Posts Tagged ‘bajo’

Sebuah pulau kecil tak berpenghuni dengan latar hamparan laut Banda terlihat elok dipandang bagai gundukan tanah mengapung sekitar 500-an meter di ujung timur dermaga Basule di kecamatan Lasolo kabupaten Konawe Utara.
Potongan panorama pesisir pantai timur wilayah provinsi Sulawesi Tenggara ini menarik perhatian sejumlah kru yang mengikuti perjalanan reses anggota Komite III DPD RI, Muliati Saiman, S.Si, saat mengasoh di kelurahan Basule Minggu terakhir Desember 2014.

Tampak Pulau Keramat  ujung dermaga/Foto : Mahaji Noesa

Tampak Pulau Keramat ujung dermaga/Foto : Mahaji Noesa

Puluhan bagang apung nelayan yang terhampar di laut Banda arah kanan dermaga Basule, plus beragam pepohonan laut yang tumbuh rimbun sepanjang pesisir serta barisan pegunungan yang sebagian telah belang-belang lantaran dikupas sejumlah perusahaan tambang untuk mengambil pasir ore yang mengandung bijih nikel, melengkapi keindahan alam sekeliling pulau.
Hampir semua pendatang, menurut seorang warga asal Tinobu, ibukota kecamatan Lasolo, ketika mula melihat pulau tersebut menduga sebagai tempat rekreasi karena letaknya sangat dekat dengan daratan. Justeru yang terjadi hal sebaliknya, pulau ini sejak lama jarang dikunjungi warga.
Beberapa warga di Basule menyarankan agar membatalkan niat ketika kami berupaya mencari tumpangan ke pulau di depan dermaga Basule. Mereka menceritakan sering terjadi hal aneh terhadap pengunjung terutama jika tidak ada hubungan keluarga dengan mereka yang dimakamkan di pulau tersebut.
Sejumlah kuburan tua bertebaran di daratan pulau. Salah satu kuburan yang disebut-sebut sebagai makam Syekh Abdullah, moyang suku Bajo, sering berpindah-pindah tempat. Penduduk mengaku banyak ular aneh sering muncul di sekitar kuburan. Mungkin itulah sebabnya sehingga pulau ini diberi nama sebagai Pulau Keramat.
Namun seorang warga di Basule yang mengaku ada memiliki hubungan keluarga dengan Syekh Abdullah menyatakan, selama ini warga sekitar Lasolo banyak yang salah mengartikan karena sebutan Pulau Keramat diidentikkan dengan tempat angker atau menakutkan. Pada hal, katanya, Pulau Keramat itu Palau Suci. Dicontohkan, beberapa orang bukan suku bajo yang pernah mampir di Pulau Keramat dan menemukan makam Syekh Abdullah kemudian semua mendapat keberuntungan hidup sejahtera karena semua usaha yang dilakukan berjalan baik dan lancar.a bajo8
Kuburan tua suku bajo yang banyak terdapat di Pulau Keramat dapat menjadi bukti bahwa wilayah pesisir Lasolo pantai timur Sulawesi Tenggara yang berbatasan dengan Sulawesi Tengah sebenarnya sejak lama menjadi wilayah teritorial lokasi pergerakan suku bangsa laut Indonesia.
Sejumlah pulau lain dan wilayah pesisir sekitar Pulau Keramat sekarang tumbuh perkampungan desa-desa yang dihuni mayoritas suku bajo dengan tingkat kesejahteraan yang sejajar dengan penduduk desa-desa non suku bajo lainnya. Desa Lemo Bajo, Mandiodo, Mowundo, Barasanga, Tanjung Bunga, Kampoh Bunga, Boenaga, Watu Rambaha, dan Boedingi merupakan kawasan pemukiman suku bajo di pesisir pantai kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Suku bajo yang telah mendarat tersebut sebagian besar tetap menjadikan laut sebagai ‘kebun’ tempat mencari nafkah kehidupan. Mereka sudah tidak menjadikan perahu sebagai kendaraan sekaligus rumah untuk hidup berkelana di pesisir pantai sebagaimana moyangnya dahulu, tetapi aktivitas kehidupan sebagai orang laut tetap mewarnai keseharian lingkungan dan perairan laut di sekitar pemukiman-pemukiman suku bajo yang telah mendarat.
