Posts Tagged ‘jimat’

Gambar

Gambar jimat Naga Sikoi/Ft: Mahaji Noesa

Naga yang digambarkan seperti ular ternyata tak hanya hidup dalam kepercayaan dan budaya bangsa di Cina, Korea dan Jepang. Di kalangan etnik Bugis di Sulawesi Selatan, juga makhluk yang tak pernah terlihat di alam nyata tersebut gambarnya sudah dikenal sejak puluhan tahun lalu. Namanya Naga Sikoi.

Cerita tentang Naga Sikoi yang beredar dari mulut ke mulut ini sebenarnya sudah saya monitor sejak tahun 80-an dari sejumlah daerah kabupaten beretnik Bugis di Provinsi Sulawesi Selatan. Bahkan dari pantauan di lapangan, cerita Naga Sikoi, sejak lama juga sudah menyebar hingga ke etnik lainnya di Sulawesi Selatan, dikaitkan sebagai jimat pekasih terutama bagi kalangan muda-mudi agar mudah mendapatkan pasangan asmara.

Dari salah seorang remaja pengguna jimat Naga Sikoi di Kabupaten Bone mengakui, sejak ia mengantongi jimat tersebut ada semacam kepercayaan diri untuk mendekati wanita yang disenangi, dan mengaku telah beberapa kali membuktikan ketika mengutarakan cinta kepada wanita yang disukai tak pernah ditolak.

Dia mengaku, seperti pengakuan dari sejumlah pria pemilik jimat Naga Sikoi yang dihubungi lainnya, memperoleh jimat tersebut melalui orang tertentu yang umumnya diketahui punya kemampuan melakukan pengobatan terhadap orang-orang yang mengalami sakit aneh-aneh yang sukar terdeteksi melalui pengobatan secara medis. Pemberi jimat Naga Sikoi, juga disebut-sebut rata-rata memiliki kemampuan menyembuhkan orang-orang yang mengalami gangguan kesurupan.

Hanya saja, para pemberi atau pembuat jimat Naga Sikoi tidak semuanya disebut dukun. Lantaran ada juga yang mengeluarkan jimat tersebut sekalipun memiliki kemampuan supra tetapi menekuni profesi lain, seperti sebagai nelayan pelaut.

Tak hanya untuk lelaki, jimat Naga Sikoi juga diberikan kepada wanita untuk fungsi yang sama. Hanya saja, menurut salah seorang wanita mantan pengguna jimat Naga Sikoi yang ditemui di Kabupaten Pinrang, untuk pengguna wanita sering ada persyaratan khusus. ‘’Misalnya, dari tempat saya mengambil jimat tersebut dianjurkan agar minimal sekali dalam setahun memberi serbuk emas, yang dapat dilakukan dengan mengesek-gesek perhiasan emas ke jimat tersebut,’’ katanya.

Perempuan yang sudah memiliki 3 orang anak dan seorang cucu ini mengaku, sebelumnya pernah dua kali mengalami kegagalan dalam percintaan dengan pria pujaannya sewaktu masih remaja. Setelah memiliki jimat Naga Sikoi, itulah kemudian ia dapat jadian dengan pacar idamannya yang kini menjadi bapak dari anak-anaknya.

‘’Mungkin secara kebetulan, karena jodoh seseorang itu adalah Rahasia Tuhan. Tapi begitulah ceritanya,’’ katanya.

Dari sejumlah pengguna yang pernah ditemui, diketahui jimat Naga Sikoi ketika diberikan sudah dalam kondisi terbungkus dijahit dalam kain. Ada yang kain pembungkusnya berwarna merah, hitam, dan putih dalam ukuran rata-rata sebesar kotak korek api kayu. Banyak pemilik jimat tidak mengetahui benda yang terbungkus dalam kain yang diberikan sebagai jimat Naga Sikoi tersebut. Mereka juga umumnya tidak mau membukanya sebagaimana pesan si pemberi.

Dari cerita para pengguna, diketahui tak ada ritual khusus yang dilakukan untuk memperoh jimat Naga Sikoi, kecuali memberi tip berupa uang secara sukarela kepada si pembuat atau pemberi jimat.

Tak hanya d Sulawesi Selatan, di sejumlah kabupaten di Sulawesi Barat, saya juga mendapatkan cerita senada tentang jimat Naga Sikoi yang dikaitkan dengan urusan pekasih tersebut. Membuat penasaran karena selama puluhan tahun saya cuma menadapat cerita bahwa jimat tersebut berisi semacam gambar Naga, tetapi tidak pernah melihat bagaimana bentuk gambar Naga Sikoi itu sesungguhnya.

