Posts Tagged ‘belang’

kucing 2

ilustrasi/sumber google-berita.plasa.msn.com

Mata kucing seperti mata sejumlah binatang bertaring yang buas dan berbisa, mengeluarkan sinar jika terkelebat cahaya di malam yang gelap. Namun begitu, kucing termasuk binatang peliharaan rumah yang paling jinak. Tak banyak binatang peliharaan seperti kucing yang dapat tidur seranjang dengan tuannya.

Semasa sekolah di SLTP saya punya peliharaan seekor kucing jantan. Bertahun lamanya kucing peliharaan tersebut jika malam hari ikut tidur di ranjang, berbaring di bagian kaki. Bahkan sesekali sering aku terbangun malam menghalaunya, lantaran dia ikut menikmati tidur mendengkur di bantal tidur pelapis kepalaku.

Warna bulunya putih diselingi belang-belang hitam dan berekor pendek menggumpal. Kucing ini juga disenangi oleh banyak teman dan anggota keluarga tetanggaku. Selain termasuk kucing jinak, bulunya selalu terlihat mengkilap. Lantaran tubuhnya paling sedikit sekali dalam seminggu kutaburi ampas parutan kelapa yang telah diperas santannya. Dengan cara menaburi ampas kelapa seperti diajarkan ibu, si kucing tak henti menjilati bulunya sehingga selalu kilap dan bersih.

Kucing lokal yang kuberi nama Bulu tersebut kupelihara sejak masih kecil. Dia kudapatkan di bukit yang membatasi sebuah jalan simpang tiga. Di lokasi yang agak jauh dari pemukiman tersebut sering dijadikan tempat pembuangan anak kucing yang baru dilahirkan, termasuk kucing-kucing besar.

Kucing-kucing besar yang diasingkan di tempat ini seringkali terlihat hanya bertahan beberapa saat lalu menghilang. Kemudian, beberapa hari berikutnya kucing itu terlihat kembali dilepas oleh pemiliknya di lokasi tersebut. Kucing binatang peliharaan yang punya instink sangat kuat dengan lingkungan tempat dia dipelihara.

Kucing (pengalaman dengan kucing lokal), sekalipun dimasukkan dalam karung lalu diasingkan sampai sejauh 2 km ia akan mampu kembali secepatnya ke tempat lingkungan rumah tempat dia dipelihara. Tidak seperti monyet, sekalipun bertahun-tahun dipelihara apabila dilepas langsung lari dan tak tahu untuk kembali sendiri ke kandangnya.

Sedangkan tabiat kucing-kucing yang masih kecil yang dibuang terlepas dari induknya, umumnya senang mengikuti jejak langkah orang-orang yang berjalan melintasinya. Dalam gerakan seperti itulah aku mengambil si Bulu, untuk kupelihara sebagaimana anjuran ibu kala itu, agar dapat dijadikan penghalau tikus sekitar lingkungan rumah.

Dalam perkembangannya, si Bulu bertumbuh sebagai kucing peliharaan yang jinak tapi juga lincah menangkap tikus. Beberapa kali saya menyaksikan langsung bagaimana si Bulu menangkap seekor tikus dari atas plafon rumah. Tikus digigit, dicengkram kemudian dimain-mainkan dengan membanting-banting di permukaan lantai hingga tak bergerak. Jika sudah begitu, kebiasaan si Bulu lantas meninggalkan tikus yang sudah mati, dan seperti memerintahkan kami penghuni rumah untuk menyingkirkan bangkai tersebut. Sejak ada si Bulu, cicit tikus memang jarang sekali terdengar di sekitar lingkungan rumah.

Apabila tiba saat makan siang atau makan malam bersama, si Bulu juga selalu hadir memutar-mutar di bawah meja makan sambil menggesek-gesekkan bulu badannya ke kaki-kaki kami. Si Bulu yang dibiarkan berkeliaran sekehendaknya, seperti sudah tahu untuk kembali ke rumah pada saat jam-jam makan.

