Posts Tagged ‘kemerdekaan’

Gambar

Monumen Andi Tjammi/Sumber: google – myspace.com

Bom atom secara beruntun dijatuhkan Amerika Serikat di atas wilayah Jepang. Hiroshima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945), menyebabkan kedua kota itu rata dengan tanah bersamaan dengan binasanya ratusan ribu jiwa penduduk. Peristiwa ini menyebabkan Jepang menyatakan kalah perang tanpa syarat kepada Sekutu  tanggal 14 Agustus 1945.

Kekalahan Jepang dimanfaatkan pula oleh Indonesia. Soekarno – Hatta, atas nama Bangsa Indonesia 17 gustus 1945 di Jakarta, menyatakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sebulan kemudian tentara Sekutu masuk ke Indonesia melucuti tentara Jepang dan mengurus tawanan.

Kehadiran tentara Sekutu di Indonesia diboncengi tentara Belanda, Netherlands Indies Civil Adminstration atau NICA. Mereka mendarat pula di daerah Sulawesi Selatan. Dengan siasat licik NICA bergerak dari kota Makassar dan Parepare ke pedalaman, termasuk daerah Sidenreng Rappang, untuk kembali mencengkramkan kuku penjajahan mereka.

Namun rakyat Sulsel seperti rakyat Indonesia lainnya yang sudah menyatakan kemerdekaannya, memilih mati berkalang tanah dari pada hidup di tangan penjajah. Perlawanan rakyat terhadap tentara NICA bengkit dimana-mana.

Di daerah Sidrap muncul perlawanan rakyat terhadap NICA secara terorganisir dalam suatu lasykar bernama Badan Pemberontak GanggawaE. Dipimpin Andi Tjammi,pemuda kelahiran Rappang 1921, lasykar tersebut kemudian diubah namanya menjadi Barisan Pemberontak Ganggawa disingkat BP Ganggawa.

Lasykar Ganggawa yangumumnya beranggotakan pemuda berhasil menghidupkan semangat perlawanan rakyat, serta memimpinlangsung perlawanan-perlawanan terhadap tentara NICA yang masuk wilayah Sidrap.

Aksi-aksi Lasykar Ganggawa tidak mengenal kompromi terhadap NICA. Gerakannya antara lian, menyerang pos NICA di Bendoro, menyerbu kaki tangan NICA di Pasolereng (Desember 1945), pertempuran Polojiwa (April 1946), pengadangan truk NICA di Lakessi (Mei 1946), pertempuran di AnabannaE (Juli 1946), pertempuran di Carawali (Agustus 1946).

Kemudian melakukan penyerbuan massal ke kota Rappang tempat Detasemen NICA, selama tiga hari tiga malam (10 -12 Agustus 1946). Penyerbuan ini terkenal dengan julukan ‘Serangan Bambu Runcing.’’ Sebab sebagian besar pemuda dan rakyat melakukan penyerangan hanya menggunakan senjata tajam dan bambu runcing menghadapi NICA yang bersenjata modern.

September 1946, Lasykar ganggawa turut dalam pertempuranmelawan NICA di luar kawasan Sidrap, masing-masing di kampung Garessi dan Majokka Suppa, serta penyerangan terhadap serdadu NICA yang berpatroli di Palameang, Alitta.

Nopember 1946, BP ganggawa ikut melakukan pertempuran terhadap tentara NICA di kampung Soreang Parepare. Terlibat pengadangan patroli NICA di kampung Cempa 9 Desember 1946),penyerangan penjara di kota Barru serta pengadangan di Cenrana, Soppeng Riaja terhadap dua Power serdadu NICA (Desember 1946).

