Posts Tagged ‘jalan’

Gambar

H.Udhin Palisuri/Ft: Mahaji Noesa

Sejarah tak akan mengubah masa depan. Peradaban kini tak lagi memberi kesempatan keturunan ningrat seperti masa kerajaan dahulu dapat secara otomatis diangkat menjadi pemimpin, meski tanpa memenuhi kriteria atau jenjang pendidikan yang cukup.

‘’Tapi jangan kau coba memahami sejarah dengan pengertian sempit seperti itu. Sejarah itu adalah ruh setiap orang setiap bangsa dalam menapak perjalanan kehidupan lebih maju termasuk untuk mengukir sejarah baru sesuai jamannya,’’ tutur H. Udhin Palisuri dalam suatu perbincangan di kediamannya, Jl. Bungaeja No. 20, Makassar, akhir pekan lalu.

Budayawan yang seniman penyair Sulsel bergelar ‘Jenderal Puisi’ tersebut kemudian memberi contoh, salah satu kealpaan terhadap sejarah  proses pelaksanaan ‘Perjanjian Bungaya’ pada tanggal 18 Nopember 1667 antara Raja Gowa Sultan Hasanuddin dengan Laksamana Belanda Cornelis Janszoon Speelman.

Gambar

Di sekitar inilah lokasi situs Perjanjian Bungaya/Ft: Mahaji Noesa

Perjanjian bersejarah yang menandai awal porak-porandanya kerajaan Gowa tersebut, generasi sekarang sudah jarang sekali yang mengetahui dimana persisnya dilakukan padahal sangat jelas dalam catatan sejarah. Dilakukan di wilayah Barombong, yang kini masuk wilayah Kelurahan Barombong, kecamatan Tamalate, kota Makassar. Tapi situsnya kini tidak lagi jelas dimana, tidak ada kepedulian memeliharanya.

Menurut sejumlah penduduk di kelurahan Barombong kepada Independen, dari penuturan kakek-nenek mereka, lokasi tempat dilakukan penandatangan Perjanjian Bungaya tersebut berada di sekitar kampung Bontoa. Posisi saat ini di arah selatan bentangan Jalan Perjanjian Bungaya yang baru saja dibeton, membetang sepanjang 800 meter dari arah barat, depan kantor Lurah Barombong hingga SPBU khusus solar di ujung utara.

Ada yang menunjuk ke arah lokasi di pinggiran sawah yang ditumbuhi belukar dan sebagian dijadikan sebagai tempat pemakaman warga setempat.

‘’Tapi semua lokasi yang ada di tempat itu sekarang sudah ada yang punya, bahkan sedang ditawarkan untuk dijual kepada siapa saja yang mau membelinya,’’ jelas seorang warga yang mengaku dari kampung Kaccia, di sebelah utara jalan Perjanjian Bungaya.

Penduduk sekitar menyatakan, lantaran di lokasi itu dahulu berlangsung penandatanganan ‘Perjanjian Bungaya’ sehingga jalanannya diberi nama sebagai Jl. Perjanjian Bungaya. Sebelumnya, nama Jalan Bungaya diberikan terhadap jalan yang membentang utara-selatan depan RS Bhayangkara, tapi kemudian diubah menjadi jalan A Mappaoddang, Makassar.

Lantaran mengabaikan proses peristiwa sejarah ‘Perjanjian Bungaya’  yang terjadi 350 tahun lalu termasuk tak menghargai situs, menurut Udhin Palisuri, generasi sekarang tidak mengetahui jika sumpah-sumpah yang dilakukan menggunakan kitab suci terhadap para pejabat negara di Indonesia sekarang sebelum melaksanakan tugasnya, sudah dimulai dari ketika dilakukan Perjanjian Bungaya.

‘’Sejarah jelas mencatatnya, bahwa ketika dilakukan  penandatanganan Perjanjian Bungaya, diletakkan kitab suci al-quran di depan Sutan Hasanuddin serta kitab suci Injil di depan Speelman,’’ katanya.

Sejarah tidak menentukan masa depan, tetapi menurut Udhin Palisuri, melalui sejarah kita bisa menjadi lebih arif, lebih cerdas untuk menata peradaban kehidupan yang lebih baik. ‘’Kalau saja jika mau belajar dari peristiwa Perjanjian Bungaya, kita akan sadari bahwa tanpa kehati-hatian penghianatan masih bisa saja dilakukan oleh seseorang sekalipun sudah bersumpah di depan kitab suci agamanya. Hal itu sudah dibuktikan sejarah sejak ratusan tahun lalu melalu sosok Speelman yang membumihanguskan Benteng Somba Opu padahal dalam perjanjian diserahkan dalam kekuasaan Sultan Hasanuddin,’’ katanya.