Sejak awal dipelihara, sebagaimana anjuran ibu, si Bulu tak pernah diberi makan sisa tulang ikan. Menu makanan sehari-harinya, nasi plus daging ikan rebus, bakar, atau goreng. Larangan pemberian tulang ikan, dengan alasan semua kucing akan lahap menyantap tulang ikan, apalagi jika tulang-tulang ikan rebus. Dalam kondisi lahap seperti itu, berdasarkan pengalaman, kucing juga seringkali ketulangan, dan muntah. Yang terakhir ini dihindari sehingga lauk makan si Bulu hanya diberi daging ikan rebus. Mungkin karena menu seperti itu, si Bulu pun lantas tidak doyan menyantap daging tikus tangkapannya.

Rekan-rekan serta para orang tua tetanggaku seringkali bercanda dengan memanggil-manggil nama si Bulu, seperti kebiasaan yang kulakukan. Jika nama kucing peliharaan itu kuucapkan berulang-ulang, si Bulu dalam jarak yang jauh sekalipun apabila mendengarnya langsung datang mendekat, memutar-mutariku. Gerakan si Bulu seperti itu tak henti apabila tidak kuelus bagian kepalanya. Cerdik. Lantaran gerakan seperti itu tidak dilakukan kepada orang-orang lainnya yang juga sering memanggil-manggil namanya.

Namun suatu sore, kami sekeluarga terkejut lantaran datang seseorang yang sekampung mengadukan bahwa akan membunuh si Bulu. Sekalipun kami jelaskan bahwa kucing itu jinak, dia tidak mengerti. Soalnya, katanya, sudah dua kali dia melihat langsung si Bulu menangkap dan memakan anak-anak ayamnya. Kami pasrah. Tiga hari kemudian kami sekeluarga melihat orang tersebut menyeret si Bulu dengan seutas tali yang menjerat dilehernya lewat di jalanan dekat rumah.

Menurut sejumlah anak yang mengikuti, si Bulu ditenggelamkan di sebuah rawa di ujung kampung. Tali yang mengikat lehernya digantungi batu besar sebagai pemberat. Sedih mendengar, tapi kami pasrah apalagi yang melakukan adalah dari keluarga orang yang dijagokan di kampung. Lagi pula, si Bulu adalah kucing, mungkin saja di luar kontrol kami dia tetap tampil sebagai binatang bertaring yang ganas. Sebab, seperti kesaksian si orang tersebut, dia melihat langsung anak-anak ayamnya diterkam si Bulu.

Namun setelah makan malam tanpa gesekan Si Bulu, ketika kami sekeluarga santai di ruang tamu tiba-tiba pintu seperti ada yang menabrak. Ketika dibuka, ternyata si Bulu nongol mengeong masuk ke rumah dalam keadaan tubuh basah kuyup dan seutas tali masih membelit di lehernya.

Ayah lantas melepas tali ikatan di lehernya. Ibu menyiapkan makannya, adik saya justru membuat perapian untuk mengeringkan tubuh si Bulu. Kami semua sibuk. Tapi malam itu ayah memutuskan agar si Bulu diasingkan ke rumah sanak keluarga yang ada di pulau seberang kampung untuk menghindari terulangnya perlakuan sadis yang baru saja menimpanya. Singkat cerita, lebih sebulan kemudian, mungkin hanya secara kebetulan, penyeret si Bulu tewas ketika kendaraan bus yang ditumpangi untuk suatu perjalanan terperosok ke jurang.

Setelah peristiwa tersebut, saya kemudian tertarik untuk memelihara kucing berbulu tiga warna – hitam, putih, dan orange. Orang-orang di kampung saat itu menyebut sebagai ‘Kucing Mpalo.’ Sayang sekali karena ibu tidak mengijinkan jika memelihara kucing betina. Alasannya, memelihara kucing betina agak repot karena sering melahirkan banyak anak. Sedangkan kucing tiga warna seperti itu, umumnya berkelamin betina.

