Posts Tagged ‘buton’

Gambar

Lukisan Karaeng Galesong/Sumber: riset Gooogle -linguafranca.info

Menurut Prof Dr Zainal Abidin Farid, pakar budaya Sulsel, selain jenis phinisi, Kerajaan Gowa memiliki ribuan perahu jenis Galle yang mempunyai desain cantik menawan, dikagumi pelaut-pelaut Eropa.

Konstruksi perahu galle bertingkat. Panjangnya ada yang mencapai 40 meter dengan lebar sampai 6 meter. Dalam Lontara Bilang Gowa- Tallo kepunyaan Andi Makkaraka Ranreng Bettempola (alm), perahu galle disebut sebagai perahu tumpangan raja dan pembesar-pembesar kerajaan.

Selain memiliki tiang layar yang besar , setiap galle dilengkapi pendayung 200 sampai 400 orang. Galle-galle tersebut masing-masing diberi nama secara khusus. Seperti I Galle Dondona Ralle Campaga, panjang 25 depa (kl.35 m). I Galle Inyannyik Sangguk dan I Galle Mangking Naiya, masing-masing memiliki panjang 15 depa (kl.27 m). I Galle Kalabiu, I Galle Galelangan, I Galle Barang Mamase, I Galle Siga, dan I Galle Uwanngang, masing-masing memiliki panjang 13 depa (23 m).

Betapa besar serta kuatnya armada laut kerajaan Gowa, antara lain, dapat disimak juga dari catatan lontara. Bahwa pada 30 April 1655 Sultan Hasanuddin berkayuh ke Mandar untuk terus ke Kaili dikawal 183 perahu. Terdapat 450 buah perahu yang dipakai untuk mengangkut sekitar 15.000 lasykar kerajaan Gowa yang diberangkatkanpada bulan Oktober 1666 ke Pulau Buton, untuk menaklukkan negeri tersebut karena berpihak kompeni Belanda.

Melalui taktik adu domba – Devide et impera, kolonialis Belanda dapat menghancurkan kejayaan dan kekuatan armada kerajaan Gowa. Perjanjian Bongayya (Het Bongaisch Vedrag) yang berhasil dipaksakan untuk ditrandatangani oleh Sultan Hasanuddin pada 18 Nopember 1667, merupakan awal dari kemunduran dan kehancuran kerajaan maritim Gowa. Salah satu dari isi perjanjian yang merugikan pihak kerajaan Gowa, secara jelas menyatakan membatasi pelayaran dan perdagangan orang-orang Makassar.

Lantaran itu, sejumlah panglima dan prajurit kerajaan Gowa menampik ‘Perjanjian Bongayya’ tersebut.,  dengan tetap melakukan perlawanan terhadap kompeni Belanda. Diantaranya, tersebut nama Karaeng Bontomarannu dan Karaeng Galesong. Keduanya memilih berjibaku melakukan perlawanan terhadap kompeni Belanda.

Karaeng Bontomarannu oleh pihak kompeni Belanda sering dipanggil dengan sebutan Monto Marano adalah putra Karaeng Summanna. Putra berdarah bangsawan kerajaan Gowa ini,pada masa kekuasaan Sultan Hasanuddin (1653 – 1669) mendapat kepercayaan sebagai laksamana – mengawasi kelancaran perhubungan laut dan kapal-kapal dagang kerajaan Gowa yang melakukan pelayaran di perairan Maluku mulai dari Laut Flores di sebelah selatan ke Laut Banda, Laut Buru, dan Laut Maluku. Karaeng Bontomarannu membawahi dua raja sebagai wakilnya, yakni Raja Luwu dan Sultan Bima.

Berkekuatan 70 armada perahu membawa lebih dari 20.000 prajurit kerajaan Gowa, Karaeng Bontomarannu meninggalkan perairan Makassar menuju Pulau Jawa. Banyaknya prajurit kerajaan Gowa bersedia mengikuti perjalanan laksamana tersebut, lantaran dalam rombongan ikut serta Karaeng Galesong.

Karaeng Galesong adalah putra Sultan Hasanuddin. Nama aslinya I Manindori. Kelahiran 29 Maret 1655, dari ibu yang bernama I Lokmo Tobo.

Rombongan bergerak ke Banten (Jawa Barat) dengan maksud untuk meminta bantuan pada Sultan Agung Tirtayasa. Dalam perjalanan yang dipimpin Karaeng Bontomarannu dan Karaeng Galesong, mereka memerangi setiap kapal kompeni Belanda yang ditemui di Selat Madura, Gresik, Tuban hingga memasuki perairan Banten.

