Posts Tagged ‘hutan’

Gambar

Tampak arah timur Teluk Kendari/Foto: google – buminusantara.blogspot.com

Teluk Kendari – Laut Banda yang menyusup daratan Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), merupakan suatu anugerah Tuhan yang tiada bandingannya.

Betapa tidak, Teluk Kendari yang membujur dari timur ke barat sepanjang lebih 10 kilometer dengan lebar bentangan bervariasi antara 400 hingga 1.200 meter (ukuran perkiraan lebih kurang – pen), menjadi pembeda spesifik dengan teluk lainnya di dunia.

Dengan lay-out  alamnya seperti itu, di teluk ini dapat disaksikan pergerakan matahari terbit di pagi hari (sunrise) serta perguliran matahari senja (sunset) di sore hari. Bahkan panorama sunrise dan sunset di teluk ini dapat dinikmati dalam dua dimensi.

Dari pesisir ujung barat teluk terlihat matahari pagi bergerak naik dari balik bukit muara Teluk Kendari  yang terhempang Pulau Bungkutoko. Bias sunrise pagi hari senantiasa membuat pesona yang eksotis berpadu beragam aktivitas di permukaan dan pesisir teluk.

Sementara dari perbukitan di wilayah kelurahan Kendari Caddi, Kampung Salo, dan Manggadua – sebelah timur teluk, dapat dinikmati sunrise dalam dimensi lain. Di lokasi tersebut sunrise terlihat muncul dari laut lepas di muara Teluk Kendari.

Matahari senja tampak pada sore hari yang cerah seolah bergulir masuk ke balik bukit-bukit di sebelah barat teluk.

Sudah merupakan event tetap di sore hari yang cerah, pantulan lembayung senja membuat lukisan-lukisan alam fantastis di permukaan perairan Teluk Kendari.

Dalam musim hujan sesekali warga yang berdiam di wilayah kecamatan Poasia – pesisir selatan Teluk Kendari, dapat menyaksikan pergerakan arak-arakan mega mendung serta permainan halilintar menggelegar di atas barisan perbukitan Taman Hutan Raya (Tahura) Murhum (dulu bernama Bukit Nipanipa) – arah utara Teluk Kendari. Sementara warga di pesisir selatan teluk, tempat menyaksikan peristiwa alam tersebut dalam suasana udara cerah dengan surya berbinar.

Hal sama seringkali sebaliknya. Dari pesisir utara teluk yang cerah disaksikan wilayah pesisir selatan disaput kabut atau diguyur hujan lebat.

Pulau Bungkutoko yang terbentang persis di mulut teluk, membuat Teluk Kendari bebas dari karakter ganas gelombang Laut Banda.

Keberadaan pulau berpasir putih ini, selain berpotensi dan punya prospek dikembangkan sebagai obyek rekreasi/hiburan warga kota Kendari, membuat perairan teluk tenang bagai permukaan sebuah danau.

Tak heran pula jika pada siang terik terkadang dengan kasat  mata terlihat  bagaimana permukaan Teluk Kendari berwujud bagai sebuah cermin kristal raksasa memantulkan cahaya keras ke cakrawala bebas.

Susah sekali mendapat suasana alam yang romantis seperti suasana sekeliling Teluk Kendari saat-saat malam bulan purnama.

Suasana alam Teluk Kendari dan sekitarnya, ditengok dari sudut mana saja dalam berbagai dimensi waktu, duh…, eloknya! (Mahaji Noesa, Harian Kendari Ekspres, Jumat, 28 Pebruari 2003, Hal.6)   

Gambar

Penari Ular/Foto: riset google -pixoto.com

Jika anda berjumpa ular bersama koruptor, untuk selamat terlebih dahulu pentung koruptor lalu menyusul ketok ularnya.

Kalimat satire menyangkut berbisanya koruptor dalam kehidupan yang diungkapkan seorang rekan, membuat gerrr….banyak orang sekeliling yang ikut mendengarnya.

Namun kalimat itu justru mengingatkan terhadap dua peristiwa berkaitan dengan ular yang sesungguhnya. Pertama, ketika saya melakukan perjalanan menggunakan angkutan bus ukuran sedang dari Kota Parepare (Sulawesi Selatan) menuju Kota Mamuju, ibukota Provinsi Sulawesi Barat.

