau (RTH) dilengkapi kanal yang tembus ke laut. Kanal terlihat seringkali beriak bagai sungai alami di antara areal benteng dan tepian taman.

Sensasi pemukiman berarsitektur neo gotic Eropa abad pertengahan, itulah menjadi salah satu daya tarik pengunjung tak bosan berulang mengunjungi benteng Fort Rotterdam. Inilah benteng purba tersisa masih tegak anggun dengan properti lawas di tengah pesatnya pertumbuhan bangunan modern berasesori abad millenium di kota metropolitan Makassar.

Dalam catatan sejarah, sebuah bangunan bergaya Portugis di tengah areal benteng pernah difungsikan sebagai gereja. Artinya, bangunan yang sekarang lantai bawahnya dijadikan sebagai ruang pamer tetap dan lantai 2 dijadikan sebagai aula, sebenarnya merupakan gereja pertama yang pernah ada di kota Makassar. Lantaran gereja Katedral yang dianggap sebagai gereja tertua di kota Makassar dibangun dalam tahun 1898, abad XIX.

Tatkala balatentara Jepang merajai perang Asia Timur Raya, tahun 1942 mendarat di kota Makassar, menguasai benteng Fort Rotterdam dijadikan sebagai pusat pelatihan bahasa dan pertanian. Sekalipun hanya dalam waktu singkat, pasukan dari negeri Sakura tersebut harus menyerah, kalah Perang Dunia II atas tentara Sekutu tahun 1945. Namun kehadirannya juga tetap meninggalkan jejak monumental di benteng Fort Rotterdam. Terdapat sebuah gedung dibangun dengan sejumlah ruang untuk melengkapi kebutuhan sarana perkantoran, berdekatan dengan bastion Mandarsyah. Bangunan tidak bertingkat buatan Jepang tersebut sampai sekarang juga masih terawat awet. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kompasiana, Januari 2016)

ba62

Salah satu terowongan di dinding timur benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Satu-satunya jalan masuk ke benteng Fort Rotterdam saat ini melalui pintu yang terletak di tengah bentangan dinding arah barat. Di sisi kanannya terdapat sebuah taman bunga tertata menawan berasesori patung Sultan Hasanuddin berkuda. Anda tahu, pintu masuk yang berhadapan dengan resto Kampung Popsa di Jalan Ujungpandang tersebut, sejatinya bukan merupakan pintu masuk gerbang utama ke benteng Fort Rotterdam.

Melalui gambar dan skertsa-sketsa yang dibuat para peneliti, arkeolog dan sejarahwan, gerbang utama pintu masuk benteng Fort Rotterdam sesungguhnya berada di pertengahan bentangan dinding benteng bagian timur. Namun gerbang utama tersebut sejak lama tertutup puluhan bangunan kantor dan pemukiman rakyat yang menempel langsung dengan dinding benteng di arah timur.

Sejak lama sudah pernah berhembus kabar, zoning benteng Fort Rotterdam dan sekelilingnya akan dibebaskan dari semua bangunan dan pemukiman. Akan tetapi kabar itu hingga kini masih tetap berupa kabar tanpa tindak lanjut.

Dalam sejumlah foto dokumentasi yang dibuat tahun 30-an, terlihat gerbang masuk utama benteng Fort Rotterdam di arah timur dahulu dihubungkan dengan sebuah jembatan panjang. Jembatan tersebut melintas di atas semacam kanal yang mengalir sejajar dinding luar benteng arah timur.

Di dalam benteng hingga kini masih terlihat jelas arah jalan keluar ke Gerbang Utama dalam bentuk terowongan sepanjang sekitar 5 meter, dari lantai bawah sebuah bangunan menerobos ke dinding benteng. Hanya saja jalan keluar masuk pintu utama benteng telah ditutup beton. Tidak tembus dengan pemukiman penduduk yang menghimpit dinding luar benteng di arah timur.

ba63

Terowongan menembus ke dinding benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

 

Tidak terdapat cacatan yang jelas, sejak kapan pintu belakang arah barat benteng Fort Rotterdam yang dahulu terkoneksi langsung dengan laut Selat Makassar itu kemudian mulai difungsikan sebagai pintu masuk menggantikan pintu utama di bagian timur.

