Posts Tagged ‘adha’

Gambar

Nisan Hulu Keris di komplek Makam Jera Lompoe, Soppeng, Sulawesi Selatan/Foto:google-mugniarm.blogspot.com

Selain kuburan-kuburan batu yang menjadi salah satu daya tarik kunjungan wisatawan mancanegara ke Tana Toraja, wilayah Sulawesi Selatan sebenarnya memiliki banyak makam atau kuburan tua yang unik dari segi bentuk maupun penampilannya.

Di Tosora Kabupaten Wajo, misalnya, terdapat sejumlah kuburan yang nisannya menggunakan meriam (jagur) yang dipasang terbalik. Sejumlah makam tua di Binamu Kabupaten Jeneponto ditandai bukan memakai nama asli tapi menggunakan nama gelaran orang yang dimakamkan di kuburan tersebut.

Dalam komplek makam kuno Jera Lompoe di Kabupaten Soppeng, ada sebuah makam yang nisannya dibuat berbentuk hulu Badik (keris). Dan inilah satu-satunya makam di Provinsi Sulawesi Selatan yang menggunakan bentuk hulu Badik, senjata tradisional khas leluhur suku Bugis-Makassar.

Hingga saat ini, masih banyak yang belum mengetahui jika komplek makam tua yang berlokasi di Kelurahan Bila, sekitar 2 km dari Kota Watansoppeng, ibukota Kabupaten Soppeng tersebut merupakan salah satu makam kuno kalangan raja-raja dan keturunannya tempo dulu.

Bahkan komplek makam Jera Lompoe seluas 85 x 75 meter itu, sejak 6 Nopember 1981 diresmikan sebagai salah satu Taman Purbakala di Provinsi Sulawesi Selatan. Namun, komplek makam ini hanya terlihat ramai dikunjungi peziarah menjelang bulan puasa (ramadhan), hari raya Idul Fitri dan Idul Adha setiap tahun. Di luar hari-hari tersebut, komplek makam kuno tersebut tampak lengang dari peziarah.

Syekh Abdul Manan

Nisan Hulu Keris di makam Syekh Abdul Manan di Kel.Banggae, Majene, Sulawesi Barat/Foto:google-arkeologi-makassar.com

Kehadiran makam Jera Lompoe di Soppeng diperkirakan mulai abad ke-17, setelah ajaran Islam menyebar ke wilayah Soppeng. Hal itu dapat dilihat dari posisi makam yang keseluruhannya mencirikan cara pemakaman jenazah orang beragama Islam yaitu membujur arah utara – selatan.

Dugaan itu pun diperkuat dengan salah satu makam yang nisannya bertulisan arab : ”Allah Lailaha Illallah Muhammadarrasulullah.” Meskipun, makam ini sampai sekarang belum bernama, belum diketahui siapa sesungguhnya yang dimakamkan di situ. Inilah salah satu dari dua makam di komplek makam tua Jera Lompoe yang nisan di bagian kakinya terbuat dari batu berbentuk hulu Badik (keris) polos tanpa ukiran.

Sedangkan makam satunya, yaitu kuburan Panglima Perang Kerajaan Soppeng, Watanglipu La Mataesso, nisan di arah kaki dengan ukuran agak besar berbentuk hulu badik (keris) berukir indah. Demikian dengan nisan di bagian arah kepala menyerupai gada juga berukiran mozaik yang menawan.

Makam Datu Soppeng ke-16, La Tenribali merupakan yang terbesar di komplek makam Jera Lompoe. Bersisian dengan makam istrinya Tenri Kawareng. Di samping makam Raja Soppeng ke-28, Datu La Mappapoleonro, terdapat makam istrinya Tenriawaru yang juga adalah Pajung (Raja) Luwu ke-23. Pajung Luwu ke-23 ini dilantik menjadi Raja Soppeng ke-29 menggantikan kedudukan suaminya ketika meninggal dunia.

Dalam komplek pekuburan tua ini juga terdapat makam Adatuan Sidenreng (raja dari wilayah Sidenreng-Rappang) berdampingan makam istrinya, Tenriallu Arung Mapalu.

Melihat sejumlah makam raja dan keluarganya yang berasal dari wilayah di luar Soppeng yang juga terdapat di komplek makam tua Jera Lompoe tersebut, para pengamat sejarah dan kepurbakalaan sejak lama menunjuknya sebagai fakta otentik bahwa orang-orang di Sulsel sejak masa lampau telah berupaya menghidupkan benih persatuan dan kesatuan yang kemudian menjadi modal utama terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian juga dengan nisan berbentuk hulu keris di komplek makam Jera Lompoe yang merupakan satu-satunya dapat dilihat di wilayah Provinsi Sulsel. Dari bentuk nisan itu dapat ditelusuri untuk dijadikan bukti kuat kemungkinan telah terjadinya komunikasi pemerintahan dan kebudayaan yang erat antara raja-raja di wilayah Bugis-Makassar (Sulawesi Selatan) dengan raja-raja di wilayah Mandar (Sulawesi Barat) sejak masa silam.