Gambar

Jl. Perjanjian Bungaya menuju situs/Ft: Mahaji Noesa

Jika kita mau menyimak dan belajar dari sejarah, tutur mantan wartawan Harian Angkatan Bersenjata yang sudah menerbitkan 15 buku antologi puisi tersebut, pusat perkapalan dunia seharusnya sekarang ada di Sulawesi Selatan bukan di Hamburg, Jerman, karena sejak ratusan tahun lalu nenek moyang orang Sulsel telah menguasai teknologi pembuatan perahu.

Udhin Palisuri menyatakan sangat setuju jika Pemprov Sulsel membuat semacam Perda tentang perlindungan dan pengembangan terhadap situs-situs sejarah purbakala sebagai implementasi dari Undang-undang No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

‘’Lebih cepat lebih baik, sebelum ribuan situs jejak peradaban sejarah dan budaya masa silam di daerah ini lenyap digerus zaman. Apalagi jika ada desain untuk membuat situs-situs tak hanya sebagai ruang meditatif, tapi sekaligus sebagai obyek yang senantiasa mengingatkan generasi tentang sejarah dan budayanya dalam memperkuat jati diri dan agar tidak lupa diri dalam menapak kehidupan yang kian mengglobal,’’ katanya.  (Mahaji Noesa, Koran Independen, Edisi 32, 29 April – 5 Mei 2013)

 

Gambar

Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu’mang/Foto: Sulsel.go.id

Pelantikan pasangan Sayang – Syahrul Yasin Limpo (SYL) dan Agus Arifin Nu’mang sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel terpilih periode 2013 – 2018, Senin, 8 April 2013, di halaman rumah jabatan Gubernur Sulsel, merupakan titik start kepemimpinan periode lima tahun kedua pasangan petahana ini.

Kepercayaan masyarakat Sulsel memilih kembali pasangan Sayang memimpin jalannya pemerintahan, pembangunan dan urusan-urusan kemasyarakatan 5 tahun ke depan, banyak didasari penilaian dari sejumlah keberhasilan dicapai dalam kepemimpinan lima tahun sebelumnya.

Gambar

Peroyek monumental jalur kereta api Makassar – Parepare/Foto:google-pustakasekola.com

Program Pendidikan Gratis dan Pelayanan Kesehatan Gratis yang diluncurkan lima tahun pertama, dinilai sukses. Sekalipun sudah ada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Jaminan Kesehatan Nasional (Jamkesnas) yang sifatnya juga bantuan gratis pendidikan dan kesehatan secara nasional, keberadaan program Pendidikan Gratis dan Pelayanan Kesehatan Gratis Sulsel hadir memperkaya layanan gratis tersebut.

Program Pendidikan Gratis, memacu kesadaran warga memberikan pendidikan dasar bagi anak-anak di tingkat SD hingga SMP. Sedangkan untuk Program Kesehatan Gratis telah menimbulkan gelombang kesadaran besar bagi warga untuk memeriksakan kesehatan mereka ke tempat-tempat pelayanan kesehatan yang tersedia. Warga terserang flu ringan saja kini minta pemeriksaan kesehatan. Makanya, hampir semua daerah mengalami defisit dari alokasi anggaran kesehatan gratis yang disediakan setiap tahun.

Gambar

Proyek monumental di periode kedua jalan layang (flyover) Maros – Bone/Foto: sulsel.go.id

Paling menonjol dalam lima tahun pertama, tingkat pertumbuhan ekonomi Sulsel rata-rata di atas 8 persen, melebihi pertumbuhan secara nasional di atas 6 persen. Banyak pihak, sering mencibir setiap kali Gubernur SYL mengungkapkan fakta pertumbuhan tersebut, dengan alasan hanya sebagai permainan angka-angka statistik.

Bupati Bantaeng H.Nurdin Abdullah mengatakan, angka-angka pertumbuhan ekonomi sangat berkaitan tingkat kesejahteran masyarakat.  ‘’Tingginya angka pertumbuhan ekonomi akan dirasakan masyarakat dalam kehidupannya. Masyarakat Sulsel umumnya merasakan terjadi peningkatan kesejahteraan hidupnya dari hari ke hari,’’ katanya dalam suatu perbincangan.

Sebagai daerah pertanian tanaman pangan terbesar di kawasan timur Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir Sulsel mampu mencatat surplus beras sampai 2 juta ton setiap tahun.

Di periode kedua, pasangan Sayang dipastikan akan bekerja lebih keras. Selain  mempertahankan, dituntut meningkatkan prestasi yang telah dicapai. Juga dipastikan masyarakat Sulsel yang memilihnya kembali, akan menagih sejumlah program baru yang ditawarkan dalam kampanye Pilgub Sulsel periode 2013 -2018.

Di antaranya, melanjutkan program pendidikan gratis dari tingkat SD hingga SMA. Melanjutkan program kesehatan gratis. Memberikan SPP gratis bagi mahasiswa baru. Program ini usai pelantikan, 8 April 2013, akan langsung teruji lantaran sudah mulai memasuki masa penerimaan mahasiswa baru.