Pertempuran yangberlangsung di Carawali, Sidrap, Agustus 1946, penyerangan dimulai oleh serdadu NICA. Mereka mengepung sebuah rumah tempatAndi Tjammi dengan beberapa rekannya melakukan konsentrasi.  Serangan mendadak yang dilakukan NICA dengan kekuatan personil serta persenjataan yangkuat terpaksa dihadapi meski tak seimbang. Dengan taktik tetap melawan, dn mengatur langkah untuk keluar dari kepungan saat itu, paha Andi Tjammi tertembus peluru NICA. Dalam keadaan terluka ia masih tetap berusaha menyelamatkan diri dengan menceburkan diri ke dalam sebuah tebat. Namun NICA terus menyerang.

‘’Mana Hamidong,’’ tanya serdadu NICA ketika mendapatkan Andi Tjammi di tebat.

‘’Ke sana sudah jauh,’’ jawab Andi Tjammi menunjuk rekan-rekannya yang berhasil menyelamatkan diri. Dalam keadaan kritis tersebut, tiba pula di tempat itu paman Andi Tjammi yang telah diperdaya menjadi kaki tangan NICA.

Sambil tertawa kegirangan si paman berkata: ‘’Inilah Hamidong!’’ Hamidong nama lain dari Andi Tjammi.

Popor senapan kemudian susl menyusul menghunjam ke bagian dahi Andi Tjammi yang tak berdaya. Saat itu senja tampak di barat, gugur pula Andi Tjammi, komandan Lasykar BP Ganggawa di sudut sawah tanah tumpah darahnya sendiri.

Selain Andi Tjammi, dalam peristiwa Carawali gugur anggota Ganggawa, A makkulau, A Haseng, M Jafar, Baso Mustika, dan seorang peronda kampung. Namun NICA hanya memboyong mayat Andi Tjammi dan A Makkulau ke tangsi NICA di Rappang.

Esoknya, 29 Agustus 1946, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, mayat Andi Tjammi dan A Makkulau diseret ke sudut pasar Rappang. Dipertontonkan secara sadis kepada massa rakyat yang sedang berduyung-duyung ke lapangan Rappang untuk bersembahyang Idul Fitri.

‘’He kalian semua, lihat kowe punya pimpinan sudah mampus!’’ Teriak tentra NICA kepada massa rakyat sambil menunjuk kedua sosok mayat tersebut.

Maksud NICA dengan tindakan tersebut tida lain untuk melemahkan batin rakyat agar tidak turut memberikan dukungan atau bantuan terhadap gerakan-gerakan BP Ganggawa.

Namun ibarat pepatah ‘’Patah Tumbuh Hilang Berganti’’ Andi Tjammi gugur tapi perlawanan BP Ganggawa terhadap NICA terus berlanjut dan makin seru. Kepemimpinan Lasykar Ganggawa digantikan oleh Andi Nohong, kakak kandung Andi Tjammi yang berwatak keras.

Kekuatan serdadu NICA dengan senapan-senapan otomatis menyebabkan pihak rakyat dan anggota Ganggawa banyak yang gugur. Namun pada akhirnya NICA harus meninggalkan daerah ini, mengakui adany perlawanan rakyat mempertahankan Kemerdekaan RI.

RESOPA TEMMANGINGNGI

Tujuan kemerdekaan Bangsa Indonesia tiada lain seperti yang dimaksudkan dalam Pembukaan Undang-undang dasar 1945. Agar bangsa Indonesia dapat berkehidupan kebangsaan yangbebas dengan suatu pemerintahan sendiri yang melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, untuk mencapai masyarakat adil dan makmur berlandaskan Pancasila.

Perjalan 20 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, masih diperhadapkan dengan berbagai hambatan, gangguan, dan tantangan, Namun demikianpemerintah Indonesia telah melaksanakan suatu sistem pemerintahan sendiri yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Setelah Kemrdekaan RI, tahun 1950, bekas daerah kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang masing-masing dibentuk menjadi Swapraja yang mempunyai Dewan Pemerintahan tersendiri, danmasihmemiliki wewenang sebagaimana ditetapkan dlam Zelfbestuursregelen 1938, Stablad tahun 1938 No.529. Swapraja tersebut sebagai wilayah kabupaten Parepare yang dibentuk berdasarkan UU N0.22 Tahun 1948.

