Posts Tagged ‘hatta’

Gambar

Monumen Andi Tjammi/Sumber: google – myspace.com

Bom atom secara beruntun dijatuhkan Amerika Serikat di atas wilayah Jepang. Hiroshima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945), menyebabkan kedua kota itu rata dengan tanah bersamaan dengan binasanya ratusan ribu jiwa penduduk. Peristiwa ini menyebabkan Jepang menyatakan kalah perang tanpa syarat kepada Sekutu  tanggal 14 Agustus 1945.

Kekalahan Jepang dimanfaatkan pula oleh Indonesia. Soekarno – Hatta, atas nama Bangsa Indonesia 17 gustus 1945 di Jakarta, menyatakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sebulan kemudian tentara Sekutu masuk ke Indonesia melucuti tentara Jepang dan mengurus tawanan.

Kehadiran tentara Sekutu di Indonesia diboncengi tentara Belanda, Netherlands Indies Civil Adminstration atau NICA. Mereka mendarat pula di daerah Sulawesi Selatan. Dengan siasat licik NICA bergerak dari kota Makassar dan Parepare ke pedalaman, termasuk daerah Sidenreng Rappang, untuk kembali mencengkramkan kuku penjajahan mereka.

Namun rakyat Sulsel seperti rakyat Indonesia lainnya yang sudah menyatakan kemerdekaannya, memilih mati berkalang tanah dari pada hidup di tangan penjajah. Perlawanan rakyat terhadap tentara NICA bengkit dimana-mana.

Di daerah Sidrap muncul perlawanan rakyat terhadap NICA secara terorganisir dalam suatu lasykar bernama Badan Pemberontak GanggawaE. Dipimpin Andi Tjammi,pemuda kelahiran Rappang 1921, lasykar tersebut kemudian diubah namanya menjadi Barisan Pemberontak Ganggawa disingkat BP Ganggawa.

Lasykar Ganggawa yangumumnya beranggotakan pemuda berhasil menghidupkan semangat perlawanan rakyat, serta memimpinlangsung perlawanan-perlawanan terhadap tentara NICA yang masuk wilayah Sidrap.

Aksi-aksi Lasykar Ganggawa tidak mengenal kompromi terhadap NICA. Gerakannya antara lian, menyerang pos NICA di Bendoro, menyerbu kaki tangan NICA di Pasolereng (Desember 1945), pertempuran Polojiwa (April 1946), pengadangan truk NICA di Lakessi (Mei 1946), pertempuran di AnabannaE (Juli 1946), pertempuran di Carawali (Agustus 1946).

Kemudian melakukan penyerbuan massal ke kota Rappang tempat Detasemen NICA, selama tiga hari tiga malam (10 -12 Agustus 1946). Penyerbuan ini terkenal dengan julukan ‘Serangan Bambu Runcing.’’ Sebab sebagian besar pemuda dan rakyat melakukan penyerangan hanya menggunakan senjata tajam dan bambu runcing menghadapi NICA yang bersenjata modern.

September 1946, Lasykar ganggawa turut dalam pertempuranmelawan NICA di luar kawasan Sidrap, masing-masing di kampung Garessi dan Majokka Suppa, serta penyerangan terhadap serdadu NICA yang berpatroli di Palameang, Alitta.

Nopember 1946, BP ganggawa ikut melakukan pertempuran terhadap tentara NICA di kampung Soreang Parepare. Terlibat pengadangan patroli NICA di kampung Cempa 9 Desember 1946),penyerangan penjara di kota Barru serta pengadangan di Cenrana, Soppeng Riaja terhadap dua Power serdadu NICA (Desember 1946).

Pertempuran yangberlangsung di Carawali, Sidrap, Agustus 1946, penyerangan dimulai oleh serdadu NICA. Mereka mengepung sebuah rumah tempatAndi Tjammi dengan beberapa rekannya melakukan konsentrasi.  Serangan mendadak yang dilakukan NICA dengan kekuatan personil serta persenjataan yangkuat terpaksa dihadapi meski tak seimbang. Dengan taktik tetap melawan, dn mengatur langkah untuk keluar dari kepungan saat itu, paha Andi Tjammi tertembus peluru NICA. Dalam keadaan terluka ia masih tetap berusaha menyelamatkan diri dengan menceburkan diri ke dalam sebuah tebat. Namun NICA terus menyerang.

