Posts Tagged ‘alam’

a jejak bso11

Konstruksi dinding Benteng Somba Opu (BS0), bekas istana kerajaan Gowa yang dibangun dalam abad XVI (1545) tidak berbentuk persegi empat sebagaimana terdapat dalam catatan dan peta lama sejumlah bangsa asing. Termasuk dalam kenyataannya  tidak sama dengan peta lama BSO yang dilukiskan berbentuk segi empat panjang yang sekarang dipajang sebagai lukisan pantul di langit-langit museum Patingaloang di dalam areal BSO.

Bukti dinding BSO tidak berbentuk empat persegi panjang dapat dilihat secara kasat mata di puing bekas dinding BS0 bagian selatan. Sejak dilakukannya eskavasi (penggalian) tahun 1989 terhadap puing BS0 yang telah tertanam lebih 3 abad setelah dihancurkan pihak kolonial usai ditandatangani Perjanjian Bungayya tahun 1667 dengan Kerajaan Gowa, sebenarnya sudah terlihat hasil eskavasi dinding BS0 dengan ketebalan dinding sekitar 2 meter di arah selatan tidak dalam bentuk lurus tetapi berkelok-kelok menyerupai sejumlah huruf S yang sambung menyambung dalam beragam lekuk ukuran.

a jejak bso8Lekukan tersebut sekarang dapat ditelusuri dari sudut dinding barat benteng ke arah rumah adat Kajang, memutar museum Patingaloang, membelok ke arah Baruga Somba Opu, berkelok samping lokasi treep top, rumah adat Toraja dan Mamasa, seterusnya melengkung ke dinding BS0 arah timur yang berimpit dengan Taman Burung milik Gowa Discovery Park, menjadi bukti nyata bahwa dinding BS0 tidak berbentuk persegi empat.

Anehnya, hingga sekarang sejumlah data termasuk catatan Latar Historis dan arkeologi yang dipajang pihak terkait sebagai papan bicara di situs BS0 masih memaparkan bahwa berdasarkan hasil stilasi Francois Valentijn dan kemudian disempurnakan oleh Bleau dalam sebuah peta tahun 1638, dinding BS0 berbentuk segi empat panjang.

Berdasarkan hasil pemetaan praeskavasi pihak Suaka Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Sulselra tahun 1986, luas BS0 113.590 meter bujursangkar. Dinding benteng yang terbuat dari susunan batu bata dan batu padas saat dieskavasi umumnya sudah dalam kondisi hancur.

Hanya di bekas dinding BS0 bagian barat yang tampak masih ada sebagian dinding yang tegak tinggi sekitar 3 meter dengan ketebalan susunan batu bata selebar 3 hingga 4 meter. Konstruksi dinding melintang lurus arah utara – selatan.

a jejak bso4Sedangkan dinding BS0 di bagian timur dan selatan sudah dalam kondisi hancur tertimbun tanah namun masih terlihat alur dan susunan batu bata bekas kaki dinding benteng. Termasuk tampak jelas bekas kaki dinding benteng di arah selatan yang meliuk-liuk kemungkinan mengikuti kontur tepian sungai Garassi atau Binanga Barombong yang dahulu berimpit dengan dinding BS0 bagian selatan.

Sedangkan jejak dinding BS0 sebelah utara sama sekali tidak ditemukan hingga saat ini. Arah utara BS0 dahulu berbatasan dengan Sungai Jeneberang.

Hilangnya jejak bekas dinding BS0 di arah utara banyak yang menduga jika tergerus arus banjir sungai setelah dibombardir kolonial lebih dari 300 tahun lalu.

a jejak bso3Alur sungai Jeneberang di arah utara sudah ditutup dan dialihsatukan ke sungai Garassi sebelah selatan BS0 seiring dengan dilakukannya eskavasi BS0 tahun 1989. Bekas alur sungai Jeneberang di arah utara BS0 seluas lebih dari 110 hektar itulah yang kini menjadi Danau Tanjung Bunga dan masuk wilayah kelurahan Maccini Sombala, kota Makassar.

Bahkan situs BS0 arah utara dan barat kini sebagian besar telah menjadi area pemukiman. Kondisi terkini puing bekas dinding BS0 sebagian besar berlumut dan berantakan. Rumah-rumah adat etnis Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar yang dibangun di areal situs BS0 dalam masa kepemimpinan Gubernur Sulawesi Selatan Prof Dr HA Amiruddin Pabittei (alm) kini konstruksinya sudah banyak yang rusak.

