Posts Tagged ‘gedung’

Gambar

Tampak bendera Merah Putih dinaikkan setengah tiang pada 11 Desember 2012 di halaman gedung Balai Sidang 45 kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Suasana kota Makassar hari ini, Selasa (11/12) seperti suasana peringatan hari ‘Peristiwa Korban 40.000 Jiwa’ tahun lalu. Umumnya kantor-kantor pemerintah dan swasta tidak lagi menaikkan bendera merah putih setengah tiang sebagai tanda berkabung sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya.

Sepanjang jalan protokol di Jl.Jenderal Sudirman, termasuk di halaman gubernuran (Rujab Gubernur Sulsel) tak tampak bendera merah putih dinaikkan setengah tiang. Demikian juga kantor-kantor pemerintah dan swasta yang ada sepanjang jalan Urip Sumoharjo, Selasa (11/12) umumnya tidak menaikkan bendera merah putih setengah tiang. Termasuk di halaman Gedung DPRD Provinsi Sulsel dan Kantor Gubernur Provinsi Sulsel, bendera merah putih di halaman kedua kantor tersebut tetap dinaikkan penuh tiang.

Kecuali di depan kampus Universitas 45 dan depan gedung Balai Sidang 45 di Jl. Urip Sumiharjo, Selasa (11/12) menaikkan bendera merah putih setengah tiang, sebagai pertanda hari peringatan ‘Peristiwa Korban 40.000 Jiwa’ di Sulsel.

Hanya rumah-rumah penduduk di dua jalan – yaitu Jl.Datuk Ribandang dan Jl. Langgau yang mengapit monumen Peristiwa Korban 40.000 Jiwa yang kelihatan semarak menaikkan bendera merah putih setengah tiang.

IMG00632-20121211-1200

Rumah warga di Jl.Datuk Ribandang Makassar menaikkan bendera setengah tiang pada 12 Desember 2012/Foto: Mahaji Noesa

 

Walikota Makassar H. Ilham Arief Sirajuddin tampak menghadiri upacara peringatan di monumen Peristiwa Korban 40.000 Jiwa, di bawah udara kota Makassar yang bercuaca mendung. Kemudian dilanjutkan ziarah ke TMP Panaikang, Makassar.

‘’Saya tidak tahu kalau hari ini, 11 Desember merupakan hari bersejarah khususnya bagi masyarakat di Sulawesi Selatan, kata Awal (22), salah seorang mahasiswa PTS di kota Makassar. (Mahaji Noesa/independen.co)

IMG00852-20130103-1032

Dinding bagian barat bekas Benteng Somba Opu/Foto: Mahaji Noesa

Selain bangunan abad XVII Benteng Ujungpandang, masih terdapat banyak sekali bangunan peninggalan lama, bukti Makassar sebagai Kota Tua. Hanya saja sejumlah bangunan tua lainnya menjadi tak menonjol dengan kehadiran bangunan baru berasitektur modern. Bahkan banyak jejak bersejarah justru dibiarkan ikut tergusur.

Gedung lama Balaikota Makassar di Jl. A.Yani, Museum Kota di Jl. Balaikota, Kantor Pengadilan Negeri di Jl. Kartini, Rumah Jabatan Walikota Makassar, Gubernuran Sulsel dan Gedung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Jl. Jend Sudirman, merupakan bangunan-bangunan tinggalan masa lalu yang masih menonjol.

Namun begitu, Klenteng Ibu Agung Bahari di Jl. Sulawesi yang dibangun tahun 1737, Gereja Katedral (1898), Masjid Arab (1907), Mesjid Kampung Melayu dan Pasar Butung (1917). Semua juga merupakan bangunan peninggalan masa lalu yang dapat menjadi bukti dinamika kehidupan Kota Makassar dari masa ke masa.

Bahkan melalui sejumlah bangunan keagamaan tinggalan lama tersebut, dapat diketahui jika kehidupan di Kota Makassar pada ratusan abad lampau sudah terbuka untuk semua etnis maupun agama.

Melalui catatan sejarah Kerajaan Gowa dan Tallo pada abad XVI – XVII, diketahui ketika pusat Kota Makassar masih berada di Benteng Somba Opu,  justru hidup damai berdampingan sejumlah suku bangsa dari berbagai belahan dunia. Mereka yang terdiri dari bangsa Portugis, Denmark, Inggris, Melayu dan Gujarat  justru diperkenankan pihak kerajaan membuat perwakilan-perwakilan dagang seputar benteng.

Sayangnya, bangunan-bangunan tersebut kini hanya ada dalam catatan lembaran sejarah. Lantaran semua telah hancur seiring dibumihanguskannya Benteng Somba Opu oleh pihak kolonial Belanda pada abad XVII.

IMG00849-20130103-1030

Bastion tersisa dari Benteng Somba Opu/Foto: Mahaji Noesa

Sebenarnya, sebagaimana dicatat sejarah, sesuai dengan Perjanjian Bungaya (Bongaissck Verdrag) pada 18 Nopember 1667 antara Raja Gowa ke-16, Sultan Hasanuddin dengan Laksamana Belanda Cornelis Janszoon Speelman, dua markas pertahanan yaitu Benteng Somba Opu dan Benteng Ujungpandang tidak boleh dihancurkan. Akan tetapi akibat munculnya keserakahan kolonial, Benteng Somba Opu yang menjadi hak Kerajaan Gowa kemudian dihancurkan.

Setelah beratus tahun peristiwa penghianatan itu berlalu, lokasi tempat ditandatanganinya Perjanjian Bungaya yang ada di sekitar Bontoa, Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar, pun menjadi tidak jelas lagi. Sejumlah pondasi bangunan baru sudah tegak di sekitar lokasi bersejarah tersebut.

‘’Beberapa tahun lalu di tempat itu masih ada tanda yang menyatakan sebagai Tempat Perjanjian Bungaya. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi,’’ jelas Amir, seorang warga dari sekitar Timbuseng, Barombong, sambil menunjuk ke arah lokasi di belakang bangunan sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Solar.

Satu-satunya pertanda jejak, karena sekitar lokasi masih diberi nama sebagai Jl. Perjanjian Bungaya. Jalan tembus dari arah Kelurahan Barombong menuju SMA Negeri 20 Makassar yang kondisinya, selain sempit juga aspalnya berlubang-lubang lama tak pernah mendapat perbaikan.

Tergusurnya lokasi Perjanjian Bungaya dengan kahadiran sejumlah bangunan baru sekitar Bontoa, amat disayangkan banyak pihak. ‘’Lokasi ini sama pentingnya dengan Benteng Ujungpandang untuk dipelihara sebagai bagian dari bukti jejak sejarah Kerajaan Gowa masa lalu,’’ kata Sudirman, seorang mahasiswa perguruan tinggi di Kota Makassar.

Seperti dicatat sejarah, Perjanjian Bungaya merupakan perjanjian pertama yang dibuat di Nusantara dengan penyumpahan menggunakan dua kitab suci agama. Perjanjian ini ditandatangani dengan sumpah oleh Sultan Hasanuddin di depan kitab Al Quran (Islam) dan Speelman di depan kitab Injil (Kristen).

Namun kemudian terjadi penghianatan kolonial, dan memiriskan karena lokasi bersejarah Perjanjian Bungaya itupun kini terancam hilang tergusur derap pembangunan kota. (Mahaji Noesa)