Berikut, program gratis 5 juta paket bibit di sektor pertanian dengan semua subsektornya. Pemberian paket modal pengembangan usaha mikro kecil, membangun 24 industri pabrik baru, membuka 500.000 lapangan kerja, peningkatan kualitas rumah rakyat, pengembangan kelompok wirausaha pedesaan, peningkatan kualitas tenaga pengajar melalui boarding school untuk guru-guru SD, SMP, SMA, guru ngaji, khatib, muballiq, dan ulama. Dan, menyediakan dana gratis pendidikan bagi siswa terpilih untuk sekolah kejuruan, serta melanjutkan program pemberian beasiswa untuk S2 dan S3.

Di luar program yang sudah dipapar sebagai ‘Janji kampanye’ tersebut, kerja keras harus dilakukan Pemprov Sulsel 5 tahun ke depan berkaitan dengan posisinya sebagai daerah ‘Lumbung Pangan’ Indonesia. Pasalnya, menurut pihak Dinas Pekerjaan Umum Sulsel, saat ini irigasi di Sulsel 70 persen dalam kondisi rusak, berumur tua. Akibatnya, dari 500 ribu hektar sawah yang butuh pengairan hanya sekitar 150 ribu hektar yang dapat dilayani secara teratur.

Namun begitu, dalam perjalanan periode kedua dipastikan kepemimpinan Sayang akan terkenang sepanjang masa lantaran dua proyek monumental sudah bakal dikerjakan. Pertama, proyek pembangunan jalan layang (flyover) Maros – Bone sepanjang 144 km. Dianggarkan di APBN bernilai Rp 1,5 triliun, dirancang rampung 3 tahun mendatang. Memperpendek jarak Maros – Bone yang dilalui selama ini sepanjang 175 km, dengan jarak tempuh 3-4 jam perjalanan.

Berikutnya, pembangunan jalan kereta api Makassar – Parepare sepanjang 137 km, lebih pendek dari jalur jalan saat ini yaitu 155 km.  Proyek yang ditaksir berbiaya Rp 20 miliar/km, bakal segera terujud lantaran pemerintah pusat kini sedang mempersiapkan pelaksanaan proyek yang merupakan bagian dari jalur kereta api Trans Sulawesi tersebut.

Masih cukup banyak potensi sumberdaya alam Sulsel belum terolah secara maksimal, di darat maupun di lautnya. Bahkan potensi di dalam perut buminya, berupa gas dan bahan mineral berharga masih sebagian kecil yang terolah. Tak heran jika makin terbuka akses dan tumbuhnya jaminan rasa aman dan nyaman di Sulsel, akan kian menarik banyak minat investor besar masuk menanamkan investasinya.

Kehadiran jalur kereta api dan jalan layang sebagai jalur nyaman  membelah poros tengah Sulsel, dipastikan akan jadi pemantik berkobarnya sumber-sumber baru peningkatan perekonomian masyarakat di daerah ini.  ‘’Ekonomi Sulsel apabila dikorek sedikit saja langsung bisa berkobar,’’ tandas Gubernur Syahrul Yasin Limpo dalam suatu kesempatan. Selamat bekerja, Komandan! (Mahaji Noesa, Koran INDEPENDEN Makassar, Edisi 29, 8 – 14 April 2013, Hal.3)

Gambar

Balapan motor/Foto:google-balapmotor.blogspot.com

Penggunaan helm yang spesifikasinya menutup kepala sampai telinga, memakai tali pengikat penutup dagu, serta mempunyai semacam kaca pelapis pandangan, yang populer disebut sebagai helm standar, sejak awal malam pergantian tahun 2005 ke 2006 sudah ramai dipakai oleh para pengemudi sepeda motor yang melintas di jalan-jalan raya khususnya dalam wilayah kota Makassar.

Gambar

Helm standar produk riddell/Foto google – nfifan24.blogspot.com

Anjuran untuk menggunakan helm standar seperti itu ketika mengendarai sepeda motor, mulai awal 2006, tampaknya disambut hangat sebagian besar warga kota Makassar khususnya dengan kesadaran penuh betapa pentingnya menggunakan pengaman kepala yang standar saat mengendarai sepeda motor di jalan raya.

Buktinya, sekalipun ada sejumlah aksi demo menantang anjuran tersebut, namun warga pengendara sepeda motor di kota Makassar sejak awal tahun 2006 telah beramai-ramai secara suka rela mengganti helm yang mereka pakai selama ini – umumnya hanya menutupi bagian atas kepala, tidak berpengikat serta tidak melindungi bagian telinga. Sekalipun untuk sementara, penggunaan helm dengan spesifikasi standar seperti itu masih didominasi oleh pengemudi sepeda motor, sedangkan untuk mereka yang dibonceng umumnya masih menggunakan helm biasa – nonstandar.

