Posts Tagged ‘buto’

4 bastion

Sejumlah bastion di benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Memasuki obyek wisata sejarah dan purbakala seringkali pengunjung tertarik dapat melihat langsung kondisi atau benda-benda sejarah dan purba yang masih berada di lokasi. Fort Rotterdam masih punya banyak tinggalan utuh seperti dicatat sejarah pada masanya. Kecuali hal angker dan mistis yang sering ditakutkan pengunjung jika berada di situs-situs tua tak akan dijumpai di lokasi benteng peninggalan masa kerajaan Gowa ini.

Sejumlah ruang sekitar bastion Amboina yang disebut-sebut pernah dijadikan penjara dan tempat penyiksaan para tawanan di masa kolonial, justeru sudah lama dijadikan bagian dari ruang kerja aparat sipil negara Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar. Gedung bastion Bacan yang dilabeli sebagai bekas ruang tahanan Pangeran Diponegoro dan keluarganya di Fort Rotterdam tahun 1834 hingga 1855, justeru telah dipugar dengan ruang-ruang cerah.

Bangunan rumah kecil berbentuk teduhan makam di gundukan lokasi bastion Buton, areal sekitarnya hampir setiap hari ramai dijadikan sebagai lokasi pelatihan seni dan kursus percakapan bahasa asing oleh komunitas-komunitas remaja.

10kendaraan parkir

Bastion Bacan yang pernah dijadikan sebagai ruang tahanan Pangeran Diponegoro dalam Benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Tidak ada tempat yang angker di komplek Fort Rotterdam. Begitu penegasan banyak aparat Balai Pelestarian Cagar Budaya yang setiap hari berkantor menggunakan banyak gedung buatan masa kolonial di Fort Rotterdam. Guna meyakinkan, ada yang menunjuk beberapa ruang di lantai atas bangunan bastion Mandarsyah sudah cukup lama dijadikan sebagai mess, penghuninya tidak pernah ada yang kesurupan dan semacamnya. Kondisi aman seperti itu juga diungkap, dirasakan bagi mereka yang sering nginap di sejumlah ruang di gedung sisi kiri depan bastion Buton.

Justeru sebuah tiang bendera besi peninggalan masa lalu di atas gundukan areal bastion Bone, terlalu sering dikunjungi warga dari berbagai kabupaten di Sulsel sebagai tempat lokasi bernazar.

‘’Doa dan permintaan yang baik sering cepat terkabulkan jika diucapkan di sekitar tiang bendera ini,’’ jelas seseorang dari rombongan penazar saat ditemui beberapa waktu lalu di gundukan bastion Bone.

ba50

Bagian belakang bangunan bastion Buton di benteng Fort Rotterdam/Foto : Mahaji Noesa

Nama-nama bastion yang telah disebutkan, merupakan bagian dari pengubahan dilakukan pihak kolonial setelah menguasai benteng buatan leluhur bangsa Indonesia tersebut. Terdapat 5 bastion dibuat guna memperkuat posisi dan konstruksi benteng sebagai markas komando sekaligus pusat pertahanan.

Bastion dikokohkan dengan pembuatan gundukan susunan batu alam serta timbunan tanah sejajar tembok benteng di 4 sudut berbentuk lancip. Model pembuatan saluran pembuangan air tempo dulu yang terukur, terlihat sebagai penjamin areal bastion-bastion setinggi 6 meter selama lebih 3 abad hingga kini masih awet, tidak pernah terendam atau digenangi air saat musim hujan.

Terdapat 3 bastion di dinding bagian barat benteng Fort Rotterdam. Bastion Buton di sudut kanan (utara), Bastion Bone di tengah dan bastion Bacan di sudut kiri (selatan). Di dinding bagian timur terdapat bastion Mandarsyah di sudut sebelah kiri (utara) dan bastion Amboina di sudut kanan (selatan). Penamaan bastion oleh pihak kolonial, menggunakan nama wilayah kerajaan yang berhasil ditaklukkan atau dibujuk kerjasama. Bagian dari taktik kolonial untuk memecah belah kekuatan serta persatuan antarkerajaan di nusantara, kala itu.

6 sumur

Sumur-sumur tua dalam benteng Fort Rotterdam/Foto: Mahaji Noesa

Catatan sejarah yang kemudian pernah di-sassus-kan ada semacam negeri-negeri seteru di masa kolonial, seharusnya sudah lenyap. Perlu keluasan pemahaman wawasan kebangsaan untuk mengobarkan semangat abadi bela Negara. Antara lain, dapat dihidupkan melalui penjelasan mendalam dan intensif terhadap kesejarahan. Semua raja serta generasi muda dari semua daerah telah menyatakan mendukung perjuangan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, 17 Agustus 1945. Penghianat bangsa sekarang adalah para koruptor, yang harus diperangi.

Keberadaan 5 areal bastion bersudut lancip itulah yang membuat dinding benteng dari atas bagai bentuk seekor kura-kura sedang merayap ke pantai Selat Makassar. Bastion Bone ibarat kepala kura-kura, bastion Bacan dan bastion Buton sebagai kaki depan. Bastion Mandarsyah dan bastion Amboina sebagai kaki belakang.

