Posts Tagged ‘jepang’

Gambar

Penari Ular/Foto: riset google -pixoto.com

Jika anda berjumpa ular bersama koruptor, untuk selamat terlebih dahulu pentung koruptor lalu menyusul ketok ularnya.

Kalimat satire menyangkut berbisanya koruptor dalam kehidupan yang diungkapkan seorang rekan, membuat gerrr….banyak orang sekeliling yang ikut mendengarnya.

Namun kalimat itu justru mengingatkan terhadap dua peristiwa berkaitan dengan ular yang sesungguhnya. Pertama, ketika saya melakukan perjalanan menggunakan angkutan bus ukuran sedang dari Kota Parepare (Sulawesi Selatan) menuju Kota Mamuju, ibukota Provinsi Sulawesi Barat.

Dalam perjalanan melewati Kota Pinrang, ibukota Kabupaten Pinrang (Sulawesi Selatan), bus yang tempat duduknya masih banyak kosong tak terisi, lalu berhenti mengangkut 4 pria yang sebelumnya terlihat mengacung tangan di tepi jalan menunjuk ke arah Mamuju.

Keempat pria dewasa tersebut menarik perhatian saya, lantaran selain penampilan fisik mereka yang kelihatan sangar. Juga barang bawaan masing-masing mengundang tanya. Selain setiap orang terlihat membawa golok yang berwarangka, juga ada yang membawa gulungan tali plastik, karung plastik, besi-besi cabang, potongan-potongan pipa, tongkat rotan, senter menggantung di pinggang, dan juga lampu petromaks (strong king).

Siapa mereka? Pertanyaan itu terjawab dari salah seorang yang duduk berhimpit menempati kursi kosong di kananku. Aku pun terkesima, ketika mengetahui jika mereka adalah anggota kelompok pemburu ular di wilayah gunung dan hutan-hutan Sulawesi Barat.

Perburuan dilakukan ke tempat atau lokasi-lokasi yang telah diketahui atau dicurigai merupakan sarang ular. Menurut ceritanya, biasanya mereka beraksi menunggu atau memberi pancingan agar ular keluar dari sarang atau lubang-lubang pada malam hari. Ular ditangkap, kemudian dikuliti, dan kulitnya itulah yang dijual.

Gambar

Penari ular/Foto: sumber riset google – idekonyol.wordpress.com

Tidak ada penjelasan dari manusia pemburu ular ini, berapa harga, siapa dan dimana mereka menjual kulit-kulit ular tersebut. Dalam perjalanan siang dengan bus pengangkutan umum antara Parepare dan Mamuju saya beberapa kali melihat ada papan-papan bicara di dekat-dekat pemukiman penduduk yang bertuliskan : ‘’Beli Kulit Ular Sawah.’’ Pemburu ular, suatu profesi yang baru kuketahui.

Peristiwa kedua, suatu malam penduduk yang berdiam di arah timur asrama tentara di wilayah Kendari Caddi, Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara geger lantaran ada seekor ular yang merayap dari tepi gunung melintas di jalanan pemukiman.

Ular yang berukuran besar diperkirakan sepanjang 4 sampai 5 meter, menurut cerita penduduk, sudah seringkali dilihat kemunculannya di wilayah perkampungan saat tengah malam. Ketika penduduk mengejar seketika ular itu menghilang. Sebuah lubang bekas goa pertahanan masa pendudukan Jepang tak jauh dari pemukiman dicurigai sebagai tempat ular tersebut bersarang.

Dalam geger kemunculan ular malam itu, ada seorang lelaki tua asal Pulau Wawonii – sebuah pulau yang terbentang sekitar 2 jam pelayaran dari muara Teluk Kendari, menyarankan untuk selalu menaburkan bawang merah ke mulut goa yang dicurigai menjadi sarang ular. Diberi petunjuk bawang yang ditabur hendaknya ujung-ujungnya terlebih dahulu dipecahkan hingga tercium aroma bawangnya.

