Posts Tagged ‘batu’

a jejak bso11

Konstruksi dinding Benteng Somba Opu (BS0), bekas istana kerajaan Gowa yang dibangun dalam abad XVI (1545) tidak berbentuk persegi empat sebagaimana terdapat dalam catatan dan peta lama sejumlah bangsa asing. Termasuk dalam kenyataannya  tidak sama dengan peta lama BSO yang dilukiskan berbentuk segi empat panjang yang sekarang dipajang sebagai lukisan pantul di langit-langit museum Patingaloang di dalam areal BSO.

Bukti dinding BSO tidak berbentuk empat persegi panjang dapat dilihat secara kasat mata di puing bekas dinding BS0 bagian selatan. Sejak dilakukannya eskavasi (penggalian) tahun 1989 terhadap puing BS0 yang telah tertanam lebih 3 abad setelah dihancurkan pihak kolonial usai ditandatangani Perjanjian Bungayya tahun 1667 dengan Kerajaan Gowa, sebenarnya sudah terlihat hasil eskavasi dinding BS0 dengan ketebalan dinding sekitar 2 meter di arah selatan tidak dalam bentuk lurus tetapi berkelok-kelok menyerupai sejumlah huruf S yang sambung menyambung dalam beragam lekuk ukuran.

a jejak bso8Lekukan tersebut sekarang dapat ditelusuri dari sudut dinding barat benteng ke arah rumah adat Kajang, memutar museum Patingaloang, membelok ke arah Baruga Somba Opu, berkelok samping lokasi treep top, rumah adat Toraja dan Mamasa, seterusnya melengkung ke dinding BS0 arah timur yang berimpit dengan Taman Burung milik Gowa Discovery Park, menjadi bukti nyata bahwa dinding BS0 tidak berbentuk persegi empat.

Anehnya, hingga sekarang sejumlah data termasuk catatan Latar Historis dan arkeologi yang dipajang pihak terkait sebagai papan bicara di situs BS0 masih memaparkan bahwa berdasarkan hasil stilasi Francois Valentijn dan kemudian disempurnakan oleh Bleau dalam sebuah peta tahun 1638, dinding BS0 berbentuk segi empat panjang.

Berdasarkan hasil pemetaan praeskavasi pihak Suaka Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Sulselra tahun 1986, luas BS0 113.590 meter bujursangkar. Dinding benteng yang terbuat dari susunan batu bata dan batu padas saat dieskavasi umumnya sudah dalam kondisi hancur.

Hanya di bekas dinding BS0 bagian barat yang tampak masih ada sebagian dinding yang tegak tinggi sekitar 3 meter dengan ketebalan susunan batu bata selebar 3 hingga 4 meter. Konstruksi dinding melintang lurus arah utara – selatan.

a jejak bso4Sedangkan dinding BS0 di bagian timur dan selatan sudah dalam kondisi hancur tertimbun tanah namun masih terlihat alur dan susunan batu bata bekas kaki dinding benteng. Termasuk tampak jelas bekas kaki dinding benteng di arah selatan yang meliuk-liuk kemungkinan mengikuti kontur tepian sungai Garassi atau Binanga Barombong yang dahulu berimpit dengan dinding BS0 bagian selatan.

Sedangkan jejak dinding BS0 sebelah utara sama sekali tidak ditemukan hingga saat ini. Arah utara BS0 dahulu berbatasan dengan Sungai Jeneberang.

Hilangnya jejak bekas dinding BS0 di arah utara banyak yang menduga jika tergerus arus banjir sungai setelah dibombardir kolonial lebih dari 300 tahun lalu.

a jejak bso3Alur sungai Jeneberang di arah utara sudah ditutup dan dialihsatukan ke sungai Garassi sebelah selatan BS0 seiring dengan dilakukannya eskavasi BS0 tahun 1989. Bekas alur sungai Jeneberang di arah utara BS0 seluas lebih dari 110 hektar itulah yang kini menjadi Danau Tanjung Bunga dan masuk wilayah kelurahan Maccini Sombala, kota Makassar.

Bahkan situs BS0 arah utara dan barat kini sebagian besar telah menjadi area pemukiman. Kondisi terkini puing bekas dinding BS0 sebagian besar berlumut dan berantakan. Rumah-rumah adat etnis Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar yang dibangun di areal situs BS0 dalam masa kepemimpinan Gubernur Sulawesi Selatan Prof Dr HA Amiruddin Pabittei (alm) kini konstruksinya sudah banyak yang rusak.