Saat ini 3 gundukan areal bastion di dinding barat benteng, setiap sore hari cerah tampak selalu ramai dipenuhi warga, didominasi kalangan muda untuk menikmati keindahan perguliran matahari senja di hamparan laut Selat Makassar.

Bastion-bastion di Fort Rotterdam memiliki jalan penghubung dibuat semacam parit bertrap terlindung menempel di dinding benteng bagian dalam. Pengunjung dapat berkeliling menyusur dinding benteng Fort Rotterdam melalui parit-parit tersebut. Berjalan menapak parit dapat mengenang kepanikan tentara kolonial bergerak dari bastion ke bastion yang dahulu disebut-sebut sekaligus menjadi tempat konsentrasi penembakan meriam-meriam jagur untuk menghalau serangan lawan, terutama berasal dari pihak kerajaan Gowa sebagai pemilik benteng.

Sejarah mencatat, banyak bangsawan kerajaan Gowa tidak setuju dengan Perjanjian Bungaya, 18 Nopember 1667, yang juga isinya menyerahkan benteng ke pihak kolonial. Sejumlah bangsawan memilih meninggalkan wilayah kerajaan dan melakukan perlawanan. Tersebut, antara lain, nama bangsawan Gowa, Karaeng Bonto Langkasa kerjasama Aru (Raja) Sengkang, La Maddukelleng, April 1739, memimpin penyerangan ke benteng Fort Rotterdam yang telah dikuasai kolonial. Sekalipun hanya dalam tempo sekitar 3 bulan dapat menguasai situasi, karena pihak kolonial kemudian mampu memukul mundur mereka dalam pertempuran 17 Juli 1739.

Selain bastion, terdapat 4 terowongan pendek tinggalan lama yang masih utuh, dapat disaksikan di Fort Rotterdam. Tiga terowongan berfungsi sebagai jalan penghubung dari areal benteng ke parit pertahanan yang menghubungkan antarbastion. Di antaranya terowongan yang menerobos bangunan di bastion Buton, terowongan menerobos bangunan dekat pintu gerbang di arah timur dinding benteng, dan terowongan di sekitar bastion Amboina. Terowongan yang satunya berlekuk leher angsa sehingga dari luar sepintas terlihat bagai lorong buntu. Terowongan ini dahulu merupakan jalan keluar masuk pintu gerbang utama di arah timur benteng yang kini ditutup karena di bagian luar terhempang bangunan pemukiman penduduk.

 

Juga masih ada 6 sumur tua sebagai sumber air tawar yang hingga kini masih dapat dilihat terpencar dalam komplek benteng Fort Rotterdam. Pelukis mantan pengasuh acara ‘Mari Menggambar’ di TVRI Makassar, Bachtiar Hafid, mengaku pernah menyimpan air yang diambil dari sumur tua di depan bangunan bastion Mandarsyah, diisi dalam sebuah botol plastik. Selama lebih tiga bulan air tersebut terlihat tetap bening, tidak berlumut.

Aneka sensasi, selain 4T-5B-6S, berkaitan dengan peristiwa sejarah dan ihwal kepurbakalaan dapat dirasakan jika berkunjung ke benteng Fort Rotterdam. Areal benteng masih merupakan ruang meditatif yang cukup baik memaknai keagungan peradaban maupun kegigihan perjuangan leluhur masa silam, guna menapaki perjalanan hari-hari ke depan bangsa lebih cemerlang. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kompasiana, Januari 2016)

Gambar

Peta kabupaten Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara/sumber: google-informasi-wakatobi.blogspot.com

Seorang teman, sepulang dari perjalanan di wilayah Kabupaten Wakatobi yang memiliki Taman Laut terindah di dunia, justru berulangkali bercerita mengenai nikmatnya K-Suami yang pertama kali diketahui dari para penjual makanan ringan di Pelabuhan Wanci, ibukota Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

K-Suami (Baca: Kasuami) adalah nama salah satu makanan tradisional masyarakat di Kepulauan Tukang Besi, terdiri atas Pulau Wanci, Kaledupa, Tomia dan Pulau Binongko yang populer dengan singkatan akronim Wakatobi.

Makanan tradisional tersebut sudah ada sejak tempo dulu. Menurut ceritanya, tatkala sarana transportasi laut masih terbilang terbatas beroperasi menghubungkan jalur ke Wakatobi dengan wilayah lainnya, K-Suami justru dijadikan makanan pokok masyarakat setempat.

Maklum, ubi kayu merupakan salah satu tanaman yang cukup bersahabat mudah tumbuh di daratan pulau-pulau karang yang terhampar di perairan Laut Banda ini. Ubi kayu itulah yang menjadi bahan baku utama pembuatan K-Suami.

Tanaman ubi kayu yang berasal dari daratan Benua Amerika ini, konon mulai berkembang di Indonesia pada tahun 1835 (Kompas, 06/01/2011). Tapi sejak kapan dan siapa yang membawa bibit tanaman yang berkembang biak dengan batangnya ini ke Wakatobi, belum diketahui secara pasti.