Dewan Pemerintahan Swapraja Sidenreng diketuai A Mappawekke, anggota H A Nuruddin, H A Maddangkang, Umar Zain, H A Unru, meliputi 15 distrik. Sedangkan Swapraja Rappang terdiri atas 4 distrik dengan ketua A Pallawagau, anggota H A Tjintjing dan M Saleh R.

Kemudian dengan lahirnya Undang-undng No.29 tahun 1959 yang mengatur tentang pembentukan daerah-daerah otonom di Sulawesi, Swapraja Sidenreng dan Swapraja Rappang dilebur menjadi satu daerah otonom Tingkat II atau kabupaten, bernama Sidenreng Rappang, yang berhak mengurus dan mengatur rumah tangga daerahnya sendiri.

Realisasi pembentukan kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), dilaksanakan dengan pelantikan Bupati Andi Sapada Mappangile tanggal 18 Pebruari 1960, sebagai pelaksanaan SK Mendagri tanggal 28 januari 1960 No.UP.7/2/37-379. Hari pelantikan bupati pertama kabupaten Sidrap tersebut kemudian dijadikan sebagai Hari Kelahiran Kabupaten Sidrap.

Dengan latar belakang kehidupan masa kerajaan maupun pergolakan yang timbul sebelum dan sesudah kemerdekaan di Sidrap, memberi bentuk tersendiri bagi rakyat di daerah iniuntuk maju dan membangun dirinya. Tak heran jika motto leluhur ‘Resopa Temmangingngi Naiyya Naletei Pammase Dewata’ (Bhs. Bugis, berarti: Hanya dengan kerja keras untuk memperoleh rakhmat Tuhan), kini dijadikan pendorong dalam kehidupan masyarakat Sidrap. (Mahaji Noesa, Majalah Warta Sulsel No.24, 1 – 15 Pebruari 1991 Hal. 64 – 67)  

Gambar

A Hamzah Tuppu/Repro mahaji Noesa

Melalui cuplikan catatan sejarah kebaharian dan sejarah TNI-AL, dapat dipahami betapa besarnya tekad yang menggelora di dada A.Hamzah Tuppu untuk melestarikan jiwa dan semangat bahari seperti yang dimiliki para leluhurnya sebagai orang pelaut.

A.Hamzah Tuppu lahir di Borongcalla, Desa Botosunggu, 20 Agustus 1920 (Berdasarkan riwayat hidup yang dibuat sendiri ketika masih hidup, tertanggal 23 Mei 1964, diketahui Adam Malik dan Bambang Soepeno). Tempat kelahiran A. Hamzah Tuppu itu kini secara administratif masuk Kecamatan Galesong Selatan di Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan.

Wilayah Galesong pada masa kerajaan Gowa terkenal sebagai lumbung pangan, tempat kelahiran para kesatria kerajaan Gowa, patriot bahari yang tangguh. Pihak kompeni Belanda sendiri baru mampu menerobos kota Somba Opu, pusat kerajaan Gowa pada abad XVII, setelah sebelumnya jatuh bangun melawan prajurit serta menghancurkan benteng pertahanan di wilayah Galesong tersebut.

Pihak kompeni Belanda mulai melakukan penyerangan terhadap kerajaan Gowa di Galesong pada 30 Juli 1667. Nanti pada 19 Agustus 1667 setelah dilakukan penyerangan dari darat dan laut, benteng pertahanan Galesong dapat dikuasai kompeni Belanda, lumbung makanan kerajaan Gowa di tempat ini dibumihanguskan.

A.Hamzah Tuppu merupakan anak kedua dari empat bersaudara pasangan keluarga Sayyid Dg Ngempo (ayah) dan I Tallasa Dg Rannu (ibu), termasuk dalam rumpun keluarga Karaeng Galesong.