‘’Mana Hamidong,’’ tanya serdadu NICA ketika mendapatkan Andi Tjammi di tebat.

‘’Ke sana sudah jauh,’’ jawab Andi Tjammi menunjuk rekan-rekannya yang berhasil menyelamatkan diri. Dalam keadaan kritis tersebut, tiba pula di tempat itu paman Andi Tjammi yang telah diperdaya menjadi kaki tangan NICA.

Sambil tertawa kegirangan si paman berkata: ‘’Inilah Hamidong!’’ Hamidong nama lain dari Andi Tjammi.

Popor senapan kemudian susl menyusul menghunjam ke bagian dahi Andi Tjammi yang tak berdaya. Saat itu senja tampak di barat, gugur pula Andi Tjammi, komandan Lasykar BP Ganggawa di sudut sawah tanah tumpah darahnya sendiri.

Selain Andi Tjammi, dalam peristiwa Carawali gugur anggota Ganggawa, A makkulau, A Haseng, M Jafar, Baso Mustika, dan seorang peronda kampung. Namun NICA hanya memboyong mayat Andi Tjammi dan A Makkulau ke tangsi NICA di Rappang.

Esoknya, 29 Agustus 1946, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, mayat Andi Tjammi dan A Makkulau diseret ke sudut pasar Rappang. Dipertontonkan secara sadis kepada massa rakyat yang sedang berduyung-duyung ke lapangan Rappang untuk bersembahyang Idul Fitri.

‘’He kalian semua, lihat kowe punya pimpinan sudah mampus!’’ Teriak tentra NICA kepada massa rakyat sambil menunjuk kedua sosok mayat tersebut.

Maksud NICA dengan tindakan tersebut tida lain untuk melemahkan batin rakyat agar tidak turut memberikan dukungan atau bantuan terhadap gerakan-gerakan BP Ganggawa.

Namun ibarat pepatah ‘’Patah Tumbuh Hilang Berganti’’ Andi Tjammi gugur tapi perlawanan BP Ganggawa terhadap NICA terus berlanjut dan makin seru. Kepemimpinan Lasykar Ganggawa digantikan oleh Andi Nohong, kakak kandung Andi Tjammi yang berwatak keras.

Kekuatan serdadu NICA dengan senapan-senapan otomatis menyebabkan pihak rakyat dan anggota Ganggawa banyak yang gugur. Namun pada akhirnya NICA harus meninggalkan daerah ini, mengakui adany perlawanan rakyat mempertahankan Kemerdekaan RI.

RESOPA TEMMANGINGNGI

Tujuan kemerdekaan Bangsa Indonesia tiada lain seperti yang dimaksudkan dalam Pembukaan Undang-undang dasar 1945. Agar bangsa Indonesia dapat berkehidupan kebangsaan yangbebas dengan suatu pemerintahan sendiri yang melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, untuk mencapai masyarakat adil dan makmur berlandaskan Pancasila.

Perjalan 20 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, masih diperhadapkan dengan berbagai hambatan, gangguan, dan tantangan, Namun demikianpemerintah Indonesia telah melaksanakan suatu sistem pemerintahan sendiri yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Setelah Kemrdekaan RI, tahun 1950, bekas daerah kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang masing-masing dibentuk menjadi Swapraja yang mempunyai Dewan Pemerintahan tersendiri, danmasihmemiliki wewenang sebagaimana ditetapkan dlam Zelfbestuursregelen 1938, Stablad tahun 1938 No.529. Swapraja tersebut sebagai wilayah kabupaten Parepare yang dibentuk berdasarkan UU N0.22 Tahun 1948.

Dewan Pemerintahan Swapraja Sidenreng diketuai A Mappawekke, anggota H A Nuruddin, H A Maddangkang, Umar Zain, H A Unru, meliputi 15 distrik. Sedangkan Swapraja Rappang terdiri atas 4 distrik dengan ketua A Pallawagau, anggota H A Tjintjing dan M Saleh R.

Kemudian dengan lahirnya Undang-undng No.29 tahun 1959 yang mengatur tentang pembentukan daerah-daerah otonom di Sulawesi, Swapraja Sidenreng dan Swapraja Rappang dilebur menjadi satu daerah otonom Tingkat II atau kabupaten, bernama Sidenreng Rappang, yang berhak mengurus dan mengatur rumah tangga daerahnya sendiri.