Awal Mei 2012 ketika mampir dalam suatu urusan di salah satu kawasan pertokoan di Kota Palopo (300-an km di arah timur Kota Makassar), secara kebetulan menjumpai seseorang yang sedang merapihkan sebuah gambar naga di lembaran kertas tua. Dalam dialog kemudian dia mengakui, itulah yang disebut gambar Naga Sikoi. Gambar tersebut merupakan peninggalan kakeknya yang selama ini selalu disimpan di kotak uang tempat berdagangnya.

‘’Katanya, sebagai jimat pelaris. Alhamdulillah, usaha dagang barang campuran yang ditekuni nenek dahulu sampai sekarang masih tetap berjalan lancar. Bahkan kami cucunya sekarang sudah dapat memiliki tiga toko lainnya sebagai tempat berdagang,’’ katanya.

Pemilik usaha barang campuran di Kota Palopo tersebut mengakui rezeki diperoleh seseorang berkat dari hasil usaha, besar kecilnya rezeki yang dapat diperoleh merupakan ketentuan Tuhan yang harus disyukuri. ‘’Jika kami tetap menaruh gambar Naga Sikoi ke tempat uang dagangan kami itu, karena mengikuti kebiasaan nenek saja, ‘’ katanya, kemudian member izin untuk mencopy gambar Naga Sikoi tersebut.

Gambar Naga Sikoi benar-benar merupakan gambar naga yang dibuat di lembaran kertas. Gambarnya, berupa dua ekor naga yang kepalanya saling berhadapan dan ekornya saling berkait. Dalam bahasa Bugis, memang, kata Sikoi berarti Saling Berkait atau dua benda yang saling melilit. Mungkin itulah sebabnya sehingga gambar naga ini popular dengan sebutan Naga Sikoi.

Menyusul seorang pedagang di Pasar Rappang, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan memperlihatkan gambar Naga Sikoi yang mirip diperlihatkan di Kota Palopo tersebut.

Seorang pria pedagang barang sandang yang cukup laris di sekitar komplek Pasar Sentral Kota Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo, ketika kepadanya diperlihatkan copy-an gambar Naga Sikoi dari Kota Palopo, dia juga mengaku sampai sekarang memiliki gambar yang hampir sama, yaitu dua naga yang saling berkait. Gambar itu juga merupakan peninggalan kakeknya yang sampai sekarang dilipat dan selalu ditempatkan di laci tempat uang di toko dagangannya.

Hanya saja, ceriteranya, gambar Naga Sikoi tersebut sesuai pesan nenek jika disimpan di tempat uang harus selalu disertai dengan selembar uang kertas apa saja yang masih berlaku yang dilipat secara khusus dalam bentuk lipatan saling berkait juga. Diistilahkan sebagai uang yang di-Rekko Ota.

Bahkan menurutnya, belakangan, sejumlah rekannya yang juga memiliki gambar Naga Sikoi membuat Rekko Ota khusus dari uang kertas bernilai Rp 500 yang bergambar Monyet atas saran terakhir dari sejumlah pembuat atau pemberi gambar Naga Sikoi. Meski tidak jelas apa alasannya, dia juga bersusah payah mencari uang Rp 500 seperti yang dimaksud. Uang kertas pecacahan Rp 500 yang dimaksudkan adalah uang kertas terbitan Bank Indonesia tahun 1992 yang sudah lama ditarik dari peredaran.

Di sejumlah kabupaten lain di Sulawesi Selatan juga terlihat ada kebiasaan khususnya para pedagang melipat uang dengan cara Rekko Ota kemudian disisipkan di laci atau kotak tempat uang untuk hasil dagangan. Banyak yang menyebut Rekko Ota sebagaiIndo Doi alias induk uang.

Model gambar Naga Sikoi untuk jimat pelaris tersebut diakui mirip juga dengan gambar Naga Sikoi yang dijadikan jimat pekasih (bercinta). ‘’Saya dulu pernah punya jimat Naga Sikoi yang terbungkus sebagai jimat agar disenangi wanita. Jimat yang selalu saya masukkan di kantong celana, kemudian bungkus kainnya robek, dan ketika saya buka isinya berisi selembar kertas yang bergambar dua naga seperti itu, kepalanya saling berhadapan dan kedua ekornya pun berkait,’’ katanya.

