Posts Tagged ‘bugis’

Sudah puluhan tahun menjalankan bisnis sebagai pedagang obat keliling, namun H Abd Wahid M tidak mendaftarkan diri sebagai anggota organisasi Persatuan Penjual Obat Seluruh Indonesia (Perposi). Maklum, pria kelahiran 21 April 1957 asal Welado, kabupaten Bone, Sulawesi Selatan tersebut bukan tipe pedagang obat seperti yang sering berkoar-koar di kaki lima.

H Abdul Wahid/Ft: Mahaji Noesa

H Abdul Wahid/Ft: Mahaji Noesa

‘’Saya memang sudah puluhan tahun hampir tiap hari berkeliling ke pasar-pasar tradisional yang terdapat di sekitar kota Kendari, Sulawesi Tenggara menyalurkan obat-obat dibutuhkan masyarakat tapi bukan sembarang obat, melainkan obat-obat generik bebas untuk umum yang terdaftar dengan harga relatif terjangkau,’’ aku Sang Haji ketika dijumpai di kediamannya, Powatu, kota Kendari, Rabu (19/11/2014) siang.

Masyarakat pedagang serta pengunjung setia pasar tradisional khususnya pasar rakyat Abeli Sawa, Pohara, Batu Gong, dan Paku Jaya sudah sangat akrab dengan sosok H. Abd Wahid. Mereka sudah mengenal suami dari Hj Jastian, S.Ag sejak pasar-pasar tradisional tersebut masih merupakan bagian dari wilayah Kota Madya Kendari, belum masuk wilayah administrative Kabupaten Konawe, seperti sekarang.

Menurut kakek dari 8 cucu tersebut, lantaran akrabnya dengan warga seputar pasar-pasar tradisional tersebut, dirinya juga sering dititipi pelanggannya untuk membelikan obat-obat paten khusus sebagaimana diresepkan dari dokter.

‘’Tanpa ada tip khusus selama ini saya sering layani titipan mereka. Pesanan obat itu saya belikan di apotek-apotek yang ada di kota Kendari, kemudian saya berikan saat saya datang berjualan di pasar-pasar yang minimal saya kunjungi sekali dalam seminggu. Sejuk rasanya dapat kepercayaan dan mampu melayani permintaan kebutuhan pelanggan seperti itu,’’ kata pengurus komite sekolah selama 18 tahun dan menjadi ketua Komite Sekolah selama dua periode yang masih dijalani sampai sekarang di SMA Negeri 6 kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara.

Haji Abdul Wahid ketika belajar jurnalis TV/Ft: dok

Haji Abdul Wahid ketika belajar jurnalis TV/Ft: dok

Sebelum terjun ke profesi sebagai penyalur obat keliling yang didasari prinsip dengan menyediakan kebutuhan obat keperluan warga merupakan bagian dari pekerjaan berguna membantu manusia, H Abd Wahid bergerak di dunia kontraktor. Dimulai tahun 1977 bersentuhan dengan kegiatan kontraktor mengerjakan Perumahan Transmigrasi di Tinanggea. Tahun 1985 ikut kegiatan di CV Bintang Raya Kendari, sebagai pengawas. Kemudian selama 7 tahun menjadi Direktur CV kemudian berubah menjadi PT Cahaya Petir Bumi Permai dengan mengerjakan proyek-proyek fisik bernilai ratus-ratus juta.

Namun nurani alumnus sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Sungguminasa, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan tahun 1975 ini berontak setelah merasakan lika-liku dunia konstruksi yang ditekuni. ‘’Ibarat pipa, jadi kontraktor itu banyak bocor-bocornya,’’ ujar Pembina Badan Pengajian Mesjid Babussalam di kecamatan Ponggolaka (d/h. Tobuha) kota Kendari.

Sebelum berbisnis menggunakan mobil menyalur obat keliling pasar rakyat, H. Abd Wahid juga serius menekuni berbagai organisasi sosial kemasyarakatan serta pernah terjun di dunia politik dan pers.

Pernah selama 20 tahun menjadi Ketua RT di kelurahan Ponggolaka (d/h. Tobuha). Tahun 1976 jadi kader partai PPP di kota Kendari. Tahun 1987 bergabung di Golkar. Tahun 1998 tampil sebagai deklarator pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di kota Kendari.

Sebelumnya, mantan Wakil Sekretaris KNPI kota Kendari ini, tahun 1987 menjadi Sekretaris dan Wakil Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor kota Kendari. Dalam kiprah dan prestasinya membina organisasi NU tersebut H Abd Wahid sejak 2012 hingga sekarang dipercaya menjadi pengurus wilayah Nahdhatul Ulama (NU) Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sejak tahun 2002 hingga saat ini H. Abd Wahid adalah Pengurus Ikatan persaudaraan Haji (IPH) di kota Kendari. Dia juga selama dua periode pernah mendapat kepercayaan sebagai Pengurus DDI Provinsi Sulawesi Tenggara. Dan, sampai sekarang juga dipercaya sebagai Ketua Komite SD 1 Mandonga. Bahkan juga pernah terlibat dalam kegiatan jurnalis di majalah kriminal Fakta terbitan Surabaya, SK Target, dan suratkabar Timur Indonesia terbitan lokal di kota Kendari.

Anda tahu, ayah dari 4 orang anak (2 meninggal dunia) ini sejak tahun 1999 hingga saat ini merupakan salah seorang penyuluh agama dan juru da’wah NU yang tercatat di Kantor Kementerian Agama kota Kendari. Lantaran itu, selain mempunyai jadwal setiap Jumat bertugas sebagai khatib di mesjid dalam wilayah kota Kendari, H Abd Wahid juga seringkali harus menangani acara ritual keagamaan secara Islam, seperti untuk acara pernikahan, doa syukuran, hingga urusan kematian mulai penanganan memandikan jenazah hingga pemakaman serta mengisi ceramah tazzia.