Melalui foto lama tahun 1915 saat pihak asing masih menguasai dan bermarkas di benteng Fort Rotterdam, pintu belakang dari arah barat benteng mendapat penjagaan ketat. Pilar gerbang masuk berlapis 3 dilengkapi pos jaga. Masih tampak ada bangunan di lokasi bastion Bone, dekat pintu belakang tersebut. Kini pilar luar gerbang telah tiada dan bastion Bone tinggal puing tanpa bangunan.

Tanpa diberikan penjelasan detil atau menyimak seksama lembaran sejarah, dipastikan letak pintu utama benteng Fort Rotterdam yang sesungguhnya akan kabur. Dan, pintu masuk di arah barat akan terus menguat seperti umumnya sebutan sekarang sebagai pintu depan Fort Rotterdam.

Dinding bagian barat sepanjang 225 meter, memang, saat ini merupakan bagian terbuka tanpa terhalang satu pun bangunan. Bersisian langsung dengan Jl Ujungpandang. Bagian inilah yang sekarang disebut banyak orang sebagai lokasi depan benteng Fort Rotterdam.

Berbagai event, termasuk berskala nasional maupun internasional yang pernah digelar di pelataran depan pintu barat Fort Rotterdam, umumnya pihak penyelenggara menyebut lokasinya dengan nama Depan Benteng Fort Rotterdam.

ba14

Relief Singa di benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Sedangkan dinding di arah utara sepanjang 152 meter, kini masih dihempang bangunan-bangunan milik Stasion RRI Makassar termasuk auditorium yang menghadap Jl Karaeng Riburane. Dinding bagian selatan menghadap Jl WR Supratman sepanjang 165 meter, sebagian sudah bebas terbuka dengan pembuatan taman plus kanal yang berhimpit langsung dengan dinding benteng. Sebagiannya lagi masih terhalang bangunan milik Legiun Veteran RI Sulawesi Selatan.

Paling parah, kondisi dinding di arah timur tempat gerbang utama yang dahulu merupakan bagian depan benteng Fort Rotterdam. Selain dinding sepanjang 204 meter tersebut dihimpit pemukiman penduduk, juga ditutupi bangunan sejumlah perkantoran di Jl Slamet Riyadi.

Bagi pengunjung saat menyusuri lorong di atas susunan balok-balok batu di dinding timur, dapat melihat langsung betapa sumpeknya bangunan yang menghimpit dari luar di arah timur dinding benteng Fort Rotterdam. Ini merupakan salah satu view yang terasa tak enak di situs peninggalan abad XVI masa kerajaan Gowa tersebut. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kompasiana, Januari 2016)

ba47

Sepotong suasana dalam komplek benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Berwisata ke kota metropolitan Makassar tak lengkap rasanya apabila tidak mengunjungi benteng Fort Rotterdam. Lokasi properti lawas tinggalan abad XVI ini berada di pusat kota, sekitar 300 meter di arah barat kantor Balaikota Makassar. Selain taksi, dapat dijangkau menggunakan bus angkutan umum trans Mamminasata maupun angkutan kota (angkot) Petepete. Sampai sekarang tak ada pungutan biaya masuk bagi pengunjung.

Pasca dilakukan revitalisasi benteng tiga tahun lalu, tak hanya turis mancanegara tapi juga selalu padat pengunjung lokal, warga kota, dan warga dari antarkabupaten kota di Sulawesi Selatan. Pun setiap hari ramai didatangi warga asal provinsi lain di Indonesia.

Terdapat museum Lagaligo di areal Fort Rotterdam, menyajikan lebih 6.000 koleksi benda sejarah dan purbakala. Lebih dari itu, sebagai situs banyak hal yang dapat diapresiasi ihwal sejarah dan kepurbakalaan saat berada dalam benteng seluas lebih 3 hektar tersebut.

3 gedung bagian luar btg

Suasana di arah barat benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Dinding benteng yang kokoh terbuat dari susunan puluhan ribu balok batu alam, menguatkan bukti sejak masa silam tingkat kemajuan olah pikir dan rangcang bangun nenek moyang bangsa Indonesia sudah cukup tinggi.