Ramainya jual beli ikan laut hasil tangkapan setiap pagi hari mewarnai pemukiman-pemukiman suku bajo di pesisir Konawe Utara. Tak hanya aktivitas kapal-kapal penangkap ikan, tapi juga bagang apung, bentangan jaring hingga pengeringan ikan menjadi panorama khas kehidupan di perkampungan suku bajo. Lingkungan dan kehidupan original suku bajo sebagai suku bangsa laut yang tetap terpelihara perlu mendapat perhatian pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dikemas sebagai obyek wisata khas suku laut yang satu-satunya di dunia hanya dapat disaksikan di perairan-perairan Indonesia, termasuk di sepanjang pantai timur kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Saat ini, menurut Sekretaris Kerukunan Keluarga Bajo ‘Kekar Bajo’ kabupaten Konawe Utara, Syamsul Bahri, S.Si, terdapat lebih 1.000 Kepala Keluarga atau sekitar 5.000 jiwa suku bajo yang menghuni desa di pulau-pulau dan pesisir timur kabupaten Konawe Utara.
Mantan Kepala Desa Basule (1999 – 2004) ini mengaku, melanjutkan pengabdian diangkat langsung melalui SK Bupati Lukman Abunawas sebagai pejabat Kepala Desa di Pulau Labengki tahun 2004. Desa di pulau yang berbatasan dengan wilayah perairan Sulawesi Tengah kala itu masih berstatus desa persiapan tanpa warga penghuni tetap.
Penduduk yang awalnya hanya 8 KK, kenang Syamsul Bahri, juga selalu keluar masuk maklum mereka adalah suku bajo yang menjadikan Pulau Labengki hanya tempat persiggahan saat cuaca di laut tidak bersahabat.
Untuk membetahkan orang-orang bajo bermukim di Desa Labengki, Syamsul menyediakan kapling tanah pemukiman gratis seluas 15 x 20 meter untuk setiap KK. Dibantu pihak satuan Angkatan Laut dan Polair dilakukan perburuan terhadap warga bajo yang masih hidup berpindah-pindah bersama keluarga menggunakan perahu di hol-hol yang ada seputar pulau Labengki Kecil dan sekitarnya.
Dengan diiringi pemberian pengertian laut tetap sebagai ‘kebun’ dan usai kerja atau saat isterahat harus ke rumah, hanya dalam tempo 6 bulan desa persiapan Labengki dapat menjadi sebuah desa definitif yang dihuni suku bajo di kecamatan Lasolo, Konawe Utara.
Desa suku bajo yang sekarang ini maju pesat terjadi atas tingginya kesadaran warga untuk membangun desanya. Tingkat kesejahteraan warganya cukup baik, rumah-rumah mereka umumnya sudah permanen. Sudah terdapat SD, SMP dan sarana layanan kesehatan di Pulau Labengki. Untuk keperluan air bersih warga sudah menggunakan teknologi mengolah air laut menjadi air tawar.
‘’Desa Labengki pernah dijuluki sebagai Singapura Kecil setelah saya memberi tulisan Singgapore di gerbang desa,’’ papar Syamsul Bahri yang menjabat sebagai Kades Labengki hingga tahun 2009.
Tulisan Singgapore dipertanyakan bahkan minta dihapus oleh Bupati Lukman Abunawas ketika bersama rombongannya menyambut tahun baru 1 Januari 2005 di Pulau Labengki, tapi Syamsul bersikukuh tulisan tersebut dipertahankan.
‘’Singgapore adalah bahasa asli suku bajo yang berarti Tempat Persinggahan. Apa salahnya kita gunakan kata itu karena Pulau Labengki Kecil yang kini menjadi Desa Labengki awalnya hanya menjadi lokasi persinggahan suku bajo di pesisir timur pantai Konawe Utara,’’ tandas Syamsul mengulang alasannya saat mempertahankan pemampangan kata Singgapore di gerbang Desa Labengki.
Syamsul yang mengaku berdarah suku bajo dari garis keturunan ibunya mengatakan, satu-satunya suku di Indonesia yang memiliki presiden tersendiri yaitu Presiden Suku Bajo. Justeru dia merasa bangga apabila pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dapat membuat disain pengembangan lingkungan dan aktivitas kehidupan pemukiman-pemukiman suku bajo termasuk yang cukup besar jumlahnya di pesisir timur kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara agar dapat diangkat sebagai obyek wisata khas suku laut yang hanya terdapat di Indonesia.(HL di kompasiana.com 28 Desember 2014)