Realisasi pembentukan kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), dilaksanakan dengan pelantikan Bupati Andi Sapada Mappangile tanggal 18 Pebruari 1960, sebagai pelaksanaan SK Mendagri tanggal 28 januari 1960 No.UP.7/2/37-379. Hari pelantikan bupati pertama kabupaten Sidrap tersebut kemudian dijadikan sebagai Hari Kelahiran Kabupaten Sidrap.

Dengan latar belakang kehidupan masa kerajaan maupun pergolakan yang timbul sebelum dan sesudah kemerdekaan di Sidrap, memberi bentuk tersendiri bagi rakyat di daerah iniuntuk maju dan membangun dirinya. Tak heran jika motto leluhur ‘Resopa Temmangingngi Naiyya Naletei Pammase Dewata’ (Bhs. Bugis, berarti: Hanya dengan kerja keras untuk memperoleh rakhmat Tuhan), kini dijadikan pendorong dalam kehidupan masyarakat Sidrap. (Mahaji Noesa, Majalah Warta Sulsel No.24, 1 – 15 Pebruari 1991 Hal. 64 – 67)  

Gambar

Perahu Phinisi, Lukisan Bachtiar Hafid, Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Secara fisik kompeni Belanda mampu menghancurkan kekuatan armada bahari Kerajaan Gowa. Juga dapat menghambat perkembangan kemampuan serta membatasi ruang gerak kebaharian orang-orang Makassar, SulawesiSelatan, setelah ditandatanganinya Perjanjian Bongayya, 18 Nopember 1667.

Namun ibarat gelombang laut, jiwa dan semangat bahari orang-orang Makassar seantiasa bergelora dari masa ke masa dalam intensitas yang berbeda sesuai perkembangan masa.

Hal itu terbukti dengantampilnya putra-putra Indonesia kelahiran Makassar sebagai patriot dalam perjuangan merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan RI. Termasuk dalam bidang kelautan atau kebahariaan.

Dalam lembaran sejarah TNI-AL (Episode Perang Kemerdekaan 1945 – 1950) secara jelas dicatat sejumlah nama dan perjuangan putra-putra Indonesia asal Makassar yang begitu gigih memperjuangkan terbentuknya suatu kekuatanpertahanan Angkatan Laut bagi negara RI di ambang kemerdekaan.

Saat mendekati keruntuhan pendudukan Jepang di Indonesia, bermunculan kelompok-kelompok pemuda yang melakukan pergerakan untuk membantu terwujudnya kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Di antaranya kelompok pemuda Daisangka di Surabaya, Jawa Timur. Pembentukannya dipelopori oleh pemuda-pemuda asal Makassar yang sebelumnya memiliki pengalaman danpengetahuan kebahariaan. Kelompok pemuda Daisangka ini mendapat dukungan latihan kemiliteran dari Kaigun – pemerintahan militer (Angkatan Laut) Jepang yang mendukung terwujudnya kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

Dalam bulan Juni 1945 sejumlah pemuda Daisangka dari Surabaya dipimpin A.R.Aris (asal Makassar), R.Sutrisno, L.Mochtar, A.Hamzah Tuppu (asal Makassar), J.Geret, Ny.Bernatje Tuegeh dan Abd. Djalil datang ke Jakarta menemui kolonel Yususumi dari Kaigun Bukanfu di Jakarta, untuk menanyakan situasi terakhir Perang Pasific serta janji pihak Jepang untuk membantu terwujudnya kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

Dalam bulan Juli 1945, kelompok pemuda Daisangka ini kembali ke Surabaya, setelah sebelumnya juga menemui sejumlah tokoh pemuda pergerakan  kemerdekaan di Jakarta, seperti Chairul Saleh, Hidayat, Sukarni, Wikabna, dan Chairuddin menanyakan dan meminta petunjuk perihal situasi terakhir upaya pergerakan menuju Indonesia merdeka.

Setiba kembali di Surabaya, mereka lantas membentuk pasukan yang berasal dari bekas-bekas Angkatan Laut Jepang,pegawai-pegawai pelayaran dan pemuda bahariwan lainnya.