Pasalnya, bentuk nisan berhulu Badik (keris) yang terdapat di komplek makam Jera Lompoe Kabupaten Soppeng (Sulsel) juga bentuk nisan yang sama dapat dilihat di sejumlah makam tua, seperti di komplek makam Mara’dia Pamboang, makam Kaaba, makam Kubang, makam Puang Rambang, makam Nenek Ular, dan makam Nenek Roso yang ada di wilayah Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 19 Januari 2011)

songkolo

Songkolo Bagadang/Foto: google-geoxperience.gonla.com

Layaknya wilayah metropolitan, aktivitas warga di kota Makassar sekarang sudah hidup siang-malam. Salah satu pertanda kehidupan malam, di hampir semua sudut kota bermunculan warung atau pedagang K-5 yang menyuguhkan menu jualan ‘Songkolo Bagadang.’

Songkolo adalah makanan khas etnik Bugis-Makassar. Sebagian orang dari wilayah Bugis menyebutnya dengan nama Sokko. Makanan yang terbuat dari beras jenis ketan ini sudah dikenal sejak lama di wilayah Sulawesi Selatan. Kehadirannya selalu dikaitkan pelaksanaan pesta-pesta gembira, seperti pesta hajatan, syukuran, dan perkawinan.

Bahkan suguhan Songkolo yang biasanya terbuat dari beras ketan berwarna putih, merah atau hitam hingga saat ini, masih sering dikaitkan dengan prosesi sejumlah acara atau pesta adat. Masih banyak warga asal Bugis – Makassar di wilayah perkotaan sekarang merasa kurang lengkap apabila tak menghadirkan Songkolo apabila menjamu tamu di meja-meja makan saat perayaan hari-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

Bahkan dalam memeriahkan peringatan maulid – kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap tahun, banyak komunitas warga di kabupaten/kota Sulawesi Selatan telah menjadikan semacam tradisi untuk melakukan lomba membuat Songkolo hias.

Sebenarnya banyak jenis kuliner tradisional lainnya yang juga dijajakan melalui cafe, warung dan pedagang K-5 untuk warga sepanjang malam hari di kota metro Makassar. Tapi entah siapa yang memulai, para penjual penganan dari ketan itulah yang pertama kali memajang label sebagai makanan malam yang sekarang populer dengan nama Songkolo Bagadang. Setelah kuliner Songkolo, kemudian menyusul penamaan untuk kuliner malam lainnya, seperti Coto Bagadang dan Nasi Kuning Bagadang.

Bahkan sebenarnya yang namanya Sarabba, minuman tradisional yang terbuat dari adonan sari panas jahe dan telur, jauh sebelumnya telah menjadi jualan larut malam saat Makassar belum berdenyut sebagai kota metro. Namun nama Songkolo Bagadang yang kemudian menonjol sebagai kuliner tradisional jualan malam hari di kota Makassar.

Salah satu dari berpuluh penjual Songkolo Bagadang yang mewarnai perdagangan kuliner malam metro Makassar saat ini yaitu penjual Songkolo Bagadang Hajja Haniah, berlokasi di Jl. Antang Raya N0. 19 D, arah timur kota Makassar. Warung penjualan Songkolo di poros jalan menghubungkan kota Makassar – kabupaten Gowa tersebut, melayani pembeli 24 jam.

Menurut pemiliknya, Hj, Haniah (50), onzet warung Songkolo Bagadang yang dibuka sejak tahun 1995 tersebut antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta setiap hari. Pembeli paling banyak malam hari, beragam, mulai dari sopir truck yang melintas malam, para sopir taksi, mahasiswa dan orang yang begadang malam hari. Bahkan tidak jarang warungnya dikunjungi rombongan pendatang dari luar kota.

Selain makan di tempat, banyak juga pembeli Songkolo Bagadang Hj.Haniah untuk dibawa pergi. Songkolo dijual dibungkus kertas kopi berat 2 ons per porsi dengan harga Rp 5.000. Dilengkapi lauk, berupa gorengan ikan atau teri kering, sambal, serta parutan kelapa alias sarundeng.

Selama dua malam observasi, terlihat setiap malam banyak pengunjung warung Songkolo Hj.Haniah juga datang menggunakan mobil-mobil tergolong jenis mewah.

Lidya Nurhidayati (26), karyawati salah satu bank swasta di Makassar, hampir setiap minggu menikmati Songkolo Bagadang Hj. Hania. “Selain enak, harganya juga terjangkau. Bahkan kalau ada teman dari luar kota, saya pasti merekomendasikan penganan khas kita ini,’’ kata Lidya sesaat setelah menikmati hidangan Songkolo.

Selain di Jalan Antang Raya, sajian Songkolo Bagadang dapat dijumpai malam hari di Jl. Pongtiku, Jl. Landak, Jl. AP Pettarani, dan sejumlah tempat lainnya di kota Makassar.  Sekalipun namanya sama, masing-masing warung punya resep berbeda dalam memeroses pembuatan Songkolo Bagadang. Hj.Haniah, misalnya, memilih pembuatan Songkolo yang terbuat dari campuran beras ketan hitam dan ketan merah.

‘’Sebelum beras ketan dikukus terlebih dahulu direndam 3 sampai 4 jam. Setelah matang, ketan ditiris santan kental agar rasanya enak dan tak lengket,’’ ungkapnya.

Namanya Songkolo Bagadang, tapi tidak berarti penganan tradisional ini hanya untuk dimakan bagi orang-orang yang akan begadang atau tidak akan tidur semalaman. ‘’Justeru kalau makan Songkolo sampai dua porsi,’’ cepat ngantuk, jelas Hairuddin, usai santap Songkolo Bagadang di wilayah Rapoocini.

Menikmati udara malam Makassar, jangan lupa Songkolo Bagadang, uenakkk…!