Ada cerita yang beredar sejak masa kecil di kampung, induk kucing akan memakan anak-anak jantan yang dilahirkan apabila memiliki bulu tiga warna. Untuk menyelamatkan anak kucing jantan berbulu tiga warna, dianjurkan begitu dilahirkan segera dipisahkan dari induknya. Dua kali saya berburu anak kucing jantan tiga warna, tapi selalu terlambat karena sang induk sudah lebih dahulu melumatnya.

Masih berdasarkan cerita lawas, konon kucing jantan berbulu tiga warna itulah kucing yang dapat bertanduk. Sebagian masyarakat sampai sekarang masih memercayai jika ada kucing yang bisa bertanduk. Mereka di antaranya, memercayai tanduk kucing dapat dijadikan mustika yang jika dipakai seorang wanita, jika melahirkan tak akan merasakan sakit sedikitpun. Diibaratkan seperti induk kucing, sesaat setelah melahirkan telah mampu melompat dan menerkam mangsanya tanpa ada rasa lemas atau takut terjadi perdarahan. Ada juga yang sering terdengar mencari tanduk kucing untuk kepentingan kelaki-lakian, tangguh sekalipun dalam perkelahian melawan kekuatan yang lebih banyak. Wallahualam.

Yang pasti, sekitar dua bulan lalu di sebuah kedai sekitar Pelabuhan Makassar, saya menyaksikan seseorang yang mempromosikan sepasang tanduk kucing kepada sejumlah pengunjung. Dua buah tanduk berwarna kuning gading, ukuran panjang sekitar 3 cm melengkung seperti kuku itulah disebut Tanduk Kucing Mpalo.

Ketika orang-orang berdebat mengenai berbagai macam keunikan termasuk keanehan yang dapat terjadi bagi pemegang tanduk kucing. Saya pun lalu nimbrung dengan berguyon, bahwa saya memiliki sepasang tanduk kuda yang berkhasiat sebagai aprodate bagi lelaki. ‘’Wah…bohong, masaiya ada tanduk kuda,’’ ucap spontan salah seorang pengunjung kedai Kaki-5 tersebut.

Saya lalu menjawab lantang, bahwa sama bohongnya dengan cerita tanduk kucing dengan segala khasiat serta manfaatnya, karena dalam pengetahuan umum tidak ada kucing yang bertanduk. Lelaki yang bertubuh kekar pemilik sepasang tanduk kucing memelototi saya yang segera berlalu meninggalkan kedai tersebut.

Dalam masa SMA, kemudian saya pernah memelihara seekor kucing jantan lokal dengan bulu berwarna hitam mengkilap. Seperti si Bulu, kucing hitam ini kupelihara mulai usia kecil. Kuberi nama Dulla. Seperti anjuran ibu, kupegang kulit leher bagian atasnya kemudian kudongakkan moncong si hitam itu lalu kusebut nama Dulla, lantas berludah angin sebanyak 3 kali ke arah moncong kucing.

Prosesi pemberian nama kucing yang kulakukan seperti itu aneh tapi nyata. Karena seperti prosesi pemberian nama terhadap sejumlah kucing lainnya, sejak itu si Hitam bertumbuh menjadi kucing peliharaan yang jinak dan akrab dengan panggilan nama Dulla. Hanya saja Dulla tidak seperti si Bulu. Dulla seperti kucing jantan lainnya, punya kebiasaan menggesek bagian pantat ke benda-benda apa saja lalu menyemprotkan air seninya yang sangat berbau sengit. Dan, Dulla yang memiliki ekor panjang pun tidak sampai setahun akrab sebagai kucing peliharaanku. Ia kemudian menghilang tanpa jejak.