Iklan

Taman Baca di lokasi Pantai Toronipa/Ft: Mahaji NoesaSekelompok anak-anak usia sekolah dasar mengusik seekor binatang Kuskus yang merayap lambat di pucuk pohon cemara angin di Pantai Toronipa, Kamis (4/9/2014) siang. Sejumlah pengunjung pantai di Kecamatan Soropia kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara ikut menyaksikan gerakan lelet kuskus endemik Sulawesi itu berpindah-pindah di jejeran cemara angin yang seolah memagar Pantai Toronipa.

Pantai yang berbatasan langsung dengan alam pegunungan hanya berjarak sekitar 15 km dari Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara. Warga desa Toronipa dan sejumlah desa lain yang masuk kecamatan Soropia apabila hendak berurusan ke Unaaha, ibukota kabupaten Konawe memilih jalan terdekat melalui kota Kendari. Kota Kendari ke Unaaha berjarak sekitar 60 km.

Lagi pula setiap hari–pagi hingga sore hari, terdapat angkutan penumpang umum (pete-pete) rute Pasar Sentral Kota Lama (kota Kendari) ke Soropia (kabupaten Konawe) dengan tarif Rp 10.000 per orang.

Tak hanya tertarik dengan kuskus, para pengunjung siang itu memperhatikan tingkah kelompok anak-anak pengusik kuskus karena masing-masing terlihat  membawa dan sesekali meniup suling bambu.

Seorang warga sekitar menjelaskan, anak-anak tersebut berasal dari perkampungan etnik Bajo di arah selatan tempat rekreasi Pantai Toronipa, beberapa waktu sebelumnya ikut meramaikan permainan musik bambu dalam rangka perayaan HUT Kemerdekaan RI di Soropia, ibukota kecamatan Soropia. Mereka kemungkinan masih terkesan dengan permaianan musik bambu sehingga masih enggan melepas suling yang digunakan.toro2

Lebih menarik lagi, menurut Hasni, anak-anak dari perkampungan Bajo sebelum mengusik kuskus siang itu baru saja menyimak sejumlah buku koleksi di Taman Bacaan Pantai Toronipa. Nah…luar biasa kan…..

Di pojok utara lokasi tempat rekreasi Pantai Toronipa yang indah menawan terdapat sebuah rumah panggung kayu berukuran 5 x 6 meter sengaja dibuat sebagai perpustakaan bagi pengunjung Pantai Toronipa diberi nama Taman Bacaan Pantai Toronipa.

Namun begitu taman bacaan ini kemudian terbuka gratis untuk umum. Awalnya, taman bacaan ini hanya dikunjungi sebatas beberapa pengunjung Pantai Toronipa saat hari Minggu atau hari-hari libur lainnya.

Belakangan justeru setiap hari tak pernah sepi dikunjungi anak-anak terutama dari pemukiman suku Bajo. Sekitar tempat rekreasi Pantai Toronipa terdapat 5 desa berpenduduk etnik Bajo, yaitu desa Bokori, Bajoe, Mekar, Leppe, dan Bajo Indah.toro3

Ina, seorang wanita penjual ikan di poros jalan Desa Mekar mengatakan, awalnya orang Bajo hanya menempati wilayah pemukiman di pantai Desa Leppe. Mereka adalah orang Bajo penghuni Pulau Bokori yang di-resettle ke daratan pesisir pantai Leppe.

Maklum, ketika Pulau Bokori masih berada dalam wilayah Kabupaten Kendari, Pemkot Kendari di tahun 70-an berencana mengembangkan pulau pasir yang permukaannya timbul tenggelam mengikuti pasang surut air laut sebagai lokasi penelitian dan wisata pulau.

Sekarang Pulau Bokori yang sudah tak berpenghuni dan 4 desa Bajo lainnya yang berimpitan dengan desa Leppe (salah satunya juga diberi nama desa Bokori)  masuk wilayah administratif kecamatan Soropia kabupaten Konawe.