Penggunaan helm standar bagi pengendara sepeda motor, sebenarnya mengacu dari sejumlah aturan yang telah dikeluarkan sejak beberapa tahun lalu mengenai aturan berlalu-lintas maupun tentang kelengkapan bagi pengendara kendaraan bermotor, termasuk pengendara sepeda motor di jalan raya. Apalagi, berdasarkan survai dari setiap 10 pengendara sepeda motor yang mengalami kecelakaan di jalan raya, 5 di antara pengendara tersebut mengalami pecah kepala.

Ketika pertama kali dianjurkan penggunaan helm bagi pengemudi maupun semua pengendara (termasuk yang dibonceng) sepeda motor tahun 1998 – 1999 di kota Makassar, disambut gelombang protes yang dahsyat sehingga menimbulkan sejumlah korban jiwa. Namun kemudian, protes itu mereda dengan sendirinya seiring dengan mulai meningginya perhatian betapa pentingnya menggunakan pengaman kepala – sekalipun kala itu masih ditolerir dengan hanya menggunakan helm nonstandar di saat mengendarai sepeda motor di jalan raya.

Gambar

Helm Revolution, helm standar produk Riddell/Foto: google– ebbosfootballshop.de

Tingginya kesadaran warga pengemudi sepeda motor khususnya di kota Makassar saat ini untuk mengganti hel nonstandar ke helm spesifikasi standar, sangat diharapkan dapat diringi dengan pembinaan persuasif oleh pihak-pihak yang berkompeten mengenai apa dan bagaimana yang dimaksud dengan helm standar.

Banyak pihak berharap agar kesadaran warga kota saat ini yang mau menggunakan helm dengan spesifikasi standar – menutup kepala hingga bagian telinga, serta memakai tali pengikat dagu saat mengendarai sepeda motor dijalan raya, tidak lagi dicecoki denganhal-hal yangtidak mendasar yang dapat merusak kesadaran dan suasana yang sudah kondusif terhadap anjuran penggunaan helm standar. Misalnya, tidak perlu dialkukan sweeping, tindakan-tindakan, atau sanksi drastis terhadap para pengendara sepeda motor khususnya yang dibonceng untuk juga segera menggunakan helm standar.

Demikian pula tidak perlu dilakukan sanksi atau penindakan drastis terhadap penggunaan helm spesifikasi standar yang masih bervariasi, seperti misal yang menggunakan kaca pelapis atau tidak menggunakan kaca pelapis pandangan. Soalnya sejumlah produk helm spesifikasi standar yang beredar di pasaran selama ini masih bervariasi dalam berbagai bentuk warna kaca pelapis, serta ada yang menggunakan dan tidak menggunakan kaca pelapis pandangan tapi dispesifikasi sebagai helm standar. Apalagi, memang, ketika anjuran penggunaan helm standar mulai diberlakukan, tidak diiringi petunjuk helm dari produk mana saja yang diakui sebagai helm standar yang dapat menjamin keselamatan pengamanan kepala para pengendara sepeda motor saat terjadi kecelakaan lalu-lintas, maupun tidak berefek terhadap kesehatan diri para penggunanya.

Sejumlah warga kota mengatakan, kesadaran untuk menggunakan helm standar yang mulai tumbuh dengan baik saat mengendara sepeda motor di jalan raya saat ini, cepat atau lambat akan diikuti kesadaran warga untuk mengetahui serta mendalami bagaimana sesungguhnya helm standar dengan semua manfaatnya. Termasuk, tentunya,  mengenai helm standar setype helm revolution produk Riddle dan National Institute of Health yang telah digunakan sejak tahun 2002 di Amerika – menggunakan semacam rangka kawat atau besi pengaman di bagian muka. Helm tersebut telah diuji keampuhannya mampu melindungi penggunanya tidak gegar otak jika terjadi benturan di bagian kepala. (Mahaji Noesa, Tabloid Mingguan DEMOs Makassar, Edisi No.332 Thn VIII/Minggu II, Januari 2006, Hal. 4 Box: Kronik Makassar)    

Gambar

Tampak salah satu penjual jagung muda di Jl.Perintis Kemerdekaan Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Selain penjual terompet dan kembang api, sejumlah jalan protokol di kota Makassar, Senin (31/12) diramaikan dengan penjual jagung muda.

Para penjual jagung muda tersebut terlihat bertebaran di ruas-ruas jalan protokol seperti di Jl. Sultan Alauddin, Jl.Urip Sumoharjo, Jl. Cenderawasih, Jl. Ratulangi, Jl. AP Pettarani, dan sepanjang Jl Perintis Kemerdekaan. Selain itu, di tepian ruas-ruas jalan yang ada di sekitar pasar-pasar tradisional terdapat banyak penjual jagung muda.

