Posts Tagged ‘bocor’

Sudah puluhan tahun menjalankan bisnis sebagai pedagang obat keliling, namun H Abd Wahid M tidak mendaftarkan diri sebagai anggota organisasi Persatuan Penjual Obat Seluruh Indonesia (Perposi). Maklum, pria kelahiran 21 April 1957 asal Welado, kabupaten Bone, Sulawesi Selatan tersebut bukan tipe pedagang obat seperti yang sering berkoar-koar di kaki lima.

H Abdul Wahid/Ft: Mahaji Noesa

H Abdul Wahid/Ft: Mahaji Noesa

‘’Saya memang sudah puluhan tahun hampir tiap hari berkeliling ke pasar-pasar tradisional yang terdapat di sekitar kota Kendari, Sulawesi Tenggara menyalurkan obat-obat dibutuhkan masyarakat tapi bukan sembarang obat, melainkan obat-obat generik bebas untuk umum yang terdaftar dengan harga relatif terjangkau,’’ aku Sang Haji ketika dijumpai di kediamannya, Powatu, kota Kendari, Rabu (19/11/2014) siang.

Masyarakat pedagang serta pengunjung setia pasar tradisional khususnya pasar rakyat Abeli Sawa, Pohara, Batu Gong, dan Paku Jaya sudah sangat akrab dengan sosok H. Abd Wahid. Mereka sudah mengenal suami dari Hj Jastian, S.Ag sejak pasar-pasar tradisional tersebut masih merupakan bagian dari wilayah Kota Madya Kendari, belum masuk wilayah administrative Kabupaten Konawe, seperti sekarang.

Menurut kakek dari 8 cucu tersebut, lantaran akrabnya dengan warga seputar pasar-pasar tradisional tersebut, dirinya juga sering dititipi pelanggannya untuk membelikan obat-obat paten khusus sebagaimana diresepkan dari dokter.

‘’Tanpa ada tip khusus selama ini saya sering layani titipan mereka. Pesanan obat itu saya belikan di apotek-apotek yang ada di kota Kendari, kemudian saya berikan saat saya datang berjualan di pasar-pasar yang minimal saya kunjungi sekali dalam seminggu. Sejuk rasanya dapat kepercayaan dan mampu melayani permintaan kebutuhan pelanggan seperti itu,’’ kata pengurus komite sekolah selama 18 tahun dan menjadi ketua Komite Sekolah selama dua periode yang masih dijalani sampai sekarang di SMA Negeri 6 kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara.

Haji Abdul Wahid ketika belajar jurnalis TV/Ft: dok

Haji Abdul Wahid ketika belajar jurnalis TV/Ft: dok

Sebelum terjun ke profesi sebagai penyalur obat keliling yang didasari prinsip dengan menyediakan kebutuhan obat keperluan warga merupakan bagian dari pekerjaan berguna membantu manusia, H Abd Wahid bergerak di dunia kontraktor. Dimulai tahun 1977 bersentuhan dengan kegiatan kontraktor mengerjakan Perumahan Transmigrasi di Tinanggea. Tahun 1985 ikut kegiatan di CV Bintang Raya Kendari, sebagai pengawas. Kemudian selama 7 tahun menjadi Direktur CV kemudian berubah menjadi PT Cahaya Petir Bumi Permai dengan mengerjakan proyek-proyek fisik bernilai ratus-ratus juta.

Namun nurani alumnus sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Sungguminasa, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan tahun 1975 ini berontak setelah merasakan lika-liku dunia konstruksi yang ditekuni. ‘’Ibarat pipa, jadi kontraktor itu banyak bocor-bocornya,’’ ujar Pembina Badan Pengajian Mesjid Babussalam di kecamatan Ponggolaka (d/h. Tobuha) kota Kendari.

