Posts Tagged ‘kaki’

bilibili

Bendungan Bilibili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Foto:Armin Sulfikar Yahya)

Peringatan waspada ancaman banjir dan longsor Gunung Bawakaraeng dalam puncak musim hujan di Sulsel antara Desember 2012 – Pebruari 2013 dari BMKG Pusat, ternyata bukan prakiraan biasa. Sudah ada rekahan-rekahan besar berpotensi runtuh di dinding kaldera gunung berketinggian lebih 2.830 dpl yang berlokasi di hulu Sungai Jeneberang tersebut.

Awal Pebruari 2013 pihak Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan – Jeneberang (BBWSPJ) merilis informasi kepada wartawan di Makassar, ada tanda-tanda kuat akan terjadi runtuhan susulan Gunung Bawakaraeng. Beberapa bagian sudah merekah dan bisa saja tiba-tiba runtuh atau longsor apabila tertimpa hujan berintensitas tinggi.

Runtuhan pertama Gunung Bawakaraeng terjadi 26 Maret 2004 menimbun jurang sedalam 600 meter selebar 2 kilometer. Runtuhan Bawakaraeng ini merupakan peristiswa terbesar kedua di dunia setelah peristiwa longsoran kaldera Tateyama, Jepang, tahun 1985 dengan estimasi volume runtuh sekitar 400 juta kubik. Sedangkan volume runtuhan Gunung Bawakaraeng lebih dari 230 juta kubik.

Longsoran Bawakaraeng tersebut menimbun alur Sungai Jeneberang dengan mata air utamanya yang menjadi sumber air Dam Bilibili yang mulai berfungsi sejak tahun 1999 di bagian hilirnya. Akibatnya, dam multifungsi yang dibangun dengan dana pinjaman luar negeri sekitar Rp 780 miliar itu mengalami kemerosotan fungsi-fungsinya sebagai waduk pengendali banjir, penyedia air irigasi, PLTA, pemasok sumber air baku, kolam perikanan, dan obyek wisata.

Bayangkan, perut bendungan yang dirancang berdaya tampung air 346 juta kubik tersebut kini sudah terisi sekitar 82 juta kubik lumpur. Lumpur yang masuk tersebut berasal dari material runtuhan Bawakaraeng tahun 2004. Artinya, jika dirata-ratakan setelah 14 tahun longsornya Bawakaraeng, maka ada sekitar 6 juta ton lumpur yang masuk ke perut bendungan setiap tahun.

Padahal, pascalongsor Bawakaraeng 2004 sudah juga dialokasikan dana lebih dari Rp 450 miliar untuk membangun beberapa sabo dam penghambat percepatan sedimen ke perut bendungan dan sejumlah sand pocket atau kantong-kantong penahan pasir. Namun laju pergerakan material tetap saja volumenya dari tahun ke tahun membesar bergerak masuk perut bendungan yang memiliki luas genangan 16,5 km.

Sejumlah kalangan menghitung, jika tahun-tahun mendatang dengan upaya-upaya maksimal tetap saja  dihitung rata-rata 10 juta kubik material akan masuk ke perut bendungan setiap tahun, maka dalam waktu 10 tahun lagi dam Bilibili sudah tak mampu menjalankan fungsi-fungsinya sebagaimana rancangan awalnya. Seperti sebagai penyedia air irigasi untuk seluas 25 ribu hektar persawahan, PLTA 16,3 MW, dan penyedia sumber air baku 3.300 liter/detik. Demikian halnya sebagai dam pengendali banjir yang awalnya dirancang dapat mengurangi sapuan banjir lebih dari 2000 meterkubik/detik.

Sekarang saja hitungan-hitungan itu sudah melorot jauh dari disain awalnya. Bahkan bendungan yang dibangun atas kerjasama pihak Japan International Coorperation Agency (JICA) dengan rancangan usia 50 tahun, diperkirakan sudah tak berfungsi sebelum memasuki usia 30 tahun. Hitungan itupun dengan catatan apabila secara kontinyu dilakukan upaya keras penanggulangan pergerakan sedimen longsoran ke perut dam Bilibili yang dibangun dengan kemampuan tampung sedimen maksimal 29 juta kubik.