Bahkan pernah, ceritanya, dia dipanggil mendoakan seseorang yang sudah tiga hari dalam kondisi sekarat dan bertindak ‘aneh-aneh’ selalu ingin telanjang. ‘’Alhamdulillah………setelah memohon ampunan dari Allah yang bersangkutan dapat berpulang dengan tenang,’’ jelas H Abd Wahid.

Pekerjaan sebagai penyalur obat, penyuluh agama dan juru da’wah itu yang kini ditekuni H.Abd Wahid. Dia setiap hari usai shalat subhuh rutin meninggalkan kediamannya meluncur dengan mobilnya membawa berbagai jenis obat generik ke pasar-pasar tradisional. Dia sudah menyusun jadual lokasi yang akan dikunjungi maupun acara yang akan dihadiri setiap hari. Jika hari Jumat, memilih mengunjungi pasar rakyat terdekat, karena adanya kewajiban menjadi khatib di mesjid yang sudah dijadualkan di kota Kendari.

Pengkhotbah yang tetap menjunjung falsafah leluhurnya dari Tana Bugis yaitu Resopa Temmanginggi Naiya Naletei Pammase Dewata (artinya: Hanya dengan kerja keras rakhmat Tuhan akan diperoleh) dijuluki banyak warga sebagai bukan pedagang obat sembarangan. ‘’Saya sangat menyukai pekerjaan yang dapat memberi manfaat buat banyak orang,’’ ujarnya. (Terposting di Kompasiana, 19 Nopember 2014)

Gambar

Pentas I La Galigo/Sumber foto: jendelasastra.com

Pembacaan puisi panjang berjudul ‘The Birth of I La Galigo’ (I La Galigo lahir) oleh seniman dan penyair senior Sulsel H.Udhin Palisuri, menandai hari pertama dibukanya ‘Dialog Akhir Tahun’ yang digelar selama tiga hari (25-27/12/05) oleh Badan Koordinasi kesenian Indonesia (BKKI) kota Makassar di gedung kesenian Sulsel Societeit de Harmony.

Puisi yang menggambarkan hubungan percintaan yang sakral, suci, dan mulia antara Sawerigading dan I We Cudai tersebut sempat mengheningkan suasana di antara riuh peserta – terdiri atas seniman, budayawan, dan akademisi, dialog hari pertama yangmembahas seputar pentas I La Galigo versi Robert Wilson.

Tiga nara sumber yangdijadikan sebagai pengantar dialog, masing-masing Moh Salim, Halilintar, dan Rahman Arge berhasil menggugah emosi peserta untuk tampil menyampaikan tanggapan, saran, maupun kritik.

Paling menarik, muncul sorotan bahwa pertunjukkanyang digali dari naskah Bugis kuno yang telah berusia 7 abad itu, dan belakangan berhasil diangkat ke pentas dunia internasional dalam bentuk teater musikal oleh Robert Wilson –sutradara ternama asal Amerika yang pernah berkolaborasi dengan Louis Vuitton dalam pentas ‘Fluo Monogram Vernis’ serta Giorgio Armani untuk Karya Instalasi, dinilai miskin filosofi.

Gambar

Pentas I La Galigo/Sumber foto:cabiklumik.blogspot.com

Namun menurut Rahman Arge, Robert Wilson adalah manager cerdas karena berhasil menjual I La Galigo ke masyarakat manca negara. Meskipun Robert Wilson secara gamblang menyatakan bahwa I La Galigo yang disuguhkan dalam bentuk teater musikal tersebut hanya terinspirasi dari naskah I La Galigo.

‘’Jadi baginya, soal apakah teater musikal I La Galigo yang disuguhkan itu tanpa harus memperlihatkan filosofi yang dikandung dalam cerita I La Galigo, bukan yang utama, tapi bagaimana ia dapat mengangkatnya dalam suguhan teater kolaborasi – teater entertaiment dengan pesona pancaran teknologi, dan ia berhasil untuk itu di pentas dunia internasional,’’ katanya.

Kita harus bangga ujar Arge, lantaran melalui olah kreasi Robert Wilson, maka cerita I La Galigo asal Sulawesi Selatan ini mampu diperkenalkan ke dunia internasional.

i La Galigo

I La Galigo versi lukisan Bachtiar Hafid, Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Arge mengakui, dalam pertunjukkan teater I La Galigo versi Robert Wilson, filosofi yang menjadi pandangan orang Bugis khususnya dalam kaitan kesemestaan yang bersumber dari dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah seperti dalam cerita I La Galigo, tak ditemukan. Elemen-elemen teaterikalnya diangkat dalam bentuk parsial.

‘’Mestinya ada pelebaran makna dengan aroma lokal. Namun begitu, lewat pentas I La Galigo versi Wilson, ada pelajaran berharga yang bisa dipetik, yaitu melalui kesenian dengan idiom-idiom lokal sebenarnya juga kita bisa menciptakan lokal globalisasi,’’ katanya.

Pendapat semakna, dikemukakan H. Udhin Palisuri, salah seorang seniman asal Sulsel yang ikut menyaksiukan pertunjukkan pentas seni kontemporer I La Galigo versi Robert Wilson di Teater Tanah Airku Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta dengan biaya sendiri. Tidak santun rasanya, katanya, menghadapi Robert Wilson tanpa memberi ruang kepada apresiasi, kepada etika serta kejujuran makhluk yang bernama seniman memandang kesenian.

‘’Robert Wilson datang dan ia berbuat. Sebagai sutradara ia memiliki tanggung jawab moral dan etika untuk menghargai tradisi dan menghormati adat. Dari tangannya I La Galigo menjadi milik dunia. Menjadi milik siapa saja yang menghormati leluhur, adat, dan tradisi, serta budayanya. Ia sanggup memunculkan tokoh legende Bugis kuno di tengah arus peradaban modern, di zaman globalisasi yang serba canggih,’’ tandas Udhin Palisuri, meyakinkan.

Setelah I La Galigo versi Robert Wilson berhasil memukau pentas di Singapura, sejumlah kota di daratan Eropa, Amerika, dan Jakarta. Menurut rencana, tahun ini akan tampil dalampertunjukkan besar di sejumlah kota di Benua Australia. Namun sebelum melanglang di wilayah Kanguru itu, menurut rencananya, akan dipentaskan di kota Makassar yang merupakan bagian dari wilayah kampung halaman I La Galigo.

