Posts Tagged ‘gambar’

a jejak bso11

Konstruksi dinding Benteng Somba Opu (BS0), bekas istana kerajaan Gowa yang dibangun dalam abad XVI (1545) tidak berbentuk persegi empat sebagaimana terdapat dalam catatan dan peta lama sejumlah bangsa asing. Termasuk dalam kenyataannya  tidak sama dengan peta lama BSO yang dilukiskan berbentuk segi empat panjang yang sekarang dipajang sebagai lukisan pantul di langit-langit museum Patingaloang di dalam areal BSO.

Bukti dinding BSO tidak berbentuk empat persegi panjang dapat dilihat secara kasat mata di puing bekas dinding BS0 bagian selatan. Sejak dilakukannya eskavasi (penggalian) tahun 1989 terhadap puing BS0 yang telah tertanam lebih 3 abad setelah dihancurkan pihak kolonial usai ditandatangani Perjanjian Bungayya tahun 1667 dengan Kerajaan Gowa, sebenarnya sudah terlihat hasil eskavasi dinding BS0 dengan ketebalan dinding sekitar 2 meter di arah selatan tidak dalam bentuk lurus tetapi berkelok-kelok menyerupai sejumlah huruf S yang sambung menyambung dalam beragam lekuk ukuran.

a jejak bso8Lekukan tersebut sekarang dapat ditelusuri dari sudut dinding barat benteng ke arah rumah adat Kajang, memutar museum Patingaloang, membelok ke arah Baruga Somba Opu, berkelok samping lokasi treep top, rumah adat Toraja dan Mamasa, seterusnya melengkung ke dinding BS0 arah timur yang berimpit dengan Taman Burung milik Gowa Discovery Park, menjadi bukti nyata bahwa dinding BS0 tidak berbentuk persegi empat.

Anehnya, hingga sekarang sejumlah data termasuk catatan Latar Historis dan arkeologi yang dipajang pihak terkait sebagai papan bicara di situs BS0 masih memaparkan bahwa berdasarkan hasil stilasi Francois Valentijn dan kemudian disempurnakan oleh Bleau dalam sebuah peta tahun 1638, dinding BS0 berbentuk segi empat panjang.

Berdasarkan hasil pemetaan praeskavasi pihak Suaka Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Sulselra tahun 1986, luas BS0 113.590 meter bujursangkar. Dinding benteng yang terbuat dari susunan batu bata dan batu padas saat dieskavasi umumnya sudah dalam kondisi hancur.

Hanya di bekas dinding BS0 bagian barat yang tampak masih ada sebagian dinding yang tegak tinggi sekitar 3 meter dengan ketebalan susunan batu bata selebar 3 hingga 4 meter. Konstruksi dinding melintang lurus arah utara – selatan.

a jejak bso4Sedangkan dinding BS0 di bagian timur dan selatan sudah dalam kondisi hancur tertimbun tanah namun masih terlihat alur dan susunan batu bata bekas kaki dinding benteng. Termasuk tampak jelas bekas kaki dinding benteng di arah selatan yang meliuk-liuk kemungkinan mengikuti kontur tepian sungai Garassi atau Binanga Barombong yang dahulu berimpit dengan dinding BS0 bagian selatan.

Sedangkan jejak dinding BS0 sebelah utara sama sekali tidak ditemukan hingga saat ini. Arah utara BS0 dahulu berbatasan dengan Sungai Jeneberang.

Hilangnya jejak bekas dinding BS0 di arah utara banyak yang menduga jika tergerus arus banjir sungai setelah dibombardir kolonial lebih dari 300 tahun lalu.

a jejak bso3Alur sungai Jeneberang di arah utara sudah ditutup dan dialihsatukan ke sungai Garassi sebelah selatan BS0 seiring dengan dilakukannya eskavasi BS0 tahun 1989. Bekas alur sungai Jeneberang di arah utara BS0 seluas lebih dari 110 hektar itulah yang kini menjadi Danau Tanjung Bunga dan masuk wilayah kelurahan Maccini Sombala, kota Makassar.

Bahkan situs BS0 arah utara dan barat kini sebagian besar telah menjadi area pemukiman. Kondisi terkini puing bekas dinding BS0 sebagian besar berlumut dan berantakan. Rumah-rumah adat etnis Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar yang dibangun di areal situs BS0 dalam masa kepemimpinan Gubernur Sulawesi Selatan Prof Dr HA Amiruddin Pabittei (alm) kini konstruksinya sudah banyak yang rusak.

Sejumlah rumah adat tampak banyak yang ditawarkan untuk dipersewakan dengan ditempeli nomor-nomor HP yang dapat dihubungi bagi yang hendak menggunakannya. Termasuk Baruga Somba Opu yang merupakan rumah adat etnik Makassar yang bangunannya dibuat lebih dari 100 tiang kini dalam kondisi mulai kumuh tak terpelihara. Demikian halnya rumah adat tradisional Gowa, Luwu, Bulukumba, Soppeng, Makassar, Sidrap, Toraja, dan Mamasa terkesan tidak terurus. Beberapa warung atau kios tampak bebas dibangun berimpit dengan bangunan-bangunan rumah adat.

a jejak bso2Sebagian besar jalan paving blok dalam areal BS0 terutama di arah barat telah rusak tak nyaman untuk dilalui berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan. Areal BS0 tidak mengesankan sebagai obyek kunjungan rekreasi, wisata atau taman yang dipelihara atau dikelola secara profesional.