Nanti setelah tamat SLA baru kutahu, jika Dulla, si kucing hitam kesayanganku tersebut justru jadi korban tumbal sebuah pengikut ajaran sesat yang mencari jimat penghilang tubuh dari pandangan. Seorang dari anggotanya yang sudah keluar dari perkumpulan menjelaskan, bahwa si Dulla mereka matikan dengan cara tak berdarah. Dibekap dengan karung goni hingga tewas. Lalu dilakukan prosesi terhadap bangkai Dullah seperti ketika akan memakamkan mayat manusia.

Selanjutnya dilakukan juga doa-doa khusus hingga hari keseratus ditanamnya bangkai kucing tersebut. Setelah itu, kuburannya digali dengan mengambil semua tulang kucing. Dengan prosesi tersendiri, para anggota perguruan yang terlibat dalam pembunuhan tak berdarah terhadap si Dulla, atas panduan sang guru lalu disilakan memilih tulang-tulang si Dullah.di depan cermin. Jika memegang tulang lalu seketika bayangan tubuhnya tak terlihat dalam cermin, itulah yang dijadikan jimat. Dari seekor kucing hitam hanya ada satu tulang yang dinyatakan dapat dijadikan jimat tubuh lenyap dari pandangan umum.

Siapa yang mendapat jimat menghilangkan tubuh dari pandangan umum dari tulang-tulang si Dulla, anggota perguruan yang membelot tersebut tidak mengetahuinya. ‘’Ajaran sesat, mencari jimat untuk perbuatan jahat,’’ katanya. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 29 April 2012)

Gambar

Inilah Buttu Kabobong di Kabupaten Enrekang/Foto: Mahaji Noesa

Bagi mereka yang sudah pernah berwisata ke destinasi Toraja, Sulawesi Selatan, menyusuri jalan darat melintasi Kabupaten Enrekang, sudah pasti punya kenangan dengan Bukit Seks.

Setiap pelancong atau wisatawan mancanegara yang melintasi jalur ini umumnya terlihat tak pernah melewati keindahan serta keunikan bukit yang menyerupai bentuk kelamin wanita di kilometer 18 dari Kota Enrekang, ibukota Kabupaten Enrekang tersebut.

Selain menyaksikan langsung atau membuat potret kenang-kenangan dengan latar gunung berbentuk V yang ukurannya sekitar 60 juta kali lebih besar dari bentuk aslinya, di lokasi ini dapat disaksikan panorama indah barisan pegunungan dalam beragam bentuk sejauh mata memandang.

Bukit Seks yang dalam sebutan bahasa daerah Enrekang dinamai ‘Buttu Kabobong’ (Berarti: Gunung V) tersebut, sebenarnya hanya merupakan bagian kecil dari banyak bentuk unik dan menawan gunung purba yang ada di wilayah Kabupaten Enrekang.

Hanya saja Bukit Seks ini yang senantiasa mendapat perhatian lantaran dapat dipandang lansung dari tepian jalan poros Enrekang – Toraja. Tepatnya, berada di barisan bukit yang menjadi bagian dari Kawasan Timur Enrekang (KTE). Barisan perbukitan yang merupakan bagian dari kaki Gunung Latimojong (kl. 3.478 dpl) yang berada di Karangan, Desa Latimojong Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang.

Di kaki perbukitan KTE berketinggian antara 400 hingga 3.000-an dpl inilah terletak Kecamatan Baraka, Kecamatan Bungin, Kecamatan Curio, Kecamatan Malua, dan Kecamatan Maiwa sebagai daerah penghasil tanaman perkebunan berupa kopi, cengkeh, vanili, padi, serta beragam jenis sayur-mayur dan buah-buahan. Hasilnya tak hanya disuplai untuk kebutuhan Sulawesi Selatan, tapi juga untuk provinsi lain di Pulau Sulawesi seperti ke Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Bahkan diantarpulaukan ke Kalimatan, Maluku dan Papua.