Jika Robert Wilson masih mengabaikan filosofi dari cerita mitologi Bugis yang aslinya bernarasi 6.000 halaman dalam pertunjukkan selama ini, maka menurut Rahman Arge, menjadi kewajiban para seniman Sulsel yang senantiasa dilibatkan dalam pertunjukkan I La Galigo oleh Robert Wilson untuk mengingatkannya.

‘’Seniman Sulsel yang ikut dalam setiap pertunjukkan Wilson, jangan hanya jadi batu catur, tapi sebaiknya bisa menjadi sumber dialogis untuk Wilson agar bisa lebih memperhatikan unsur filosofi dari cerita I La Galigo dalam pertunjukkannya yang kini selalu dinanti masyarakat dunia,’’ katanya.

Untuk peralatan penataan cahaya pertunjukkan I La Galigo versi Robert Wilson saja, menurut Udhin Palisuri, modalnya sudah mencapai Rp 3,4 miliar. ‘’Ini suatu keberhasilan, kemampuan mengangkat cerita lokal menjadi bernilai tinggi dan diminati di pentas dunia. Luar biasa!’’ Katanya. (Mahaji Noesa, Tabloid Mingguan DEMOs, Makassar, Edisi No.331 Thn VIII/Minggu I, Januari 2006. Hal.4)

Gambar

Nisan Hulu Keris di komplek Makam Jera Lompoe, Soppeng, Sulawesi Selatan/Foto:google-mugniarm.blogspot.com

Selain kuburan-kuburan batu yang menjadi salah satu daya tarik kunjungan wisatawan mancanegara ke Tana Toraja, wilayah Sulawesi Selatan sebenarnya memiliki banyak makam atau kuburan tua yang unik dari segi bentuk maupun penampilannya.

Di Tosora Kabupaten Wajo, misalnya, terdapat sejumlah kuburan yang nisannya menggunakan meriam (jagur) yang dipasang terbalik. Sejumlah makam tua di Binamu Kabupaten Jeneponto ditandai bukan memakai nama asli tapi menggunakan nama gelaran orang yang dimakamkan di kuburan tersebut.

Dalam komplek makam kuno Jera Lompoe di Kabupaten Soppeng, ada sebuah makam yang nisannya dibuat berbentuk hulu Badik (keris). Dan inilah satu-satunya makam di Provinsi Sulawesi Selatan yang menggunakan bentuk hulu Badik, senjata tradisional khas leluhur suku Bugis-Makassar.

Hingga saat ini, masih banyak yang belum mengetahui jika komplek makam tua yang berlokasi di Kelurahan Bila, sekitar 2 km dari Kota Watansoppeng, ibukota Kabupaten Soppeng tersebut merupakan salah satu makam kuno kalangan raja-raja dan keturunannya tempo dulu.

Bahkan komplek makam Jera Lompoe seluas 85 x 75 meter itu, sejak 6 Nopember 1981 diresmikan sebagai salah satu Taman Purbakala di Provinsi Sulawesi Selatan. Namun, komplek makam ini hanya terlihat ramai dikunjungi peziarah menjelang bulan puasa (ramadhan), hari raya Idul Fitri dan Idul Adha setiap tahun. Di luar hari-hari tersebut, komplek makam kuno tersebut tampak lengang dari peziarah.

Syekh Abdul Manan

Nisan Hulu Keris di makam Syekh Abdul Manan di Kel.Banggae, Majene, Sulawesi Barat/Foto:google-arkeologi-makassar.com

Kehadiran makam Jera Lompoe di Soppeng diperkirakan mulai abad ke-17, setelah ajaran Islam menyebar ke wilayah Soppeng. Hal itu dapat dilihat dari posisi makam yang keseluruhannya mencirikan cara pemakaman jenazah orang beragama Islam yaitu membujur arah utara – selatan.

Dugaan itu pun diperkuat dengan salah satu makam yang nisannya bertulisan arab : ”Allah Lailaha Illallah Muhammadarrasulullah.” Meskipun, makam ini sampai sekarang belum bernama, belum diketahui siapa sesungguhnya yang dimakamkan di situ. Inilah salah satu dari dua makam di komplek makam tua Jera Lompoe yang nisan di bagian kakinya terbuat dari batu berbentuk hulu Badik (keris) polos tanpa ukiran.

Sedangkan makam satunya, yaitu kuburan Panglima Perang Kerajaan Soppeng, Watanglipu La Mataesso, nisan di arah kaki dengan ukuran agak besar berbentuk hulu badik (keris) berukir indah. Demikian dengan nisan di bagian arah kepala menyerupai gada juga berukiran mozaik yang menawan.

Makam Datu Soppeng ke-16, La Tenribali merupakan yang terbesar di komplek makam Jera Lompoe. Bersisian dengan makam istrinya Tenri Kawareng. Di samping makam Raja Soppeng ke-28, Datu La Mappapoleonro, terdapat makam istrinya Tenriawaru yang juga adalah Pajung (Raja) Luwu ke-23. Pajung Luwu ke-23 ini dilantik menjadi Raja Soppeng ke-29 menggantikan kedudukan suaminya ketika meninggal dunia.

Dalam komplek pekuburan tua ini juga terdapat makam Adatuan Sidenreng (raja dari wilayah Sidenreng-Rappang) berdampingan makam istrinya, Tenriallu Arung Mapalu.

Melihat sejumlah makam raja dan keluarganya yang berasal dari wilayah di luar Soppeng yang juga terdapat di komplek makam tua Jera Lompoe tersebut, para pengamat sejarah dan kepurbakalaan sejak lama menunjuknya sebagai fakta otentik bahwa orang-orang di Sulsel sejak masa lampau telah berupaya menghidupkan benih persatuan dan kesatuan yang kemudian menjadi modal utama terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian juga dengan nisan berbentuk hulu keris di komplek makam Jera Lompoe yang merupakan satu-satunya dapat dilihat di wilayah Provinsi Sulsel. Dari bentuk nisan itu dapat ditelusuri untuk dijadikan bukti kuat kemungkinan telah terjadinya komunikasi pemerintahan dan kebudayaan yang erat antara raja-raja di wilayah Bugis-Makassar (Sulawesi Selatan) dengan raja-raja di wilayah Mandar (Sulawesi Barat) sejak masa silam.