Ketika terdengar kabar terjadi perang antara Trunojoyo dengan Susuhunan (Raja) Mataram, Amangkurat I yang pro kompeni Belanda pada tahun 1672 di Jawa Timur, kedua bangsawan kerjaan Gowa ini tergerak membawa pasukannya meninggalakna Banten untuk memberikan bantuan kepada Trunojoya di jawa Timur.

Dalam perjalanan ke Jawa Timur mereka dihadang oleh armada perang Belanda. Ketika terjadi pertempuran di perairan laut Semarang, Karaeng Bontomarannu gugur. Tapi perjalanan ke arah Jawa Timur terus dilakukan dengan dipimpin oleh Karaeng Galesong. Di Jawa Timur lasykar Makassar lalu bergabung dengan pasukan Trunojoyo melawan pasukan gabungan Amangkurat I dengan kompeni Belanda.

Lasykar Makassar di bawah pimpinan Karaeng Galesong pada tahun 1675 berhasil menguasai tempat-tempat strategis di sepanjang Selat Madura, Pasuruan, Besuki, dan Surabaya.

Beberapa kali Susuhuna Mataram secara khusu mengerahkan prajurit perang untuk mengusir lasykar Makassar pimpinan Karaeng Galesong  yang membantu Trunojoyo, tapi mereka harus mundur akibat mendapat perlawanan sengit.

Kerjasama lasykar Karaeng Galesong dengan pasukan Trunojoyo di Jawa Timur menarik perhatian pimpinan kompeni Belanda di Batavia (Jakarta). Bantuan pasukan pundikirim untuk membantu pasukan Amangkurat I melawan lasykar Karaeng Galesong dan Trunojoyo. Akibatnya, sejumlah armada pasukan Karaeng Galesong berhasil dihancurkan, demikian pula menguasai kembali sejumlah tempat-tempat strategis.

Namun kemudian, pasukan Trunojoyo mampu mengambil alh tempat-tempat strategis yang diduduki pasukan Amangkurat I dibantu pihak kompeni di Jawa Timur. Perlawanan balik ini membuat Susuhunan Mataram bersama putra mahkotanya menambah kekuatan prajurit. Terjadilah pertempuran sengit pada 13 Oktober 1676, menimbulkan banyak korban di pihak Mataram. Termasuk sejumlah pembesar Mataram dan panglima Pangeran Purboyo tewas dalam pertempuran ini.

Dari Batavia kompeni mengirim pasukan perang dipimpin Speelman yang sebelumnya berhasil memporakporandakan kerajaan Gowa, untuk membantu Mataram di Jawa Timur. Sejumlah benteng pertahanan Trunojoyo dan Karaeng Galesong berhasil dilumpuhkan oleh pasukan Speelman.

Di lain sisi, pasukan Trunojoyo dibantu lasykar Makassar pada 2 Juli 1677 berhasil menduduki ibukota Mataram, Karta (Kraton Plered), menyebabkan Susuhunan Mataram, Amangkurat I melarikan diri dan tak lama kemudian wafat setelah menderita sakit.

Speelman yang berhasil menggalang kekuatan perang pada Nopember 1678 kemudian dapat menduduki Kediri, lokasi pusat pertahanan pasukan Trunojoyo. Trunojoyo sendiri berhasil lolos, melarikan diri dari serbuan pasukan Speelman.

Menyusul satu per satu kubu pertahanan lasykar Makassar di Jawa Timur berhasil ditaklukkan pasukan gabungan Mataram dan Speelman. Mereka melakukan pengepungan terhadap benteng pertahanan Karaeng Galesong yang terletak di Kapar (dekat Porong) selama 7 minggu. Dan, akhirnya pada 21 Oktober 1679 berhasil menerobos barikade pertahanan, dan menguasai benteng tersebut. Karaeng Galesong berhasil meloloskan diri dari pengepungan.

Pertempuran antara pasukan gabungan Mataram dengan kompeni melawan lasykar Karaeng Galesong di jawa Timur kian menjadi-jadi. Karaeng Galesong yang beristerikan Suratna (putri Trunojoyo) akhirnya tewas secara ksatria dalam suatu pertempuran sengit. Trunojoyo pada 27 Desember 1679 pun berhasil ditangkap, kemudian menjalani hukuman mati dengan tusukan keris.