Sejumlah rumah adat tampak banyak yang ditawarkan untuk dipersewakan dengan ditempeli nomor-nomor HP yang dapat dihubungi bagi yang hendak menggunakannya. Termasuk Baruga Somba Opu yang merupakan rumah adat etnik Makassar yang bangunannya dibuat lebih dari 100 tiang kini dalam kondisi mulai kumuh tak terpelihara. Demikian halnya rumah adat tradisional Gowa, Luwu, Bulukumba, Soppeng, Makassar, Sidrap, Toraja, dan Mamasa terkesan tidak terurus. Beberapa warung atau kios tampak bebas dibangun berimpit dengan bangunan-bangunan rumah adat.

a jejak bso2Sebagian besar jalan paving blok dalam areal BS0 terutama di arah barat telah rusak tak nyaman untuk dilalui berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan. Areal BS0 tidak mengesankan sebagai obyek kunjungan rekreasi, wisata atau taman yang dipelihara atau dikelola secara profesional.

Tanpa kepedulian para pihak atau perhatian khusus penanganan,  pemeliharaan dan pengembangan areal situs BS0 yang telah gagal dikembangkan sebagai Taman Miniatur Sulawesi (TMS) sebagaimana pernah dicanangkan sejarawan DR Mukhlis Paeni, maka secara pelan tapi pasti bukti jejak peradaban, bukti jejak sejarah kebesaran masa lalu di Sulawesi Selatan tersebut akan kembali tertimbun atau pupus oleh beragam musabab dan kepentingan lainnya. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kreport kompas.com 11 Agustus 2014)

Gambar

Tampak arah timur Teluk Kendari/Foto: google – buminusantara.blogspot.com

Teluk Kendari – Laut Banda yang menyusup daratan Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), merupakan suatu anugerah Tuhan yang tiada bandingannya.

Betapa tidak, Teluk Kendari yang membujur dari timur ke barat sepanjang lebih 10 kilometer dengan lebar bentangan bervariasi antara 400 hingga 1.200 meter (ukuran perkiraan lebih kurang – pen), menjadi pembeda spesifik dengan teluk lainnya di dunia.

Dengan lay-out  alamnya seperti itu, di teluk ini dapat disaksikan pergerakan matahari terbit di pagi hari (sunrise) serta perguliran matahari senja (sunset) di sore hari. Bahkan panorama sunrise dan sunset di teluk ini dapat dinikmati dalam dua dimensi.

Dari pesisir ujung barat teluk terlihat matahari pagi bergerak naik dari balik bukit muara Teluk Kendari  yang terhempang Pulau Bungkutoko. Bias sunrise pagi hari senantiasa membuat pesona yang eksotis berpadu beragam aktivitas di permukaan dan pesisir teluk.

Sementara dari perbukitan di wilayah kelurahan Kendari Caddi, Kampung Salo, dan Manggadua – sebelah timur teluk, dapat dinikmati sunrise dalam dimensi lain. Di lokasi tersebut sunrise terlihat muncul dari laut lepas di muara Teluk Kendari.

Matahari senja tampak pada sore hari yang cerah seolah bergulir masuk ke balik bukit-bukit di sebelah barat teluk.

Sudah merupakan event tetap di sore hari yang cerah, pantulan lembayung senja membuat lukisan-lukisan alam fantastis di permukaan perairan Teluk Kendari.

Dalam musim hujan sesekali warga yang berdiam di wilayah kecamatan Poasia – pesisir selatan Teluk Kendari, dapat menyaksikan pergerakan arak-arakan mega mendung serta permainan halilintar menggelegar di atas barisan perbukitan Taman Hutan Raya (Tahura) Murhum (dulu bernama Bukit Nipanipa) – arah utara Teluk Kendari. Sementara warga di pesisir selatan teluk, tempat menyaksikan peristiwa alam tersebut dalam suasana udara cerah dengan surya berbinar.

Hal sama seringkali sebaliknya. Dari pesisir utara teluk yang cerah disaksikan wilayah pesisir selatan disaput kabut atau diguyur hujan lebat.

Pulau Bungkutoko yang terbentang persis di mulut teluk, membuat Teluk Kendari bebas dari karakter ganas gelombang Laut Banda.