Adi Umardani, pejabat pembuat komitmen pengendalian sedimen Bawakaraeng mengatakan saat ini dibutuhkan 7 sabo dam serta 5 dam pengendali dalam upaya mengendalikan pergerakan material ke dalam bendungan Bilibili. Untuk itu dibutuhkan biaya ratusan miliar.

Dalam kondisi dam Bilibili senantiasa terancam kehilangan fungsi-fungsi pascalongsor Bawakaraeng 2004, belum pernah ada pihak terkait yang menganalisasi layak atau tidaknya untuk tetap menghambur duit beratus miliar setiap tahun di alur Sungai Jeneberang atas nama penyelamatan dam Bilibili dan ancaman banjir ke wilayah Makassar, Gowa, Maros, dan Takalar seperti yang pernah terjadi tahun-tahun 70-an saat bendungan Bilibili belum dibuat.

Ironisnya, seiring dengan usulan tambahan pembangunan sabo dam dan sands pocket di alur Sungai Jeneberang demi penyelamatan dam Bilibili, pihak berkompeten di BBWSPJ pun mengungkap, saat ini ada retakan-retakan di sisi barat Gunung Bawakaraeng yang berpotensi longsor seperti longsoran tahun 2004. Tidak main-main, ancaman longsor susulan itu diperkirakan volumenya antara 90 juta hingga 150 juta kubik.

Tidak ada penjelasan pasti kapan longsor susulan Bawakaraeng dapat terjadi. Ir.Haeruddin C Maddi, Kepala Satker PSDA BBWSPJ Sulsel mengatakan, jika hujan turun dengan intensitas tinggi warga di sekitar kaki Gunung Bawakaraeng harus waspada karena retakan-retakan yang ada di Bawakaraeng sekarang bisa saja tiba-tiba runtuh.

Artinya, jika runtuhan susulan Gunung Bawakaraeng terjadi tahun depan atau besok misalnya, maklum tak bisa diprediksi waktunya, maka cerita upaya penanggulangan dengan ratusan miliar dana yang telah, sedang dan akan dialokasikan ke alur Sungai Jeneberang harus terkubur sia-sia dengan longsoran bencana susulan yang memang sudah dinanti di dam Bilibili. (Mahaji Noesa/Koran Independen Edisi 22, 18 – 24 Februari 2013/http://www.independen.co/news/humaniora/lingkungan/item/1716-bendungan-bilibili-menanti-longsor-susulan) 

 

songkolo

Songkolo Bagadang/Foto: google-geoxperience.gonla.com

Layaknya wilayah metropolitan, aktivitas warga di kota Makassar sekarang sudah hidup siang-malam. Salah satu pertanda kehidupan malam, di hampir semua sudut kota bermunculan warung atau pedagang K-5 yang menyuguhkan menu jualan ‘Songkolo Bagadang.’

Songkolo adalah makanan khas etnik Bugis-Makassar. Sebagian orang dari wilayah Bugis menyebutnya dengan nama Sokko. Makanan yang terbuat dari beras jenis ketan ini sudah dikenal sejak lama di wilayah Sulawesi Selatan. Kehadirannya selalu dikaitkan pelaksanaan pesta-pesta gembira, seperti pesta hajatan, syukuran, dan perkawinan.

Bahkan suguhan Songkolo yang biasanya terbuat dari beras ketan berwarna putih, merah atau hitam hingga saat ini, masih sering dikaitkan dengan prosesi sejumlah acara atau pesta adat. Masih banyak warga asal Bugis – Makassar di wilayah perkotaan sekarang merasa kurang lengkap apabila tak menghadirkan Songkolo apabila menjamu tamu di meja-meja makan saat perayaan hari-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

Bahkan dalam memeriahkan peringatan maulid – kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap tahun, banyak komunitas warga di kabupaten/kota Sulawesi Selatan telah menjadikan semacam tradisi untuk melakukan lomba membuat Songkolo hias.

