Posts Tagged ‘karaeng’

Gambar

Peta Kabupaten Sidrap/Sumber: Google -indonesia-peta.blogspot.com

Kabupaten Sidenreng Rappang merupakan gabungan bekas dua kerajaan yang berdampingan, kerajaan Sidenreng dengan kerajaan Rappang. Kerajaan itu masing-masing mempunyai sistem dan struktur pemerintahan tersendiri. Dalam masa jauh sebelum kedatangan bangsa Belanda di Indonesia, raja maupun rakyat ke dua kerajaan tersebut telah menjalin persatuan dan kerjasama yang erat sekali.

Keakraban hubungan kerajaan Sidenreng dengan kerajaan Rappang tidak mempunyai batas yang nyata. Dalam lontara Bugis Sidenreng, dilukiskan perbedaannya hanya tampak pada musim panen. Penduduk yang mengangkut padinya ke utara itulah rakyat Rappang, dan yang ke selatan adalah rakyat Sidenreng.

Dalam naskah kuno atau dalam lontara itu juga, disebutkan apabila Rappang menghadapi bahaya pada sore hari, maka selambat-lambatnya Sidenreng memberikan bantuan pada esok paginya. Begitu pula sebaliknya. Bahkan jika kursi kerajaan Rappang lowong dan tidak ada yang mendudukinya, pemangku adat di Rappang diberikan kebebasan untuk memilih salah satu tenaga dari Gowa atau Sidenreng.

Kepala pemerintahan kerajaan Sidenreng bergelar Addaowang yang kemudian berubah sebutannya menjadi Addatuang. Raja atau Addatuang menjalankan pemerintahan berpedoman pada suatu ikrak yang dicetusakn bersama antara raja, pemangku adat dan rakyat.

Raja memimpin pemerintahan dibantu 4 orang Pabbicara dan 8 orang Matowa. Mereka itu merupakan pemangku adat kerajaan Sidenreng.  Di samping terdapat cendikiawan, sebagai penasihat raja.

Kedudukan penasihat sangat penting di samping raja. Maju mundurnya pemerintahan kerajaan Sidenreng banyak ditentukan oleh cendikiawan yang diangkat sebagai penasihat raja.

Nene Mallomo, putra Sidenreng yang ahli pemerintahan dan pertanian, merupakan salah satu penasihat kerajaan Sidenreng yang cukup terkenal dalam kurun waktu akhir abad 16 – awal abad 17 M. Kala itu, kerajaan Sidenreng mencapai kemakmuran, hasil-hasil pertanian dan peternakan rakyat melimpah ruah, kerajaan dalam keadaan aman tenteram.

Pemegang kekuasaan tertinggi kerajaan Rappang bergelar Arung Rappang. Dasar dan sistem pemerintahan kerajaan yang didirikan 2 tahun setelah berdirirnya kerajaan Sidenreng, disebut Mangolo Pasang atau ‘dari bawah ke atas’. Arung Rappang dipilih atas nama rakyat oleh pemangku adat.

Pemangku adat kerajaan Rappang terdiri atas 4 orangArung dipimpin seorang Pabbicara. Mereka dipilih oleh kepala-kepala kampung, atas nama rakyat. Sedangkan pengangkatan kepala-kepala kampung dilakukan melalui pemilihan langsung oleh rakyat.

Dengan dasar ‘Mangolo Pasang’ wanita pun dapat diangkat menjadi raja. Dangkau, Raja ke-9 adalah seorang wanita yang pernah memimpin kerajaan Rappang. Arung Rappang apabila harus merangkap sebagai kepala pemerintahan suatu kerajaan lain, dapatmengangkat seorang pelaksana pemerintahan sehari-hari, dengan gelar Sulewatang.

Terdapat 21 Addatuang yang pernah memerintah di kerajaan Sidenreng. Sedangkan dalam masa kerajaan Rappang ada 20orang yangtelah diangkat dalam jabatan Arung rappang.

MENENTANG PENJAJAH

Kedatangan armada Belanda dipinpin Cornelis de Houtman tahun 1596 dipelabuhan Banten, Jawa Barat, merupakan awal dari pejajahan bangsa Belanda yang berkepanjangan di Indonesia. Sejak itu, kemudian berdatangan rombongan bangsa Belanda menyebar ke seluruh penjuru kepulauan Nusantara, melakukan penindasan terhadap penduduk dan mengorek kekayaan hasil buminya.