Begitulah ikhwal gambar Naga Sikoi dalam dunia kemajuan Iptek yang pesat saat ini, tapi masih ada saja yang menggunakan sebagai jimat. Yang jelas gambar Naga Sikoi adalah khas Sulawesi Selatan lantaran tidak memliki jari cakar. Sebab menurut penjelasan kompasianer Rick Matthew (Kompasiana, 12 April 2011), gambar Naga Cina ditandai dengan ciri cakarnya yang memiliki 5 jari. Sedangkan Naga Korea cakarnya berjari 4, dan Naga Jepang cakarnya berjari 3. (Mahaji Noesa, Kompasiana, 19 Mei 2012)

kucing 2

ilustrasi/sumber google-berita.plasa.msn.com

Mata kucing seperti mata sejumlah binatang bertaring yang buas dan berbisa, mengeluarkan sinar jika terkelebat cahaya di malam yang gelap. Namun begitu, kucing termasuk binatang peliharaan rumah yang paling jinak. Tak banyak binatang peliharaan seperti kucing yang dapat tidur seranjang dengan tuannya.

Semasa sekolah di SLTP saya punya peliharaan seekor kucing jantan. Bertahun lamanya kucing peliharaan tersebut jika malam hari ikut tidur di ranjang, berbaring di bagian kaki. Bahkan sesekali sering aku terbangun malam menghalaunya, lantaran dia ikut menikmati tidur mendengkur di bantal tidur pelapis kepalaku.

Warna bulunya putih diselingi belang-belang hitam dan berekor pendek menggumpal. Kucing ini juga disenangi oleh banyak teman dan anggota keluarga tetanggaku. Selain termasuk kucing jinak, bulunya selalu terlihat mengkilap. Lantaran tubuhnya paling sedikit sekali dalam seminggu kutaburi ampas parutan kelapa yang telah diperas santannya. Dengan cara menaburi ampas kelapa seperti diajarkan ibu, si kucing tak henti menjilati bulunya sehingga selalu kilap dan bersih.

Kucing lokal yang kuberi nama Bulu tersebut kupelihara sejak masih kecil. Dia kudapatkan di bukit yang membatasi sebuah jalan simpang tiga. Di lokasi yang agak jauh dari pemukiman tersebut sering dijadikan tempat pembuangan anak kucing yang baru dilahirkan, termasuk kucing-kucing besar.

Kucing-kucing besar yang diasingkan di tempat ini seringkali terlihat hanya bertahan beberapa saat lalu menghilang. Kemudian, beberapa hari berikutnya kucing itu terlihat kembali dilepas oleh pemiliknya di lokasi tersebut. Kucing binatang peliharaan yang punya instink sangat kuat dengan lingkungan tempat dia dipelihara.

Kucing (pengalaman dengan kucing lokal), sekalipun dimasukkan dalam karung lalu diasingkan sampai sejauh 2 km ia akan mampu kembali secepatnya ke tempat lingkungan rumah tempat dia dipelihara. Tidak seperti monyet, sekalipun bertahun-tahun dipelihara apabila dilepas langsung lari dan tak tahu untuk kembali sendiri ke kandangnya.

Sedangkan tabiat kucing-kucing yang masih kecil yang dibuang terlepas dari induknya, umumnya senang mengikuti jejak langkah orang-orang yang berjalan melintasinya. Dalam gerakan seperti itulah aku mengambil si Bulu, untuk kupelihara sebagaimana anjuran ibu kala itu, agar dapat dijadikan penghalau tikus sekitar lingkungan rumah.

Dalam perkembangannya, si Bulu bertumbuh sebagai kucing peliharaan yang jinak tapi juga lincah menangkap tikus. Beberapa kali saya menyaksikan langsung bagaimana si Bulu menangkap seekor tikus dari atas plafon rumah. Tikus digigit, dicengkram kemudian dimain-mainkan dengan membanting-banting di permukaan lantai hingga tak bergerak. Jika sudah begitu, kebiasaan si Bulu lantas meninggalkan tikus yang sudah mati, dan seperti memerintahkan kami penghuni rumah untuk menyingkirkan bangkai tersebut. Sejak ada si Bulu, cicit tikus memang jarang sekali terdengar di sekitar lingkungan rumah.

Apabila tiba saat makan siang atau makan malam bersama, si Bulu juga selalu hadir memutar-mutar di bawah meja makan sambil menggesek-gesekkan bulu badannya ke kaki-kaki kami. Si Bulu yang dibiarkan berkeliaran sekehendaknya, seperti sudah tahu untuk kembali ke rumah pada saat jam-jam makan.

