Posts Tagged ‘abeli’

Gambar

Peta kota Kendari dan sekitarnya/Sumber: google-pakai-mobil.blogspot.com

Tergolong sesuatu yang langka di dunia, sebuah kota utuh tumbuh berkembang mengelilingi sebuah teluk  seperti teluk Kendari. Justru teluk Kendari yang kini berkembang multifungsi memerlukan perhatian serius dalam kaitan perkembangan kota Kendari sebagai ibukota provinsi Sulawesi Tenggara ke depan.

Masalahnya, teluk Kendari saat ini bukan lagi merupakan wilayah pinggiran atau hanya berstatus sebagai daerah pelabuhan laut seperti saat masih masuk dalam wilayah administratif kabupaten Kendari.

Teluk Kendari kini telah menjadi wilayah jantung kota Kendari yang mulai berotonomi dengan 3 kecamatan – Kendari, Mandongan dan Poasia, dan sekarang ditambah 3 kecamatan baru yakni kecamatan Baruga (pemekaran kecamatan Mandonga), kecamatan Abeli (pemekaran kecamatan Poasia), dan kecamatan Kendari Barat (pemekaran kecamatan Kendari).

Gambar

Kota kendari dengan latar teluk Kendari/Foto:google-skyscrapercily.com

Dari enam kecamatan yang ada saat ini di kota Kendari, 3 kecamatan berwilayah di pesisir selatan teluk Kendari (kecamatan Poasia,Abeli, dan Baruga). Dua kecamatan di bagian utara pesisir teluk (kecamatan Kendari dan Kendari Barat). Sedangkan kecamatan Mandonga terletak di bagian barat teluk.

Sebagian besar dari wilayah kecamatan tersebut berbatasan langsung dengan teluk Kendari. Artinya, dengan memperhatikan letak geografis tersebut, kota Kendari sesungguhnya merupakan sebuah kota pantai (Water front city). Sebuah kota yang sepenuhnya menghadap sebuah teluk yang luasnya lebih dari 10 km persegi (ukuran perkiraaan lebih kurang).

Sebagai perairan di jantung kota, pemerintah kota Kendari termasuk Pemprov Sultra seharusnya memberikan perhatian serius untuk dapat tetap menjaga kealamian lingkungan fisik teluk Kendari di tengah kencangnya dinamika pembangunan dan pertumbuhan kota Kendari hari ini, esok, dan yang akan datang.

Konsep Ornop Sultra, Walhi Sultra, Yascita, dan Yari (Opini, Kendari Ekspres, 31 Januari 2003) guna mendorong teluk Kendari menjadi suatu kawasan konservasi kota suatu gagasan cemerlang yang perliu disahuti khususnya oleh pemerintah kota Kendari dalam kaitan pemeliharaan serta mencegah kerusakan lingkungan di teluk Kendari.

Setidaknya konsep tersebut dapat dijadikan acuan guna melakukan pemikiran yang lebih konperehenship, semacam pembuatan atau penetapan sebuah Tata Ruang Pengembangan Kawasan teluk Kendari 25 hingga 30 tahun ke depan.

Dengan adanya Tata Ruang Khusus pengembangan kawasan teluk Kendari, diharapkan kealamian dapat tetap terjaga dan terpelihara di tengah derasnya dinamika perkembangan jaman serta bertambahnya peran dan fungsi teluk.

Lahirnya konsep dari LSM lingkungan Sultra untuk menjadikan teluk Kendari sebagai kawasan konservasi kota, tentu saja, telah ditunjang data kondisi lapangan yang mencemaskan terhadap keberadaan teluk Kendari apabila tidak segera dilakukan suatu penanganan yang serius.

Hilangnya ikan Belanak dan Teri (jenis Lure dan Balombong) yang dulu banyak berkembang biak di perairan teluk Kendari, suatu bukti kecil bahwa sesungguhnya kini telah terjadi kerusakan organisme laut yang bernilai ekonomis di teluk ini.