Dalam perjalanan melewati Kota Pinrang, ibukota Kabupaten Pinrang (Sulawesi Selatan), bus yang tempat duduknya masih banyak kosong tak terisi, lalu berhenti mengangkut 4 pria yang sebelumnya terlihat mengacung tangan di tepi jalan menunjuk ke arah Mamuju.

Keempat pria dewasa tersebut menarik perhatian saya, lantaran selain penampilan fisik mereka yang kelihatan sangar. Juga barang bawaan masing-masing mengundang tanya. Selain setiap orang terlihat membawa golok yang berwarangka, juga ada yang membawa gulungan tali plastik, karung plastik, besi-besi cabang, potongan-potongan pipa, tongkat rotan, senter menggantung di pinggang, dan juga lampu petromaks (strong king).

Siapa mereka? Pertanyaan itu terjawab dari salah seorang yang duduk berhimpit menempati kursi kosong di kananku. Aku pun terkesima, ketika mengetahui jika mereka adalah anggota kelompok pemburu ular di wilayah gunung dan hutan-hutan Sulawesi Barat.

Perburuan dilakukan ke tempat atau lokasi-lokasi yang telah diketahui atau dicurigai merupakan sarang ular. Menurut ceritanya, biasanya mereka beraksi menunggu atau memberi pancingan agar ular keluar dari sarang atau lubang-lubang pada malam hari. Ular ditangkap, kemudian dikuliti, dan kulitnya itulah yang dijual.

Gambar

Penari ular/Foto: sumber riset google – idekonyol.wordpress.com

Tidak ada penjelasan dari manusia pemburu ular ini, berapa harga, siapa dan dimana mereka menjual kulit-kulit ular tersebut. Dalam perjalanan siang dengan bus pengangkutan umum antara Parepare dan Mamuju saya beberapa kali melihat ada papan-papan bicara di dekat-dekat pemukiman penduduk yang bertuliskan : ‘’Beli Kulit Ular Sawah.’’ Pemburu ular, suatu profesi yang baru kuketahui.

Peristiwa kedua, suatu malam penduduk yang berdiam di arah timur asrama tentara di wilayah Kendari Caddi, Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara geger lantaran ada seekor ular yang merayap dari tepi gunung melintas di jalanan pemukiman.

Ular yang berukuran besar diperkirakan sepanjang 4 sampai 5 meter, menurut cerita penduduk, sudah seringkali dilihat kemunculannya di wilayah perkampungan saat tengah malam. Ketika penduduk mengejar seketika ular itu menghilang. Sebuah lubang bekas goa pertahanan masa pendudukan Jepang tak jauh dari pemukiman dicurigai sebagai tempat ular tersebut bersarang.

Dalam geger kemunculan ular malam itu, ada seorang lelaki tua asal Pulau Wawonii – sebuah pulau yang terbentang sekitar 2 jam pelayaran dari muara Teluk Kendari, menyarankan untuk selalu menaburkan bawang merah ke mulut goa yang dicurigai menjadi sarang ular. Diberi petunjuk bawang yang ditabur hendaknya ujung-ujungnya terlebih dahulu dipecahkan hingga tercium aroma bawangnya.

Sekitar dua bulan ketika saya kembali dalam suatu urusan ke lokasi tersebut, penduduk setempat menyatakan tak pernah lagi melihat atau menemukan ada ular gentayangan malam hari. Sejumlah penduduk menyatakan kemungkinan ular itu sudah mati. Lantaran setelah beberapa kali penduduk sengaja melemparkan butiran-butiran bawang merah ke bekas goa pertahanan Jepang, mereka lantas pernah berhari-hari mencium hembusan bau bangkai busuk yang keras dari dalam goa tersebut.