Sejumlah rumah adat tampak banyak yang ditawarkan untuk dipersewakan dengan ditempeli nomor-nomor HP yang dapat dihubungi bagi yang hendak menggunakannya. Termasuk Baruga Somba Opu yang merupakan rumah adat etnik Makassar yang bangunannya dibuat lebih dari 100 tiang kini dalam kondisi mulai kumuh tak terpelihara. Demikian halnya rumah adat tradisional Gowa, Luwu, Bulukumba, Soppeng, Makassar, Sidrap, Toraja, dan Mamasa terkesan tidak terurus. Beberapa warung atau kios tampak bebas dibangun berimpit dengan bangunan-bangunan rumah adat.

a jejak bso2Sebagian besar jalan paving blok dalam areal BS0 terutama di arah barat telah rusak tak nyaman untuk dilalui berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan. Areal BS0 tidak mengesankan sebagai obyek kunjungan rekreasi, wisata atau taman yang dipelihara atau dikelola secara profesional.

Tanpa kepedulian para pihak atau perhatian khusus penanganan,  pemeliharaan dan pengembangan areal situs BS0 yang telah gagal dikembangkan sebagai Taman Miniatur Sulawesi (TMS) sebagaimana pernah dicanangkan sejarawan DR Mukhlis Paeni, maka secara pelan tapi pasti bukti jejak peradaban, bukti jejak sejarah kebesaran masa lalu di Sulawesi Selatan tersebut akan kembali tertimbun atau pupus oleh beragam musabab dan kepentingan lainnya. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kreport kompas.com 11 Agustus 2014)

Gambar

Kelelawar beterbangan di atas kota Watansoppeng/Foto:google-uniqpost.com

Ketika kini banyak orang tertarik dan berupaya mencari penampakan-penampakan dari dunia misteri, sejumlah warga di kota Watansoppeng menunjuk kawanan kelelawar yang bergelantungan di sejumlah pohon yang ada di ibukota kabupaten Soppeng tersebut sebagai penampakan dari suatu dunia misteri.

Menurut cerita-cerita warga, kawanan burung kelelawar yang sejak masa kerajaan memilih pohon-pohon yang tumbuh sekitar kota Watansoppeng sebagai tempat beristerahat pada siang hari bukanlah sembarang kelelawar. Burung-burung malam ini diyakini sebagai salah satu dari pasukan pengawal kerajaan yang berwujud kelelawar.

Argumen cerita rakyat itu, disebutkan, bahwa sepanjang masa kerajaan di Soppeng daerah yang menjadi pusat kekuasaan Datu (raja) Soppeng dengan radius 1 kilometer persegi yang kini sudah menjadi bagian dari kota Watansoppeng senantiasa aman dari gangguan atau serangan-serangan musuh.

Al-kisah, kelelawar ini serta merta akan berubah ujud menjadi pasukan pengawal kerajaan melakukan pertahanan sekaligus perlawanan terhadap setiap adanya gerakan pasukan lain yang akan masuk mengacau di wilayah kerajaan Soppeng.

Terpeliharanya keamanan di wilayah kerajaan Soppeng oada masa lalu itulah juga disebutkan sehingga pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905 memerintahkan untuk membuat sebuah bangunan bergaya paduan Eropa dengan arsitektur Bugis di kota Watangsoppeng untuk kantor sekaligus tempat kediaman kontreliur Belanda. Bahkan ada disebut-sebut jika bangunan ini dibuat sebagai salah satu tempat aman untuk peristerahatan Ratu Yuliana (Ratu Belanda). Itulah sebabnya, sebelum bangunan ini dialihfungsikan sebagai museum, warga Soppeng banyak yang menyebut sebagai Villa Yuliana sekalipun Ratu Belanda itu tidak pernah berkunjung ke tempat ini.