Menurut Aba Jadjid Bostan Daeng Mama’dja, pemangku hadat Karaeng Galesong XVII (terakhir) yang juga keturunan ketujuh dari Syekh Joesuf Tajul Khalwatia Kaddassallahu Sirruhu, sebagai keluarga sejak kecil Amir Hamzah Dg Tuppu (nama lengkap A.Hamzah Tuppu) dibina oleh Karaeng Galesong XVI H.Larigau Dg Manginruru.

Dalam usia sekitar 7 tahun, A. Hamzah Tuppu yangnama kecilnya adalah Cakkua (menurut Bostan Dg Mama’ja, diambil dari nama keris kepunyaan Syekh Yusuf), disekolahkan pada sekolah rakyat (volokschool) di Soreyang. Setahun kemudian dipindahkan ke Sekolah Rakyat Galesong, tinggal bersama Karaeng Galesong di Takalar.

Setamat dari Sekolah Rakyat, ia dipindahkan ke Makassar melanjutkan pendidikan di Inlandsch School. Di Makassar, tinggal bersama sejumlah kawan-kawan di rumah seorang Karaeng Galesong, Ipammusuran Dg Paduni, di Kampong Pisang/Lajangiru. Dari sekolah tersebut ia kemudian masuk seklah Marine (Kelautan), tamat tahun 1936. Setelah itu, hasratnya untuk mengikuti kegiatan militer tidak mendapat dukungan dari Karaeng galesong. A Hamzah Tuppu melanjutkan pendidikan ke sekolah pertanahan Top Gerapt Dienst.

Setamat dari sekolah rakyat ini, ia kemudian bekerja pada kantor Landrente di Makassar. Pada tahun 1938 diangkat menjadi Mantri Landrente, bertugas melakukan pengukuran tanah-tanah di wilayah Sulawesi Selatan.

Pergaulan A.Hamzah tuppu semakin meluas. Termasuk menjalin persahabatan dengan seorang warga Jepang bernama Hirata yang berprofesi sebagai juru potret di Makassar. Melalui Avon kursus dia belajar Bahasa Belanda dan mulai melibatkan diri dengan organisasi-organisasi politik yang berupaya membebaskan Indonesia dari cengkraman penjajahan.

Pada tahun 1941, A. Hamzah Tuppu bersama aktivis pergerakan politik lainnya di Makassar, seperti wahab Tarru, Andi Kanna dan Martua Bangsawang Dg Liwang (Karaeng Takalar) ditangkap oleh Belanda dan ditawan di penjara Sengkang, sekarang ibukota Kabupaten Wajo. Dari tempat ini kemudian dipindahkan ke tempat tawanan Belanda di Pulau Jawa.

Saat Jepang memulai pendudukan di Indonesia pada tahun 1942, A Hamzah Tuppu dibebaskan dari tawanan Belanda di Pulau jawa. Selanjutnya, sekalipun kemudian bekerjasama Jepang di Pulau Jawa tapi dia tetap melanjutkan pergerakan politik untuk membebaskan Indonesia dari tangan penjajahan. Dia melakukan gerakan-gerakan persiapan kemerdekaan RI bersama rekan-rekannya seperti Chaerul Saleh, Sukarni, Adam Malik, serta menggalang tokoh-tokoh pemuda asal Sulawesi Selatan yang ada di Pulau Jawa.

Dalam daftar riwayat hidup yang dibuat sendiri A Hamzah Tuppu semasa hidupnya, pada tahun 1942 setelah dibebaskan dari Kamp Garut ia aktif dalam Djawa Hokokay dan Peta jurusan Angkatan Laut. Antara tahun 1945 – 1947 sebagai Kolonel pelaut, aktif dalam pembentukan ALRI pertama di Surabaya. Memimpin KRU X Brigade D-81 pada tahun 1947.

Ketika dilakukan rasionalisasi kepangkatan pada tahun 1948 – 1951, A Hamzah Tuppu dirurunkan pangkatnya dari Kolonel menjadi Letnan Kolonel, dan dia menyatakan mengundurkan diri dengan alasan cita-cita perjuangan kemerdekaan RI telah tercapai.