Taman Bacaan Pantai Toronipa baru dibuka Januari 2014 oleh pemilik tempat Rekreasi Pantai Toronipa Brigjenpol (P) Drs Edhi Susilo Hadisutanto,SH, MBA, mantan Kapolda Sulawesi Tenggara periode 2004 – 2006.

Menurut Hasni, sang ibu penjaga perpustakaan, sejumlah pengunjung menyarankan agar koleksi taman baca diperkaya dengan buku-buku yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan anak didik khususnya sekitar lokasi taman baca. Koleksi sekarang kebanyakan berupa buku dan majalah umum dari koleksi pribadi sang pemilik.

Sejak didirikan, menurut Hasni tak pernah ada aparat perpustakaan kabupaten Konawe maupun petugas perpustakaan umum Provinsi Sulawesi Tenggara yang datang melirik apalagi menyumbangkan buku ke Taman Baca Pantai Toronipa. Padahal kehadiran taman baca serupa Taman Baca Pantai Toronipa dibicarakan sejumlah pengunjung yang pernah mampir, dapat dijadikan model dalam menggalakkan serta menggenjot minat baca masyarakat. (Mahaji Noesa, kreport kompas.com 4 September 2014)

Gambar

Pemukiman suku Bajo di atas laut/Ft:google-kucintaindahnyalamku.blogspot.com

Manusia diciptakan bukan sebagai makhluk laut seperti ikan yang dilengkapi alat pernafasan berupa insang. Akan tetapi laut dapat menjadi pilihan medium utama kehidupan manusia, seperti sudah dibuktikan oleh Suku Bajo — komunitas warga di Indonesia yang awalnya lebih banyak memilih laut sebagai tempat melakukan aktivitas kehidupan mereka.

Dalam berbagai catatan peneliti diketahui, Orang Bajo telah menempati hampir semua pesisir pantai di Indonesia sejak ratusan tahun silam. Bahkan menurut Prof.DR.Edward L. Poelinggomang, Orang Bajo sejak berabad lalu sudah ditemukan di pesisir pantai pulau-pulau yang ada di Laut Cina Selatan.

Meskipun dalam paparan dosen jurusan Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra Univesristas Hasanudddin tentang ‘Orang Bajo dan Persebarannya di Nusantara’ dalam Dialog Budaya di Festival Seni Suku Bajo Internasional, Minggu (20 Mei 2011) di GedungMulo Mini Hall Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, juga masih cenderung mengikuti hasil penelitian bahwa asal-usul Orang Bajo berasal dari Johor, Malaysia.

Mereka awalnya disebut-sebut adalah komunitas warga kerajaan mendapat tugas mencari seorang putri raja yang menghilang ke arah lautan. Dengan menggunakan perahu, warga kebanyakan tersebut lalu menyusur laut melakukan pencarian, termasuk ke wilayah perairan di Nusantara. Namun karena tak menemukan Putri Raja yang dimaksud, mereka enggan kembali ke Johor dan memutuskan untuk hidup mengembara menggunakan perahu di pesisir pantai.

Akan tetapi dalam sejumlah penelitian yang dilakukan kemudian terhadap komunitas Suku Bajo yang ada di pesisir pantai Indonesia, diketahui mereka umumnya memiliki bahasa yang sama yaitu Bahasa Bajo yang digunakan sebagai bahasa percakapan dalam keluarga sehari-hari. Bahasa yang digunakan pun saling dipahami antarkomunitas Bajo yang ada di pesisir pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan pesisir Papua.

Bahasa Orang Bajo yang ada di Indonesia tersebut tidak terdapat kemiripan dengan bahasa-bahasa yang ada di Johor, yang disebut-sebut sebagai tempat asal wilayah eksodus mereka. Bahkan, menurut Mannan, Presiden Komunitas Bajo Nasional yang juga adalah Kepala Bappeda Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara saat mengikuti Festival Suku Bajo di Makassar, sejumlah kata yang digunakan oleh Orang Bajo di Indonesia banyak yang memiliki persamaan dengan bahasa Tagalog dari Filipina. Bahkan dari peneliti lainnya juga mendapatkkan sejumlah kata-kata dalam Bahasa Bajo di Indonesia memiliki persamaan kata dalam bahasa Vietnam.