Keunikan-keunikan terhadap siklus kehidupan kawanan kelelawar yangmemilih pohon-pohon yang bertumbuh di areal sekitar 1 kilometer persegi di bekas wilayah pusat kekuasaan Datu Soppeng – kondisi sekarang: sebelah utara berbatasan wilayah kelurahan Lapajung (seputar pasar sentral Watansoppeng), sebelah timur denganleurahan Lemba dan kelurahan Lalabata Rilau, sebelah selatan dengan kelurahan Botto, dan sebelah bara dengan kelurahan Bila.

Kelelawar-kelelawar yang hingga saat ini masih memilih yang tumbuh di areal tersebut, pada malam hari beterbangan mencari makn hingga melintas kabupaten lain di provinsi Sulawesi Selatan, tapi pagi hari mereka sudah kembali ke pohon-pohon yang kini tumbuh di wilayah bagian pusat kota Watansoppeng.

Gambar

Ribuan kelelawar bergelantungan di pohon-pohon tengah kota Watansoppeng/Foto: google – irres.blogspot.com

Tidak kembalinya kelelawar ini ke phpn-pohon tersebut oada siang hari, sampai sekarang dijadikan sebagai pertanda akan adanya bahaya atau bencana yang akan melanda warga di kabupaten Soppeng.

Sehari sebelum dilakukan pelantikan dan pengambilan sumpah terhadap anggota DPRD kabupaten Soppeng periode 2001 – 2009 sejumlah pohobn yang biasnya dipadati kelelawar pada siang hari di kota Watansoppeng sepi dari burung yang menggelanntungkan kepala kee bawah saat beristerahat ini. Pertanda apa? Warga kabupaten Soppeng dibuat terkejut mendengar kabar bahwa seorang peserta angikut acara pelantikan dan pengambilan sumpah anggota DPRD kabupaten Soppeng periode 2004 – 2009 mendadak pingsan di gedung DPRD kabupaten Soppeng, dan selanjutnya haritiu juga menghembuskan nafas terakhir.

Beberapkali warga kota Watansoppeng berupaya memindahkan kelelawar-kelelawar tersebut ke pohon-pohon yang tumbuh di luar areal bekas wilayah pusat kekuasaan Datu Soppeng, selalu gagal. Dan , kelelawar-kelelawar itu sampai sekarang hanya mau menempati pohon-pohon yang tumbuh di lokasi bekas pusat kekuasaan Datu Soppeng yangdi dalamnya terdapat Batu LamumpatuE – batu tempat pelantikan Datu Soppeng di depan istana Raja Soppeng.

Di balik cerita misteri dan cicit-cicit bunyi kelelawar yang menghiasai pohon-pohon di kota Watansoppeng pada siang hari ternyata juga ada mitos yang menyebut, bagi siapa saja yang terkencingi kelelawar dari pohon-pohon tersebut pertand akan memperoleh keberuntungan yangtak terduga. Sedangkan bagi mereka yang tubuhnya ditimpa ‘tahi’ kelelawar merupakan alamat akan bertemu jodoh dengan pria atau wanita asal kabupaten Soppeng.

Mau percaya atau tidak, ini memang masih merupakan cerita penuh misteri dari penampakan unik kehidupan satwa berkulit legam kelelawar di kota Watansoppeng. (Mahaji Noesa, Tabloid Mingguan DEMOs Makassar Edisi No.280 Thn VI/Minggu II, September 2004)     

  

 

Gambar

Penonton jadi penari dadakan pun tak terbakar ketika disulut obor (Foto: Istimewa)

Tubuh disulut nyala api tak terasa panas, pakaian yang dikenakan pun tak terbakar. Mengherankan tapi nyata. Kejadian seperti ini bukan sekedar potongan cerita lama dari kesaktian para jawara dalam rimba persilatan masa lalu, tapi masih berlangsung sampai sekarang dalam salah satu komunitas penari ‘Pepe-pepeka Ri Makka’ di Kota Makassar.

Tarian bernuansa magis tersebut, merupakan salah satu warisan asli nenek moyang Indonesia masa lalu yang masih dimainkan secara turun temurun oleh warga Paropo di bilangan wilayah Panakkukang, Kota Makassar.

Konon tarian ini mulai ditampilkan sebagai bagian dari hiburan dalam pesta-pesta rakyat seperti sunatan, upacara hajatan atau upacara perkawinan pada masa pascapendudukan penjajah kolonial Belanda, khususnya di perkampungan rakyat Paropo dan sekitarnya. Saat ini Paropo sudah menjadi salah satu bagian dari wilayah Panakkukang sebagai kawasan pemukiman dan perdagangan yang berkembang pesat di Kota ‘Metropolitan’ Makassar.