Keberadaan pulau berpasir putih ini, selain berpotensi dan punya prospek dikembangkan sebagai obyek rekreasi/hiburan warga kota Kendari, membuat perairan teluk tenang bagai permukaan sebuah danau.

Tak heran pula jika pada siang terik terkadang dengan kasat  mata terlihat  bagaimana permukaan Teluk Kendari berwujud bagai sebuah cermin kristal raksasa memantulkan cahaya keras ke cakrawala bebas.

Susah sekali mendapat suasana alam yang romantis seperti suasana sekeliling Teluk Kendari saat-saat malam bulan purnama.

Suasana alam Teluk Kendari dan sekitarnya, ditengok dari sudut mana saja dalam berbagai dimensi waktu, duh…, eloknya! (Mahaji Noesa, Harian Kendari Ekspres, Jumat, 28 Pebruari 2003, Hal.6)   

Gambar

A Hamzah Tuppu/Repro mahaji Noesa

Melalui cuplikan catatan sejarah kebaharian dan sejarah TNI-AL, dapat dipahami betapa besarnya tekad yang menggelora di dada A.Hamzah Tuppu untuk melestarikan jiwa dan semangat bahari seperti yang dimiliki para leluhurnya sebagai orang pelaut.

A.Hamzah Tuppu lahir di Borongcalla, Desa Botosunggu, 20 Agustus 1920 (Berdasarkan riwayat hidup yang dibuat sendiri ketika masih hidup, tertanggal 23 Mei 1964, diketahui Adam Malik dan Bambang Soepeno). Tempat kelahiran A. Hamzah Tuppu itu kini secara administratif masuk Kecamatan Galesong Selatan di Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan.

Wilayah Galesong pada masa kerajaan Gowa terkenal sebagai lumbung pangan, tempat kelahiran para kesatria kerajaan Gowa, patriot bahari yang tangguh. Pihak kompeni Belanda sendiri baru mampu menerobos kota Somba Opu, pusat kerajaan Gowa pada abad XVII, setelah sebelumnya jatuh bangun melawan prajurit serta menghancurkan benteng pertahanan di wilayah Galesong tersebut.

Pihak kompeni Belanda mulai melakukan penyerangan terhadap kerajaan Gowa di Galesong pada 30 Juli 1667. Nanti pada 19 Agustus 1667 setelah dilakukan penyerangan dari darat dan laut, benteng pertahanan Galesong dapat dikuasai kompeni Belanda, lumbung makanan kerajaan Gowa di tempat ini dibumihanguskan.

A.Hamzah Tuppu merupakan anak kedua dari empat bersaudara pasangan keluarga Sayyid Dg Ngempo (ayah) dan I Tallasa Dg Rannu (ibu), termasuk dalam rumpun keluarga Karaeng Galesong.

Menurut Aba Jadjid Bostan Daeng Mama’dja, pemangku hadat Karaeng Galesong XVII (terakhir) yang juga keturunan ketujuh dari Syekh Joesuf Tajul Khalwatia Kaddassallahu Sirruhu, sebagai keluarga sejak kecil Amir Hamzah Dg Tuppu (nama lengkap A.Hamzah Tuppu) dibina oleh Karaeng Galesong XVI H.Larigau Dg Manginruru.

Dalam usia sekitar 7 tahun, A. Hamzah Tuppu yangnama kecilnya adalah Cakkua (menurut Bostan Dg Mama’ja, diambil dari nama keris kepunyaan Syekh Yusuf), disekolahkan pada sekolah rakyat (volokschool) di Soreyang. Setahun kemudian dipindahkan ke Sekolah Rakyat Galesong, tinggal bersama Karaeng Galesong di Takalar.

Setamat dari Sekolah Rakyat, ia dipindahkan ke Makassar melanjutkan pendidikan di Inlandsch School. Di Makassar, tinggal bersama sejumlah kawan-kawan di rumah seorang Karaeng Galesong, Ipammusuran Dg Paduni, di Kampong Pisang/Lajangiru. Dari sekolah tersebut ia kemudian masuk seklah Marine (Kelautan), tamat tahun 1936. Setelah itu, hasratnya untuk mengikuti kegiatan militer tidak mendapat dukungan dari Karaeng galesong. A Hamzah Tuppu melanjutkan pendidikan ke sekolah pertanahan Top Gerapt Dienst.