Sedangkan poros jalan Negara menghubungkan Kota Enrekang hingga ke Salubarani – gerbang masuk Kabupaten Tana Toraja sepanjang kl.48 km merupakan lokasi Kawasan Barat Enrekang (KBE) dengan ketinggian 200 – 800 dpl, meliputi Kecamatan Anggeraja, Kecamatan Alla, Kecamatan Enrekang, dan Kecamatan Cendana.

Di pertemuan kaki bukit antara Kawasan Timur dan Kawasan Barat Enrekang ini terdapat ceruk, berupa jurang dengan lebar bervariasi 2 hingga 5 km dan kedalaman 400 hingga 800 meter dari muka jalan negara poros Enrekang – perbatasan Tana Toraja. Di bawahnya mengalir sejumlah sungai, seperti Sungai Mata Allo yang selama ini menjadi sumber air utama bagi irigasi persawahan dua daerah andalan penghasil tanaman padi di Sulawesi Selatan yaitu Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Kabupaten Pinrang.

Ceruk inilah yang dikenal dengan sebutan Kawasan Wisata Bambapuang dengan latar keindahan gunung-gunung purba dengan ornamen-ornamen alam unik di antara dinamika kehidupan keseharian masyarakat petani pegunungan.

Sebagaimana diketahui, Kabupaten Enrekang merupakan salah satu dari lima kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang tidak berbatasan dengan laut. Dengan luas wilayah 1.786,01 km2, sekitar 85 persen wilayah Enrekang merupakan bukit yang mempunyai kemiringan bervariasi 15 derajat hingga curam.

Meskipun, ceruk Bambapuang yang sudah puluhan tahun dikagumi keindahan alamnya sampai ke mancanegara, namun sampai sekarang belum ada patokan baku batas area yang masuk kawasan tersebut. Ada yang menyebut luasannnya meliputi areal 680 km2, dihitung mulai dari Kampung Kotu (Km 14), Desa Bambapuang, Kecamatan Anggeraja hingga Salubarani (Km 48), perbatasan Enrekang – Toraja. Dengan lebaran kawasan dari batas jalan Negara poros Enrekang – perbatasan Toraja hingga 20 km ke arah timur.

Berulangkali Prof. T.C.M. George IS ketika ditemui nginap di Villa Bambapuang (berhadapan langsung dengan Gunung V) setelah selama dua hari berkeliling di kawasan ini, menyatakan kekaguman terhadap keindahan panorama kealamiaan gunung-gunung batu di Kawasan Bambapuang.

‘’Kawasan ini jika dikelola dengan baik tidak kalah menarik dengan kawasan wisata Grand Canyon dan barisan bukit Sierra yang menyedot kunjungan puluhan juta wisatawan mancanegara setiap tahun di Benua Amerika,’’ katanya.

Alumni Reflexology dari daratan Cina ini menyatakan, Kawasan Bambapuang punya kelebihan lantaran di kaki serta ceruk gunung-gunung batunya berlangsung kehidupan masyarakat dengan aktivitas pertanian. Tidak seperti di kawasan Grand Canyon dan bukit Sierra yang gersang dari aktivitas kehidupan.

Sebenarnya, di awal tahun 2000-an saat kepemimpinan Bupati Enrekang Muh.Iqbal, sudah pernah ada pembuatan rancangan design pengembangan Kawasan Wisata Bambapuang seluas kl.20 x 48 km. Bahkan dia sudah merintis pembukaan jalanan di KTE. Dimaksudkan, agar para pelancong dapat menikmati keindahan ceruk Bambapuang dengan bukit-bukit batunya yang indah yang membentang di KBE.