Berbentuk trapesium dengan empat sudut lancip, denah benteng menyerupai seekor kura-kura sedang merayap. Dengan panjang keliling dinding lebih 600 meter, tinggi 4 hingga 6 meter, tebal antara 2 hingga 3 meter, dapat dibayangkan saat-saat benteng dibangun juga ditopang semangat serupa ketika leluhur membangun Candi Borobudur di Yogyakarta jaman masih serba manual mengandalkan tenaga manusia.

Benteng Fort Rotterdam satu-satunya benteng tersisa dari 12 benteng yang pernah ada dalam masa Kerajaan Gowa. Dibangun ketika Raja Gowa IX, I Mannutungi Daeng Matanre Karaeng Tumapaqrisi Kallonna berkuasa (1510-1546). Awalnya, seperti halnya benteng Somba Opu, benteng induk pertama dibangun tahun 1512 tempat istana raja, setelah pusat Kerajaan Gowa dipindahkan dari Tamalate (wilayah agraris) ke wilayah pesisir pantai Maccini Sombala (Somba Opu), dinding benteng dibuat menggunakan gundukan tanah.

Saat Raja Gowa X, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung yang dijuluki Karaeng Tunipalangga Ulaweng berkuasa (1546 – 1565), kemudian mulai dilakukan renovasi mengganti dinding-dinding benteng dengan menggunakan susunan batu bata (tanah lempung yang dibakar) dan potongan batu-batuan alam (andesit).

Melalui sejumlah karya seniman pelukis supranatural Bahtiar Hafid yang terpajang di Sanggar Ujungpandang Visual Art Fort Rotterdam, terhayalkan perubahan bentuk suasana benteng dengan konstruksinya dari abad ke abad. Abad XVI hingga abad XVII, terlukis rumah-rumah adat etnik Makassar tampak ramai di dalam lingkungan benteng yang menjadi pemukiman kalangan raja serta para petingginya.

Seiring perjalanan waktu plus beragam peristiwanya, telah terjadi banyak perubahan terhadap tata massa dan konstruksi bangunan dalam benteng Fort Rotterdam dan sekitarnya. Kondisi bertahan saat ini, di dalamnya terdapat bangunan permanen bergaya portugis, dan ada bangunan yang dibuat masa pendudukan Jepang. Paling banyak bangunan bergaya Eropa abad pertengahan, buatan Belanda. Perubahan-perubahan terjadi dicatat sejarah, banyak dilatari keserakahan pihak asing masa silam untuk menguasai negeri. Kini, tidak satupun bangunan berbentuk rumah adat etnik Makassar di komplek benteng Fort Rotterdam.

Benteng ini mulanya dikenal dengan sebutan benteng Ujungpandang. Kemudian diubah, dilabeli nama sebagai benteng Fort Rotterdam oleh pihak kompeni Belanda usai ditandatangani Perjanjian Bungaya 18 Nopember 1667. Mengabadikan nama tempat kelahiran komandan kompeni, Cornelis Jansen Speelman yang pernah bermarkas di benteng. Mirisnya, penamaan tersebut sampai sekarang dipatenkan tehadap benteng purba yang merupakan karya asli leluhur bangsa Indonesia. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kompasiana, Januari 2016)

re46

Puluhan pemuda yang tergabung dalam Walhi, Forum Gabungan Makassar Tolak Reklamasi dan Aliansi Selamatkan Pesisir, Minggu (7/2/2016) pagi, menggelar aksi pajang poster di keramaian pengunjung Pantai Losari kota Makassar.

Puluhan poster yang dipegang para pemuda maupun yang dihamparkan di permukaan jalanan, intinya semua menyatakan menolak terhadap reklamasi yang dilakukan khususnya di Pantai Barat kota Makassar.

Sebagaimana diketahui ratusan hektar pantai barat kota Makassar sejak tahun 2000 telah direklamasi dan dikembangkan menjadi kawasan pemukiman, bisnis dan wisata.

Reklamasi pantai barat kota Makassar yang kini lebih dikenal dengan nama Kawasan Tanjung Bunga masih terus berlangsung. Di antaranya saat ini sedang dilakukan proses penimbunan terhadap lebih dari 150 hektar kawasan pesisir barat oleh Pemprov Sulsel kerja sama salah satu pengembang nasional untuk membangun kawasan Centre Point of Indonesia (CPI) di dalamnya terdapat pembangunan Wisma Negara.