Gambar

Arca Pepe’pepeka ri Makka di anjungan Bugis-Makassar, Pantai Losari, kota Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Umumnya penari Pepe-pepeka Ri Makka terdiri atas beberapa orang laki-laki tua dan muda. Tampak tak ada gerakan baku dari tarian ini, kecuali para penari berbaris teratur ketika tampil ke pentas, berputar-putar sambil bersenandung khas dalam bahasa Makassar. Masing-masing penari pun seolah diwajibkan membuat gerakan-gerakan jenaka yang dapat mengundang gelak tawa penonton. Misalnya, ada penari yang berjalan mencontohkan gerakan seekor kera,berjalan terpincang-pincang, menggeleng anggukkan kepala bak lelaki renta, atau mendelik-delikkan mata sambil menjulur-julurkan lidah bagai orang kepedasan.

Dari dulu hingga sekarang para penari tak ada yang mengabdikan diri khusus sebagai penari Pepe-pepeka Ri Makka. Para penari yang kebanyakan masih punya hubungan keluarga, umumnya bekerja sebagai buruh serabutan, sebagai tukang kayu, tukang batu, penjual ikan atau penjual sayur keliling.

Dari perbincangan yang pernah saya lakukan dengan sejumlah penari Pepe-pepeka Ri Makka mengakui, sudah pernah ada upaya untuk mengajarkan tari ini ke orang luar melalui Sekolah Tari di Kabupaten Gowa. Namun, para penari di luar komunitas warga Paropo selalu saja merasa kepanasan apabila sampai ke adegan disulutkan api obor yang menyala ke tubuh mereka.

Padahal, katanya, dalam latihan-latihan rutin tari yang biasa dilakukan di kalangan mereka tak ada diajarkan mantera khusus anti api. Ada nyanyian-nyanyian yang ditampilkan sejak awal pertunjukan kedengarannya seperti pembacaan mantera, tetapi itu semua tak lain adalah semacam pantun-pantun jenaka dalam bahasa Makassar yang dimaksudkan untuk menggelitik kelucuan penonton. Seperti penyebutan kata ‘Pisang berbuah Emas’ dalam bahasa Makassar. ‘’Mana ada pisang berbuah emas,’’ katanya.

Nyanyian pengiring seperti ‘’Pepe-pepeka ri Makka lenterayya ri Madina Ya Allah Paroba Sai Na Takakbere dunia….dst’’ Selama ini sering diintreprestasikan penonton sebagai ucapan mantera anti apinya Nabi Ibrahim AS yang disadur dalam bahasa Makassar. Padahal, menurut sejumlah pemain, kalimat-kalimat itu hanya pengulangan dari apa-apa yang sudah pernah diucapkan secara spontan ketika melakukan tarian Pepe-pepeka Ri Makka oleh para penari terdahulu. ‘’Kita ulang-ulang karena menarik, di samping sering ada kalimat-kalimat lucu yang diucapkan setiap kali pertunjukan,’’ katanya.

Namun begitu, menurut sejumlah penari, tidak semua orang di Paropo dapat diikutkan dalam tarian Pepe-pepeka Ri Makka. Dari latihan-latihan yang dilakukan secara berkala di komunitas warga Paropo, para penari dipilih yang juga mampu memainkan alat musik seperti rebana, gong, gendang dan katto-katto sebagai pengiring tarian. Para pemain yang terdiri minimal dari 6 orang pria umumnya tampil dengan kostum pakaian adat Makassar dengan memakai destar di kepala. Pertunjukan dipimpin seseorang yang dituakan oleh komunitas penari.

Saat ini diakui, sangat jarang sekali orderan Tari Pepe-pepeka Ri Makka untuk pertunjukkan hajatan dari masyarakat umum. Belakangan, permintaan kebanyakan datang untuk pertunjukan-pertunjukan resmi yang dilakukan oleh pihak pemerintah terutama dalam event-event yang berkaitan dengan acara kepariwisataan. Termasuk untuk sejumlah pertunjukan keseniaan asal Sulawesi Selatan yang dilakukan di luar negeri.