Kerajaan-kerajaan di wilayah Nusantara ditaklukkan satu persatu oleh kaum kolonialis Belanda tersebut. Termasuk kerajaan Sidenreng dan kerajaan Rappang yang kini menjadi wilayah kabupaten Sidrap.

Nafsu bangsa Belanda untuk menjajah kerajaan Sidenreng dan kerajaan Rappang mulai dilaksanakan tahun 1905. Ketika itu tampuk pimpinan ke dua kerajaan dipegang oleh La Saddapotto. Ia sebagai kepala pemerintahan kerajaan Sidenreng ke-20 sekaligus sebagai raja kerajaan Rappang ke-19.

La Saddapotto dapat menghimpun seluruh kekuatan rakyat di ke dua kerajaan untuk menentang kehadiran penjajah Belanda. Pasukan perang kerajaan dikerahkan keperbatasan dengan wilayah Parepare. Perang tak terelakkan ketika pasukan Belanda dengan taktikbumi hangus bergerak dari Parepare menuju wilayah kerajaan Sidenreng dan kerajaan Rappang.

Menurut cerita La Ede dari Alekkuang dan La Sakki dari pangkajene yang ikut dalam pertempuran waktu itu, 6 pasukan perang dari Sidenreng di bawah komando Arung MaloloE dan Parengrengi Karaeng Tinggi Mai menghadang gerakan Belanda di daerah perbatasan dengan wilayah Parepare.

Tersebut pasukan Pabbicara La Mamu yang pertama kali melakukan pertempuran di wilayah perbatasan itu. Kemudian pasukan AnreguruE Landawe bertempur di bukit-bukit sebelah timur perbatasan Sidrap – Parepare. Dalam pertempuran yang sengit dengan Belanda di tempat itu, AnreguruE Landawe tewas.

Di sebelah utara pasukan Anregurue Landawe, pasukan Kapitang Tjabba melakukan pertahanan menentang gerak maju pasukan Belanda, hingga Kapitang Tjabba gugur di tempat itu. Di utara pasukan ini masih ada pasukan dari Sidenreng dipimpin AnreguruE La Kile. Namun mereka tak bertahan lama lalu mundur, setelah peluru Belanda melukai kaki AnreguruE La Kile.

Dua pasukan dari Sidenreng lainnya, masing-masing pasukan Pabbicara Ambona La Baju melakukan pertahanan di Takalao, dan pasukan Arise membendung serangan Belanda di daerah perbatasan sebelah selatan.

Pasukan-pasukan perang kerajaan Rappang kala itu, ditempatkan di sebelah utara jalanan menuju Sidenreng rappang, dengan tugas khusus menjaga keselamatan Arung rappang, La Saddapotto.

Pertempurana antara pasukan Belanda dengan pasukan kerajaan Sidenreng dan Rappang berlangsung berhari-hari di wilayah perbatasan. Namun dengan kekuatan persenjataan modern dipunyai Belanda, mengakibatkan perlawanan tak seimbang. Pasukan kerajaan dipukul mundur, satu per satu pemimpin pasukan ditewaskan. Tak terbilang prajurit-preajurit gugur di medan pertempuran. Kekuatan pasukan kerajaan Sidenreng lantas dipusatkan pada Benteng Lajawa di daerah perbatasan Parepare – Sidrap.

Hampir sebulan lamanya Benteng Lajawa digempur terus menerus oleh pasukan Belanda, hingga berhasil dikuasai. Sisa-sisa pasukan yang masih selamat, mundur ke belakang garis pertahanan. Belanda lalu menerobos masuk wilayah kerajaan Sidenreng dan kerajaan Rappang. Ke dua kerajaan ditaklukkan. Tetapi beberapa pemberani kerajaan yang pantang menyerah tetap bergerilya menentang kehadiran bangsa Belanda di Sidenreng Rappang, hingga nyawa mereka berpisah dengan tubuhnya. Mereka antara lain, Patta PonggawaE, La Noni, dan La Pakkanna.