Sebelum berbisnis menggunakan mobil menyalur obat keliling pasar rakyat, H. Abd Wahid juga serius menekuni berbagai organisasi sosial kemasyarakatan serta pernah terjun di dunia politik dan pers.

Pernah selama 20 tahun menjadi Ketua RT di kelurahan Ponggolaka (d/h. Tobuha). Tahun 1976 jadi kader partai PPP di kota Kendari. Tahun 1987 bergabung di Golkar. Tahun 1998 tampil sebagai deklarator pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di kota Kendari.

Sebelumnya, mantan Wakil Sekretaris KNPI kota Kendari ini, tahun 1987 menjadi Sekretaris dan Wakil Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor kota Kendari. Dalam kiprah dan prestasinya membina organisasi NU tersebut H Abd Wahid sejak 2012 hingga sekarang dipercaya menjadi pengurus wilayah Nahdhatul Ulama (NU) Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sejak tahun 2002 hingga saat ini H. Abd Wahid adalah Pengurus Ikatan persaudaraan Haji (IPH) di kota Kendari. Dia juga selama dua periode pernah mendapat kepercayaan sebagai Pengurus DDI Provinsi Sulawesi Tenggara. Dan, sampai sekarang juga dipercaya sebagai Ketua Komite SD 1 Mandonga. Bahkan juga pernah terlibat dalam kegiatan jurnalis di majalah kriminal Fakta terbitan Surabaya, SK Target, dan suratkabar Timur Indonesia terbitan lokal di kota Kendari.

Anda tahu, ayah dari 4 orang anak (2 meninggal dunia) ini sejak tahun 1999 hingga saat ini merupakan salah seorang penyuluh agama dan juru da’wah NU yang tercatat di Kantor Kementerian Agama kota Kendari. Lantaran itu, selain mempunyai jadwal setiap Jumat bertugas sebagai khatib di mesjid dalam wilayah kota Kendari, H Abd Wahid juga seringkali harus menangani acara ritual keagamaan secara Islam, seperti untuk acara pernikahan, doa syukuran, hingga urusan kematian mulai penanganan memandikan jenazah hingga pemakaman serta mengisi ceramah tazzia.

Bahkan pernah, ceritanya, dia dipanggil mendoakan seseorang yang sudah tiga hari dalam kondisi sekarat dan bertindak ‘aneh-aneh’ selalu ingin telanjang. ‘’Alhamdulillah………setelah memohon ampunan dari Allah yang bersangkutan dapat berpulang dengan tenang,’’ jelas H Abd Wahid.

Pekerjaan sebagai penyalur obat, penyuluh agama dan juru da’wah itu yang kini ditekuni H.Abd Wahid. Dia setiap hari usai shalat subhuh rutin meninggalkan kediamannya meluncur dengan mobilnya membawa berbagai jenis obat generik ke pasar-pasar tradisional. Dia sudah menyusun jadual lokasi yang akan dikunjungi maupun acara yang akan dihadiri setiap hari. Jika hari Jumat, memilih mengunjungi pasar rakyat terdekat, karena adanya kewajiban menjadi khatib di mesjid yang sudah dijadualkan di kota Kendari.

Pengkhotbah yang tetap menjunjung falsafah leluhurnya dari Tana Bugis yaitu Resopa Temmanginggi Naiya Naletei Pammase Dewata (artinya: Hanya dengan kerja keras rakhmat Tuhan akan diperoleh) dijuluki banyak warga sebagai bukan pedagang obat sembarangan. ‘’Saya sangat menyukai pekerjaan yang dapat memberi manfaat buat banyak orang,’’ ujarnya. (Terposting di Kompasiana, 19 Nopember 2014)

IMG00055-20120928-1349

Tenda acara pun bebas dibangun di tengah jalan/Foto: Mahaji Noesa

Secara kasat mata dapat disaksikan, setiap hari terjadi pertambahan atau perluasan lahan-lahan parkir yang memanfaatkan badan jalan sebagai tempat parkir kendaraan sepeda motor (R2) maupun mobil (R4).