Dalam pertunjukkan Kesenian Sulawesi Selatan di acara ‘South Sulawesi Colors’ (19 Maret 2011), tari Pepe-peka Ri Makka ikut dipertunjukkan di Stadium MBJB – Johor Bahru, Malaysia. Wakil Menteri Besar Johor, Tuan Jama’ Bin Johan dan Presiden Persatuan Kebajikan Ekonomi Bugis Malaysia yang juga Direktur Ugik Technologie, Lokman Junit ikut dilibatkan dalam tari Pepe-peka Ri Makka. Tubuh keduanya disulut sejumlah api obor, tak terbakar, dan bahkan terlihat santai-ria menikmati tarian api tersebut. Sekitar 4000-an penonton takjub menyaksikan kejadian ini.

Selain pemain, para penonton seringkali dilibatkan dalam adegan penyulutan api obor di pertunjukan tarian Pepe-pepeka Ri Makka. Sulit dipercaya, sulutan api tak membakar kulit tubuh dan pakaian, tapi itulah kenyataan dalam klimaks pertunjukkan tarian Pepe-pepeka Ri Makka. Suatu tarian asli Indonesia di Makassar yang butuh perhatian pembinaan, termasuk melalui pelestarian komunitasnya. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 06 Mei 2011)

makulawu-1

H.Andi Makkulawu dan koleksi batu mulianya/Foto: Mahaji Noesa

makkulawu-2

 

 

 

 

 

 

 

Warga pecinta batu-batu mulia sudah ada sejak lama di berbagai daerah kepulauan Nusantara. Mereka umumnya menjadikan batu-batu alam Indonesia yang bercorak indah sebagai permata cincin.

Tersebut sejumlah nama batu mulia Indonesia, seperti batu akik, kecubung, delima dan peros banyak diburu para penggemar batu mulia untuk dijadikan permata cincin. Selain keindahan corak batu-batu mulia tersebut berbeda satu sama lain dan masing-masing memiliki pesona motif tersediri, juga masih banyak yang memercayai batu-batu alam itu memiliki daya magis.

Di sejumlah daerah dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan misalnya, sampai sekarang masih banyak warga memercayai batu mulia jenis Peros dapat digunakan untuk mengobati mules atau sakit perut. Caranya, dengan merendam batu Peros tersebut ke air putih, kemudian diminumkan kepada penderita.

Selain itu, sejumlah jenis batu mulia lainnya pun masih diyakini tak hanya indah sebagai permata perhiasan cincin di jari tangan, tetapi memiliki daya magis yang dapat memberikan aura tertentu bagi mereka yang memakainya. Semisal pemakai batu mulia jenis tertentu akan selalu lancar-lancar dalam menjalani semua urusan atau usaha yang ditekuninya.

Ada juga batu mulia yang masih diyakini sebagai penolak bala serta penangkal racun binatang berbisa. Juga, ada batu mulia yang masih dipercayai memiliki daya magis menangkal ‘Ilmu Hitam’ yang ditujukan kepada pemakainya.

Batu-batu mulia dalam ukuran sebesar permata cincin harga jualnya ada yang sampai bernilai jutaan rupiah sebutir. Tak heran jika sampai sekarang pun masih dijumpai banyak orang yang menekuni pekerjaan sebagai pembuat cincin dari besi putih, kuningan, tembaga, perak dan emas yang berpermatakan batu-batu mulia di Sulawesi Selatan.

‘’Batu-batu mulia tersebut tak dipungkiri memiliki keunikan bahkan keanehan yang dapat memperkuat keyakinan kita terhadap kebesaran serta kekuasaan Tuhan pencipta alam semesta ini,’’ jelas Drs. H.Andi Makkulawu (56 tahun).

Mantan Camat Manggala dan Camat Tamalate di Kota Makassar yang meminta pensiun dini tahun 2007 setelah menduduki Jabatan sebagai Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkot Makassar ini mengaku, sejak kecil sudah tertarik dengan bentuk dan corak keindahan dari batu-batu mulia. Dia bahkan sempat menunjukkan salah satu keunikan dari batu-batu mulia saat ditemui di kediamannya Jl.Korban 40.000 Jiwa Kota Makassar, Selasa siang (12 Juli 2012).