Dalam kekuasaan tangan penjajah, wilayah hukum kerajaan Sideenreng dan kerajaan Rappang disatukan dalam suatu daerah administratif yang disebut afdeeling Parepare, Gouvernement Celebes En Onderhoorigheden.

Afdeling Parepare secara keseluruhan, meliputi wilayah Parepare, Barru, Pinrang, Sidenreng Rappang, dan Enrekang. Daerah kerajaan yang berada dalam afdeeling tersebut dijadikan sebagai daerah onderafdeeling. Onderafdeeling terbagi atas beberapa Landschap.

Setelah meletus perang dunia II, tahun 1941, Jepang memaklumkan Perang Asia Timur Raya. Jepangberperangmelawan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Belanda termasuk sekutu Amerika, maka Belanda adalah musuh Jepang. Pada tanggal 9 Maret 1942 Belanda menyerah kepada Jepang. Kekuasaan Belanda atas Indonesia pun dipindahtangankan kepada Jepang.

Struktur pemerintahn bentukan Belanda di Indonesia kemudiandirombak menurut kehendak Jepang. Daerah onderafdeeling diganti sebutannya menjadi No kanrikan, dipimpin penguasa Jepang yang bergelar No Bungken Karikan, menggantikankedudukan Contrileur/Gezaghebber yang memerintah sewaktu onderafdeeling. Kedudukan Landschappen atau Zelfbesteurende pada waktu Belanda diganti dengan Sucoo. (Mahaji Noesa, Majalah Warta Sulsel No.24, 1 – 15 Pebruari 1991 Hal. 64 – 67/Bersambung)  

Gambar

Mariang Polong di Benteng Somba Opu (Foto: Riset)

Tercatat sejarah, sebanyak 272 pucuk meriam besar dan kecil ikut dihancurkan ketika Kolonial Belanda membumihanguskan Benteng Somba Opu yang menjadi pusat Kerajaan Gowa pada 24 Juni 1669. Termasuk sepucuk meriam bernama ‘Mariang Anak Mangkasara’ (Meriam Anak Makassar) dirampas oleh Belanda.

Meriam (jagur) yang beratnya sekitar 500 kg dan memiliki panjang sekitar 6 meter tersebut, merupakan yang terbesar di antara semua meriam yang mengawal pertahanan Benteng Somba Opu yang berbentuk persegi empat dengan luas lebih dari 113 ribu meter bujur sangkar.

Meriam yang dibuat tahun 1593 lubang pelontar mesiunya berdiameter besar, memiliki jangkauan lontar yang jauh serta kekuatan daya rusak yang besar. Jika beraksi, menimbulkan gelegar yang dahsyat hingga radius puluhan kilometer, sehingga juga dijuluki sebagai ‘Meriam Keramat.’

Namun, sekalipun ada petunjuk meriam tersebut lolos dari aksi penghancuran oleh kolonial Belanda tapi saat ini tak diketahui dimana rimbanya. Dalam catatan lama ada disebut pascaperang Somba Opu (1669) — perang maritim terbesar yang pernah terjadi di wilayah Asia sepanjang sejarah, meriam itu disingkirkan ke Batavia, lalu kemudian entah dibawa kemana. Sampai sekarang tidak ada sedikitpun petunjuk arah raibnya meriam kebanggaan ‘Anak Makassar’ tersebut.

Di lokasi puing bekas Benteng Somba Opu yang terdapat di Kelurahan Somba Opu Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, saat ini hanya dapat disaksikan dua buah meriam (jagur). Satunya, meriam yang dijadikan asesori di halaman depan Museum Karaeng Pattingaloang yang terdapat di areal bagian barat bekas Benteng Somba Opu. Akan tetapi, meriam tersebut, bukan bagian dari meriam yang pernah mengawal di Benteng Somba Opu. Meriam ditemukan dalam suatu penggalian yang dilakukan warga secara tak sengaja pada tahun 90-an di Jl. Ince Nurdin, Kota Makassar, sekitar 10 km di arah utara lokasi Bekas Benteng Somba Opu.

Dudukan meriam justru merupakan hasil rekonstruksi tahun 1991 yang dilakukan oleh H.Mochtar Ibrahim Dg Naba dari STM Pembangunan Ujungpandang.