Pasalnya, bentuk nisan berhulu Badik (keris) yang terdapat di komplek makam Jera Lompoe Kabupaten Soppeng (Sulsel) juga bentuk nisan yang sama dapat dilihat di sejumlah makam tua, seperti di komplek makam Mara’dia Pamboang, makam Kaaba, makam Kubang, makam Puang Rambang, makam Nenek Ular, dan makam Nenek Roso yang ada di wilayah Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 19 Januari 2011)

Gambar

Penonton jadi penari dadakan pun tak terbakar ketika disulut obor (Foto: Istimewa)

Tubuh disulut nyala api tak terasa panas, pakaian yang dikenakan pun tak terbakar. Mengherankan tapi nyata. Kejadian seperti ini bukan sekedar potongan cerita lama dari kesaktian para jawara dalam rimba persilatan masa lalu, tapi masih berlangsung sampai sekarang dalam salah satu komunitas penari ‘Pepe-pepeka Ri Makka’ di Kota Makassar.

Tarian bernuansa magis tersebut, merupakan salah satu warisan asli nenek moyang Indonesia masa lalu yang masih dimainkan secara turun temurun oleh warga Paropo di bilangan wilayah Panakkukang, Kota Makassar.

Konon tarian ini mulai ditampilkan sebagai bagian dari hiburan dalam pesta-pesta rakyat seperti sunatan, upacara hajatan atau upacara perkawinan pada masa pascapendudukan penjajah kolonial Belanda, khususnya di perkampungan rakyat Paropo dan sekitarnya. Saat ini Paropo sudah menjadi salah satu bagian dari wilayah Panakkukang sebagai kawasan pemukiman dan perdagangan yang berkembang pesat di Kota ‘Metropolitan’ Makassar.

Gambar

Arca Pepe’pepeka ri Makka di anjungan Bugis-Makassar, Pantai Losari, kota Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Umumnya penari Pepe-pepeka Ri Makka terdiri atas beberapa orang laki-laki tua dan muda. Tampak tak ada gerakan baku dari tarian ini, kecuali para penari berbaris teratur ketika tampil ke pentas, berputar-putar sambil bersenandung khas dalam bahasa Makassar. Masing-masing penari pun seolah diwajibkan membuat gerakan-gerakan jenaka yang dapat mengundang gelak tawa penonton. Misalnya, ada penari yang berjalan mencontohkan gerakan seekor kera,berjalan terpincang-pincang, menggeleng anggukkan kepala bak lelaki renta, atau mendelik-delikkan mata sambil menjulur-julurkan lidah bagai orang kepedasan.

Dari dulu hingga sekarang para penari tak ada yang mengabdikan diri khusus sebagai penari Pepe-pepeka Ri Makka. Para penari yang kebanyakan masih punya hubungan keluarga, umumnya bekerja sebagai buruh serabutan, sebagai tukang kayu, tukang batu, penjual ikan atau penjual sayur keliling.

Dari perbincangan yang pernah saya lakukan dengan sejumlah penari Pepe-pepeka Ri Makka mengakui, sudah pernah ada upaya untuk mengajarkan tari ini ke orang luar melalui Sekolah Tari di Kabupaten Gowa. Namun, para penari di luar komunitas warga Paropo selalu saja merasa kepanasan apabila sampai ke adegan disulutkan api obor yang menyala ke tubuh mereka.

Padahal, katanya, dalam latihan-latihan rutin tari yang biasa dilakukan di kalangan mereka tak ada diajarkan mantera khusus anti api. Ada nyanyian-nyanyian yang ditampilkan sejak awal pertunjukan kedengarannya seperti pembacaan mantera, tetapi itu semua tak lain adalah semacam pantun-pantun jenaka dalam bahasa Makassar yang dimaksudkan untuk menggelitik kelucuan penonton. Seperti penyebutan kata ‘Pisang berbuah Emas’ dalam bahasa Makassar. ‘’Mana ada pisang berbuah emas,’’ katanya.

Nyanyian pengiring seperti ‘’Pepe-pepeka ri Makka lenterayya ri Madina Ya Allah Paroba Sai Na Takakbere dunia….dst’’ Selama ini sering diintreprestasikan penonton sebagai ucapan mantera anti apinya Nabi Ibrahim AS yang disadur dalam bahasa Makassar. Padahal, menurut sejumlah pemain, kalimat-kalimat itu hanya pengulangan dari apa-apa yang sudah pernah diucapkan secara spontan ketika melakukan tarian Pepe-pepeka Ri Makka oleh para penari terdahulu. ‘’Kita ulang-ulang karena menarik, di samping sering ada kalimat-kalimat lucu yang diucapkan setiap kali pertunjukan,’’ katanya.

Namun begitu, menurut sejumlah penari, tidak semua orang di Paropo dapat diikutkan dalam tarian Pepe-pepeka Ri Makka. Dari latihan-latihan yang dilakukan secara berkala di komunitas warga Paropo, para penari dipilih yang juga mampu memainkan alat musik seperti rebana, gong, gendang dan katto-katto sebagai pengiring tarian. Para pemain yang terdiri minimal dari 6 orang pria umumnya tampil dengan kostum pakaian adat Makassar dengan memakai destar di kepala. Pertunjukan dipimpin seseorang yang dituakan oleh komunitas penari.

Saat ini diakui, sangat jarang sekali orderan Tari Pepe-pepeka Ri Makka untuk pertunjukkan hajatan dari masyarakat umum. Belakangan, permintaan kebanyakan datang untuk pertunjukan-pertunjukan resmi yang dilakukan oleh pihak pemerintah terutama dalam event-event yang berkaitan dengan acara kepariwisataan. Termasuk untuk sejumlah pertunjukan keseniaan asal Sulawesi Selatan yang dilakukan di luar negeri.