Catatan DR.Ir. La Ode M Aslan, MSc, Kepala Pusat Penelitian Wilayah Pesisir dan Laut lembaga penelitian Universitas Haluoleo, tentang kerusakan dan hilangnya hutan bakau (mangrove) di pesisir pantai Sultra yang dapat menyebabkan abrasi dan intrusi air laut ke darat, juga terjadi di pesisir teluk Kendari. Kondisinya, disebutkan, dalam kualifikasi sangat memprihatinkan.

Dengan adanya suatu tata ruang dilengkapi pembagian serta penetapan zona-zona pengembangan berdasarkan kondisi dan kessuaian lahan, sangat diharapkan perkembangan kota di pesisir teluk Kendari tetap menyediakan ruang-ruang publik (open space) untuk menikmati keindahan alam teluk Kendari.

Demikian pula adanya perhatian terhadap puluhan sungai yang setiap saat mengalirkan lumpur dan limbah ke teluk Kendari. Termasuk pengaturan drainase kota agar tidak membantu percepatan sedimentasi yang mengakibatkan pendangkalan dan pencemaran perairan teluk Kendari.

Dengan adanya tata ruang kawasan teluk Kendari, diharapkan kehadiran sejumlah pelabuhan, docking kapal, maupun industri perikanan tidak mengganggu biota laut perairan teluk Kendari. Apalagi sampai menimbulkan semacam kasus kerang beracun akibat tercemar Bahan Buangan Beracun (B3) mengandung mercury seperti yang pernah menimpa teluk Jakarta.

Ke depan kita merindukan teluk Kendari tak hanya dipadati kapal-kapal motor angkutan barang dan penumpang serta kapal-kapal penangkap ikan. Tapi juga teluk ini tak gersang dari kehadiran perahu layar untukkepentingan olahraga, pendidikan, hiburan, rekreasi dan pariwisata khusunya dalam perairan teluk Kendari.

Ramai dan eloknya, jika kemudian teluk dapat dikembangkan sebagai lokasi pendidikan dan penyewaan peralatan olahraga, hiburan, rekreasi air seperti diving, yacth, skyjet, boating, dan parasailing. Demikian pula penyediaan bus-bus air sebagai alat angkut penyeberangan dan rekreasi yang murah, cepat, dan lebih aman seperti terdapat di kota-kota pantai Eropa.

Adanya penanganan dan pengembangan teluk yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan, tak hanya menguntungkan masyarakat dan pemerintah kota Kendari. Akan tetapi berdampak pada kemajuan ekonomi dan sosial bagi pemerintah dan masyarakat ProvinsiSultra secara keseluruhan. Mengingat, salah satu peran teluk Kendari juga merupakan gerbang laut Provinsi Sultra.(Mahaji Noesa, Harian Kendari Ekspres, 2 Maret 2003)

Gambar

Inilah bentuk angin Puting Beliung/Foto: Riset Google – nyebur.com

Dalam banyak pengalaman amatan warga, kehadiran angin Puting Beliung, selalu diawali dengan munculnya semacam gumpalan awan putih kehitaman yang menggulung tegak bagai batang berukuran besar dari atas langit ke bumi. Gulungan awan tersebut itulah yang bergerak cepat seolah menjadi pusat kekuatan tiupan angin memporakporandakan semua benda yang dilewati.

Tak hanya rumah yang dapat dihancurkan, benda-benda yang tertancap di bumi seperti tiang listrik maupun pohon-pohon berukuran besar dapat tercabut diterbangkan jika dilewati oleh pusaran anging Puting Beliung. Masyarakat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara terutama kalangan masyarakat nelayan sejak lama sudah mengenal angin Puting Beliung ini dengan sebutan sebagai ‘Laso Anging’

Dari banyak cerita nelayan di Sulawesi Selatan, diketahui tanda-tanda akan terjadinya pusaran Laso Anging apabila terlihat gumpalan awan hitam menggantung seolah hanya menutupi setengah langit bergerak cepat disertai deru angin dan gerimis tipis.