Dia memperlihatkan 7 buah cincinnya yang berpermata batu mulia. Cincin tersebut secara bergantian dimasukkan ke jari manis tangan kirinya. Setiap memasukkan cincin, dia melakukan gerakan pengukuran menggunakan jengkal – renggangan ibu jari hingga jari kelingking tangan kanan. Kemudian menjengkal dari lekukan lengan siku tangan ke arah jari manis tangan kiri yang dipasangi cincin berpermata batu mulia tersebut.

Setiap pergantian cincin dilakukan pengulangan pengukuran seperti itu, dan ternyata satu sama lain tidak memiliki ukuran jengkal yang sama. Padahal panjang jarak dari pergelangan siku ke ujung jari manis yang diukur jelas tidak berubah, yang berbeda adalah cincin yang dikenakan di jari manis itu.

’Jika dilakukan pengukuran seperti itu lantas terjadi pengukuran yang tidak lebih atau ukurannya kurang dari dua jengkal mulai dari lekukan siku ke ujung jari manis yang dipasangi cincin berpermata batu mulia, maka batu mulia tersebut sebaiknya tidak digunakan oleh yang bersangkutan,’’ jelas Andi Makkulawu.

Namun begitu, Andi Makkulawu yang pernah terpilih sebagai Keluarga Harmonis tingkat Kota Makassar, justru tidak tertarik untuk mengoleksi cincin berpermata batu mulia. Ayah dari Aulia Fitriani, S.Sos,Msi, dan Ayudia Pratiwi yang kini sedang menjalani pendidikan akhir di Fakultas Kedokteran UMI Makassar, justru sejak tahun 80-an menjadi pemburu sekaligus kolektor batu-batu mulia dalam ukuran bongkahan batu besar.

Dia menyatakan tidak tertarik dengan cerita lama tentang daya magis yang dimiliki batu-batu mulia tersebut. ‘’Batu-batu mulia termasuk batu-batu alam lainnya memiliki keindahan warna dan keunikan motif yang satu sama lain tidak memiliki persamaan. Disitulah seninya, sehingga saya tertarik untuk mengoleksi batu-batuan dari alam itu sebagaimana bentuk aslinya. Keliru jika kita menyombongkan diri hanya karena memiliki batu alam jenis apa saja yang kecil dari begitu banyak sekali batu bermotif indah ciptaan Tuhan di muka bumi ini,’’ katanya.

Saat ini lebih dari 300 bongkahan batu-batu alam koleksi Andi Makkulawu. Batu-batu tersebut masing-masing diberi dudukan semacam pot yang dibuat sesuai dengan bentuk bongkahan batu yang diperoleh dari alam. Sebuah kamar di lantai atas rumahnya, dijadikan semacam bengkel dan tempat berbagai peralatan membuat dudukan batu-batu alam, termasuk peralatan untuk mengilapkan koleksi batu-batunya tersebut.

Ratusan koleksi bongkahan batu alam yang dimiliki Andi Makkulawu saat ini, selain ditata dalam dua lemari koleksi berukuran besar, diletakkan sebagai asesori yang memenuhi semua sudut rumah mulai dari taman, teras, ruang tamu hingga ruang-ruang terbuka lainnya. Indah sekali, tak hanya terlihat dari aneka warna dan motif. Akan tetapi ada bongkahan batu alam koleksinya yang berbentuk berbagai macam serangga, burung, buaya, buah kenari, hati dan jantung manusia, berbentuk pulau Sulawesi, janin dalam rahim, menyerupai bayi, kepala singa, roti gulung, dan lain-lain.

Terdapat koleksi sebuah bongkahan batu jenis Peros yang jika dipecah dapat dibuat menjadi lebih dari dua ratus permata untuk cincin. Sudah banyak pemilik duit yang datang untuk membeli sejumlah koleksi bongkahan batu-batu alam tersebut, namun selalu ditampik. ‘’Sampai sekarang saya belum mau menjual satu pun koleksi batu-batu alam ini kepada siapapun,’’ tandas Andi Makkulawu.

Dia menyatakan menyukai semua koleksi bongkahan bata-batu alamnya.. Namun, ceritanya, pernah suatu ketika di sore hari dia menemukan ada seorang lelaki tua duduk di ruang tamunya, padahal saat itu pintu masuk terkunci. Lelaki tua itu rambutnya terurai panjang, kedua bola mata polos berwarna putih.