Dalam pertunjukkan Kesenian Sulawesi Selatan di acara ‘South Sulawesi Colors’ (19 Maret 2011), tari Pepe-peka Ri Makka ikut dipertunjukkan di Stadium MBJB – Johor Bahru, Malaysia. Wakil Menteri Besar Johor, Tuan Jama’ Bin Johan dan Presiden Persatuan Kebajikan Ekonomi Bugis Malaysia yang juga Direktur Ugik Technologie, Lokman Junit ikut dilibatkan dalam tari Pepe-peka Ri Makka. Tubuh keduanya disulut sejumlah api obor, tak terbakar, dan bahkan terlihat santai-ria menikmati tarian api tersebut. Sekitar 4000-an penonton takjub menyaksikan kejadian ini.

Selain pemain, para penonton seringkali dilibatkan dalam adegan penyulutan api obor di pertunjukan tarian Pepe-pepeka Ri Makka. Sulit dipercaya, sulutan api tak membakar kulit tubuh dan pakaian, tapi itulah kenyataan dalam klimaks pertunjukkan tarian Pepe-pepeka Ri Makka. Suatu tarian asli Indonesia di Makassar yang butuh perhatian pembinaan, termasuk melalui pelestarian komunitasnya. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 06 Mei 2011)

Gambar

ilustrasi buaya/Foto:riset google – bushwarrios.org

Seorang anak seketika dapat menjadi batu apabila berbuat dosa terhadap ibu kandungnya. Begitu inti cerita rakyat ‘Malin Kundang Si Anak Durhaka’ dari wilayah Sumatera Barat.

Cerita tersebut sampai tahun 70-an masih terasa begitu kuat menyebarkan pesan moral terhadap anak-anak di Indonesia untuk berbakti kepada kedua orangtua, terutama untuk menghormati dan menyayangi ibu yang melahirkannya.

Ada masa anak-anak Indonesia dadanya gentar bernasib seperti tokoh Malin Kundang Si Anak Durhaka yang dalam ceritanya karam menjadi batu, bersama kapal, isteri, pengikut serta semua harta bawaannya. Kisah tersebut diperkuat dengan adanya lokasi berupa batu yang menyerupai orang bersujud yang disebut sebagai lokasi tempat tenggelamnya Si Malin Kundang di pesisir pantai Sumatera Barat .

Sekarang dunia anak-anak di Indonesia telah berubah. Selain cerita yang berisi pesan-pesan moral sowan terhadap ibu dan bapak kian hari makin terasa langka. Anak-anak kelihatannya sudah tak lagi membuka ruang di kepala bagi kisah yang dikaitkan dengan dongeng atau cerita rakyat yang berlatar alam masa lalu.

‘’Cerita omong-kosong. Masa ada orang Indonesia dulu dapat melompat setinggi lebih 10 meter, sedangkan sekarang tidak bisa pecahkan rekor dunia tak lebih 3 meter di arena olah raga lompat tinggi,’’ komentar salah seorang anak usia SMP di Kota Makassar, suatu ketika usai menyaksikan sebuah film berlatar dunia persilatan masa lalu di Indonesia.

Ruang pikir anak-anak sekarang umumnya menginginkan contoh nyata. Kesakralan menghormati ibu oleh anak-anak sekarang tidak lagi seperti dulu yang hanya untuk bertutur saja suara dijaga agar tidak lebih keras melebihi suara ibu. Sekarang, sudah cukup banyak kejadian mutakhir yang sempat terekam, anak-anak tak hanya berani berlaku tak sopan, tapi dalam banyak peristiwa justru telah tega menyakiti ayah dan ibu kandungnya sendiri secara fisik.

Padahal cerita malapetaka menimpa anak-anak yang berdosa kepada orang tuanya, terutama ibunya bukan hanya ada dalam dongeng atau cerita rakyat seperti kisah Malin Kundang Si Anak Durhaka. Di dalam ajaran-ajaran agama ada tuntunan agar anak-anak selalu menghormati atau berbakti kepada orang tua, terutama memberikan perhatian dan kasih sayang yang tinggi kepada ibu yang melahirkannya jika ingin hidup sukses dan bahagia.

Sebenarnya banyak pengalaman dan kisah nyata lainnya masa kini yang belum terungkapkan, bagaimana malapetaka yang menimpa anak yang berdosa kepada orang tua terutama ibunya. Sebaliknya juga, cukup banyak kehidupan sukses dan membahagiakan didapatkan seorang anak yang selalu menyayangi sekaligus mendapat restu dari ibunya.

Akan tetapi kisah-kisah nyata mutakhir seperti itu tak banyak yang dapat disusun dalam bentuk cerita yang memberikan pesan moral secara dini kepada anak-anak agar dapat selalu berbakti kepada kedua orang tua terutama terhadap ibu kandung yang melahirkannya. Tuhan memberikan begitu banyak kekuatan kepada seorang ibu yang dapat ditularkan langsung untuk kebahagian hidup bagi anak-anak yang dilahirkannya.

Salah satu kisah nyata bagaimana pertolongan Tuhan menyertai restu seorang ibu terhadap anaknya dalam keadaan genting sekalipun, dialami seorang paman saya. Sehari-hari saya memanggilnya dengan Om Rahman. Berperawakan tinggi besar. Dalam usia 20-an tahun dia sudah bergabung sebagai seorang militer. Masih terbilang muda ketika dia bertugas sebagai tentara di Kota Parepare. Kala itu suasana masih kacau dengan gangguan gerombolan DI/TII di seluruh Sulawesi Selatan, termasuk di Kota Parepare.

Makanya, menurut cerita si Om Rahman, yang masuk bergabung sebagai tentara saat itu bukan sembarang orang. Maksudnya, orangnya harus berani, punya nyali yang kuat, dan biasanya yang punya ‘ilmu bawaan’ seperti kebal terhadap benda tajam atau kulitnya dari luar tak dapat disentuh jenis besi logam apapun.