Setamat dari sekolah rakyat ini, ia kemudian bekerja pada kantor Landrente di Makassar. Pada tahun 1938 diangkat menjadi Mantri Landrente, bertugas melakukan pengukuran tanah-tanah di wilayah Sulawesi Selatan.

Pergaulan A.Hamzah tuppu semakin meluas. Termasuk menjalin persahabatan dengan seorang warga Jepang bernama Hirata yang berprofesi sebagai juru potret di Makassar. Melalui Avon kursus dia belajar Bahasa Belanda dan mulai melibatkan diri dengan organisasi-organisasi politik yang berupaya membebaskan Indonesia dari cengkraman penjajahan.

Pada tahun 1941, A. Hamzah Tuppu bersama aktivis pergerakan politik lainnya di Makassar, seperti wahab Tarru, Andi Kanna dan Martua Bangsawang Dg Liwang (Karaeng Takalar) ditangkap oleh Belanda dan ditawan di penjara Sengkang, sekarang ibukota Kabupaten Wajo. Dari tempat ini kemudian dipindahkan ke tempat tawanan Belanda di Pulau Jawa.

Saat Jepang memulai pendudukan di Indonesia pada tahun 1942, A Hamzah Tuppu dibebaskan dari tawanan Belanda di Pulau jawa. Selanjutnya, sekalipun kemudian bekerjasama Jepang di Pulau Jawa tapi dia tetap melanjutkan pergerakan politik untuk membebaskan Indonesia dari tangan penjajahan. Dia melakukan gerakan-gerakan persiapan kemerdekaan RI bersama rekan-rekannya seperti Chaerul Saleh, Sukarni, Adam Malik, serta menggalang tokoh-tokoh pemuda asal Sulawesi Selatan yang ada di Pulau Jawa.

Dalam daftar riwayat hidup yang dibuat sendiri A Hamzah Tuppu semasa hidupnya, pada tahun 1942 setelah dibebaskan dari Kamp Garut ia aktif dalam Djawa Hokokay dan Peta jurusan Angkatan Laut. Antara tahun 1945 – 1947 sebagai Kolonel pelaut, aktif dalam pembentukan ALRI pertama di Surabaya. Memimpin KRU X Brigade D-81 pada tahun 1947.

Ketika dilakukan rasionalisasi kepangkatan pada tahun 1948 – 1951, A Hamzah Tuppu dirurunkan pangkatnya dari Kolonel menjadi Letnan Kolonel, dan dia menyatakan mengundurkan diri dengan alasan cita-cita perjuangan kemerdekaan RI telah tercapai.

Tersebut sejumlah nama tokoh yang pernah menjadi kawan setia A Hamzah tuppu semasa hidupnya, seperti Kahar Muzakkar, Andi Selle Mattola, A.A.Rivai, Achmad Lamo, Warrow, Worang, Mursalim Dg Mamangung, Sudomo, Ali Sadikin, Andi Mattalatta, Andi Oddang, Ince Kasim, Suaib pasang, Tisi Efendi Dg Nodjeng, dan Hasan Ralla.

Pada tahun 1950 menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Maega di Surabaya. Sepanjang tahun 1952 – 1959 aktif mengorganisir bekas pejuang bersenjata dalam organisasi veteran yang bernama Legiun Veteran RI. Antara tahun 1959 – 1960 dipilih sebagai panasihat Organisasi Veteran Pusat dan daerah.

Lantaran kharismanya sebagai tokoh pejuang asal Sulsel, ia pernah dicalonkan menjadi anggota MPRS Pusat dan diajukan sebagai salah satu calon Gubernur Sulselra pada tahun 1961.

Antara tahun 1961 – 1963 aktif sebagai pengurus Perhimpunan Keluarga Sulawesi di Jakarta, dan menjadi Presiden Direktur NV Usaha AMPRI (Angkatan Muda Pejuang Republik Indonesia). Melalui badan usaha AMPRI, A Hamzah Tuppu membangun perumahan untuk angkatan laut di Makassar.

Dalam kutipan Riwayat Hidup A Hamzah Tuppu yang dikeluarkan oleh Markas Besar TNI-AL Dinas Personil, tertanggal 10 Nopember 1988, disebutkan bahwa A Hamzah Tuppu kelahiran 26 Desember 1920, bergabung dalam kesatuan/kelasykaran BKR/TKR Laut ALRI Pangkalan IV di Tegal antara 17 Agustus 1945 sampai dengan 31 Desember 1949.