Dari pengalaman itu, sejumlah saran copas pernah saya sampaikan kepada beberapa teman untuk memberikan butiran-butiran bawang merah ke lobang yang dicurigai sebagai sarang ular. Ketika kemudian bertemu, banyak yang mengakui ular-ular menghilang setelah sarangnya mereka taburi butiran-butiran bawang merah. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 26 Oktober 2011)

 

Gambar

Inilah bentuk pohon Enau atau pohon aren/Foto:goole – sitle.google.com

Banyaknya peristiwa, kejadian atau sesuatu yang dianggap misteri dalam kehidupan, mengisyaratkan betapa keterbatasan kemampuan untuk memahami keseluruhan apa yang terbentang di alam jagad raya ini.

Para nelayan tradisional tempo dulu misalnya, kebanyakan memasang bulu-bulu ijuk di ujung tiang-tiang perahu. Mereka umumnya beranggapan dengan memasang ijuk seperti itu, segala jenis yang disebut-sebut sebagai hantu laut tidak akan mengganggu perjalanan perahu di lautan bebas.

Dengan memasang bulu-bulu ijuk di ujung tiang perahu juga diyakini akan menangkal sambaran petir apabila terjadi badai di laut lepas.

Dari cerita pengakuan banyak nelayan di sejumlah pesisir Sulawesi Selatan, sampai sekarang mereka masih meneruskan kebiasaan leluhurnya menancapkan bulu-bulu ijuk pada tiang tertinggi di armada perahu atau kapal yang mereka gunakan untuk mengarungi lautan.

Ijuk yang bersumber dari Pohon Enau (Aren), katanya, bagaimanapun tingginya tidak pernah ada yang tersambar petir seperti yang sering menimpa Pohon Kelapa atau pohon-pohon lainnya yang tumbuh menjulang di hutan-hutan.

Dengan alasan sama untuk menangkal bahaya sambaran petir, sejumlah petani di pedalaman Sulsel sampai sekarang jika melintas atau bekerja di suatu tanah hamparan luas dalam musim penghujan, masih banyak yang menyelipkan lidi iduk di antara jepitan celana atau saku baju dalam posisi tegak seperti antena.

Masih berkait dengan Pohon Enau yang sarinya dijadikan bahan baku pembuatan Gula Aren (Gula Merah), lidinya sampai sekarang masih banyak digunakan untuk mencambuk orang-orang yang disebut-sebut ‘kemasukan barang halus’.

aren-2

Pohon Enau (Aren)/Foto sumber: google

Orang-orang yang ‘kemasukan’ tersebut gejalanya dalam keadaan tiba-tiba saja tak sadarkan diri, menangis, atau berteriak-teriak histeris. Seringkali juga berbicara aneh-aneh atau berbicara dalam bahasa asing yang fasih. Pada hal yang bersangkutan dalam keadaan sadarnya, tidak mengetahui bahasa asing tersebut. Dengan mencambukkan lidi ijuk (lidi dari pelepah Pohon Aren) ke tubuh orang ‘kemasukan’, seringkali lantas siuman atau sadar diri.

Dari pengalaman sejumlah rimbawan, juga ada diceritakan jika mereka menjelajah hutan selalu membawa perlengkapan berupa tali hitam yang dipintal dari bulu-bulu ijuk. Tali ijuk tersebut dibentangkan mengelilingi lokasi dimana mereka akan membuat kemah. Maksudnya untuk menghalau masuknya binatang melata berbisa sejenis ular ke lokasi tempat perkemahan mereka.

Dari banyak pengalaman, mereka telah membuktikan berbagai jenis ular hutan tak mau melintas ke lokasi yang dibatasi bentangan tali ijuk.

Sejumlah guru ngaji di pedalaman Provinsi Sulsel masih menganjurkan kepada murid-muridnya untuk menggunakan potongan lidi ijuk (enau) yang disebut ‘kallang’ sebagai alat bantu penunjuk huruf-huruf ketika membaca kitab suci Al-Qur’an.

Kajian ilmiah, tentu saja, masih perlu dilakukan untuk mengungkap misteri ijuk yang sejak dulu dianggap memiliki multimanfaat. Jika saja ada kebenaran, seperti yang diyakini dan dibuktikan dalam pengalaman lapangan selama ini ijuk ataupun lidik ijuk mampu menangkal petir, ouuwww………(Mahaji Noesa/Kompasiana,13 Januari 2011)