‘’Saya diberi sebuah doa-doa dari ayah sebelum meninggal. Saya sering membacanya ketika ada perang. Pernah ketika mendaratkan helikopter, kata banyak orang saya ditembaki bertubi-tubi oleh gerombolan, tapi semua saya tidak rasa,’’ katanya.

Om Rahman, adalah anak tunggal yang ayahnya sudah meninggal dunia ketika dia masih berusia sekitar 10-an tahun. Dia hidup dan dibesarkan oleh ibunya hingga bergabung menjadi tentara di Kota Parepare.

Sejak peristiwa penembakan ketika membawa pesawat helikopter, dia dikenal oleh kerabat dan masyarakat di lingkungannya sebagai orang kebal peluru. Tapi, dia sendiri berkali-kali menyatakan tidak kebal. Hanya karena sasaran tembak belum mengenainya sehingga peluru tidak menembus dirinya.

Pembawaan sehari-harinya, jika bicara selalu dibesarkan. Selalu tak mau kalah dalam debat. Mungkin karena image orang-orang dia kebal, apa yang dibicarakan sekalipun sebenarnya hanya guyonan selalu dianggap benar. Pembawaan seperti itu diistilahkan ‘Orang Borro’ di wilayah Bugis-Makassar. Lagipula dia mengaku suka gonta-ganti pacar di masa-masa awalnya bertugas sebagai tentara.

Suatu ketika di sebuah gedung bioskop di Kota Parepare, sekelompok orang bercerita berbagai hal mengenai buaya. Ke-Borro-an Om Rahman muncul, katanya, setelah mendengar cerita tersebut.

‘’Soal buaya, nih orangnya. Panggil saja saya kalau ada buaya yang mau ditangkap,’’ katanya dengan suara keras. Orang-orang yang mendengar semua terdiam, yakin jika Om Rahman punya ilmu menangkap buaya, selain memiliki ilmu kebal. Padahal menurut Om Rahman, soal buaya itu, dia hanya bercanda.

Setelah bicara begitu, diapun larut ke perut gedung untuk menonton film sore hari bersama pacarnya. Namun ketika film belum mulai, dari pengeras suara di balkon gedung bioskop ada panggilan untuk Om Rahman untuk menangkap seekor buaya yang lagi mendarat di tepi sebuah sungai di Parepare.

Mendengar panggilan itu, Om Rahman menyatakan, ketika itu kepalanya bagai disambar petir. Dia berkesimpulan inilah hari semua kesombongannya sebagai ‘Orang Borro’ akan segera berakhir. Tapi sebagai seorang lelaki Bugis-Makassar sekalipun sebenarnya seluruh hati, jantung dan parunya (seperti bahan baku coto Makassar saja.. hahaa…) sudah copot, tapi dia tetap melangkah tegar.

Dia kemudian mengecek apakah benar ada buaya atau hanya bohong-bohongan. Ternyata, di tepi sungai memang sudah ratusan orang yang berkumpul menonton buaya berukuran besar tengkurap di tepi sungai. Dalam kegalauan pikiran, Om Rahman menyatakan, meminta diri untuk sesaat kembali ke rumah mempersiapkan diri.

Setiba di rumah Om Rahman langsung menangis meraung menjatuhkan diri di pangkuan ibunya. ‘’Hari ini ajal saya sudah tiba,’’ katanya kepada ibunya yang terkejut melihat tingkah anaknya yang lunglai hari itu.

‘’Ada apa,’’ tanya ibunya.

‘’Saya baru bicara bohong kepada orang dapat menaklukkan buaya, ternyata kemudian ada buaya naik dari sungai dan disuruh menangkapnya,’’ jelas Om Rahman, seperti dikisahkannya kembali.

‘’Kalau tak mau mati, jangan kau pergi menangkapnya,’’ kata ibunya.

‘’Tapi saya malu kalau tidak melakukannya,’’ timpal Om Rahman.

‘’Pilih mana, malu atau mati dimakan buaya,’’ kata ibunya lagi.

Om Rahman tetap meraung. Namun, dalam keadaan sulit mengambil keputusan, ibunya lalu mewanti-wanti. ‘’Jika memang kau mau menangkap buaya itu, pergilah tapi lakukan dengan berhati-hati,’’ ujar ibunya.

Beberapa saat kemudian, dengan berbekal sebuah sangkur bayonet, Om Rahman melangkah ke lokasi buaya yang makin dipadati orang. Sesampainya di tepi sungai, Om Rahman layaknya orang tak punya takut mendekat ke tempat buaya yang sedari tadi berdiam tak bergerak. Detik berikut, secara tak terduga buaya bergerak mengibas.

‘’Saya tidak tahu bagaimana kejadiannya yang berlangsung begitu cepat, saya sudah terbaring di lumpur tepi sungai, berada dibawa perut buaya. Saya memeluk erat buaya tersebut, lalu tangan kanan saya menikamkan sangkur ke badan buaya tersebut. Beberapa saat saya terus menghunjamkan sangkur ke tubuh buaya itu. Saya mulai sadar ketika terdengar teriakan orang-orang yang menonton dan ada yang mengatakan buayanya sudah mati. Ketika saya coba menggoyang-goyang, ternyata buaya yang menindih dalam pelukan saya itu tak bergerak lagi. Ketika saya mendorong, buaya terlempar. Saya segera berdiri dari genangan lumpur bercampur darah buaya, lalu secepatnya berjalan naik dari tepi sungai. Buaya itu ternyata sudah mati. Saya masih sempat ‘Borro’ mengatakan kepada orang-orang sekitar, bahwa saya masih bisa melawan seratus buaya seperti ini. Orang-orang ramai berteriak-teriak dan bertepuk tangan gembira. Sebuah mobil lalu mengarak saya keliling Kota Parepare, dielu-elukan seperti petinju yang menang dari suatu pertandingan bergengsi. Setiba di rumah saya memeluk dan mencium ibu yang wajahnya tak terlihat diliputi rasa khawatir sedikitpun. Dari situ saya berjanji untuk segera pindah tugas keluar dari Kota Parepare. Saya takut kalau-kalau ada lagi buaya muncul lantas saya dipanggil untuk menangkapnya. Sebulan kemudian saya pindah bertugas ke Kota Makassar dan sampai pensiun tidak pernah lagi kembali tugas ke Parepare. Dari peristiwa ini, membuat saya jadi orang yang tidak Borro lagi, dan memahami adanya kekuatan luar biasa diberikan Tuhan kepada setiap ibu untuk disalurkan bagi keselamatan dan kebahagiaan anak-anaknya dalam meniti kehidupan ini,’’ papar Om Rahman dalam suatu kesempatan bercerita dengan mata tampak berkaca-kaca. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 15/12/2011)