Jagung-jagung muda tersebut, menurut penjelasan sejumlah penjual sekitar Pasar Pabaeng-baeng  di Jl. Andi Tonro, berasal dari sejumlah daerah di selatan Makassar, seperti  Kabupaten Gowa, Takalar dan Jeneponto yang saat ini lagi musim panen jagung.

Hampir semua titik penjualan jagung muda terlihat laris-manis ramai dikerumuni pembeli. ‘’Sejak hujan pagi hari sudah banyak orang datang membeli jagung muda. Sudah lebih 15 ikat jagung saya yang laku,’’ jelas Dg Aru, seorang penjual  jagung muda di tepi Jl Mesjid Raya, Senin (31/12) siang.

Seikat jagung yang berisi 15 – 20 biji jagung muda dijual seharga Rp 20.000. Ada juga yang menjual eceran seharga Rp 2.000 sebuah jagung muda.

‘’Untuk dibakar dan direbus ramai-ramai nanti malam menunggu datangnya tahun 2013,’’ kata seorang ibu dari wilayah Kecamatan Mariso yang membeli 3 ikat jagung muda di Pasar Terong Makassar.

Gambar

Penjual jagung muda laris manis di Jl Mesjid raya, Pasar Terong Makassar (Foto: Mahaji Noesa)

Langit kota Makassar sejak Senin pagi di akhir Desember 2012 mendung, bahkan terjadi gerimis di sejumlah tempat. Lepas tengah hari, ketika udara mulai kelihatan cerah, terlihat sejumlah jalan sudah dipadati kendaraan. Dalam malam menyambut pergantian tahun 2012 ke 2013 diperkirakan ratusan ribu kendaraan sepeda motor maupun mobil dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan akan memasuki kota Makassar.

Pihak Kepolisian Polrestabes Makassar sebelumnya sudah menghimbau mereka yang akan nginap di hotel-hotel sekitar Pantai Losari untuk sudah masuk satu hari sebelum hari H. Lantaran mulai pukul 17.00 wita semua jalan dalam radius 1 km yang mengarah ke Pantai Losari akan ditutup dari semua jenis kendaraan, dan baru akan dibuka pukul 8.00 pagi, Selasa, 1 Januari 2013.

Pemerintah kota Makassar tidak menyediakan acara hiburan khusus menyambut pergantian tahun di Pantai Losari. Akan tetapi, jika tak hujan pantai kebanggaan warga dan pemerintah kota Makassar tersebut diperkirakan akan dijejali sampai 200-an ribu orang pada malam menyambut datangnya Tahun Baru 2013. Lebih dari 4.000 personil kepolisian telah disiagakan untuk menjaga kelancaran dan keamanan suasana malam pergantian tahun di Kota Makassar.

Jika tak hujan, malam pergantian tahun 2012 ke 2013 di kota Makassar diperkirakan akan meriah di semua sudut.  Hal itu bisa dilihat dari kepadatan tingkat hunian hotel-hotel. Lebih dari 6.000-an kamar hotel di kota Makassar sudah ter-booking beberapa hari sebelumnya. Larisnya penjualan terompet, kembang api serta jagung muda, mengindikasikan warga kota Makassar sampai ke lorong-lorong akan bersuka ria dalam malam menyambut  datangnya  Tahun Baru, 1 Januari 2013.

Sejumlah komunitas dalam malam menyambut datangnya tahun 2013 melakukan kegiatan religius berupa acara zikir bersama di Kota Makassar.  (Mahaji Noesa/Independen.co/31 Desember 2012)

Gambar

Bekas kediaman Mochtar Lufthi di Kota Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Ketika kini jalanan sepanjang sisi kanan-kiri umumnya telah ditumbuhi rumah-rumah hunian beton bertingkat dengan gaya arsitektur mutakhir, rumah peninggalan masa Belanda (verponding) di Jalan Muchtar Lufhti No. 26 Kota Makassar, bentuknya masih tetap tidak berubah.

Rumah tersebut beratap genteng berundak. Pintu jendela berukuran besar dengan teras terbuka sebagai ciri rumah-rumah pejabat militer Belanda tempo dulu di Kota Makassar. Dinding depan bangunan tak terawat, sebagian plasterannya terkelupas memperlihatkan susunan batu bata tua yang melepuh

Di halaman kosong seputaran rumah dalam areal 18 x 40 meter tersebut, tampak tumbuh sejumlah tanaman pisang dengan buah menanti matang. Ada juga pohon nangka, pohon jeruk nipis, dan tanaman pepaya. Di lahan kosong sebelah timur rumah ini tumbuh gulma liar. Sebuah pemandangan minor layaknya rumah pedesaan di tengah pesatnya perkembangan Kota Metropolitan Makassar.

Pintu pagar halaman terbuat dari kayu tambal-sulam, tertutup. Rumah tersebut Selasa siang (07/08/2012) tampak sepi. Tak terlihat ada gerakan orang di dalamnya. ”Mungkin mereka tidur,” sahut Mudding Dg Ngewang (60) yang meleseh di balai-balai salah satu pos keamanan tak jauh dari rumah tersebut.