‘’Saya tidak pernah melihat Laso Anging saat hujan deras. Bahkan dari banyak kejadian Laso Anging segera berhenti jika turun hujan deras,’’ jelas Dg. Nassa, seorang nelayan berusia senja di bilangan Kecamatan Mariso Kota Makassar yang mengaku di masa mudanya sudah seringkali berjumpa Laso Anging dalam perjalanannya mencari ikan di laut sekitar Selat Makassar hingga ke perairan pulau-pulau Nusa Tenggara dan Maluku.

Gambar

Puting Beliung di atas laut/Foto: Riset google-nyebur.com

Laso Anging atau Puting Beliung disebut merupakan jenis Tornado tingkatan paling rendah. Angin perusak tersebut dapat terjadi lantaran adanya anomali cuaca ditandai dengan hembusan angin yang berlawanan arah.

Dalam era kemajuan teknologi modern sekarang belum ditemukan satu cara untuk menghidarkan diri dari amukan Puting Beliung yang dapat muncul tiba-tiba di tempat mana saja saat cuaca mengalami mendung berat. Belum ditemukan metode bagaimana dapat menghancurkan pusaran Puting Beliung yang dapat mencabut pohon sekalipun memiliki akar tunggang yang tertancap sampai lebih 5 meter ke dalam tanah.

Dari sejumlah kejadian, jika dilihat secara kasat mata pusaran angin Puting Beliung tersebut seolah berputar menggulung dari langit ke bumi. Namun, sesungguhnya pusarannya berputar ke arah langit, sehingga setiap benda yang dilalui akan ditarik naik atau diterbangkan ke atas untuk kemudian terhempas jika keluar dari pusaran. Amat mengerikan.

Dari banyak cerita rakyat pascakejadian Puting Beliung di Sulawesi Selatan, disebut-sebut jika Laso Anging itu turun tidak di sembarangan tempat. Akan tetapi punya jalur-jalur tertentu. Di tempat mana Laso Anging pernah terjadi, di lokasi sekitar kejadian itu dicurigai sebagai jalur yang kemungkinan akan dilalui kembali jika kemudian terjadi Laso Anging.

Namun kebenaran cerita tersebut masih disangsikan. Di tahun 70-an saya pernah menyaksikan langsung dari dekat peristiwa Puting Beliung yang pusarannya membentang vertikal cukup panjang dari udara dengan gulungan sebesar drum ke permukaan laut Teluk Kendari. Pusaran angin terlihat bergerak begitu cepat di atas laut teluk mulai dari sekitar Sodohoa hingga ke pesisir Abeli, depan Dermaga Kota Kendari.

Saat itu, langit terlihat dipenuhi awan hitam disertai gemuruh angin dan bunyi gelombang air yang dilalui Puting Beliung tersebut. Orang-orang yang ada di pesisir daratan dalam jarak sekitar 400 sampai 500-an meter dari pusat pusaran angin juga ikut merasakan tekanan angin yang begitu kencang. Semua berlarian menjauh, panik.

Gambar

Bentuk lain angin puting belioung/Foto: Roset google – nickirfan.blogspot.com

Dari sejumlah perahu layar yang tertambat di pesisir Kendari Caddi dan sekitarnya, terdengar banyak kumandang orang melafazkan azan. Saya menyaksikan sendiri ada seorang lelaki berdiri di pucuk tiang sebuah perahu phinisi dalam keadaan berbugil. Ada kepercayaan yang tumbuh sampai sekarang di kalangan masyarakat pesisir di Provinsi Sulawesi Selatan maupun di Provinsi Sulawesi Tenggara, Laso Anging alias Puting Beliung tidak akan bergerak ke arah dimana ada seseorang lelaki berbugil.