Sekitar dua bulan ketika saya kembali dalam suatu urusan ke lokasi tersebut, penduduk setempat menyatakan tak pernah lagi melihat atau menemukan ada ular gentayangan malam hari. Sejumlah penduduk menyatakan kemungkinan ular itu sudah mati. Lantaran setelah beberapa kali penduduk sengaja melemparkan butiran-butiran bawang merah ke bekas goa pertahanan Jepang, mereka lantas pernah berhari-hari mencium hembusan bau bangkai busuk yang keras dari dalam goa tersebut.

Dari pengalaman itu, sejumlah saran copas pernah saya sampaikan kepada beberapa teman untuk memberikan butiran-butiran bawang merah ke lobang yang dicurigai sebagai sarang ular. Ketika kemudian bertemu, banyak yang mengakui ular-ular menghilang setelah sarangnya mereka taburi butiran-butiran bawang merah. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 26 Oktober 2011)

 

IMG00103-20121004-0920

Daeng becak Makassar menanti penumpang/Foto: Mahaji Noesa

 

Banyak pengayuh becak yang lebih akrab dipanggil Daeng Becak tak punya tempat kediaman di Kota Makassar. Mereka adalah warga urban, berasal dari wilayah tetangga ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, seperti dari Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto dan Maros. Daeng-daeng Becak tersebut setiap malam tidur di becak, berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat lain yang dianggap aman.

Selama tiga malam berturut, ketika sengaja berkeliling pada dini hari ke sejumlah jalan di Kota Makassar, menemukan puluhan Daeng Becak yang begitu asyik tidur melengkung dan berbagai variasi tidur lainnya di becaknya. Jumlah daeng becak yang setiap malam tidur di becaknya kemungkinan dapat mencapai ratusan orang.

Soalnya dari sekitar 15 ruas jalan yang ditelusuri dini hari selama 3 malam saja, ditemui puluhan Daeng Becak yang tidur di becaknya. Yaitu di sepanjang Jalan Veteran, Jl.Penghibur, Jl.Sultan Alauddin, Jl. Sultan Hasanuddin, Jl. Tentara Pelajar, jalan-jalan seputar Makassar Mall (Pasar Sentral), Jl.AP.Pettarani dan Jl. G.Latimojong serta jalan-jalan sekitarnya.  Di Kota Makassar yang belakangan juga dijuluki sebagai ‘Kota Daeng’  terdapat lebih dari seribu ruas jalan.

Para Daeng Becak umumnya ditemukan tidur di becak yang diparkir emper-emper toko dan kios K-5, halaman rumah dan perkantoran, dan bahkan di tepi jalan.

Seperti seorang tukang becak yang dijumpai dinihari tidur asyik di atas becaknya yang diparkir di dekat halte bus pengangkutan ke Trans Studio di selatan Jl. Penghibur , depan Rumah Jabatan Wali Kota Makassar.

‘’Kalau tengah malam di sini sunyi, tidak ada gangguan. Tapi pagi-pagi sekali harus cepat bangun karena jalanan cepat ramai, ‘’ kata Dg. Laja (bukan nama sebenarnya).

Lelaki berusia 48 tahun yang tak mau menyebutkan nama sesungguhnya juga nama kampung tempat asalnya kecuali menyebut dari wilayah Kabupaten Takalar, mengaku sudah sejak tahun 90-an jadi ‘Paggoyang’ (Bhs. Makassar, berati tukang becak). Selama itu, katanya, ketika masuk Kota Makassar, kalau malam tidur di becak, lantaran dia tidak punya sanak famili yang punya rumah di Kota Makassar.