Lelaki asal Karunrung Jipang di selatan Kota Makassar mengaku, sejak tahun 1979 menumpang membuka usaha tambal ban di halaman kosong depan rumah tersebut. ”Di dalam rumah itu sekarang tinggal dua keluarga. Mereka adalah keponakan dan cucu dari almarhun Sitti Maimunah, orang asal Banjar, Kalimantan, sebagai pemilik rumah,” jelasnya.

Penjelasan Mudding tersebut menimbulkan tanya, lantaran sejak lama di salah satu pilar teras halaman depan rumah terpampang tulisan mencolok, sebagai berikut:

”Di rumah ini H.Mochtar Luthfie Tokoh Perjuangan Kemerdekaan Indonesia tewas ditembak oleh tentara kolonial Belanda KNIL dalam peristiwa 5 Agustus 1950 di Makassar”

Dari berbagai sumber diketahui, jika Muchtar Luthfie, pemuda kelahiran tahun 1900 di Balingka,  Kabupaten Agam, Sumatera Barat adalah salah satu sosok ulama pejuang Perintis Kemerdekaan Indonesia.

Anak dari ulama H.Abdul Latief Rasyidi di Padang Panjang ini, ketika sekolah agama tahun 1908 di Sungai Batang, Maninjau, tinggal bersama dan dididik langsung oleh H.Rasul – ayahanda Buya Hamka.

Dia dikenal di lingkungannya kala itu sebagai pemuda yang pandai berpidato dan berdiskusi dalam soal-soal keagamaan (Islam). Bahkan dalam perkembangannya, Muchtar Luthfie, yang sebelumnya pernah dipercayakan memimpin Diniyah School Padang Panjang Cabang Sibolga, jadi guru di sekolah khusus sekolah anak-anak bangsawan Hollands Inlandsche Kweekschool dan OSVIA (School tot Opleiding van Inladsche Ambtenaren), berbakat besar menjadi penulis buku.

Bukunya berjudul Hikmatul Muchtar berisikan pikiran yang menentang imperialisme dan kolonialisme kala itu, membuat berang pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Bukunya disita, dan Muchtar Luthfie dicari pihak Belanda untuk mendapatkan hukuman karena dinilai sebagai pengacau situasi.

Gurunya, H.Rasul membantu mengamankan Muchtar Luthfie menyeberangkan ke wilayah pesisir Semenanjung Malaka, sekarang Malaysia. Dari sini, pemuda yang juga penentang keras ajaran komunis tersebut, justru melangkahkan kaki menuju ke Mesir.

Selain untuk memperdalam ilmu-ilmu keagamaannya, di Mesir bersama pemuda-pemuda Indonesia lainnya dia membentuk organisasi serta berbagai kegiatan yang ditujukan untuk melakukan penantangan terhadap kaum penjajah kolonialis Belanda di Indonesia.

Salah satunya, pada tahun 1926, bersama Ilyas Yacoub, mahasiswa Universitas Al-Azhar di Mesir, mendirikan organisasi pemuda bernama Perhimpunan Penjaga Indonesia. Untuk menyebarluaskan gagasan serta ide-ide berkaitan dengan perlawanan penjajah Belanda di Indonesia, atas prakarsanya diterbitkan juga majalah Seruan Al-Azhar dan Pilihan Timur.

Tahun 1931 kembali ke Sumatera, tempat kelahirannya. Dia menjadi Ketua Dewan Propaganda Permi (Persatuan Muslimin Indonesia) Sumatera Barat yang kegiatannya mencakup pengembangan kader di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, dan politik.

Selain mengajar di berbagai sekolah, Muchtar Luthfie juga pernah membentuk sebuah sekolah khusus untuk pemberdayaan perempuan Indonesia bernama Normal School. Kehadiran kembali Muchtar Luthfie ke Indonesia dinilai pemerintah kolonial Belanda aktivitasnya makin membahayakan, sehingga harus ditangkap tahun 1932. Dua tahun kemudian, bersama dua rekannya – H. Jalaluddin Thalib dan H.Ilyas Yacoub diasingkan ke penjara Belanda di Digul, Irian. Lantas ketika tentara Jepang tahun 1942 berhasil mengusir pendudukan Belanda di Indonesia, Muchtar Luthfie diasingkan ke Australia.

Selama di Benua Kanguru tersebut, dia bersama rekan-rekannya digodok oleh Belanda untuk kembali ke Indonesia merebut kekuasaan Belanda yang telah diambil alih oleh tentara Jepang. Atas saran Gubernur Jenderal Belanda, Van Der Plas yang pernah menjadi kepala pemerintahan kolonial di Makassar, Muchtar Luthfie yang memiliki banyak ilmu tentang Agama Islam tersebut dikirim ke Makassar bersama Jalaludddin Thalib dalam kedudukan sebagai anggota konstituante Negara Indonesia Timur (NIT) bentukan Belanda.