Setelah perang Trunojoya (1676 – 1679) berakhir, sekitar 9.500 lasykar Makassar yang ada di Jawa Timur dikembalikan ke Makassar. Ketika kemudian Untung Srapati tampil melawan kompeni Belanda, masih terdapat sejumlah sisa lasykar Karaeng galesong yang belum kembali ke Makassar tampil bergabung bersama pasukan Untung Surapati di Jawa Timur. Semangat lasykar Makassar, ternyata tak pernah kendor untuk melawan kolonialis. (Mahaji Noesa/A.Hamzah Tuppu Patriot Bahari Titisan Galesong,2002)

Phinisi tiga tiang ketika melintas di perairan Manado tahun 2008/Foto:riset-noverdianto.multiply.com

Phinisi tiga tiang ketika melintas di perairan Manado tahun 2008/Foto:riset-noverdianto.multiply.com

Usai menonton satu session lomba perahu naga dalam acara Celebes Dragon Boat Festival 2012, pekan pertama Nopember 2012, seorang anak menyempatkan diri mengamati miniatur sebuah perahu phinisi yang masih dibungkus plastik, salah satu dari sejumlah asesori yang sedang dibuat di Pantai Losari, Makassar.

Dalam dialog kemudian dengan ayahnya, siswa madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) itu mempertanyakan miniatur perahu phinisi di anjungan Pantai Losari tersebut. ‘’Kenapa monumen perahu phinisi yang dibuat itu cuma dua tiang, padahal ada phinisi sampai punya tiga tiang,’’ katanya.

Berulangkali si ayah menjelaskan, bahwa yang namanya perahu phinisi, perahu khas nenek moyang orang Sulawesi Selatan, sejak dulu hanya memiliki dua tiang utama. Memiliki 7 layar, dua layar di tiang utama, dua layar ukuran kecil di atas layar tiang utama, dan tiga layar berderet di anjungan depan perahu.

Namun anak tersebut tetap ngotot, dan bahkan balik menjelaskan yang namanya perahu phinisi ada yang memiliki tiga tiang dengan sembilan layar. ‘’Saya pun terperangah ketika dia membuka sebuah blog di laptop, memunculkan sebuah foto perahu phinisi dengan tiga tiang utama,’’ kata Akhmad (49), ayah si anak.

Namun, pendapat berkembang banyak anak Indonesia tuna sejarah budaya, seni dan tradisi negerinya, tentu saja, tidak dapat serta merta ditimpakan kepada siswa tersebut. ‘’Dia menunjukkan bukti kepada saya, foto sebuah perahu phinisi bertiang tiga yang selama ini saya sendiri tidak pernah melihatnya,’’ ucap Akhmad.

Dalam penelusuran di google Rabu, (7/11), ditemukan blog noverdianto.multiply.com yang memuat sebuah foto berjudul ‘Phinisi di Manado’ diposting 16 Juni 2008, disertai keterangan, seperti berikut:

‘’Aku beruntung banget bisa moto kapal phinisi ini, bagus banget,apalagi awan saat itu mendukung banget. Setelah aku edit dikit ternyata hasilnya lumayan juga. Pas aku kasih foto ini ke orang2 manado masak gak ada yang percaya, katanya, mana ada kapal kayak gitu di manado,untung ada saksi yang orang sana,biar gak dikata boongan,hehe.

Kapal ini berbendera Indonesia, tapi anehnya, yang naek orang bule semua. Pas aku ngambil fotonya, eh mereka malah melambaikan tangan, ramah banget, sayank aku gak sempet naek ke atasnya,hehe’’

IMG00667-20121212-1627

Lukisan perahu Phinisi karya Bachtiar Hafid/Foto: Mahaji Noesa

Gambar phinisi tiga tiang itu, ternyata juga telah tersebar menghiasi sejumlah blog lainnya. Namun tidak diperoleh penjelasan lebih lanjut produk dari mana phinisi tiga tiang tersebut, dan dimana keberadaannya sekarang. Dari para pihak Sulawesi Selatan, tempat muasal perahu phinisi pun sampai sekarang tidak pernah terdengar ada komplain terhadap foto perahu tiga tiang yang disebut sebagai perahu phinisi.

Anak-anak sekarang bertanya-tanya tentang Phinisi, lantaran salah satu dari generasi terakhir perahu kebanggaan moyang Sulsel ini sudah jarang diproduksi, menjadi barang langka. Tidak lagi seperti cerita masa lalunya sebagai alat transportasi laut yang handal.

Pakar Perkapalan dan Trasnportasi Laut Unhas, Prof.Dr.M.Yamin Jinca mengakui, yang menjadi kebanggaan dari phinisi tradisional Sulsel sekarang sisa bentuk dan historisnya saja. ‘’Untuk dijadikan sebagai alat angkut dan transportasi laut tidak lagi efektif dan efisien,’’ katanya.