Tanpa kepedulian para pihak atau perhatian khusus penanganan,  pemeliharaan dan pengembangan areal situs BS0 yang telah gagal dikembangkan sebagai Taman Miniatur Sulawesi (TMS) sebagaimana pernah dicanangkan sejarawan DR Mukhlis Paeni, maka secara pelan tapi pasti bukti jejak peradaban, bukti jejak sejarah kebesaran masa lalu di Sulawesi Selatan tersebut akan kembali tertimbun atau pupus oleh beragam musabab dan kepentingan lainnya. (Mahaji Noesa, tulisan ini telah diposting di kreport kompas.com 11 Agustus 2014)

Phinisi tiga tiang ketika melintas di perairan Manado tahun 2008/Foto:riset-noverdianto.multiply.com

Phinisi tiga tiang ketika melintas di perairan Manado tahun 2008/Foto:riset-noverdianto.multiply.com

Usai menonton satu session lomba perahu naga dalam acara Celebes Dragon Boat Festival 2012, pekan pertama Nopember 2012, seorang anak menyempatkan diri mengamati miniatur sebuah perahu phinisi yang masih dibungkus plastik, salah satu dari sejumlah asesori yang sedang dibuat di Pantai Losari, Makassar.

Dalam dialog kemudian dengan ayahnya, siswa madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) itu mempertanyakan miniatur perahu phinisi di anjungan Pantai Losari tersebut. ‘’Kenapa monumen perahu phinisi yang dibuat itu cuma dua tiang, padahal ada phinisi sampai punya tiga tiang,’’ katanya.

Berulangkali si ayah menjelaskan, bahwa yang namanya perahu phinisi, perahu khas nenek moyang orang Sulawesi Selatan, sejak dulu hanya memiliki dua tiang utama. Memiliki 7 layar, dua layar di tiang utama, dua layar ukuran kecil di atas layar tiang utama, dan tiga layar berderet di anjungan depan perahu.

Namun anak tersebut tetap ngotot, dan bahkan balik menjelaskan yang namanya perahu phinisi ada yang memiliki tiga tiang dengan sembilan layar. ‘’Saya pun terperangah ketika dia membuka sebuah blog di laptop, memunculkan sebuah foto perahu phinisi dengan tiga tiang utama,’’ kata Akhmad (49), ayah si anak.

Namun, pendapat berkembang banyak anak Indonesia tuna sejarah budaya, seni dan tradisi negerinya, tentu saja, tidak dapat serta merta ditimpakan kepada siswa tersebut. ‘’Dia menunjukkan bukti kepada saya, foto sebuah perahu phinisi bertiang tiga yang selama ini saya sendiri tidak pernah melihatnya,’’ ucap Akhmad.

Dalam penelusuran di google Rabu, (7/11), ditemukan blog noverdianto.multiply.com yang memuat sebuah foto berjudul ‘Phinisi di Manado’ diposting 16 Juni 2008, disertai keterangan, seperti berikut:

‘’Aku beruntung banget bisa moto kapal phinisi ini, bagus banget,apalagi awan saat itu mendukung banget. Setelah aku edit dikit ternyata hasilnya lumayan juga. Pas aku kasih foto ini ke orang2 manado masak gak ada yang percaya, katanya, mana ada kapal kayak gitu di manado,untung ada saksi yang orang sana,biar gak dikata boongan,hehe.

Kapal ini berbendera Indonesia, tapi anehnya, yang naek orang bule semua. Pas aku ngambil fotonya, eh mereka malah melambaikan tangan, ramah banget, sayank aku gak sempet naek ke atasnya,hehe’’

IMG00667-20121212-1627

Lukisan perahu Phinisi karya Bachtiar Hafid/Foto: Mahaji Noesa

Gambar phinisi tiga tiang itu, ternyata juga telah tersebar menghiasi sejumlah blog lainnya. Namun tidak diperoleh penjelasan lebih lanjut produk dari mana phinisi tiga tiang tersebut, dan dimana keberadaannya sekarang. Dari para pihak Sulawesi Selatan, tempat muasal perahu phinisi pun sampai sekarang tidak pernah terdengar ada komplain terhadap foto perahu tiga tiang yang disebut sebagai perahu phinisi.

Anak-anak sekarang bertanya-tanya tentang Phinisi, lantaran salah satu dari generasi terakhir perahu kebanggaan moyang Sulsel ini sudah jarang diproduksi, menjadi barang langka. Tidak lagi seperti cerita masa lalunya sebagai alat transportasi laut yang handal.