Berdasarkan Surat keputusan Kasal Nomor: Skep/3400/XII/1979 tangga 12 Desember 1979 diberhentikan dengan hormat dangan Hak Onderstand terus menerus. Ditetapkan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI melalui SK Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi No.96/Kpts/MUV/1964 tanggal 15 September 1964.

Berdasakan SK Kasal No.Skep/245/I/1980 tanggal 19 Januari 1980 diberikan Hak Onderstand terus menerus kepada Letkol ALRI A Hamzah Tuppu Non Nrp. Sesuai dengan SK Kasal No.Skep/1573/VI/1982 tanggal 18 Mei 1982 diberikan pemberhentian/kenaikan pangkat luar biasa dari pangkat Letkol menjadi Kolonel atas nama Kolonel ALRI A Hamzah tuppu Non Nrp.

Putra asa Sulsel, patriot bahari titisan Karaeng Galesong, A Hamzah Tuppu menghembuskan nafas terkahir pada tangga 30 Juni 1986 di jakarta. Jenazahnya dimakamkan dalam suatu upacara militer di TMP Kalibata, Jakarta. Isteri almarhum, Ny.Erna sesuai dengan SK Kasal No.Skep/1407/V/1987 diberikan Hak Pensiun Warakawuri dari alm.Kolonel ALRI A Hamzah Tuppu Non Nrp.

Atas perkawinan A Hamzah Tuppu dengan Ny. Erna Doomik (Ny. Erna Hamzah Tuppu), dikaruniai empat orang anak, masing-masing Haerumy Hamzah tuppu Dg Mudji (sekarang menjabat Ketua Umum ARDIN Kota Makassar), Haerana Naki padjonga Dg Rannu, Ananda Agnes Tuppu Dg Asseng, dan Moh. Tony Nurul Dg Antang.

Ny Erna Hamzah Tuppu (kelahiran Yogyakarta, 11 September 1919) yang dinikahi A Hamzah Tuppu pada tahun 1945 di Jogya, selaiun berdarah ningrat dari paku Alam, juga dalam masa perjuangan kemerdekaan RI aktif selaku anggota Palang Merah Indonesia di Brigade X 81-D. Untuk itu pemerintah RI juga menganugerahkan kepadanya berupa tanda jasa Bintang Gerilya, Satya Lencana GOM I, Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan I, Satya Lencana Perang Kemerdekaan II, dan dianugerahi gelar kehormatan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI golongan A.

Pernikahan antara A hamzah Tuppu dengan Ny Erna, antara lain, disaksika oleh Nototarono, adik ipar dari Paku Alam V. Menurut Ny Erna, suaminya A.Hamzah Tuppu adalah sosok manusia yang tegas memegang prinsip untuk kepentingan nasional.

Dari keempat orang anak yang dilahirkan dari pasngan keluarga A Hamzah Tuppu dan Ny Erna, telah melahirkan 13 cucu, dua di antaranya meninggal dunia.

Semasa hidupnya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan bintang jasa kepada A hamzah Tuppu berupa tanda jasa Bintang gerilya (Dari Presiden Soekarno, 10 Nopember 1959), Satya Lencana Garakan Operasi Militer I (dari Menteri Pertahanan RI Djuanda, 29 januari 1958), Satya Lencana Sapta Marga (dari Menteri Pertahanan RI Djuanda, 5 Oktober 1959), Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan II (dari Menteri pertahanan Djuanda, 5 Oktober 1959), dan Piagam Veteran Golongan A (1964). Dan, Bupati Takalar Drs.H.Zainal Abidin, Msi atas nama pemerintah dan masyarakat Kabupaten Takalar pada Hari Jadi Kabupaten Takalar ke-40, 10 Pebruari 2000, secara khusus memberikan Piagam Penghargaan kepada Alm. A Hamzah Tuppu sebagai salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Takalar yang dinilai berjasa. Nama alm A Hamzah Tuppu sejak lama diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Kota Surabaya, ibukota Provinsi Jawa Timur. (Mahaji Noesa, Buku: A.Hamzah Tuppu Patriot Bahari Titisan Galesong, Makassar 2002)        

Gambar

Inilah bentuk angin Puting Beliung/Foto: Riset Google – nyebur.com

Dalam banyak pengalaman amatan warga, kehadiran angin Puting Beliung, selalu diawali dengan munculnya semacam gumpalan awan putih kehitaman yang menggulung tegak bagai batang berukuran besar dari atas langit ke bumi. Gulungan awan tersebut itulah yang bergerak cepat seolah menjadi pusat kekuatan tiupan angin memporakporandakan semua benda yang dilewati.