Tersebut sejumlah nama tokoh yang pernah menjadi kawan setia A Hamzah tuppu semasa hidupnya, seperti Kahar Muzakkar, Andi Selle Mattola, A.A.Rivai, Achmad Lamo, Warrow, Worang, Mursalim Dg Mamangung, Sudomo, Ali Sadikin, Andi Mattalatta, Andi Oddang, Ince Kasim, Suaib pasang, Tisi Efendi Dg Nodjeng, dan Hasan Ralla.

Pada tahun 1950 menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Maega di Surabaya. Sepanjang tahun 1952 – 1959 aktif mengorganisir bekas pejuang bersenjata dalam organisasi veteran yang bernama Legiun Veteran RI. Antara tahun 1959 – 1960 dipilih sebagai panasihat Organisasi Veteran Pusat dan daerah.

Lantaran kharismanya sebagai tokoh pejuang asal Sulsel, ia pernah dicalonkan menjadi anggota MPRS Pusat dan diajukan sebagai salah satu calon Gubernur Sulselra pada tahun 1961.

Antara tahun 1961 – 1963 aktif sebagai pengurus Perhimpunan Keluarga Sulawesi di Jakarta, dan menjadi Presiden Direktur NV Usaha AMPRI (Angkatan Muda Pejuang Republik Indonesia). Melalui badan usaha AMPRI, A Hamzah Tuppu membangun perumahan untuk angkatan laut di Makassar.

Dalam kutipan Riwayat Hidup A Hamzah Tuppu yang dikeluarkan oleh Markas Besar TNI-AL Dinas Personil, tertanggal 10 Nopember 1988, disebutkan bahwa A Hamzah Tuppu kelahiran 26 Desember 1920, bergabung dalam kesatuan/kelasykaran BKR/TKR Laut ALRI Pangkalan IV di Tegal antara 17 Agustus 1945 sampai dengan 31 Desember 1949.

Berdasarkan Surat keputusan Kasal Nomor: Skep/3400/XII/1979 tangga 12 Desember 1979 diberhentikan dengan hormat dangan Hak Onderstand terus menerus. Ditetapkan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI melalui SK Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi No.96/Kpts/MUV/1964 tanggal 15 September 1964.

Berdasakan SK Kasal No.Skep/245/I/1980 tanggal 19 Januari 1980 diberikan Hak Onderstand terus menerus kepada Letkol ALRI A Hamzah Tuppu Non Nrp. Sesuai dengan SK Kasal No.Skep/1573/VI/1982 tanggal 18 Mei 1982 diberikan pemberhentian/kenaikan pangkat luar biasa dari pangkat Letkol menjadi Kolonel atas nama Kolonel ALRI A Hamzah tuppu Non Nrp.

Putra asa Sulsel, patriot bahari titisan Karaeng Galesong, A Hamzah Tuppu menghembuskan nafas terkahir pada tangga 30 Juni 1986 di jakarta. Jenazahnya dimakamkan dalam suatu upacara militer di TMP Kalibata, Jakarta. Isteri almarhum, Ny.Erna sesuai dengan SK Kasal No.Skep/1407/V/1987 diberikan Hak Pensiun Warakawuri dari alm.Kolonel ALRI A Hamzah Tuppu Non Nrp.

Atas perkawinan A Hamzah Tuppu dengan Ny. Erna Doomik (Ny. Erna Hamzah Tuppu), dikaruniai empat orang anak, masing-masing Haerumy Hamzah tuppu Dg Mudji (sekarang menjabat Ketua Umum ARDIN Kota Makassar), Haerana Naki padjonga Dg Rannu, Ananda Agnes Tuppu Dg Asseng, dan Moh. Tony Nurul Dg Antang.