Gambar

Tulisan City of Makassar di anjungan baru pantai Losari Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Anjungan Metro dan anjungan Bugis – Makassar di Pantai Losari Makassar, sebagaimana direncanakan sebelumnya, kini sudah siap untuk diresmikan Jumat, 21 Desember 2012.

Kedua anjungan ini berada di sayap selatan Pantai Losari, luasnya sekitar 4 hektar. Sejak Kamis (20/12) pagi tampak warga Kota Makassar silih berganti berdatangan di kedua anjungan yang telah dibuka pagar seng yang menutupinya selama dalam pengerjaan beberapa bulan terakhir.

Di anjungan Metro ujung paling selatan Pantai Losari terdapat 20 patung tarso sejumlah pahlawan dan tokoh terkenal di Sulsel. Patung-patung wajah tersebut ditata dalam design taman yang menawan. Bersambung dengan anjungan ini, di arah utara mesjid terapung Amirul Mu’minin terdapat anjungan Bugis-Makassar. Pelatarannya dihiasai asesori patung perahu phinisi, patung becak, patung pa’raga, dan patung atraksi tari pepeka ri makka.

Gambar

Tulisan Bugis di anjungan Bugis – Makassar Pantai Losari/Foto: Mahaji Noesa

Pelataran kedua anjungan ini sudah dibuka bersambung dengan anjungan utama di bagian tengah Pantai Losari. Bahkantelah pula dihubungkan dengan pelataran anjungan Toraja – Mandar di arah utara Pantai Losari. Meskipun anjungan Toraja –Mandar ini baru akan dirampungkan secara keseluruhan dalam tahun 2013.

Selain terdapat tulisan Bugis dan Makassar, di kedua anjungan  yang menurut rencana akan diresmikan mantan Wakil Presiden RI, M.Jusuf Kalla, Jumat (21/12) besok, terdapat tulisan City of Makassar berukuran besar terbuat dari beton.

Gambar

Anjungan Metro yang dilengkapi taman patung tarso di Pantai Losari/Foto: Mahaji Noesa

‘’Indah sekali.  Tak puas rasanya hanya dua jam berjalan dari anjungan utara ke anjungan selatan Pantai Losari,’’ kata Herman, pengusaha asal Jakarta yang Kamis (20/12) pagi asyik bersama 6 orang rombongannya berpotret-ria dengan latar tulisan City of Makassar di Pantai Losari.

Pascapereresmian mesjid  terapung Amirul Mu’minin, anjungan Metro dan anjungan Bugis-Makassar diperkirakan Pantai Losari dengan wajah barunya akan dipadati pengunjung pada pagi dan malam hari hingga malam 31 Desember 2012. Apalagi mulai 23 Desember 2012 hingga 6 Januari 2013 seluruh siswa di Kota Makassar dalam masa berlibur.

‘’Desain dan penataan anjungan Pantai Losari yang indah dan menawan saat ini sangat cocok sebagai tempat rekreasi maupun sebagai lokasi untuk olah raga santai bersamai seluruh anggota keluarga,’’ ujar Ningsih, warga Jl. Mongisidi, Kota Makassar, Kamis (20/12) di anjungan utama Pantai Losari.

Baca juga:

Memunggungi Senja di Losari

Gambar

Lukisan Bachtiar Hafid

Secara tak sengaja beberapa hari lalu saya menemukan beberapa lembaran majalah tua  Warta Sulsel. Ini adalah majalah internal yang pernah diterbitkan oleh pihak DPRD Provinsi Sulsel saat diketuai oleh dr.H.B Mappangara. Penerbitan perdana majalah ini dilakukan di percetakan Harian Merdeka Jl. AM Sangaji, Jakarta tahun 1989.

Waktu itu, saya bersama Udhin Palisuri yang menyiapkan semua materi tulisan, foto, serta melay-out majalah Warta Sulsel Edisi Perdana yang memuat laporan utama tentang ‘Pengwilayahan Komoditas’  dengan gambar sampul, Gubernur Sulsel  Prof.DR H.A Amiruddin. Mess Pemda Sulsel yang berlokasi di daerah Menteng, Jl. Yusuf Adiwinata, Jakarta, dijadikan Posko selama sepekan untuk urusan penerbitan perdana majalah tersebut.

Selama bergabung  di urusan keredaksian Warta Sulsel hingga tahun 1994, banyak kenangan manis bekerjasama dengan Udhin Palisuri, Ajiep Padindang, Elyas Yoseph, Goen Monoharto, Nurhayana Kamar, Ilyas Syamsuddin, Kaharuddin Tokkong, Abd.Madjid, Muannas, Jupriadi, Nasrayanti, Saparudddin, Sabollah, Budi Palisuri, Aris Mandji, dan banyak lagi bekas kru Warta Sulsel lainnya.

Paling berkesan, saya yang kala itu belum terlalu paham bahasa Bugis mendapat tugas untuk mengisi rubrik ‘Pesan Leluhur’ yang selalu diletakkan pada halaman paling akhir Warta Sulsel. Seperti namanya, rubrik  Pesan Leluhur berisi kutipan pesan-pesan leluhur dari para leluhur Sulawesi Selatan yang bersumber dari berbagai catatan lontara, kebanyakan dalam Bahasa Bugis.