Berikutnya, sebuah meriam (jagur) yang panjangnya 1 meter lebih. Meriam yang bagian pangkalnya terlihat tak sempurna (patah ?) santer disebut oleh penduduk yang bermukim sekitar lokasi bekas Benteng Somba Opu sebagai ‘Mariang Polong’ (Bahasa Makassar, berarti Meriam Patah).

Meriam ini sejak dulu, menurut cerita penduduk, sudah tergeletak di sekitar sebuah makam yang saat ini berada sekitar 15 meter di depan Museum Karaeng Pattingaloang, di bekas Benteng Somba Opu. Makam yang telah dibuatkan penutup dalam bentuk bangunan gardu permanen, disebut-sebut sebagai makam dari keluarga Raja Gowa tempo dulu. Namun pihak Museum Karaeng Pattingaloang hingga sekarang tidak punya data pasti mengenai siapa yang dimakamkan di tempat tersebut.

Yang pasti, cerita dari penduduk sekitar, meriam tersebut dari dulu hingga saat ini terutama sore hari — jelang malam Kamis atau Malam Jumat, selalu terlihat ramai disiarahi orang-orang yang datang dari Kota Makassar maupun dari wilayah Kabupaten Gowa dan sekitarnya. Mereka menabur bunga dan membakar lilin merah di badan meriam. Tak heran jika setiap saat terasa hembusan bau bunga  pandan segar di sekitar meriam, dan badan meriam dipenuhi lelehan bakaran lilin merah.

Ada yang mengisahkan, bahwa pada tahun 70-an, sebelum dilakukan eskavasi (penggalian) lokasi bekas Benteng Somba Opu, Mariang Polong ini pernah diangkut oleh sekelompok orang dibawa ke wilayah Balang Baru, Kota Makassar – sekitar 3 kilometer arah utara benteng. Mereka memindahkan dengan maksud agar tidak terjadi pemberhalaan terhadap meriam tersebut.

Namun dalam beberapa waktu kemudian, Mariang Polong dikembalikan ke tempatnya semula di dalam areal bekas Benteng Somba Opu, lantaran orang-orang yang tadinya memindahkan meriam tersebut dikabarkan terserang penyakit dan semua tewas.

Banyak pihak menyayangkan lantaran hingga saat ini pihak UPTD Pengelola Benteng Somba Opu termasuk Museum Karaeng Pattingaloang, belum memiliki data yang jelas mengenai Mariang Polong yang justru berada di moncong museum. Termasuk amat menyayangkan karena ada semacam pembiaran terhadap orang-orang untuk menyakralkan, memuja-muja, bahkan meng-kramat-kan meriam yang belum jelas asal-usulnya tersebut.

Lebih aneh lagi, ada yang mengubah posisi meriam yang sebelumnya hanya digeletakkan di atas gundukan batu, kini mulut meriam dimasukkan ke belahan batang sebuah pohon besar yang tumbuh di dekatnya. Sehingga posisinya, membuat kesan bertemunya P and V. (Mahaji Noesa/Kompasiana, 10 Oktober 2011)

Gambar

Lukisan Karaeng Galesong/Sumber: riset Gooogle -linguafranca.info

Menurut Prof Dr Zainal Abidin Farid, pakar budaya Sulsel, selain jenis phinisi, Kerajaan Gowa memiliki ribuan perahu jenis Galle yang mempunyai desain cantik menawan, dikagumi pelaut-pelaut Eropa.

Konstruksi perahu galle bertingkat. Panjangnya ada yang mencapai 40 meter dengan lebar sampai 6 meter. Dalam Lontara Bilang Gowa- Tallo kepunyaan Andi Makkaraka Ranreng Bettempola (alm), perahu galle disebut sebagai perahu tumpangan raja dan pembesar-pembesar kerajaan.

Selain memiliki tiang layar yang besar , setiap galle dilengkapi pendayung 200 sampai 400 orang. Galle-galle tersebut masing-masing diberi nama secara khusus. Seperti I Galle Dondona Ralle Campaga, panjang 25 depa (kl.35 m). I Galle Inyannyik Sangguk dan I Galle Mangking Naiya, masing-masing memiliki panjang 15 depa (kl.27 m). I Galle Kalabiu, I Galle Galelangan, I Galle Barang Mamase, I Galle Siga, dan I Galle Uwanngang, masing-masing memiliki panjang 13 depa (23 m).