Tak hanya rumah yang dapat dihancurkan, benda-benda yang tertancap di bumi seperti tiang listrik maupun pohon-pohon berukuran besar dapat tercabut diterbangkan jika dilewati oleh pusaran anging Puting Beliung. Masyarakat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara terutama kalangan masyarakat nelayan sejak lama sudah mengenal angin Puting Beliung ini dengan sebutan sebagai ‘Laso Anging’

Dari banyak cerita nelayan di Sulawesi Selatan, diketahui tanda-tanda akan terjadinya pusaran Laso Anging apabila terlihat gumpalan awan hitam menggantung seolah hanya menutupi setengah langit bergerak cepat disertai deru angin dan gerimis tipis.

‘’Saya tidak pernah melihat Laso Anging saat hujan deras. Bahkan dari banyak kejadian Laso Anging segera berhenti jika turun hujan deras,’’ jelas Dg. Nassa, seorang nelayan berusia senja di bilangan Kecamatan Mariso Kota Makassar yang mengaku di masa mudanya sudah seringkali berjumpa Laso Anging dalam perjalanannya mencari ikan di laut sekitar Selat Makassar hingga ke perairan pulau-pulau Nusa Tenggara dan Maluku.

Gambar

Puting Beliung di atas laut/Foto: Riset google-nyebur.com

Laso Anging atau Puting Beliung disebut merupakan jenis Tornado tingkatan paling rendah. Angin perusak tersebut dapat terjadi lantaran adanya anomali cuaca ditandai dengan hembusan angin yang berlawanan arah.

Dalam era kemajuan teknologi modern sekarang belum ditemukan satu cara untuk menghidarkan diri dari amukan Puting Beliung yang dapat muncul tiba-tiba di tempat mana saja saat cuaca mengalami mendung berat. Belum ditemukan metode bagaimana dapat menghancurkan pusaran Puting Beliung yang dapat mencabut pohon sekalipun memiliki akar tunggang yang tertancap sampai lebih 5 meter ke dalam tanah.

Dari sejumlah kejadian, jika dilihat secara kasat mata pusaran angin Puting Beliung tersebut seolah berputar menggulung dari langit ke bumi. Namun, sesungguhnya pusarannya berputar ke arah langit, sehingga setiap benda yang dilalui akan ditarik naik atau diterbangkan ke atas untuk kemudian terhempas jika keluar dari pusaran. Amat mengerikan.

Dari banyak cerita rakyat pascakejadian Puting Beliung di Sulawesi Selatan, disebut-sebut jika Laso Anging itu turun tidak di sembarangan tempat. Akan tetapi punya jalur-jalur tertentu. Di tempat mana Laso Anging pernah terjadi, di lokasi sekitar kejadian itu dicurigai sebagai jalur yang kemungkinan akan dilalui kembali jika kemudian terjadi Laso Anging.

Namun kebenaran cerita tersebut masih disangsikan. Di tahun 70-an saya pernah menyaksikan langsung dari dekat peristiwa Puting Beliung yang pusarannya membentang vertikal cukup panjang dari udara dengan gulungan sebesar drum ke permukaan laut Teluk Kendari. Pusaran angin terlihat bergerak begitu cepat di atas laut teluk mulai dari sekitar Sodohoa hingga ke pesisir Abeli, depan Dermaga Kota Kendari.

Saat itu, langit terlihat dipenuhi awan hitam disertai gemuruh angin dan bunyi gelombang air yang dilalui Puting Beliung tersebut. Orang-orang yang ada di pesisir daratan dalam jarak sekitar 400 sampai 500-an meter dari pusat pusaran angin juga ikut merasakan tekanan angin yang begitu kencang. Semua berlarian menjauh, panik.

Gambar

Bentuk lain angin puting belioung/Foto: Roset google – nickirfan.blogspot.com

Dari sejumlah perahu layar yang tertambat di pesisir Kendari Caddi dan sekitarnya, terdengar banyak kumandang orang melafazkan azan. Saya menyaksikan sendiri ada seorang lelaki berdiri di pucuk tiang sebuah perahu phinisi dalam keadaan berbugil. Ada kepercayaan yang tumbuh sampai sekarang di kalangan masyarakat pesisir di Provinsi Sulawesi Selatan maupun di Provinsi Sulawesi Tenggara, Laso Anging alias Puting Beliung tidak akan bergerak ke arah dimana ada seseorang lelaki berbugil.