Ada rencana ketika masuk kawasan ini, para pelancong dari arah Makassar ke Toraja, menyusuri jalan yang ada sekarang. Melalui poros ini disaksikan keindahan alam ceruk dan gunung-gunung batu di KTE. Sedangkan jika balik dari Toraja melalui jalan keluar yang dibangun di Kawasan Timur Enrekang untuk meinkmati keindahan alam ceruk dan gunung-gunung batu yang ada di Kawasan Barat Enrekang (KBE). Sayang sekali, dalam kepemimpinan Bupati Enrekang selanjutnya, pengembangan jalan di KTE tersebut tidak berlanjut.

Bahkan, sudah didesign semacam pembangunan pelataran-pelataran untuk memandang view di Kawasan Bambapuang. Ceruk di antara bukit KTE dan KTB direncanakan dibangun fasilitas wisata seperti skylift, pengembangan olahraga gantole (terbang layang), kawasan perkemahan, trikking, jogging, tangga seribu untuk turun-naik lembah, fasilitas arung jeram di sungai Mata Allo serta fasilitas wisata lainnya. Tujuannya, tak hanya sebatas ingin memuaskan pelancong menikmati keindahan Kawasan Bambapuang dengan aman dan nyaman. Tetapi juga lebih utama, para pelancong atau wisatawan ke Toraja tidak hanya melewati kawasan ini, tetapi juga dapat menjadikan sebagai Daerah Tujuan Wisata menikmati keindahan gunung, lembah dan jurang yang terbentang sepanjang mata memandang di Kawasan Bambapuang.

Dengan begitu, keindahan alam kawasan ini pun diharapkan dapat memberi manfaat peningkatan ekonomi bagi masyarakat dan khususnya daerah Kabupaten Enrekang. Tidak seperti selama ini, Kawasan Bambapuang hanya dilintasi begitu saja oleh para pelancong, lantaran tak memiliki fasilitas wisata untuk wisatawan nginap dengan rasa aman dan nyaman.

‘’Tak hanya siang hari, di udaranya yang sejuk malam hari kawasan ini pun dapat hidup apabila didesign sedemikian rupa dengan memanfaatkan bantuan teknologi solar sell untuk malam hari. Kawasan Bambapuang ini jika ditata dengan baik bukan tidak mungkin ke depan akan dapat berkembang sebagai Sierra Khatulistiwa karena panorama bentang alamnya yang tiada duanya di dunia,’’ komentar Prof. George yang mengaku sudah berkeliling ke sejumlah kawasan wisata yang menyajikan panorama gunung-gunung batu di dunia.

Kawasan Bambapuang, tentu saja, termasuk bagian dari hamparan bukit karts seluas kl.145.000 km persegi yang ada di Indonesia. Hanya saja tidak semua bukit yang ada di kawasan ini merupakan bukit batu gamping. Sebagian besar, seperti yang dapat dilihat secara kasat mata merupakan bukit batu cadas. Banyak bukit dengan beragam bentuk dan ornamen alamnya yang indah, sejak dulunya plontos tidak dihidupi tumbuhan tetapi di bagian tertentu menghijau.

Lantaran posisinya yang curam hingga tegak 90 derajat, banyak bukit di Kawasan Bambapuang sejak masa purba hingga saat ini belum pernah dijamah manusia dari kaki hingga puncaknya. Bukit Tontonan di Kelurahan Tanete Kecamatan Anggeraja, misalnya. Salah satu bagian dindingnya seluas kl. 4 hektar tegak lurus menjulang langit bagai dinding sebuah bangunan raksasa.

Ditemukannya banyak situs berupa gua-gua jejak kehidupan masa lalu di Kawasan Bambapuang, membuktikan bahwa gunung-gunung batu di lokasi ini juga merupakan gunung-gunung purba. Contohnya seperti gua Loko’ Malillin Desa Pana Kecamatan Alla, Loko’ Tappaan di Desa Limbuang dan Loko’ Palakka di Desa Palakka Kecamatan Maiwa, serta Loko’ Bubau di Desa Pana Kecamatan Alla.