Setiap hari Sabtu Dg Laja pulang ke kampungnya, menemui isteri dan 3  anaknya. Biasanya, katanya, dia membawa uang hasil  Pagoyangnya untuk keluarga  Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Dia mengaku, punya rumah dan lahan pertanian yang ditunggui isteri dan keluarganya di kampung. Setiap hari Senin dia  kembali lagi untuk mengayuh becak yang disewa dari teman-temannya Rp 5.000 sehari  di Kota Makassar. Kecuali musim tanan atau musim panen padi, Dg Laja biasanya istirahat hingga 10 hari di kampungnya yang diakui berjarak sekitar 60 km dari Kota Makassar.

Kisah hampir sama diceritakan  5 Daeng Becak lainnya asal Gowa dan Jeneponto,  yang ditemui tidur di becak di tepi-tepi jalan Kota Makassar. Mereka umumnya selain hanya menyebut daerah asal, rata-rata berkeras tak mau menyebutkan nama kampung maupun nama dirinya yang sebenarnya.

Namun dari dialog-dialog singkat dengan mereka, diketahui, untuk urusan mandi sehari-hari dalam kehidupan nomaden bersama becaknya, biasanya menumpang di sumur teman atau pipa air warga yang terbuka.

‘’Saya selama ini kalau mau mandi pagi ke Jalan Landak Baru dekat lampu merah, di sana ada kran air,’’ jelas Daeng Becak yang ditemui masih asyik melengkungkan tubuh di becaknya yang diparkir di emperan salah satu perkantoran di Jl. Veteran Selatan.

Dalam dialog dengan sejumlah Daeng Becak nomaden tersebut, umumnya mengakui untuk urusan ‘beol’ mereka sudah punya lokasi tertentu yang tersedia air untuk membilas, seperti selokan atau tepi pantai.

Kota Makassar di masa Walikota Abustam pernah memiliki sampai 50-an ribu becak. Bahkan lantaran banyaknya armada becak, Pemkot Makassar pernah membagi pembatasan operasi  dengan sebutan ‘Becak Siang’ (warna kuning) dan ‘Becak Malam’ (warna biru).

Sejak beroperasinya Becak Bermotor (Bentor) sejak 5 tahun lalu di Kota Makassar, jumlah becak tradisional tampak makin berkurang di Kota Makassar.  Mereka terdesak dengan minat warga yang lebih banyak memilih Bentor untuk rute angkutan yang dulunya dilayani becak. Lagi pula, banyak ‘pagoyang’ becak yang kini justru menjadi pengemudi Bentor.

Saat ini, diperkirakan sudah ada sekitar 9.000-an unit Bentor yang setiap hari beroperasi di Kota Makassar. Kehadiran Bentor tersebut telah menggeser bahkan mempersempit ruang gerak operasi para ‘pagoyang.’ Selain masih bayak ‘pagoyang’ nomaden tidur di becak pada malam hari, sekarang siang hari terlihat banyak Daeng Becak ngantuk bahkan tertidur di becak lantaran minim penumpang. Warga pun kini banyak yang memilih Bentor untuk angkutan yang dulunya dilayani becak dari jalan hingga ke lorong-lorong.

Dari sebuah catatan laporan perjalanan seorang wartawan Jepang tahun 1937 ke Kota Makassar, diketahui jika becak Makassar yang ukurannya agak kecil itulah yang awalnya diperkenalkan ke Jakarta. Hingga ibukota negara RI pernah diserbu hingga ratusan ribu angkutan becak, dan kemudian dengan susah payah diperangi guna menjadikan Jakarta sebagai ‘Daerah Bebas Becak’ seperti sekarang ini.

Tidak salah jika dalam pekerjaan revitalisasi Pantai Losari untuk pembuatan anjungan Bugis-Makassar sekarang ini, di dalamnya juga Pemkot Makassar juga membangun sebuah Monumen Becak Makassar. Pasalnya, lambat atau cepat, becak Makassar akan tergusur zaman terutama dengan kehadiran Bentor, sejenis kendaraan becak dimotorisasi yang mulanya hanya digunakan masyarakat di wilayah Gorontalo. (Mahaji Noesa/Kompasiana/Kompas, 10 Oktober 2012)