Menurut rancangan pihak kolonial, misi yang diemban Muchtar Luthfie adalah mendekati para ulama khususnya di Sulawesi Selatan mencitrakan bahwa pihak Belanda memperhatikan masalah keagamaan dengan akan membangun sebuah mesjid terbesar di Makassar.

Namun, darah patriot dan jiwa nasionalisme yang telah mengalir di tubuh Muchtar Luthfie, membuat batinnya lebih berontak. Mulutnya mengatakan yes terhadap misi Belanda itu, tapi sesuai dengan kata hatinya ketika di Makassar justru ia melangkah lain untuk kepentingan nasional Indonesia. Menggalang kekuatan dengan sejumlah ulama di Makassar untuk membangun sendiri sebuah mesjid dalam kaitan menguatkan kekuatan benih persatuan dan kesatuan untuk terus melawan kehadiran pihak kolonial.

Bersama 28 ulama, pengusaha dan tokoh masyarakat di Kota Makassar, Muchtar Luthfie mengetuai pembangunan Mesjid Jami’ tahun 1949. Anemer atau pemborongnya dari warga keturunan Tionghoa bernama Jie Pak Fong. Mesjid Jami’ yang bekapasitas tampung lebih 1.000 jamaah tersebut, merupakan mesjid terbesar dan termegah pertama di Sulawesi Selatan. Mesjid Jami’ inilah yang telah dipugar megah dan sampai sekarang dikenal dengan nama Mesjid Raya Makassar.

Langkah Muchtar Luthfie tersebut membuat kecewa tentara KNIL Belanda. Sementara di lain pihak simpati warga di Kota Makassar dan Provinsi Sulawesi Selatan terhadap Muchtar Luthfie kian besar. Hingga dia kemudian diangkat sebagai Ketua Partai Masyumi Cabang Sulawesi Selatan.

Saat masyarakat sedang ramai-ramainya menentang kehadiran Negara-negara Federal dengan tuntutan segera membubarkan NIT, subuh hari 5 Agustus 1950, ketika Muchtar Luthfie berdiri menguak jendela rumahnya usai shalat subuh, tiba-tiba saja dia diberondong tembakan oleh sejumlah tentara KNIL. Termasuk jidatnya ditembus peluru. Sang isteri menangis meraung memeluknya tapi nyawa Muchtar Luthfie tak dapat terselamatkan. Dia tewas pada subuh hari yang lengang di rumah tempat kediamannya yang kini masih tegak di Jl. Muchtar Luthfi No.26 Kota Makassar.

Namun rumah tersebut sekarang tidak ada lagi hubungan dengan keluarga atau keturunan dari Muchtar Luthfie. Menurut penuturan beberapa generasi yang hidup di tahun 50-an, pada masa Walikota Makassar dijabat oleh H.Arupala (1962 -1965), rumah tersebut telah dijual oleh isteri Muchtar Luthfie sebelum kembali ke kampung halamannya di Aceh. Pembelinya adalah sahabat dari almarhum Muchtar Luthfie yang juga pernah terlibat dalam panitia pembangunan Mesjid Jami’. Pembeli disebut-sebut sebagai H.Banjar, karena berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dia (sebelum meninggal) lalu menyerahkan rumah tersebut kepada seorang anak putri bungsunya bernama Sitti Maimuna.

Belakangan ketika Sitti Maimuna meninggal dunia, anak-anaknya yang menempati rumah tersebut. Namun pada tahun 1998 lalu, menurut cerita Mudding, datang seorang anak lelaki almarhum H. Banjar dari Bandung menyatakan juga punya hak terhadap rumah di Jl. Muchtar Luthfie tersebut.

”Dia yang memberikan tulisan di rumah tersebut sebagai tempat ditembaknya Muchtar Luthfie. Saya tidak tahu bagaimana selanjutnya tuntut menuntut hak atas rumah tersebut. Yang jelas rumah itu tidak pernah ada perubahan. Sepengetahuan saya, sejak tahun 1979 tidak pernah ada pihak veteran atau pihak pemerintah yang datang melihat atau memberikan bantuan untuk perbaikan rumah tersebut,” katanya.

Bukan tidak mungkin, jika pihak anak, kemanakan dan cucu almarhum H. Banjar sepakat, mereka dapat menjual rumah bekas kediaman Muchtar Luthfie kepada pihak lain untuk kemudian dirobohkan dan dijadikan bangunan komersial seperti bangunan-bangunan yang kini sudah tumbuh di sekitarnya. Dengan begitu, akan punahlah jejak ulama yang pejuang asal Sumatera Barat yang sebenarnya juga pantas jika diusulkan mendapat anugerah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 7 Agustus 2012)

IMG00852-20130103-1032

Dinding bagian barat bekas Benteng Somba Opu/Foto: Mahaji Noesa

Selain bangunan abad XVII Benteng Ujungpandang, masih terdapat banyak sekali bangunan peninggalan lama, bukti Makassar sebagai Kota Tua. Hanya saja sejumlah bangunan tua lainnya menjadi tak menonjol dengan kehadiran bangunan baru berasitektur modern. Bahkan banyak jejak bersejarah justru dibiarkan ikut tergusur.