Sebenarnya banyak jenis kuliner tradisional lainnya yang juga dijajakan melalui cafe, warung dan pedagang K-5 untuk warga sepanjang malam hari di kota metro Makassar. Tapi entah siapa yang memulai, para penjual penganan dari ketan itulah yang pertama kali memajang label sebagai makanan malam yang sekarang populer dengan nama Songkolo Bagadang. Setelah kuliner Songkolo, kemudian menyusul penamaan untuk kuliner malam lainnya, seperti Coto Bagadang dan Nasi Kuning Bagadang.

Bahkan sebenarnya yang namanya Sarabba, minuman tradisional yang terbuat dari adonan sari panas jahe dan telur, jauh sebelumnya telah menjadi jualan larut malam saat Makassar belum berdenyut sebagai kota metro. Namun nama Songkolo Bagadang yang kemudian menonjol sebagai kuliner tradisional jualan malam hari di kota Makassar.

Salah satu dari berpuluh penjual Songkolo Bagadang yang mewarnai perdagangan kuliner malam metro Makassar saat ini yaitu penjual Songkolo Bagadang Hajja Haniah, berlokasi di Jl. Antang Raya N0. 19 D, arah timur kota Makassar. Warung penjualan Songkolo di poros jalan menghubungkan kota Makassar – kabupaten Gowa tersebut, melayani pembeli 24 jam.

Menurut pemiliknya, Hj, Haniah (50), onzet warung Songkolo Bagadang yang dibuka sejak tahun 1995 tersebut antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta setiap hari. Pembeli paling banyak malam hari, beragam, mulai dari sopir truck yang melintas malam, para sopir taksi, mahasiswa dan orang yang begadang malam hari. Bahkan tidak jarang warungnya dikunjungi rombongan pendatang dari luar kota.

Selain makan di tempat, banyak juga pembeli Songkolo Bagadang Hj.Haniah untuk dibawa pergi. Songkolo dijual dibungkus kertas kopi berat 2 ons per porsi dengan harga Rp 5.000. Dilengkapi lauk, berupa gorengan ikan atau teri kering, sambal, serta parutan kelapa alias sarundeng.

Selama dua malam observasi, terlihat setiap malam banyak pengunjung warung Songkolo Hj.Haniah juga datang menggunakan mobil-mobil tergolong jenis mewah.

Lidya Nurhidayati (26), karyawati salah satu bank swasta di Makassar, hampir setiap minggu menikmati Songkolo Bagadang Hj. Hania. “Selain enak, harganya juga terjangkau. Bahkan kalau ada teman dari luar kota, saya pasti merekomendasikan penganan khas kita ini,’’ kata Lidya sesaat setelah menikmati hidangan Songkolo.

Selain di Jalan Antang Raya, sajian Songkolo Bagadang dapat dijumpai malam hari di Jl. Pongtiku, Jl. Landak, Jl. AP Pettarani, dan sejumlah tempat lainnya di kota Makassar.  Sekalipun namanya sama, masing-masing warung punya resep berbeda dalam memeroses pembuatan Songkolo Bagadang. Hj.Haniah, misalnya, memilih pembuatan Songkolo yang terbuat dari campuran beras ketan hitam dan ketan merah.

‘’Sebelum beras ketan dikukus terlebih dahulu direndam 3 sampai 4 jam. Setelah matang, ketan ditiris santan kental agar rasanya enak dan tak lengket,’’ ungkapnya.

Namanya Songkolo Bagadang, tapi tidak berarti penganan tradisional ini hanya untuk dimakan bagi orang-orang yang akan begadang atau tidak akan tidur semalaman. ‘’Justeru kalau makan Songkolo sampai dua porsi,’’ cepat ngantuk, jelas Hairuddin, usai santap Songkolo Bagadang di wilayah Rapoocini.

Menikmati udara malam Makassar, jangan lupa Songkolo Bagadang, uenakkk…!