Menariknya, di antara poster-poster yang dipajang bernada menolak kegiatan reklamasi, terdapat sejumlah poster justeru bermuatan tudingan jahat terhadap Walikota Makassar Danny Pomanto.

Walikota Makassar jahat karena ngotot reklamasi pesisir Makassar#Rekalamasi bukti Danni Pomanto pro pengusaha#Pengusaha – Walikota jahat. Demikian tulisan poster yang menyebut Walikota Makassar.

Isi poster lainnya yang menarik perhatian puluhan ribu pengunjung Pantai Losari, Minggu (7/2) pagi : ”Reklamasi tak pro rakyat, Reklamasi mengusir nelayan demi perut pejabat, reklamasi untuk rakyat adalah kebohongan pemerintah, Reklamasi terjadi rakyat mati, Timbunan = Kuburan Nelayan.”

wa101

Halaman rumah jabatan (Rujab) walikota Makassar di Jalan Penghibur, juga ikut dihiasi sejumlah lampion Imlek 2567. Lampion berwarna merah tersebut digantung mengelilingi pagar halaman Rujab.

Kehadiran lampion di halaman rumah jabatan walikota dilakukan beberapa hari sebelum Tahun Baru China alias Imlek 2567 bertepatan dengan 8 Pebruari 2016.

Sejumlah warga kota yang bermukim di jalan-jalan arah timur Rujab mengaku, tahun ini sebagai kali pertama melihat Rujab Walikota Makassar dihiasi lampion dalam menyambut perayaan Tahun Baru China.

Sehubungan dengan perayaan Imlek 2567, pihak Paguyuban Sosial Masyarakat Tionghoa Indonesia (PTMSI) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat akan melaksanakan Bai Nian atau Temu Hati pada 10 Pebruari 2016 di Restoran Bambuden III (Lantai 2), Jalan Gunung Latimojong, kota Makassar.

Acara Bai Nian yang akan berlangsung mulai sore hari Rabu pukul 18.00 hingga pukul  21.30 wita sebagai ajang silaturahmi dinyatakan terbuka untuk umum.

”Perayaan Imlek itu adalah kegiatan budaya, jadi semua orang dari semua agama dapat saja mengikutinya,” jelas Jusman Riyanto, salah seorang panitia kepada wartawan di Makassar.

Penyelenggaraan Bai Nian yang didukung sejumlah organisasi dan yayasan sosial etnis Tionghoa, Klenteng serta Vihara di kota Makassar, akan dimeriahkan sejumlah penampilan seni budaya Tionghoa, seperti tarian Dewi Kwan Im, tarian Dewa Rejeki, dan atraksi meja Barongsai. Juga ada fashion show busana kebaya peranakan Tionghoa Makassar.

Terdapat agenda sekaitan dengan perayaan Imlek 2567, Walikota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto akan meresmikan dimulainya pengembangan kawasan pecinaan kota Makassar sebagai destinasi China Town Makassar.

 

Sejak Sabtu (19/12/2015) siang warga di Kampung Baru RW 001/RT 006 Kelurahan Antang Kecamatan Manggala kota Makassar geger dengan kemunculan mata air panas berasap di rumah salah seorang warga.

Pemilik rumah, Jures menceritakan, awalnya ia mendengarkan seperti ada suara gelegap air mendidih di bawah lantai tegel ruang tamunya. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata lantai sekitar suara gelegap air tersebut terasa panas. Ketika beberapa lantai tegel dibuka ada seperti mata air menyembul dengan tekanan kecil. Mengherankan, lantaran selain airnya terasa panas juga mengeluarkan asap.

Ceritera tentang munculnya mata air panas tersebut amat cepat menyebar dari mulut ke mulut warga khususnya di kelurahan Antang. Akibatnya, sejak Sabtu hingga Minggu (20/12/2015) siang rumah Jures tampak selalu ramai dikunjungi warga untuk menyaksikan langsung.

Beberapa warga telah meletakkan telur ayam di genangan mata air panas tersebut dan hasilnya telur dapat matang dengan sempurna.

Rumah yang jadi lokasi munculnya mata air panas, seperti halnya rumah-rumah warga sekitar Kampung Baru, lingkungannya yang rendah di kelilingi genangan air setelah hujan deras melanda kota Makassar sejak Kamis (17/12/2015). Bahkan beberapa rumah warga di Kampung Baru terlihat terisolir akibat di kelilingi genangan air.