Sudah lebih dari 40 tahun berlalu kehadiran Puting Beliung di Teluk Kendari tersebut, dan sampai sekarang tidak pernah ada lagi kemunculan kembali Laso Anging di teluk yang kini siang malam sudah sangat padat dengan aktifitas pelayaran. Semoga tidak terjadi lagi untuk selamanya!

Ada yang unik, saat kehadiran Puting Beliung di Teluk Kendari tersebut saya sedang ditemani Samaila (kl.50 th) untuk suatu urusan di pesisir pantai Teluk Kendari depan Stasion RRI Kendari yang saat ini sudah direklamasi menjadi pelubuhan Pelayaran Rakyat di Kota Kendari Lama. Lelaki yang kabarnya sudah dipanggil Yang Kuasa tahun 90-an, saat itu bekerja sebagai karyawan sipil pembersih di Kantor Kodim 1412 yang bermarkas di sekitar Kampung Salo, ke arah Kendari Caddi.

Sehari-hari Samaila harus berjalan kaki sejauh lebih dari 4 km dari kediamannya di sekitar lapangan Benubenua ke kantor Kodim di Kampung Salo, pp. Selain sebagai pembersih kantor, orang-orang yang berdiam di asrama sekitar Kantor Kodim mengenalnya sebagai Tukang Urut untuk meringankan badan maupun akibat keseleo. Taat beribadah (Islam) dan sering dipanggil untuk memimpin doa-doa untuk suatu hajatan dari penduduk di Kampung Salo dan sekitarnya.

Anda tahu, ketika pusaran Laso Anging bergerak di perairan sekitar Abeli, lelaki ini kemudian menunjuk ke arah pusaran sebanyak tiga kali. Uniknya, seketika itu pusaran angin terlihat menjadi terpotong-potong. Saat itu Puting Beliung yang bergerak di atas perairan Teluk Kendari hancur dan mereda tanpa menimbulkan korban.

Dalam suatu kesempatan orang tua ini kemudian mengungkapkan kepada saya, bahwa dengan mengucap : ‘’Rehul Mehru’’ sebanyak tiga kali lalu menujuk ke arah pusaran angin Puting Beliung. ‘’Insya Allah, atas pertolongan Allah, angin seperti itu akan hancur dan mereda,’’ katanya.

Sampai sekarang saya belum mengetahui dari bahasa mana, dan apa arti kata ‘’Rehul Mehru’’ yang disampaikan Pak Samaila tersebut. Saya pun belum pernah menggunakan petunjuknya lantaran sampai sekarang tidak pernah lagi berhadapan langsung dengan kejadian alam berupa Puting Beliung atau Laso Anging. Mudah-mudahan tidak bertemu lagi!

Dalam banyak perbincangan dengan sejumlah nelayan tua penjelajah lautan dari pesisir pantai Sulawesi Selatan dan Tenggara, umumnya mereka hampir sama memercayai bulu-bulu ijuk yang ditencapkan di ujung tertinggi tiang perahu atau kapal motor akan menghindarkan dari sambaran petir maupun terjangan Laso Anging.

Demikian halnya dengan sejumlah perbincangan yang pernah dilakukan dengan petani ‘Passari’– pembuat gula aren di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, umumnya mengakui tidak pernah menjumpai satu pohon enau atau pohon aren (penghasil bulu ijuk) yang terkena sambaran petir. Demikian pula lokasi tempat tumbuhnya pohon aren tidak pernah terlihat terserang tiupan angin kencang. Mungkin dari pengalaman panjang tersebut, sehingga sampai sekarang masih hidup hasil amatan tradisional di kalangan petani maupun nelayan daerah ini yang menganggap ijuk memiliki misteri sebagai benda penangkal petir dan amukan badai. Wallahualam……(Mahaji Noesa/Kompasiana, 28 Pebruari 2012, klik: Tulisan di Kompasiana )

Gambar

Durian alam Mamuju/Foto: Mahaji Noesa

Seikat durian yang disodorkan seorang teman, Kamis (13/12/2012) siang langsung mengingatkan saya ketika berkunjung pertama kali ke Kota Mamuju. Ketika itu Kota Mamuju masih menjadi ibukota Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Selatan.