Namun melalui pendekatan semantik (kabahasaan) seperti itu, juga sebenarnya masih sangat lemah untuk dijadikan bahan penguat asal-usul orang laut Indonesia tersebut. Boleh jadi persamaan sejumlah kata-kata Orang Bajo di Indonesia dengan kata-kata dalam bahasa Filipina dan Vietnam hanya bagian dari kata-kata serapan sepanjang ratusan tahun koloni orang laut ini mengembara di perairan Nusantara dan kawasan sekitarnya.

Hal itu dapat diperkuat dengan sejumlah kata-kata lainnya dalam bahasa Orang Bajo Indonesia yang juga mirip dengan kata-kata khas yang digunakan oleh sejumlah suku bangsa di Indonesia. Seperti untuk penyebutan buah Mangga, Orang Bajo menyebutTaipa sama dengan bahasa etnik Makassar di Sulawesi Selatan. Demikian pula dengan penyebutan angka tiga (Bhs Bajo: telu) dan empat (Bhs Bajo: papat), Anjing (Bhs. Bajo: Asu) mirip dengan sebutan etnik di Pulau Jawa. Dan, banyak kata Bahasa Indonesia yang sama persis dengan Bahasa Bajo, seperti Hangat (Bhs.Bajo: Panas), Kiri (Bhs.Bajo: Kidal), Langit (Bhs.Bajo: Langit), Api (Bhs.Bajo: Api), Gigi (Bhs.Bajo: Gigi), Berat (Bhs.Bajo: Berat), Batu (Bhs.Bajo: Batu), Bulan (Bhs.Bajo: Bulan), Tertawa (Bhs. Bajo: Ngakak), dan lain-lain.

‘’….laut nafasku/laut hidupku/laut cintaku/akulah suku bajo/sukma laut/sajadahku laut biru…’’ kata H.Udhin Palisuri ketika bertindak sebagai moderator, membuka Dialog Budaya tersebut dengan ‘Puisi Suku Bajo.

Hampir pasti, bahwa Orang Bajo yang tersebar di Indonesia memiliki bahasa tersendiri yang tidak mirip dengan bahasa etnik manapun di dunia. Jika bahasa juga menjadi ciri suatu etnik, maka cukup kuat alasan jika Suku Bajo disebut sebagai salah satu etnik di Indonesia. Mereka adalah etnit laut yang tak memiliki wilayah teritorial etnik seperti etnik lainnya di Indonesia.

Justru penyelenggaraan Festival Seni Suku Bajo Internasional 2012 di Makassar, seperti diungkap Gubernur Sulawesi Selatan DR.H.Syahrul Yasin Limpo, SH,MSi,MH saat membuka resmi festival tersebut, sebagai gagasan yang brilian dalam rangka menguatkan persatuan dan kesatuan bangsa melalui pengenalan beragam seni dan budaya etnik di Nusantara.

Dia berulangkali memuji H.Ajiep Padindang,SE,MM, salah seorang anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan sebagai pengagas awal Festival Suku Bajo, yang sekaligus sejak beberapa tahun belakangan menjadi pemerhati etnik Bajo khususnya yang menempati salah satu wilayah pesisir di BajoE, Sulawesi Selatan sejak masa silam. Kegiatan Festival Suku Bajo ini merupakan kegiatan yang ketiga kalinya dilaksanakan pihak Pemprov Sulawesi Selatan.

Sayangnya, penyelenggara Festival Seni Suku Bajo Internasional 2012 yang dimasukkan sebagai salah satu kegiatan event Visit Sout Sulawesi 2012 oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan dibuat hanya meriah dalam pemasangan baliho kegiatan. Hal itu terlihat, dalam pelaksanaan sangat kurang pesertanya. Bahkan dalam acara ‘Dialog Budaya’ yang digelar sehubungan dengan Festival Seni Suku Bajo yang diumbar bertaraf internasional tersebut, hanya terlihat diikuti belasan orang peserta, dan justru tidak terdapat wakil masing-masing komunitas Suku Bajo dari berbagai wilayah lain di Indonesia.

Pada hal menurut Prof.Dr.Andi Ima Kusuma Chandra, sejarawan dari Universitas Negeri Makassar (UNM), banyak hal menarik yang bisa dipetik dari perjalanan keberadaan dan perkembangan kehidupan Suku Bajo sebagai etnik laut di Indonesia.