Sejumlah warga pengunjung merasa kuatir air panas yang muncul tersebut berkaitan dengan adanya gangguan terhadap instalasi kabel listrik di bawah tanah antarrumah warga yang saling berhimpitan. Namun hingga Minggu (20/12) siang pihak petugas PLN yang telah berkali-kali dikontak warga belum juga datang ke lokasi.

Beberapa warga sekitar menyatakan, telah melakukan pengecekan dan tidak menemukan adanya aliran atau kabel listrik yang terpasang sekitar lokasi kemunculan air panas tersebut. Mata air panas dengan tekanan kecil di rumah warga Kampung Baru masih terus mengalir dan mengeluarkan asap.

Indahnya tanaman hias bunga oleander di kota Pasangkayu merupakan salah satu pemandangan menarik saat melintas jalur Trans Sulawesi sepanjang lebih 800 km dari kota Makassar (Sulsel) ke kota Palu (Sulteng). Penanaman pohon berbunga warna merah muda dan pink di sebagian besar halaman rumah dan di tepi-tepi jalan protokol, kini seolah menjadi penanda khas kota Pasangkayu. Banyak warga di ibukota kabupaten Mamuju Utara (Matra) provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) tersebut menyakini oleander sebagai bunga rezeki lantaran umumnya mereka yang menanam, kehidupannya sejahtera.

Masih sangat sedikit warga di Pasangkayu mengetahui jika oleander, tanaman hias berdaun pita yang pohonnya dapat mencapai ketinggian lebih dari 3 meter tersebut merupakan salah satu jenis pohon beracun. Mulai dari daun, bunga, akar, kulit dan batang pohonnya mengandung zat dapat mematikan apabila masuk ke tubuh manusia. Begitu keras daya rusaknya , getah pohon oleander apabila mengenai luka di tubuh seseorang dapat menyebabkan kelumpuhan.

Tidak jelas siapa awalnya yang mengenalkan tanaman hias asal Maroko dan Portugal ini kepada warga kota Pasangkayu. Sejumlah penduduk sekitar pantai Pasangkayu menyebut oleander sebagai bunga Donggala. Mereka menamai demikian karena sebelumnya banyak memperoleh bibit dari kota Donggala, kl 80 km dari Pasangkayu. Donggala, ibukota sebuah kabupaten di Sulawesi Tengah (Sulteng)  berbatasan langsung dengan wilayah kabupaten Matra, Sulbar.

Sebenarnya sekitar 6 tahun lalu bunga oleander tersebut pernah menghebohkan warga kota Bandung, Jawa Barat. Mereka melakukan aksi ramai-ramai membabat tanaman oleander yang sebelumnya telah cukup lama dipelihara sebagai tanaman hias pekarangan dan ruang publik, setelah diketahui sebagai pohon mengandung zat beracun mematikan.

Zat racun bernama oleandrin yang meliputi seluruh bagian pohon oleander, tak hanya berbahaya apabila terkontaminasi ke dalam tubuh manusia tetapi juga hanya dengan kandungan 0,5 miligram zat tersebut mampu mematikan hewan. Sudah diteliti, dalam kondisi kering pun seluruh bagian dari pohon oleander masih mengandung racun berbahaya bagi manusia maupun hewan.

Ketika  memangkas daun dan ranting pohon oleander  yang rimbun di Jalur Dua Tengah, tampak sejumlah warga Pasangkayu tak hirau dengan getah-getah putih oleander yang terbercik liar dari daun dan ranting yang dipotong. Padahal, di getah oleander itulah berakumulasi oleandrin dan neriine sebagai toksin mematikan.

Ramainya minat warga di kota Pasangkayu saat ini memelihara tanaman oleander diharapkan perlu diiringi perhatian dari pemerintah setempat untuk menghindari dampak buruk dari pohon beracun tersebut. Aksi pembabatan tanaman  hias oleander yang pernah dilakukan pemerintah dan warga kota Bandung tahun 2009, semestinya dapat menjadi catatan penting masyarakat dan pemerintah di Indonesia agar menghindarkan penanaman tanaman-tanaman hias mengandung racun membahayakan di ruang-ruang publik. (Oleh Mahaji Noesa, tulisan ini pertama kali terposting di kompasiana.com)