Selain bentuk buah duriannya yang khas, kecil-kecil tapi isinya harum dan manis. Mungkin 5 sampai 6 buah durian Mamuju untuk disamakan dengan sebuah durian Lompo Tele dari Palopo, Luwu, atau durian Otong yang kini banyak dikembangkan di Kabupaten Sinjai maupun Kabupaten Wajo. Durian alam Mamuju yang kecil-kecil dengan biji yang tipis disebut-sebut sebagai durian alam, durian yang tumbuh secara alami di hutan-hutan Mamuju.

Kali pertama ke Mamuju bersama M.Yahya Djabal Tira (alm), mantan Ketua PWI Cabang Palopo, dalam suatu tugas untuk penulisan laporan sebuah penerbitan. Kota Mamuju kala itu masih kumuh. Di tengah kota masih tampak rawa yang ditumbuhi tanaman nipa. Kala itu Bupati Mamuju dijabat oleh Atiek Suteja.

Ayah dari Kepala Biro Humas dan Protokol Kantor Gubernur Sulsel  (sekarang), Agus Sumantri, inilah bupati Mamuju yang pertama mulai merintis pembukaan jalan-jalan ke berbagai penjuru wilayah Mamuju, sampai ke arah Pasangkayu, perbatasan Sulawesi Tengah. Dialah yang memprakarsai  pemanfaatan Bandara perintis Tampapadang saat perjalanan darat Majene – Mamuju sekitar 100-an km masih harus ditempuh sehari semalam, lantaran jalanan berlumpur sekalipun tidak musim hujan. Mata air setiap saat masih mengalir dari arah pegunungan mememenuhi badan jalan Majene – Mamuju yang saat itu  masih berupa jalan tanah.

Atiek Suteja sedang Membangunkan Raksasa Tidur ! Demikian kesimpulan kami setelah beberapa hari berkeliling melihat dinamika kehidupan dan aktivitas pemerintahan di Mamuju kala itu.

Siporennu, jika tak keliru, itulah nama penginapan rumah kayu berlantai dua yang kami tempati kala itu di Mamuju.  Berjarak sekitar  300 m dari Pasar Sentral Mamuju. Usai magrib, dari sekitar pasar kami membeli sekitar 30-an biji durian Mamuju. Durian yang hampir memenuhi  satu karung terigu tersebut kami boyong ke penginapan.

Bersama Pak Yahya di teras kamar penginapan di lantai dua, kami bersantai menyicipi durian tersebut. Nikmat, apalagi  kulit durian bisa langsung kami lemparkan ke arah laut yang berbatasan dengan penginapan tersebut. Untuk kuat makan durian saya berguyon resep kepada Pak Yahya agar diawali dengan menguyah biji durian. Tapi dia justeru memberi resep lain, yaitu  dengan cara memberi air di kelopak kulit durian lalu meminumnya. Malam itu tidak terasa kami seperti berlomba makan durian. Durian yang puluhan biji itu pun ludes.

Menariknya, persis saat durian baru saja habis, bapak pemilik penginapan menemui kami berdua. Dia meminta satu atau dua biji durian kami untuk memenuhi permintaan anaknya. Dia mengaku baru saja dari pasar tapi semua penjual durian sudah tidak ada. Anaknya tak mengerti, terus  mendesak dengan menangis meminta durian. Anda tahu, bapak itu lantas terlihat menutup mulut dengan telapak tangan kanannya ketika kami nyatakan durian sudah habis.

‘’Habis…..habis…..,’’ katanya berdecak-decak  meninggalkan kami turun ke lantai bawah. Mungkin bapak ini tidak percaya, dalam waktu yang singkat kami berdua mampu secepat itu habiskan durian sekarung yang kami barusan seret di depannya ketika membawa naik ke lantai dua penginapan.

Keesokan paginya, ketika kami akan keluar dari penginapan, si bapak itu berujar dalam bahasa daerah yang kami tidak pahami. Penjemput kami yang orang sana mengartikannya, bahwa bapak itu bilang, kami bukan orang biasa……. hahaaaa…..kisah inilah yang kemudian membayang ketika melihat durian kecil-kecil itu. Sejak Mamuju menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Barat tahun 2004, saya belum pernah lagi berkunjung melihat  kota yang dulunya dijuluki sebagai ‘Bumi Manakarra’ tersebut. (Mahaji Noesa)