‘’Ketika saya mendekatinya, lelaki tua itu lalu menunjuk bongkahan batu jenis Badara Cera yang saya ambil dari daerah Jawa Barat, dan dia menyatakan itulah batu yang terbaik di antara semua batu yang saya miliki. Setelah itu orang tua tersebut menghilang. Apa makna dari ucapan orang gaib itu, sampai sekarang saya belum paham,’’ tutur Andi Makkulawu.

Di Jepang ada cabang seni menyangkut batu-batuan yang dikenal dengan nama Suiseki dan Biseki. Hobi Andi Makkulawu ini boleh disebut masuk dalam cabang seni Suiseki, yaitu Seni Batu Alami. Mengoleksi batu sesuai bentuk aslinya ketika ditemukan di hamparan alam. Sedangkan Cabang Seni Biseki, batu-batu alam dimungkinkan untuk direkayasa dalam bentuk yang diinginkan. (Mahaji Noesa/Kompasiana 13 Juni 2012)

Gambar

Muara Sungai Jeneberang/Foto: Mahaji Noesa

Tak hanya banjir debris longsoran Gunung Bawakaraeng yang harus diwaspadai, sejumlah daerah di Sulawesi Selatan setiap musim hujan menjadi wilayah rawan bencana tanah longsor, banjir, dan puting beliung. Selain memakan korban jiwa, setiap tahun petaka musim basah ini merugikan rakyat hingga ratusan miliar. Kali ini,  diperkirakan intensitas curah hujan di Sulsel akan turun melampaui batas normal.

Musim hujan sudah terjadi mulai Nopember 2012 pada sejumlah daerah di Indonesia. Biasanya, akan berlangsung selama 4 – 5 bulan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memberikan peringatan dini dengan menetapkan 9 titik di Indonesia dianggap paling rawan bencana dalam musim hujan tahun ini. Di antaranya, tanah longsor di sekitar Gunung Bawakareang, Gowa, Sulawesi Selatan.

Kenapa longsor Gunung Bawakaraeng perlu diwaspadai? Pascabencana longsor gunung yang berketinggian lebih dari 2.000 dpl tahun 2004, menyebabkan endapan material tanah, pasir dan batu-batuan berukuran besar sekitar 300 juta kubik menumpuk di alur Sungai Jeneberang.

Sungai yang berhulu di kaki Gunung Bawakaraeng tersebut mengalir lebih 100 km, melintasi kota Sungguminasa, ibukota kabupaten Gowa, dan bermuara di Kota Makassar. Suatu tim mitigasi bencana dari Bandung pernah menyatakan bahwa sumber mata air utama Sungai Jeneberang tertutup setelah bencana longsoran Bawakaraeng 2004.

Itulah sebabnya debit air sungai yang menjadi sumber air Waduk Bilibili, sekitar 30 km dari Kota Makassar, di musim kemarau menurun drastis. Air yang kini mengalir di bagian hulu alur Sungai Jeneberang berasal dari sungai-sungai ikutan sekitarnya. Justru jika terjadi curah hujan yang tinggi, material longsoran yang menumpuk di bagian hulu alur Sungai Jeneberang dikhawatirkan dapat bergerak, menimbulkan banjir lumpur bercampur batu-batuan alias banjir debris.

Bayangkan, apabila sekitar 300-an juta kubik material seketika dapat menjadi banjir debris. Selain akan melabrak Waduk Bilibili, dapat meluluh-lantakkan pemukiman penduduk yang ada di Kota Sungguminasa dan Kota Makassar. Semoga tak pernah terjadi.

Suatu langkah cemerlang, karena pihak BNPB dengan cepat telah mengingatkan longsoran Gunung Bawakaraeng sebagai salah satu titik rawan bencana musim hujan tahun 2012. Apalagi pascalongsor 2004, penanggulangan terhadap tumpukan material di alur Sungai Bawakareang hanya diatasi dengan pembuatan sejumlah sabo dam — tanggul penahan material, serta sand pocket –  kantong penampung pasir yang dimaksudkan mengurangi volume  material memasuki Waduk Bilibili.