Alasannya, bentuk karakter barang sekarang sudah berubah, orang ingin jaminan keselamatan dan kecepatan dalam menggunakan alat angkut, hal seperti itu tidak dimiliki phinisi. Jika perahu tradisional ini dikembangkan untuk tujuan wisata, itupun dinilai terbatas karena pemakai pasti akan memperhitungkan faktor keselamatan diri atau barangnya. Perusahaan-perusahaan asuransi sampai sekarang tidak mau memberikan jaminan terhadap orang dan barang yang diangkut menggunakan phinisi.

‘’Maka, sebenarnya tidak ada masalah jika sekarang ada yang memodifikasi phinisi gunakan tiga tiang utama. Yang penting, diterima masyarakat karena merasa aman dan nyaman menggunakannya. Dalam hal perkapalan dan transportasi lalut kita harus dapat menerima perubahan sesuai tuntutan zaman, harus mampu mengadopsi perkembangan,’’ jelas Yamin Jinca.

Tak terdapat generasi baru perahu Sulsel, phinisi tradisional kebanggaan pelaut Bugis – Makassar pelan tapi pasti kini sedang berlayar menuju alam khayal. Paling tidak kedahsyatan kepemilikan armada perahu masa lalu di Sulawesi Selatan, generasi mendatang nantinya hanya akan menyimak melalui catatan-catatan lama. Seperti,antara lain, dikabarkan dalam Lontara Bilang Gowa. Bahwa pada masa Kerajaan Gowa ketika Sultan Hasanuddin  pada 30 April 1655 melakukan perjalanan laut ke Mandar terus ke Kaili dikawal 183 perahu. Sedangkan ketika ke Maros, 29 Desember 1659 dikawal 239 perahu, dan ke Sawitto (Pinrang) 8 Nopember 1661 dikawal 185 perahu. Terdapat 450 perahu mengangkut sekitar 15.000 lasykar Kerajaan Gowa ke Pulau Buton, Oktober 1666.

Dalam kondisi perahu-perahu tradisional akan tergusur tuntutan serta perkembangan alat transportasi laut, terngiang usulan sejumlah seniman Sulsel sejak beberapa tahun lalu, agar pemerintah Sulawesi Selatan mendirikan sebuah museum perahu yang mengabadikan berbagai bentuk dan jenis perahu yang pernah dimiliki masyarakat Sulsel.

Dari catatan lama diketahui, sebelum mengenal phinisi, Kerajaan Gowa tercatat pernah memiliki perahu jenis Galle yang dapat mengangkut pengayuh (pendayung) sampai 400-an orang. Perahu jenis ini ada yang panjangnya lebih dari 30 meter dengan lebar lambung sampai 6 meter. Salah satu perahu yang diberi nama I Galle Dondona Ralle Cappaga, misalnya, dicatat memiliki panjang 25 depa atau sekitar 35 meter.

Selain itu, masyarakat maritim Bugis – Makassar dahulu memiliki banyak jenis perahu yang dibuat berukuran lebih kecil, berfungsi sebagai alat angkut, pencari ikan, maupun keperluan pertahanan. Seperti perahu jenis Banawa khusus untuk mengangkut binatang ternak, perahu Pajala untuk  armada nelayan, jenis Palimbang untuk antarpulau. Dikenal pula jenis perahu Bilolang dan Biroang untuk pengangkutan jarak dekat. Sedangkan untuk keperluan pertahanan laut di masa kerajaan dikenal jenis perahu Binta dan Palari.

Beberapa waktu lalu masyarakat abad millenium pernah menatap langsung kehebatan phinisi mengarungi lautan besar dunia. Yakni, ketika phinisi Nusantara berhasil melakukan pelayaran dari pantai Makassar ke Vancouver, Canada tahun 1986. Menyusul pelayaran phinisi Padewakang ‘Hati Marege’ dari Makassar ke Benua Australia. Dan, pelayaran phinisi ‘Amanna Gappa’ dari Makassar ke pantai Madagaskar, Afrika, tahun 1991. Sayangnya, momentum tersebut setelah berlalu justeru makin menyepikan phinisi atau perahu sejenisnya di pantai-pantai Sulawesi Selatan.

Justeru, menurut Aji Nugraha, dari Forum Kajian ‘Biring Tamparang’, ide untuk membangun Museum Perahu Sulsel lebih smart dan brilian dibandingkan usulan membuat Museum Hewan di Kota Makassar. ‘’Museum perahu perlu, agar anak-anak sekarang tidak menjadi generasi tuna sejarah dan budayanya,’’ katanya. (Mahaji Noesa)