Betapa besar serta kuatnya armada laut kerajaan Gowa, antara lain, dapat disimak juga dari catatan lontara. Bahwa pada 30 April 1655 Sultan Hasanuddin berkayuh ke Mandar untuk terus ke Kaili dikawal 183 perahu. Terdapat 450 buah perahu yang dipakai untuk mengangkut sekitar 15.000 lasykar kerajaan Gowa yang diberangkatkanpada bulan Oktober 1666 ke Pulau Buton, untuk menaklukkan negeri tersebut karena berpihak kompeni Belanda.

Melalui taktik adu domba – Devide et impera, kolonialis Belanda dapat menghancurkan kejayaan dan kekuatan armada kerajaan Gowa. Perjanjian Bongayya (Het Bongaisch Vedrag) yang berhasil dipaksakan untuk ditrandatangani oleh Sultan Hasanuddin pada 18 Nopember 1667, merupakan awal dari kemunduran dan kehancuran kerajaan maritim Gowa. Salah satu dari isi perjanjian yang merugikan pihak kerajaan Gowa, secara jelas menyatakan membatasi pelayaran dan perdagangan orang-orang Makassar.

Lantaran itu, sejumlah panglima dan prajurit kerajaan Gowa menampik ‘Perjanjian Bongayya’ tersebut.,  dengan tetap melakukan perlawanan terhadap kompeni Belanda. Diantaranya, tersebut nama Karaeng Bontomarannu dan Karaeng Galesong. Keduanya memilih berjibaku melakukan perlawanan terhadap kompeni Belanda.

Karaeng Bontomarannu oleh pihak kompeni Belanda sering dipanggil dengan sebutan Monto Marano adalah putra Karaeng Summanna. Putra berdarah bangsawan kerajaan Gowa ini,pada masa kekuasaan Sultan Hasanuddin (1653 – 1669) mendapat kepercayaan sebagai laksamana – mengawasi kelancaran perhubungan laut dan kapal-kapal dagang kerajaan Gowa yang melakukan pelayaran di perairan Maluku mulai dari Laut Flores di sebelah selatan ke Laut Banda, Laut Buru, dan Laut Maluku. Karaeng Bontomarannu membawahi dua raja sebagai wakilnya, yakni Raja Luwu dan Sultan Bima.

Berkekuatan 70 armada perahu membawa lebih dari 20.000 prajurit kerajaan Gowa, Karaeng Bontomarannu meninggalkan perairan Makassar menuju Pulau Jawa. Banyaknya prajurit kerajaan Gowa bersedia mengikuti perjalanan laksamana tersebut, lantaran dalam rombongan ikut serta Karaeng Galesong.

Karaeng Galesong adalah putra Sultan Hasanuddin. Nama aslinya I Manindori. Kelahiran 29 Maret 1655, dari ibu yang bernama I Lokmo Tobo.

Rombongan bergerak ke Banten (Jawa Barat) dengan maksud untuk meminta bantuan pada Sultan Agung Tirtayasa. Dalam perjalanan yang dipimpin Karaeng Bontomarannu dan Karaeng Galesong, mereka memerangi setiap kapal kompeni Belanda yang ditemui di Selat Madura, Gresik, Tuban hingga memasuki perairan Banten.

Ketika terdengar kabar terjadi perang antara Trunojoyo dengan Susuhunan (Raja) Mataram, Amangkurat I yang pro kompeni Belanda pada tahun 1672 di Jawa Timur, kedua bangsawan kerjaan Gowa ini tergerak membawa pasukannya meninggalakna Banten untuk memberikan bantuan kepada Trunojoya di jawa Timur.

Dalam perjalanan ke Jawa Timur mereka dihadang oleh armada perang Belanda. Ketika terjadi pertempuran di perairan laut Semarang, Karaeng Bontomarannu gugur. Tapi perjalanan ke arah Jawa Timur terus dilakukan dengan dipimpin oleh Karaeng Galesong. Di Jawa Timur lasykar Makassar lalu bergabung dengan pasukan Trunojoyo melawan pasukan gabungan Amangkurat I dengan kompeni Belanda.