Tak hanya berlangsung di jalanan-jalanan protokol dengan lebar jalan lebih 6 meter. Tapi di ruas dengan lebar kurang 5 meter juga dijadikan sebagai lokasi perparkiran. Lebih parah lagi, karena di jalan sempit dua arah sekalipun juga dapat dijadikan lahan parkir.

Di Jl Kajao Lalido, Jl. Botolempangan, Jl. Sulawesi, Jl. Cenderawasih, Jl. Veteran, Jl. Sungai Saddang, Jl. Pelita, Jl. Gunung Latimojong, Jl Bulusaraung, Jl. Mesjid Raya, dan ratusan ruas jalan lainnya di Kota Makassar setiap hari, sebagian muka jalannya bebas digunakan sebagai tempat parkir R2 maupun R4.

Akibatnya, menimbulkan perlambatan laju pergerakan kendaraan. Bahkan menimbulkan kemacetan panjang dengan terjadinya pergerakan lambat pertemuan arus kendaraan terutama di persimpangan-persimpangan jalan.

Menurut pihak PD Parkir Makassar Raya, tahun 2011 mengelola sekitar 700 titik parkir, bertambah menjadi lebih 900 titik  tahun 2012. Sebagian besar titik parkir tersebut menggunakan badan jalan, karena hingga saat ini pihak PD Parkir Makassar Raya belum miliki satupun lahan dibangun khusus untuki parkir kendaraan R2 atau R4.

Jumlah tersebut belum terhitung banyak sekali titik parkir yang dikembangkan oleh kelompok-kelompok warga. Perparkiran di luar jangkauan pengawasan PD Parkir Makassar Raya tersebut, cenderung dalam praktiknya lebih serampangan lagi. Mereka tidak pusing menumpuk parkiran walaupun mendominasi penggunaan muka jalanan.

Contoh paling mencolok di Jl. Cenderawasih – sekitar Pasar Senggol Mattoanging. Setiap malam di sini terjadi kemacetan parah. Kendaraan antre sampai berbilang jam untuk menerobos jalanan tak lebih 400 meter, lantaran di sisi kanan kiri jalanan dijadikan sebagai lokasi parkir kendaraan pengunjung Pasar Senggol.

Tak terkendalinya muka jalanan dijadikan lahan parkir, pun dapat dilihat di lebih 20 titik yang dinyatakan pihak PD Parkir Makassar Raya sebagai lokasi tak boleh dijadikan lahan parkir. Seperti di Jl. A.Yani, Jl.AP Pettarani, Jl. Jend Sudirman, Jl. Ratulangi dll, tapi dalam kenyataan hingga saat ini tetap bebas dijadikan sebagai lahan parkir. Menariknya, karena juru parkir di lokasi tersebut banyak yang mengenakan seragam juru parkir PD Parkir Makassar Raya.

Pertambahan areal parkir menggunakan jalanan tersebut tak signifikan pertambahan ruas jalan maupun laju peningkatan jumlah kendaraan. Apalagi untuk pembuatan jalan baru, tidak selamanya ada setiap tahun. Anggaran untuk infrastruktur jalanan yang dialokasikan di APBD Kota Makassar tahun 2012 sebesar Rp 22 miliar lebih, misalnya. Keseluruhan hanya untuk pemeliharaan, perbaikan dan peningkatan muka jalanan yang sudah ada. Tak ada penambahan jalan baru.

Kondisinya lebih diperparah dengan laju pertambahan kendaraan bermotor sekitar 20 persen setiap tahun. Sekarang terdapat lebih 700 ribu unit kendaraan R2, dan sekitar 180 ribu unit R4 setiap hari melata di jalanan sepanjang sekitar 1.500 km di Kota Makassar.