Pakar Perkapalan dan Trasnportasi Laut Unhas, Prof.Dr.M.Yamin Jinca mengakui, yang menjadi kebanggaan dari phinisi tradisional Sulsel sekarang sisa bentuk dan historisnya saja. ‘’Untuk dijadikan sebagai alat angkut dan transportasi laut tidak lagi efektif dan efisien,’’ katanya.

Alasannya, bentuk karakter barang sekarang sudah berubah, orang ingin jaminan keselamatan dan kecepatan dalam menggunakan alat angkut, hal seperti itu tidak dimiliki phinisi. Jika perahu tradisional ini dikembangkan untuk tujuan wisata, itupun dinilai terbatas karena pemakai pasti akan memperhitungkan faktor keselamatan diri atau barangnya. Perusahaan-perusahaan asuransi sampai sekarang tidak mau memberikan jaminan terhadap orang dan barang yang diangkut menggunakan phinisi.

‘’Maka, sebenarnya tidak ada masalah jika sekarang ada yang memodifikasi phinisi gunakan tiga tiang utama. Yang penting, diterima masyarakat karena merasa aman dan nyaman menggunakannya. Dalam hal perkapalan dan transportasi lalut kita harus dapat menerima perubahan sesuai tuntutan zaman, harus mampu mengadopsi perkembangan,’’ jelas Yamin Jinca.

Tak terdapat generasi baru perahu Sulsel, phinisi tradisional kebanggaan pelaut Bugis – Makassar pelan tapi pasti kini sedang berlayar menuju alam khayal. Paling tidak kedahsyatan kepemilikan armada perahu masa lalu di Sulawesi Selatan, generasi mendatang nantinya hanya akan menyimak melalui catatan-catatan lama. Seperti,antara lain, dikabarkan dalam Lontara Bilang Gowa. Bahwa pada masa Kerajaan Gowa ketika Sultan Hasanuddin  pada 30 April 1655 melakukan perjalanan laut ke Mandar terus ke Kaili dikawal 183 perahu. Sedangkan ketika ke Maros, 29 Desember 1659 dikawal 239 perahu, dan ke Sawitto (Pinrang) 8 Nopember 1661 dikawal 185 perahu. Terdapat 450 perahu mengangkut sekitar 15.000 lasykar Kerajaan Gowa ke Pulau Buton, Oktober 1666.

Dalam kondisi perahu-perahu tradisional akan tergusur tuntutan serta perkembangan alat transportasi laut, terngiang usulan sejumlah seniman Sulsel sejak beberapa tahun lalu, agar pemerintah Sulawesi Selatan mendirikan sebuah museum perahu yang mengabadikan berbagai bentuk dan jenis perahu yang pernah dimiliki masyarakat Sulsel.

Dari catatan lama diketahui, sebelum mengenal phinisi, Kerajaan Gowa tercatat pernah memiliki perahu jenis Galle yang dapat mengangkut pengayuh (pendayung) sampai 400-an orang. Perahu jenis ini ada yang panjangnya lebih dari 30 meter dengan lebar lambung sampai 6 meter. Salah satu perahu yang diberi nama I Galle Dondona Ralle Cappaga, misalnya, dicatat memiliki panjang 25 depa atau sekitar 35 meter.

Selain itu, masyarakat maritim Bugis – Makassar dahulu memiliki banyak jenis perahu yang dibuat berukuran lebih kecil, berfungsi sebagai alat angkut, pencari ikan, maupun keperluan pertahanan. Seperti perahu jenis Banawa khusus untuk mengangkut binatang ternak, perahu Pajala untuk  armada nelayan, jenis Palimbang untuk antarpulau. Dikenal pula jenis perahu Bilolang dan Biroang untuk pengangkutan jarak dekat. Sedangkan untuk keperluan pertahanan laut di masa kerajaan dikenal jenis perahu Binta dan Palari.

Beberapa waktu lalu masyarakat abad millenium pernah menatap langsung kehebatan phinisi mengarungi lautan besar dunia. Yakni, ketika phinisi Nusantara berhasil melakukan pelayaran dari pantai Makassar ke Vancouver, Canada tahun 1986. Menyusul pelayaran phinisi Padewakang ‘Hati Marege’ dari Makassar ke Benua Australia. Dan, pelayaran phinisi ‘Amanna Gappa’ dari Makassar ke pantai Madagaskar, Afrika, tahun 1991. Sayangnya, momentum tersebut setelah berlalu justeru makin menyepikan phinisi atau perahu sejenisnya di pantai-pantai Sulawesi Selatan.

Justeru, menurut Aji Nugraha, dari Forum Kajian ‘Biring Tamparang’, ide untuk membangun Museum Perahu Sulsel lebih smart dan brilian dibandingkan usulan membuat Museum Hewan di Kota Makassar. ‘’Museum perahu perlu, agar anak-anak sekarang tidak menjadi generasi tuna sejarah dan budayanya,’’ katanya. (Mahaji Noesa)