Sejak awal dipelihara, sebagaimana anjuran ibu, si Bulu tak pernah diberi makan sisa tulang ikan. Menu makanan sehari-harinya, nasi plus daging ikan rebus, bakar, atau goreng. Larangan pemberian tulang ikan, dengan alasan semua kucing akan lahap menyantap tulang ikan, apalagi jika tulang-tulang ikan rebus. Dalam kondisi lahap seperti itu, berdasarkan pengalaman, kucing juga seringkali ketulangan, dan muntah. Yang terakhir ini dihindari sehingga lauk makan si Bulu hanya diberi daging ikan rebus. Mungkin karena menu seperti itu, si Bulu pun lantas tidak doyan menyantap daging tikus tangkapannya.

Rekan-rekan serta para orang tua tetanggaku seringkali bercanda dengan memanggil-manggil nama si Bulu, seperti kebiasaan yang kulakukan. Jika nama kucing peliharaan itu kuucapkan berulang-ulang, si Bulu dalam jarak yang jauh sekalipun apabila mendengarnya langsung datang mendekat, memutar-mutariku. Gerakan si Bulu seperti itu tak henti apabila tidak kuelus bagian kepalanya. Cerdik. Lantaran gerakan seperti itu tidak dilakukan kepada orang-orang lainnya yang juga sering memanggil-manggil namanya.

Namun suatu sore, kami sekeluarga terkejut lantaran datang seseorang yang sekampung mengadukan bahwa akan membunuh si Bulu. Sekalipun kami jelaskan bahwa kucing itu jinak, dia tidak mengerti. Soalnya, katanya, sudah dua kali dia melihat langsung si Bulu menangkap dan memakan anak-anak ayamnya. Kami pasrah. Tiga hari kemudian kami sekeluarga melihat orang tersebut menyeret si Bulu dengan seutas tali yang menjerat dilehernya lewat di jalanan dekat rumah.

Menurut sejumlah anak yang mengikuti, si Bulu ditenggelamkan di sebuah rawa di ujung kampung. Tali yang mengikat lehernya digantungi batu besar sebagai pemberat. Sedih mendengar, tapi kami pasrah apalagi yang melakukan adalah dari keluarga orang yang dijagokan di kampung. Lagi pula, si Bulu adalah kucing, mungkin saja di luar kontrol kami dia tetap tampil sebagai binatang bertaring yang ganas. Sebab, seperti kesaksian si orang tersebut, dia melihat langsung anak-anak ayamnya diterkam si Bulu.

Namun setelah makan malam tanpa gesekan Si Bulu, ketika kami sekeluarga santai di ruang tamu tiba-tiba pintu seperti ada yang menabrak. Ketika dibuka, ternyata si Bulu nongol mengeong masuk ke rumah dalam keadaan tubuh basah kuyup dan seutas tali masih membelit di lehernya.

Ayah lantas melepas tali ikatan di lehernya. Ibu menyiapkan makannya, adik saya justru membuat perapian untuk mengeringkan tubuh si Bulu. Kami semua sibuk. Tapi malam itu ayah memutuskan agar si Bulu diasingkan ke rumah sanak keluarga yang ada di pulau seberang kampung untuk menghindari terulangnya perlakuan sadis yang baru saja menimpanya. Singkat cerita, lebih sebulan kemudian, mungkin hanya secara kebetulan, penyeret si Bulu tewas ketika kendaraan bus yang ditumpangi untuk suatu perjalanan terperosok ke jurang.

Setelah peristiwa tersebut, saya kemudian tertarik untuk memelihara kucing berbulu tiga warna – hitam, putih, dan orange. Orang-orang di kampung saat itu menyebut sebagai ‘Kucing Mpalo.’ Sayang sekali karena ibu tidak mengijinkan jika memelihara kucing betina. Alasannya, memelihara kucing betina agak repot karena sering melahirkan banyak anak. Sedangkan kucing tiga warna seperti itu, umumnya berkelamin betina.

Ada cerita yang beredar sejak masa kecil di kampung, induk kucing akan memakan anak-anak jantan yang dilahirkan apabila memiliki bulu tiga warna. Untuk menyelamatkan anak kucing jantan berbulu tiga warna, dianjurkan begitu dilahirkan segera dipisahkan dari induknya. Dua kali saya berburu anak kucing jantan tiga warna, tapi selalu terlambat karena sang induk sudah lebih dahulu melumatnya.