Banyak pecinta alam yang sudah berpetualang di sini menyebut Kawasan Bambapuang sebagai ‘Negeri Seribu Gua’ lantaran hampir semua gunung batu memiliki gua yang menyimpan adanya tanda-tanda sebagai tempat hunian manusia purba. Antara gua yang satu dengan lainnya memliki pesona keindahan tersendiri dengan stalaktif dan stalagnit yang syurr….Termasuk banyak gua yang bagian mulutnya menjadi bagian dari limpahan air terjun. Di mulut gua Loko’ Tappaan misalnya, terdapat air terjun setinggi 7 m.

Selain itu, dibalik keindahan serta keunikannya hampir semua bukit batu di Kawasan Bambapuang memiliki mitos yang hidup sampai sekarang. Gunung Bambapuang (1.021 dpl) di Kotu, Desa Bambapuang Kecamatan Anggeraja, dalam cerita rakyat setempat disebut dahulu puncaknya menjulang tinggi jauh tak terhingga ke arah langit. Itulah sebabnya, kemudian dinamai Gunung Bambapuang (Bhs.Enrekang berarti: Tangga para Dewa atau Tangga ke Langit).

Namun kemudian Tangga Langit ini patah ke arah utara Tana Toraja. Itulah sebabnya menurut cerita rakyat setempat, seperti yang terlihat sekarang semua puncak gunung di Kawasan Bambapuang mengarah ke arah utara sesuai arah jatuhnya patahan Gunung Bambapuang. Penyebab gunung ini runtuh, ceritanya, karena terjadi cinta incest atau hubungan sedarah kakak-adik di kaki bukit tersebut.

Mitos runtuh atau patahnya Gunung Bambapuang dalam cerita rakyat yang masih hidup sampai sekarang disebut dalam bahasa daerah setempat sebagai peristiwa Lettomi Erang di Langi. Ketika Gunung Bambapuang patah, penduduk atau hewan yang lari meninggalkan lokasi saat Bambapuang patah, apabila menengok ke arah belakang seketika berubah menjadi batu. Dalam mitosnya, itulah sebabnya batu-batuan di Kawasan Bambapuang yang sampai sekarang masih terlihat bentuknya banyak yang menyerupai ujud manusia atau hewan.

Buttu Kabobong di Kawasan Bambapuang yang bentuknya seperti V berukuran super raksasa tersebut, dalam cerita rakyat disebut-sebut justru masa silam berfungsi sebagai stadion tempat pertemuan manusia purba. Sedangkan Bukit Tontonan yang ceper belakangan diistilahkan sebagai ‘Serambi Mayat’ lantaran di bagian bukit ada semacam alur yang berisi banyak keranda mayat purba terbuat dari kayu. Mayat-mayat itu tak ditanam, konon lantaran mereka tak ingin terjepit tanah. Ada gunung dinamai Bukit Sawa lantaran bentuk puncaknya berupa batu cadas bergelombang belang-belang bagai seekor Ular Sawa raksasa. Itulah sebagian dari banyak sekali mitos tentang gunung dan batu-batuan di Kawasan Bambapuang, Enrekang.

Sayangnya, bentang alam panorama gunung, jurang dan lembah di Kawasan Bambapuang kondisinya dari dulu sampai sekarang tidak pernah mendapat sentuhan serius untuk dipoles sebagai obyek Tujuan Wisata Andalan Sulawesi Selatan. Tanpa ada sentuhan khusus kawasan yang masih alamiah dan asri ini sebagai suatu destinasi wisata, bukan tidak mungkin kelak akan berubah fungsi.

Pasalnya, dalam perut bumi gunung-gunung di KTE maupun KTB sudah pernah dieksplorasi mengandung sejumlah barang tambang bernilai tinggi seperti marmer berwarna hitam, hijau dan putih, juga terdapat kandungan minyak tanah, batu bara, dan emas.  (Mahaji Noesa/Kompasiana, 11 Mei 2012)