Lasykar Makassar di bawah pimpinan Karaeng Galesong pada tahun 1675 berhasil menguasai tempat-tempat strategis di sepanjang Selat Madura, Pasuruan, Besuki, dan Surabaya.

Beberapa kali Susuhuna Mataram secara khusu mengerahkan prajurit perang untuk mengusir lasykar Makassar pimpinan Karaeng Galesong  yang membantu Trunojoyo, tapi mereka harus mundur akibat mendapat perlawanan sengit.

Kerjasama lasykar Karaeng Galesong dengan pasukan Trunojoyo di Jawa Timur menarik perhatian pimpinan kompeni Belanda di Batavia (Jakarta). Bantuan pasukan pundikirim untuk membantu pasukan Amangkurat I melawan lasykar Karaeng Galesong dan Trunojoyo. Akibatnya, sejumlah armada pasukan Karaeng Galesong berhasil dihancurkan, demikian pula menguasai kembali sejumlah tempat-tempat strategis.

Namun kemudian, pasukan Trunojoyo mampu mengambil alh tempat-tempat strategis yang diduduki pasukan Amangkurat I dibantu pihak kompeni di Jawa Timur. Perlawanan balik ini membuat Susuhunan Mataram bersama putra mahkotanya menambah kekuatan prajurit. Terjadilah pertempuran sengit pada 13 Oktober 1676, menimbulkan banyak korban di pihak Mataram. Termasuk sejumlah pembesar Mataram dan panglima Pangeran Purboyo tewas dalam pertempuran ini.

Dari Batavia kompeni mengirim pasukan perang dipimpin Speelman yang sebelumnya berhasil memporakporandakan kerajaan Gowa, untuk membantu Mataram di Jawa Timur. Sejumlah benteng pertahanan Trunojoyo dan Karaeng Galesong berhasil dilumpuhkan oleh pasukan Speelman.

Di lain sisi, pasukan Trunojoyo dibantu lasykar Makassar pada 2 Juli 1677 berhasil menduduki ibukota Mataram, Karta (Kraton Plered), menyebabkan Susuhunan Mataram, Amangkurat I melarikan diri dan tak lama kemudian wafat setelah menderita sakit.

Speelman yang berhasil menggalang kekuatan perang pada Nopember 1678 kemudian dapat menduduki Kediri, lokasi pusat pertahanan pasukan Trunojoyo. Trunojoyo sendiri berhasil lolos, melarikan diri dari serbuan pasukan Speelman.

Menyusul satu per satu kubu pertahanan lasykar Makassar di Jawa Timur berhasil ditaklukkan pasukan gabungan Mataram dan Speelman. Mereka melakukan pengepungan terhadap benteng pertahanan Karaeng Galesong yang terletak di Kapar (dekat Porong) selama 7 minggu. Dan, akhirnya pada 21 Oktober 1679 berhasil menerobos barikade pertahanan, dan menguasai benteng tersebut. Karaeng Galesong berhasil meloloskan diri dari pengepungan.

Pertempuran antara pasukan gabungan Mataram dengan kompeni melawan lasykar Karaeng Galesong di jawa Timur kian menjadi-jadi. Karaeng Galesong yang beristerikan Suratna (putri Trunojoyo) akhirnya tewas secara ksatria dalam suatu pertempuran sengit. Trunojoyo pada 27 Desember 1679 pun berhasil ditangkap, kemudian menjalani hukuman mati dengan tusukan keris.

Setelah perang Trunojoya (1676 – 1679) berakhir, sekitar 9.500 lasykar Makassar yang ada di Jawa Timur dikembalikan ke Makassar. Ketika kemudian Untung Srapati tampil melawan kompeni Belanda, masih terdapat sejumlah sisa lasykar Karaeng galesong yang belum kembali ke Makassar tampil bergabung bersama pasukan Untung Surapati di Jawa Timur. Semangat lasykar Makassar, ternyata tak pernah kendor untuk melawan kolonialis. (Mahaji Noesa/A.Hamzah Tuppu Patriot Bahari Titisan Galesong,2002)