Masih berdasarkan cerita lawas, konon kucing jantan berbulu tiga warna itulah kucing yang dapat bertanduk. Sebagian masyarakat sampai sekarang masih memercayai jika ada kucing yang bisa bertanduk. Mereka di antaranya, memercayai tanduk kucing dapat dijadikan mustika yang jika dipakai seorang wanita, jika melahirkan tak akan merasakan sakit sedikitpun. Diibaratkan seperti induk kucing, sesaat setelah melahirkan telah mampu melompat dan menerkam mangsanya tanpa ada rasa lemas atau takut terjadi perdarahan. Ada juga yang sering terdengar mencari tanduk kucing untuk kepentingan kelaki-lakian, tangguh sekalipun dalam perkelahian melawan kekuatan yang lebih banyak. Wallahualam.

Yang pasti, sekitar dua bulan lalu di sebuah kedai sekitar Pelabuhan Makassar, saya menyaksikan seseorang yang mempromosikan sepasang tanduk kucing kepada sejumlah pengunjung. Dua buah tanduk berwarna kuning gading, ukuran panjang sekitar 3 cm melengkung seperti kuku itulah disebut Tanduk Kucing Mpalo.

Ketika orang-orang berdebat mengenai berbagai macam keunikan termasuk keanehan yang dapat terjadi bagi pemegang tanduk kucing. Saya pun lalu nimbrung dengan berguyon, bahwa saya memiliki sepasang tanduk kuda yang berkhasiat sebagai aprodate bagi lelaki. ‘’Wah…bohong, masaiya ada tanduk kuda,’’ ucap spontan salah seorang pengunjung kedai Kaki-5 tersebut.

Saya lalu menjawab lantang, bahwa sama bohongnya dengan cerita tanduk kucing dengan segala khasiat serta manfaatnya, karena dalam pengetahuan umum tidak ada kucing yang bertanduk. Lelaki yang bertubuh kekar pemilik sepasang tanduk kucing memelototi saya yang segera berlalu meninggalkan kedai tersebut.

Dalam masa SMA, kemudian saya pernah memelihara seekor kucing jantan lokal dengan bulu berwarna hitam mengkilap. Seperti si Bulu, kucing hitam ini kupelihara mulai usia kecil. Kuberi nama Dulla. Seperti anjuran ibu, kupegang kulit leher bagian atasnya kemudian kudongakkan moncong si hitam itu lalu kusebut nama Dulla, lantas berludah angin sebanyak 3 kali ke arah moncong kucing.

Prosesi pemberian nama kucing yang kulakukan seperti itu aneh tapi nyata. Karena seperti prosesi pemberian nama terhadap sejumlah kucing lainnya, sejak itu si Hitam bertumbuh menjadi kucing peliharaan yang jinak dan akrab dengan panggilan nama Dulla. Hanya saja Dulla tidak seperti si Bulu. Dulla seperti kucing jantan lainnya, punya kebiasaan menggesek bagian pantat ke benda-benda apa saja lalu menyemprotkan air seninya yang sangat berbau sengit. Dan, Dulla yang memiliki ekor panjang pun tidak sampai setahun akrab sebagai kucing peliharaanku. Ia kemudian menghilang tanpa jejak.

Nanti setelah tamat SLA baru kutahu, jika Dulla, si kucing hitam kesayanganku tersebut justru jadi korban tumbal sebuah pengikut ajaran sesat yang mencari jimat penghilang tubuh dari pandangan. Seorang dari anggotanya yang sudah keluar dari perkumpulan menjelaskan, bahwa si Dulla mereka matikan dengan cara tak berdarah. Dibekap dengan karung goni hingga tewas. Lalu dilakukan prosesi terhadap bangkai Dullah seperti ketika akan memakamkan mayat manusia.

Selanjutnya dilakukan juga doa-doa khusus hingga hari keseratus ditanamnya bangkai kucing tersebut. Setelah itu, kuburannya digali dengan mengambil semua tulang kucing. Dengan prosesi tersendiri, para anggota perguruan yang terlibat dalam pembunuhan tak berdarah terhadap si Dulla, atas panduan sang guru lalu disilakan memilih tulang-tulang si Dullah.di depan cermin. Jika memegang tulang lalu seketika bayangan tubuhnya tak terlihat dalam cermin, itulah yang dijadikan jimat. Dari seekor kucing hitam hanya ada satu tulang yang dinyatakan dapat dijadikan jimat tubuh lenyap dari pandangan umum.

Siapa yang mendapat jimat menghilangkan tubuh dari pandangan umum dari tulang-tulang si Dulla, anggota perguruan yang membelot tersebut tidak mengetahuinya. ‘’Ajaran sesat, mencari jimat untuk perbuatan jahat,’’ katanya. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 29 April 2012)