Sejak bencana 2004 sampai sekarang, pihak pengelola DAS Pompengan- Jeneberang mengakui baru dapat mengatasi sekitar 4 juta kubik dari sekitar 300 juta kubik tumpukan material longsoran di alur Sungai Jeneberang. Jumlah itupun sudah terhitung material yang setiap hari diangkut ratusan truk untuk bahan timbunan ke berbagai lokasi di kota Makassar maupun kota Sungguminasa.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar, memperkirakan puncak hujan di Sulsel akan terjadi antara Desember 2012 hingga Januari 2013 dengan curah dapat mencapai 600 mm per bulan. Suatu prakiraan tertinggi bakal terjadi melewati batas curah hujan normal antara 200 hingga 300 mm per bulan. Semoga saja tak menggoyangkan ratusan juta kubik material di hulu alur Sungai Jeneberang.

Longsor, banjir dan angin puting beliung merupakan tiga petaka musim hujan yang selalu berulang setiap tahun di Sulsel. Selain faktor geografis, tidak sedikit bencana tersebut juga akibat ulah manusia merusak lingkungan.

Beberapa kabupaten dataran tinggi di Sulawesi Selatan diharapkan dapat berjaga-jaga, mengantisipasi bencana longsor dengan meningginya curah hujan. Paling tidak, untuk mengelimir terjadinya korban jiwa maupun harta benda. Peringatan dini ancaman bencana longsor perlu disampaikan kepada warga di kabupaten pegunungan seperti Enrekang, Sinjai, Gowa, Toraja, Toraja Utara, dan Bantaeng yang umumnya masih banyak membangun pemukiman di lokasi berbukit hingga lereng-lerengnya.

Bencana tanah longsor saat musim hujan, perlu diwaspadai para pelintas di poros jalanan di tepi tebing maupun kaki-kaki bukit. Seperti poros Buludua menghubungkan kabupaten Barru – Soppeng, poros Maiwa (kabupaten Enrekang) – Makale (kabupaten Tanan Toraja), Makale – Rantepao (kabupaten Toraja Utara) – Kota Palopo, poros Malino (kabupaten Gowa) – Manipi (kabupaten Sinjai), dan poros Luwu Utara ke perbatasan Provinsi Sulsel dan Sulteng.

Daerah rawan banjir karena dilintasi sungai-sungai besar di Sulawesi Selatan, seperti jalanan sepanjang kl 60 km menyusur pesisir Sungai Walanae dari kabupaten Wajo ke Kabupaten Bone. Kota Palopo, kabupaten Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, Enrekang, Soppeng, Sidrap, Maros, Bantaeng, Bulukumba, Pinrang, Pangkep, dan Barru.

Tahun kemarin, banjir yang melanda Kabupaten Wajo dan Bone saja menimbulkan kerugian materil sampai Rp 95 miliar. Belum terhitung nilai kerugian yang ditimbulkan banjir lokal di berbagai kabupaten lainnya di Sulsel. Banjir menggenangi 4 kecamatan di Luwu, Mei 2012, menimbulkan kerusakan fasilitas umun dan harta benda milik rakyat sampai senilai Rp 10 miliar.

Sedangkan bencana angin puting beliung tahun 2011 di 9 kabupaten di Sulawesi Selatan merusak 1.148 bangunan rumah warga dan fasilitas umum. Puting beliung yang juga dinamai Laso Anging di Sulsel berkecepatan di atas 60 km per jam pun perlu diwaspadai seiring dengan datangnya musim hujan terutama bagi warga bermukim di pesisir pantai serta tempat ketinggian. Sebanyak 19 dari 24 kabupaten/kota di Sulsel wilayahnya berbatasan dengan laut.

Petaka musim hujan di Sulawesi Selatan selalu saja berulang, lantaran masih sering dikategori murni bencana alam. Pihak pemerintah provinsi maupun kabupaten masih lebih fokus mencari dana bagi warga setelah jadi korban bencana. Tahun 2012 Sulsel memperoleh Rp 70 miliar dana penanggulangan bencana dari pemerintah pusat. Belum tampak langkah signifikan mengelimir penyebab bencana. Hutan Sulsel yang luasnya 2,7 juta hektar (2007) sebagai penyanggah timbulnya banjir sekarang berkurang sisa sekitar 2 juta hektar. Jadi, waspada sajalah, musim hujan kini sudah tiba. (Mahaji Noesa)