Ada yang menyebut, kemungkinan tanaman ini sudah ada di Wakatobi sejak masa pelayaran bangsa Portugis ketika menjelajahi pulau-pulau di kawasan timur Indonesia dalam abad XVI – XVII. Pulau-pulau di Wakatobi merupakan bagian dari rute pelayaran bangsa Portugis pada masa lalu.

Tanaman ubi kayu sangat disenangi oleh warga di Wakatobi, lantaran dapat dengan mudah tumbuh sekalipun ditanam di atas gumpalan-gumpalan sedikit tanah di antara bongkahan batu-batu karang yang menjadi bagian terbesar daratan kepulauan di Wakatobi.

Menurut cerita penduduk dari wilayah Wakatobi, pada awalnya tanaman ubi kayu yang dikembangkan di daerah tersebut adalah jenis ubi berasa pahit. Ubi kayu pahit, mengandung zat beracun asam sianida lebih dari 100 ppm (Kompas, 06/01/2011).

Kasuami-1

Kasuami berbentuk kerucut, kuliner khas dari Wakatobi/Ft: Google-shnews.co

Masyarakat wilayah Wakatobi sejak dahulu telah paham bahwa ubi kayu pahit tersebut berbahaya jika dikonsumsi secara langsung. Tidak dapat direbus atau digoreng kemudian langsung dimakan– seperti ubi kayu biasa (ubi kayu yang tidak pahit).

Mungkin, dari pengetahuan kondisi seperti itu, sehingga masyarakat di kepulauan Wakatobi dahulu berupaya mengolah potensi ubi kayu pahit yang mudah tumbuh di daratan karang Wakatobi untuk dijadikan makanan pokok yang kemudian disebut sebagai K-Suami.

Cara membuat K-Suami sangat sederhana. Pertama-tama, ubi kayu dikupas dibuang kulitnya, kemudian diparut. Hasil parutan ubi kayu tersebut kemudian dibungkus dengan kain atau semacamnya dalam bentuk segi empat ukuran minimal 20 x 20 cm dengan ketebalan antara 7 sampai 8 cm. Bungkusan kotak-kotak segi empat yang berisi hasil parutan ubi kayu tersebut, lalu dijepit– dipress atau ditindis dengan beban yang berat sehingga zat air yang dikandungnya semua terperas menetes keluar melalui pori-pori kain pembungkusnya. Makin lama dilakukan proses penindisan semakin baik.

Biasanya, kotak-kotak bungkusan parutan ubi kayu itu ditindis minimal selama 24 jam, hingga parutan ubi kayu tak mengandung zat air lagi. Bungkusan kemudian dibuka. Ubi kayu yang sudah dipres berbentuk segi empat disebut Lempe oleh orang-orang di Wakatobi. Jika hendak digunakan, lempe-lempe ubi kayu itu dihancurkan menjadi seperti tepung. Kemudian dikeringkan dengan cara menjemur di bawah terik matahari.

Lempe yang sudah dikeringkan itu kemudian dikukus hingga matang dan jadilah K-Suami yang siap disantap. K-Suami paling nikmat disantap menggunakan lauk ikan rebus.

Hingga saat ini wadah kukusan K-Suami warga di Kepulauan Wakatobi, kebanyakan masih terbuat dari anyaman daun kelapa yang berbentuk kerucut. Bentuk kerucut itulah yang sampai saat ini menjadi ciri khas bentuk makanan K-Suami dari kepulauan Wakatobi.

Dalam perkembangannya, K-Suami yang sebelumnya hanya dibuat untuk bahan pangan rumah tangga, kemudian diproduk untuk dijual ke umum meskipun secara terbatas hanya di pasar-pasar dalam wilayah Wakatobi. Selain dijual dalam bentuk makanan jadi K-Suami, banyak juga yang hanya menjual lempe-lempe bahan baku pembuatan K-suami.

Makanan K-Suami yang mengandung kaborhidrat seperti kandungan beras, ternyata saat ini sudah mulai menyebar ke luar wilayah kepulauan Kabupaten Wakatobi. Di Kota Kendari, ibukota Provinsi Sultra, misalnya kini sudah banyak penjual K-Suami. Pembelinya pun sudah meluas, diminati banyak warga suku-bangsa dari berbagai daerah lainnya.

Dilihat dari pola dasar pembuatan K-Suami, makanan tradisional asal Wakatobi ini sebenarnya dapat dikembangkan tak hanya sebagai alternatif pengganti makanan pokok beras. Akan tetapi, dapat dikemas menjadi semacam penganan khas jika diolah bentuk, ukuran dan rasanya. K-Suami dapat disajikan dalam tampilan kotak segi empat, bulat, atau dalam bentuk lain – tidak seperti model lamanya berbentuk kerucut. Rasanya juga, tentunya, dapat diperkaya. Apalagi ubi kayu yang kini dibuat sebagai bahan baku K-Suami tidak lagi dari jenis ubi kayu pahit. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 8 Januari 2011)