Setelah diproklamirkan Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 di Jakarta oleh wakil bangsa Indonesia Soekarno – Hatta, pemuda Daisangka di Surabaya yang beranggotakanbanyak pemuda dari Makassar membentuk sebuah badan yang bersifat kelautan yang menjadi cikal terbentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Pembentukan badan tersebut dimaksudkan untuk mengadakan perlawanan terhadap rencana kedatangan tentara Sekutu yang didalamnya membonceng tentara NICA ke Indonesia setelah Jepang dinyatakan kalah perang. Semangat perlawanan dari para anggota badan tersebut begitu menggebu-gebu untuk menentang kedatangan tentara Sekutu, sekalipun hanya memiliki peralatan perang yang sederhana. Tugas mereka pun bukan hanya untuk melakukan pertahanan di laut, tapi juga dipersiapkan untuk menjadi kesatuan-kesatuan penggempur di darat.

Personil dari badan tersebut terdiri dari A.R.Aris (asal Makassar) dengan pangkat Laksamana Muda, sebagai komandan tertinggi Angkatan Laut RI saat itu. Dilengkapi perwira staf Kolonel A.Hamzah Tuppu 9asal Makassar), Kolonel Sutrisno, dan Letnan Kolonel Ny.Bernetje Tuegeh. Mereka dibantu sejumlah perwira lainnya, dan segala kegiatan berpusat di Modderlust Ujung, Surabaya.

Melihat adanya gelagat curang terhadap kedatangan tentara Sekutu menggantikan kedudukan Jepang di Indonesia, Presiden Soekarno melalui pidato radio pada 23 Agustus 1945 menyatakan, ‘’Revolusi nasional masih menempuh gelombang hebat.’’ Kepada segenap rakyat Indonesia diperintahkan untuk mengatur persiapan-persiapan serta membantu menjaga keamanan dengan jalan mendirikan Badan Kemanan Rakyat (BKR).

Prajurit-prajurit bekas Peta, Heiho, dan pelaut-pelaut serta pemuda lainnya dianjurkan masuk dan bekerja dalam Badan-badan Kemanan Rakyat tersebut. Pidato presiden yang merupakan perintah dari pemerintah pusat tersebut lantas disahuti dengan pembentukan BKR-BKR di daerah-daerah. Hebatnya, karena anggota-anggota BKR yang terbentuk langsung melengkapi diri dengan berbagai srenjata sehingga berubah menjadi tentara bersenjata. Apalagi di beberapa daerah BKR langsung terlibat melakukan pertempuran-pertempuran saat tentara Sekutu mendarat di Indonesia, yang dimulai pada 8 September 1945. Pada tanggal 10 September 1945 di Jakarta terbentuk pula BKR Laut.

Dengan maklumat No.2/x tanggal 5 Oktober 1945, pemerintah RI menyatakan secara resmi juga harus membentuk kekuatan bersenjata yang diberi nama TKR (Tentara Kemanan Rakyat) bagian darat dan TKR bagian laut. Pengesahan pembentukan TKR Laut khususnya dilakukan pada 15 Nopember 1945 dengan Pimpinan Markas Tertinggi TKR Laut M. Pardi.

Pembentukan TKR di Jakarta tersebut kemudian diikuti dengan pembentukan TKR bagian laut di sejumlah kota-kota pantai di Indonesia. Meskipunpada daerah-daerah di luar Pulau Jawa dan Sumatera, saat itu, belum terbentuk BKR atau TKR lantaran faktor kesulitan perhubungan serta telah mendaratnya tentara Sekutu.

Pembentukan BKR Laut di Jakarta kemudian disambut hangat oleh kelompok pemuda Daisangka di Surabaya, yang dalam September 1945 juga segera membentuk BKR Laut di Surabaya. Struktur organisasi intinya, terdiri atas Komanda A.R.Aris, Wakil Komandan R.Sutrisno, Kepala Staf L.Mochtar, Kepala Personalia/Pengerahan Tenaga A.Hamzah tuppu, dan anggota Ny.Barnetje Tuegeh dan Abd.Djalil.

Dari BKR/TKR Laut itulah kemudian berkembang menjadi kekuatan pertahanan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Dari markas BKR Laut Surabaya inilah mulai dikirim ekspedisi ke Sulawesi dalam rangka pembentukan Angkatan Laut Persiapan Seberang sekaligus memberikan spirit terhadap perjuangan perlawanan rakyat di Sulawesi Selatan menentang kehadiran tentara Sekutu/NICA. (Mahaji Noesa, Buku : A.Hamzah Tuppu patriot Bahari Titisan Galesong, Makassar 2002)