Data tersebut memperjelas jika laju ekspansi perluasan titik parkir PD Parkir Makassar Raya, jelas mempersempit muka jalanan. Tahun 2011, hanya memiliki sekitar 700-an titik perparkiran. Jumlahnya meningkat tahun 2012 menjadi sekitar 900 titik parkir resmi dikelola PD Parkir Makassar Raya.

‘’Gimana tidak macet jika jalanan diperluas tapi lokasi parkir di muka jalan pun tetap dibiarkan diperluas, seperti yang terjadi sekarang di Jalan Pettarani,’’ kata Burhan, seorang karyawan swasta yang bermukim di Kawasan Panakkukang, Makassar.

Jl. AP Pettarani merupakan jalan lingkar tengah membentang sepanjang 3 km dari mulut Tol  Reformasi ke Jl Sultan Alauddin, sejak tahun lalu diperlebar dari 6 lajur menjadi 8 lajur. Namun jalan provinsi di tengah Kota Makassar yang telah dilebarkan dangan dana lebih Rp 17 miliar tersebut, saat ini tetap saja setiap hari macet panjang hingga berjam lamanya. Pasalnya, areal jalan tetap digunakan sebagai lokasi parkir, bahkan areanya lebih luas dibandingkan sebelum jalanan diperlebar.

Ikhwal jalanan maupun trotoar dijadikan lokasi parkir sebenarnya sudah lama disorot warga. Bahkan sudah sering diingatkan bahwa dalam Undang-undang No.22/2009 tentang Lalu Lintas Jalan secara tegas dinyatakan larangan menggunakan badan jalan maupun trotoar sebagai tempat parkir.

‘’Termasuk sudah berulangkali diingatkan melalui media massa, bahwa berdasarkan Undang-undang No.38/2004 dengan PP No.34 tahun 2006 tentang Jalan, tidak membenarkan penggunaan badan jalan sebagai tempat parkir. Pelanggarnya dapat dikenai sanksi pidana 18 bulan penjara atau denda Rp 1 miliar.  Tapi sampai sekarang semua seolah tidak ada yang mau peduli dengan aturan itu. Justru tidak jarang pelanggaran seperti itu, berlangsung nyata di sekitar kantor-kantor polisi,’’ kata Abd.Halim, anggota Forum Kajian Multimasalah ‘Biring Tamparang’ Makassar.

Tak hanya di Kota Makassar, pelanggaran undang-undang menggunakan badan jalan sebagai tempat parkir terjadi di hampir semua wilayah Indonesia. Ada yang menengarai, pelanggaran undang-undang jalan dan lalu lintas ini dapat terjadi secara nasional, lantaran terdapat ‘uang besar’ yang  beredar di sekitar lahan-lahan perparkiran tersebut.

PD Parkir Makassar Raya, dalam tahun 2012 menargetkan pendapatan sebanyak sekitar Rp 9 miliar, setelah tahun 2011 berhasil mencapai target yang ditetapkan Rp 7 miliar lebih. Saat ini ditetapkan tarif sekali parkir untuk R2 Rp 1.000 dan R4 Rp 2.000 Tapi, pihak Lembaga Sertifikasi Profesi Manajemen Keuangan menyebut, target pendapatan Rp 9 miliar dari lahan perparkiran Kota Makassar tersebut terlalu kecil.

Dalam hitungan mereka, dari potensi kendaraan R2 dan R4 di Kota Makassar saat ini, jika 40 persen saja melakukan sekali parkir sehari dalam 700-an titik parkir yang ada, maka seharusnya bisa diperoleh pendapatan sampai Rp 155 miliar setahun. Bocor? ‘’Dari hitung-hitungan kami, seharusnya pendapatan parkir di Kota Makassar bisa lebih besar dari apa yang ditargetkan selama ini,’’ kata Bastian Lubis, pimpinan Lembaga Sertifikasi Profesi dan Manajemen Keuangan tersebut. Nah….(Mahaji Noesa)