Sudah lebih dari 40 tahun berlalu kehadiran Puting Beliung di Teluk Kendari tersebut, dan sampai sekarang tidak pernah ada lagi kemunculan kembali Laso Anging di teluk yang kini siang malam sudah sangat padat dengan aktifitas pelayaran. Semoga tidak terjadi lagi untuk selamanya!

Ada yang unik, saat kehadiran Puting Beliung di Teluk Kendari tersebut saya sedang ditemani Samaila (kl.50 th) untuk suatu urusan di pesisir pantai Teluk Kendari depan Stasion RRI Kendari yang saat ini sudah direklamasi menjadi pelubuhan Pelayaran Rakyat di Kota Kendari Lama. Lelaki yang kabarnya sudah dipanggil Yang Kuasa tahun 90-an, saat itu bekerja sebagai karyawan sipil pembersih di Kantor Kodim 1412 yang bermarkas di sekitar Kampung Salo, ke arah Kendari Caddi.

Sehari-hari Samaila harus berjalan kaki sejauh lebih dari 4 km dari kediamannya di sekitar lapangan Benubenua ke kantor Kodim di Kampung Salo, pp. Selain sebagai pembersih kantor, orang-orang yang berdiam di asrama sekitar Kantor Kodim mengenalnya sebagai Tukang Urut untuk meringankan badan maupun akibat keseleo. Taat beribadah (Islam) dan sering dipanggil untuk memimpin doa-doa untuk suatu hajatan dari penduduk di Kampung Salo dan sekitarnya.

Anda tahu, ketika pusaran Laso Anging bergerak di perairan sekitar Abeli, lelaki ini kemudian menunjuk ke arah pusaran sebanyak tiga kali. Uniknya, seketika itu pusaran angin terlihat menjadi terpotong-potong. Saat itu Puting Beliung yang bergerak di atas perairan Teluk Kendari hancur dan mereda tanpa menimbulkan korban.

Dalam suatu kesempatan orang tua ini kemudian mengungkapkan kepada saya, bahwa dengan mengucap : ‘’Rehul Mehru’’ sebanyak tiga kali lalu menujuk ke arah pusaran angin Puting Beliung. ‘’Insya Allah, atas pertolongan Allah, angin seperti itu akan hancur dan mereda,’’ katanya.

Sampai sekarang saya belum mengetahui dari bahasa mana, dan apa arti kata ‘’Rehul Mehru’’ yang disampaikan Pak Samaila tersebut. Saya pun belum pernah menggunakan petunjuknya lantaran sampai sekarang tidak pernah lagi berhadapan langsung dengan kejadian alam berupa Puting Beliung atau Laso Anging. Mudah-mudahan tidak bertemu lagi!

Dalam banyak perbincangan dengan sejumlah nelayan tua penjelajah lautan dari pesisir pantai Sulawesi Selatan dan Tenggara, umumnya mereka hampir sama memercayai bulu-bulu ijuk yang ditencapkan di ujung tertinggi tiang perahu atau kapal motor akan menghindarkan dari sambaran petir maupun terjangan Laso Anging.

Demikian halnya dengan sejumlah perbincangan yang pernah dilakukan dengan petani ‘Passari’– pembuat gula aren di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, umumnya mengakui tidak pernah menjumpai satu pohon enau atau pohon aren (penghasil bulu ijuk) yang terkena sambaran petir. Demikian pula lokasi tempat tumbuhnya pohon aren tidak pernah terlihat terserang tiupan angin kencang. Mungkin dari pengalaman panjang tersebut, sehingga sampai sekarang masih hidup hasil amatan tradisional di kalangan petani maupun nelayan daerah ini yang menganggap ijuk memiliki misteri sebagai benda penangkal petir dan amukan badai. Wallahualam……(Mahaji Noesa/Kompasiana, 28 Pebruari 2012, klik: Tulisan di Kompasiana )