Berbagai buku referensi yang pernah mencatat pesan-pesan leluhur Bugis-Makassar pun dikumpulkan. Kemudian pesan-pesan itu dikelompokkan dalam satu tema tertentu untuk disajikan setiap penerbitan.  Rubrik Pesan Leluhur yang saya asuh tersebut ternyata kemudian menjadi  salah satu ciri yang disukai banyak  pembaca  Warta Sulsel. Ratusan penerbitan Warta Sulsel memuat pesan-pesan leluhur Bugis-Makassar. Oplag Warta Sulsel mencapai 6.000-an eksamplar tiap edisi. Wilayah edar seluruh kantor pemerintah di Sulsel termasuk ke perpustakaan-perpustakaan SD di Sulsel.  Saya sendiri tidak punya dokumentasi lengkap majalah Warta Sulsel yang memuat pesan-pesan leluhur tersebut.

Berikut salah satu sajian Pesan Leluhur diberi tema ‘Tidak Semua Gampang Diatur’ yang termuat di halaman 78, Warta Sulsel Edisi No.83, Juli 1993/II:

Semua bisa diatur! Kalimat pendek ini, belakangan sering kita dengar diucapkan orang secara lantang, sehubungan adanya berita-berita tentang ‘calon’ yang diarahkan untuk menggantikan kedudukan sejumlah bupati di Provinsi Sulsel yang sudah akan berakhir masa jabatannya tahun ini.

Gambar

Dok. Majalah Warta Sulsel

Kita tidak tahu persis apakah ucapan tersebut bermuatan penyindirin atau sekadar jawaban basa-basi atas permasalahan tersebut. Yang pasti, dari sejumlah pesan-pesan leluhur orang Sulsel, tidak satupun yang menyatakan persoalan-persoalan pemerintahan maupun kemasyarakatan yang timbul dapat dengan mudah diatur menurut kehendak para pemimpin yang berkuasa.

Sininna gau’E namadeceng narekko matatrette’i (bhs.Bugis)

Artinya: ‘’Semua hal baru akan baik apabila teratur.’’

Begitu pesan Arung Matoa Sangkuru yang tercatat dalam Lontara Andi Makkaraka Ranreng Betetempola. Semua jadi baik jika teratur, dalam hal ini, tidak sama artinya dengan kalimat ‘’semua bisa diatur’’.

Dan, untuk itu dipesankan:

1.Mengenali hal buruklalu ditinggalkandan memahami kebaikan untuk dikerjakan.

2.Mengenali yang tak mungkin dan memahami yang mungkin.

3.Mengenali yang tak pantas dan memahami yang pantas.

4.Mengenali yang curang dan memahami kejujuran.

Simpulannya, kita diajak untuk mengenal hal-hal yang patut dihindari dan memahami apa yang baik yang seharusnya diperbuat. Dalam bahasa Bugis, pesan-pesan Arung Matoa Sangkuru tersebut, sebagai berikut:

Issengngi maja’E mutettangngi mupenessaiwi decengnge mupogau’i.

Issengngi tancajie namupanessaiwi jajie.

Issengngi temmakkuwae namupanessaiwi makkuwae.

Issengngi macekoe namupanessaiwi malempu’e.

Kemudian dalam memnghadapi persoalan-persoalan yang rumit sekalipun, langkah yang harus diambil menurut pesan leluhur Bugis yang diabadikan oleh H.Andi Ninong:

Lalo bekka’ temmakkasape’

Artinya: Sesak lolos tak merobek.

Maksudnya: Untuk menyelesaikan suatu persoalan, usahakan, kalau dapat, tak ada yang merasa dikorbankan. Paling tidak, penyelesaian dapat menekan sedikit mungkin terjadinya pengorbanan.

Dalam kaitan dengan kedudukan atau jabatan tinggi, Laboulu dalam lontara kumpulan Andi Pabarangi, mengatakan:

Aja’ muangowai onrong,  aja’ to muacinnai tanre tudangeng, de’tu muullei padecengi tana. Risappa’po muompo’, rijello’po muakkengau.

Artinya: ‘’Janganlah menyerakahi kedudukan, jangan pula terlalu mengingini jabatan terlalu tinggi, kau takkan sanggup memperbaiki negara. Kalau dicari baru akan muncul, kalau ditunjuk baru kau menerima.’’

Maksudnya: Menurt A.Hasan Machmud dalam buku “silasa’ yang disusunnya, lontara ini mengisyaratkan, bahwa pada dasarnya semua orang mencita-citakan kedudukan yang tinggi, tetapi terkadang takdir membawa ke arah lain. Tapi, katanya, jika keserakahan menjadi titik tolak suatu cita-cita, maka dalam perjalanan mencapainya unsur moral akan dikesampingkan. Lebih-lebih lagi kalau ditunjang oleh kekuasaan. Sebaliknya, seseorang yang beritikad baik pada umumnya mempunyai harga diri, ia tidak akan mengemis jabatan dengan mengorbankan harga dirinya.

La Tenribali, bekas Arung Cinnotabbi V, menyangkut kekuasaan pemimpin, sejak berabad silam, tepatnya ketika pendiri Kerajaan Wajo ini mengusulkan agar Boli diganti dengan Wajo, berkata:

Arungnge temmasolompawo, wanuae temmangellepasang, naia riwenru’e ade’ mapangnge namacinnong maritikiti’ namadeceng malebbang naripada molai mappaolangngi nariakkitangi ri Dewata Seuae.

Artinya: ‘’Raja tidak akan memerintah laksana air mengalir dari hulu ke muara. Sebaliknya rakyat tidak akan memaksakan kehendaknya bagaikan air pasang memukul pantai. Yang kita bentuk sebagai hukum adat ialah bersih jernih bewrkilauan yang dapat berlaku luas terhadap semua orang, kta sama taati lebih dahulu kemudian menyuruh rakyat menaatinya pula.’’

Duh, betapa damainya tentu, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, jika mutiara pemikiran La Tenribali tersebut masih dapat diaktualisasikan. Kalimat ‘semua bisa diatur’ tentunya pula tak perlu menerpa pendengaran dan rongga-rongga permasalahan. (Mahaji Noesa/Warta Sulsel  Edisi No.83 Juli 1993/II).