Gedung lama Balaikota Makassar di Jl. A.Yani, Museum Kota di Jl. Balaikota, Kantor Pengadilan Negeri di Jl. Kartini, Rumah Jabatan Walikota Makassar, Gubernuran Sulsel dan Gedung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Jl. Jend Sudirman, merupakan bangunan-bangunan tinggalan masa lalu yang masih menonjol.

Namun begitu, Klenteng Ibu Agung Bahari di Jl. Sulawesi yang dibangun tahun 1737, Gereja Katedral (1898), Masjid Arab (1907), Mesjid Kampung Melayu dan Pasar Butung (1917). Semua juga merupakan bangunan peninggalan masa lalu yang dapat menjadi bukti dinamika kehidupan Kota Makassar dari masa ke masa.

Bahkan melalui sejumlah bangunan keagamaan tinggalan lama tersebut, dapat diketahui jika kehidupan di Kota Makassar pada ratusan abad lampau sudah terbuka untuk semua etnis maupun agama.

Melalui catatan sejarah Kerajaan Gowa dan Tallo pada abad XVI – XVII, diketahui ketika pusat Kota Makassar masih berada di Benteng Somba Opu,  justru hidup damai berdampingan sejumlah suku bangsa dari berbagai belahan dunia. Mereka yang terdiri dari bangsa Portugis, Denmark, Inggris, Melayu dan Gujarat  justru diperkenankan pihak kerajaan membuat perwakilan-perwakilan dagang seputar benteng.

Sayangnya, bangunan-bangunan tersebut kini hanya ada dalam catatan lembaran sejarah. Lantaran semua telah hancur seiring dibumihanguskannya Benteng Somba Opu oleh pihak kolonial Belanda pada abad XVII.

IMG00849-20130103-1030

Bastion tersisa dari Benteng Somba Opu/Foto: Mahaji Noesa

Sebenarnya, sebagaimana dicatat sejarah, sesuai dengan Perjanjian Bungaya (Bongaissck Verdrag) pada 18 Nopember 1667 antara Raja Gowa ke-16, Sultan Hasanuddin dengan Laksamana Belanda Cornelis Janszoon Speelman, dua markas pertahanan yaitu Benteng Somba Opu dan Benteng Ujungpandang tidak boleh dihancurkan. Akan tetapi akibat munculnya keserakahan kolonial, Benteng Somba Opu yang menjadi hak Kerajaan Gowa kemudian dihancurkan.

Setelah beratus tahun peristiwa penghianatan itu berlalu, lokasi tempat ditandatanganinya Perjanjian Bungaya yang ada di sekitar Bontoa, Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar, pun menjadi tidak jelas lagi. Sejumlah pondasi bangunan baru sudah tegak di sekitar lokasi bersejarah tersebut.

‘’Beberapa tahun lalu di tempat itu masih ada tanda yang menyatakan sebagai Tempat Perjanjian Bungaya. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi,’’ jelas Amir, seorang warga dari sekitar Timbuseng, Barombong, sambil menunjuk ke arah lokasi di belakang bangunan sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Solar.

Satu-satunya pertanda jejak, karena sekitar lokasi masih diberi nama sebagai Jl. Perjanjian Bungaya. Jalan tembus dari arah Kelurahan Barombong menuju SMA Negeri 20 Makassar yang kondisinya, selain sempit juga aspalnya berlubang-lubang lama tak pernah mendapat perbaikan.

Tergusurnya lokasi Perjanjian Bungaya dengan kahadiran sejumlah bangunan baru sekitar Bontoa, amat disayangkan banyak pihak. ‘’Lokasi ini sama pentingnya dengan Benteng Ujungpandang untuk dipelihara sebagai bagian dari bukti jejak sejarah Kerajaan Gowa masa lalu,’’ kata Sudirman, seorang mahasiswa perguruan tinggi di Kota Makassar.

Seperti dicatat sejarah, Perjanjian Bungaya merupakan perjanjian pertama yang dibuat di Nusantara dengan penyumpahan menggunakan dua kitab suci agama. Perjanjian ini ditandatangani dengan sumpah oleh Sultan Hasanuddin di depan kitab Al Quran (Islam) dan Speelman di depan kitab Injil (Kristen).

Namun kemudian terjadi penghianatan kolonial, dan memiriskan karena lokasi bersejarah Perjanjian Bungaya itupun kini terancam hilang tergusur derap pembangunan kota. (Mahaji Noesa)