Lebih jauh, tentunya, melalui keberadaan Suku Bajo bisa dipetik pelajaran model nasionalisme etnik di Indonesia yang memiliki cukup banyak suku-bangsa dengan beragam tradisi, adat budayanya.

Betapa tidak, Suku Bajo tidak memiliki wilayah teritorial etnik seperti etnik lainnya di Indonesia. Namun sejak ratusan tahun lalu etnik Bajo ini dapat menjadikan setiap wilayah pesisir di Nusantara sebagai tanah air mereka, dapat menyesuaikan diri dengan adat budaya masyarakat dimana mereka berada. Dan, di seluruh Indonesia mereka dapat diterima untuk hidup berdampingan dengan etnik lainnya, saling kerjasama sebagai warga Negara Indonesia dengan tetap memelihara tradisi, adat dan budaya Suku Bajo.

Dalam perjalanan masa saat ini, masih banyak tempat di pesisir pantai Indonesia dikenali sebagai pemukiman Suku Bajo. Namun, tidak sedikit di antara Suku Bajo yang sudah melakukan asimilasi, berbaur dengan etnik lainnya di Indonesia dan tidak lagi mengembara sebagai orang laut sebagaimana moyangnya dahulu.

Tahun lalu saya bertemu dengan dua orang warga di sekitar Perumnas Andonohu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, yang begitu fasih berbahasa Bugis. Dalam perbincangan lebih lanjut kemudian diketahui, ternyata mereka adalah Orang Bajo yang orang tuanya sebelumnya menghuni perkampungan Orang Bajo di muara Teluk Kendari, pesisir ke arah Nambo.

Salah seorang di antara warga tersebut adalah wanita, isteri dari seorang beretnik Makassar yang berprofesi sopir sebuah perusahaan di Kota Kendari. Melihat rona kulitnya yang kuning langsat, tanpa ada pengakuan dari yang bersangkutan, tak ada kesan jika dia perempuan berasal dari etnik orang laut yang selama ini diidentikkan suku yang memiliki warna kulit kehitaman.

‘’Orang di lingkungan saya ini semua tahu saya adalah Orang Bajo. Saya pun selalu memperkenalkan diri sebagai asli Orang Bajo. Jika bertemu atau kumpul dengan keluarga saya tetap bercakap menggunakan Bahasa Bajo,’’ katanya.

Sudah tentu, selain tinggal di sejumlah pemukiman Bajo yang tersebar di banyak tempat di Indonesia, banyak warga Suku Bajo lainnya yang sudah berkiprah jauh dari laut, hidup damai di tengah wilayah etnik lainnya di Indonesia.

Fenomena nasionalisme etnik seperti yang terjadi di kalangan Suku Bajo Indonesia, tampaknya mulai terjadi dengan etnik lainnya di Indonesia.

Suatu kali jelang Idul Fitri, saya bertemu satu keluarga turun dari sebuah kapal penumpang di Pelabuhan Makassar. Mereka datang dari Kalimantan Timur. Dari bahasa percakapannya, saya mengetahui jika mereka berasal dari etnik Jawa.

Ketika saya tanya tujuan mereka selanjutnya, di antaranya ada yang mewakili menjawab, ‘’Akan pulang kampung berlebaran!’’ ‘’Kemana?’’ Tanya saya lebih lanjut. ‘’Ke Bonebone,’’ jawabnya.

Bonebone merupakan salah satu wilayah penempatan transmigrasi asal Pulau Jawa dan Bali di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Unit pemukiman transmigrasi ini dibuka sejak awal-awal pemerintahan Presiden Soeharto. Ternyata, mereka adalah anak-anak dari para keluarga transmigrasi yang lahir, sekolah dan dibesarkan di salah satu lokasi pemukiman transmigrasi Bonebone yang kini telah merantau dan membuka usaha di wilayah Kalimantan Timur. Rombongan keluarga asal Jawa Timur dari Kalimantan Timur tersebut, pulang lebaran ke kampung halamannya di Bonebone, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Duh, sejuknya Indonesia dengan model nasionalisme etnik seperti itu. Dapat menjadikan dan menyintai seluruh tempat di Indonesia sebagai tumpah darah, seperti yang sejak masa silam dilakukan Suku Bajo yang mampu berbaur dan keberadaannya diterima oleh seluruh etnik di Indonesia. (Mahaji Noesa, Kompasiana, 22 Mei 2012)