Ny Erna Hamzah Tuppu (kelahiran Yogyakarta, 11 September 1919) yang dinikahi A Hamzah Tuppu pada tahun 1945 di Jogya, selaiun berdarah ningrat dari paku Alam, juga dalam masa perjuangan kemerdekaan RI aktif selaku anggota Palang Merah Indonesia di Brigade X 81-D. Untuk itu pemerintah RI juga menganugerahkan kepadanya berupa tanda jasa Bintang Gerilya, Satya Lencana GOM I, Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan I, Satya Lencana Perang Kemerdekaan II, dan dianugerahi gelar kehormatan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI golongan A.

Pernikahan antara A hamzah Tuppu dengan Ny Erna, antara lain, disaksika oleh Nototarono, adik ipar dari Paku Alam V. Menurut Ny Erna, suaminya A.Hamzah Tuppu adalah sosok manusia yang tegas memegang prinsip untuk kepentingan nasional.

Dari keempat orang anak yang dilahirkan dari pasngan keluarga A Hamzah Tuppu dan Ny Erna, telah melahirkan 13 cucu, dua di antaranya meninggal dunia.

Semasa hidupnya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan bintang jasa kepada A hamzah Tuppu berupa tanda jasa Bintang gerilya (Dari Presiden Soekarno, 10 Nopember 1959), Satya Lencana Garakan Operasi Militer I (dari Menteri Pertahanan RI Djuanda, 29 januari 1958), Satya Lencana Sapta Marga (dari Menteri Pertahanan RI Djuanda, 5 Oktober 1959), Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan II (dari Menteri pertahanan Djuanda, 5 Oktober 1959), dan Piagam Veteran Golongan A (1964). Dan, Bupati Takalar Drs.H.Zainal Abidin, Msi atas nama pemerintah dan masyarakat Kabupaten Takalar pada Hari Jadi Kabupaten Takalar ke-40, 10 Pebruari 2000, secara khusus memberikan Piagam Penghargaan kepada Alm. A Hamzah Tuppu sebagai salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Takalar yang dinilai berjasa. Nama alm A Hamzah Tuppu sejak lama diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Kota Surabaya, ibukota Provinsi Jawa Timur. (Mahaji Noesa, Buku: A.Hamzah Tuppu Patriot Bahari Titisan Galesong, Makassar 2002)        

Gambar

Perahu Phinisi, Lukisan Bachtiar Hafid, Makassar/Foto: Mahaji Noesa

Secara fisik kompeni Belanda mampu menghancurkan kekuatan armada bahari Kerajaan Gowa. Juga dapat menghambat perkembangan kemampuan serta membatasi ruang gerak kebaharian orang-orang Makassar, SulawesiSelatan, setelah ditandatanganinya Perjanjian Bongayya, 18 Nopember 1667.

Namun ibarat gelombang laut, jiwa dan semangat bahari orang-orang Makassar seantiasa bergelora dari masa ke masa dalam intensitas yang berbeda sesuai perkembangan masa.

Hal itu terbukti dengantampilnya putra-putra Indonesia kelahiran Makassar sebagai patriot dalam perjuangan merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan RI. Termasuk dalam bidang kelautan atau kebahariaan.

Dalam lembaran sejarah TNI-AL (Episode Perang Kemerdekaan 1945 – 1950) secara jelas dicatat sejumlah nama dan perjuangan putra-putra Indonesia asal Makassar yang begitu gigih memperjuangkan terbentuknya suatu kekuatanpertahanan Angkatan Laut bagi negara RI di ambang kemerdekaan.

Saat mendekati keruntuhan pendudukan Jepang di Indonesia, bermunculan kelompok-kelompok pemuda yang melakukan pergerakan untuk membantu terwujudnya kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Di antaranya kelompok pemuda Daisangka di Surabaya, Jawa Timur. Pembentukannya dipelopori oleh pemuda-pemuda asal Makassar yang sebelumnya memiliki pengalaman danpengetahuan kebahariaan. Kelompok pemuda Daisangka ini mendapat dukungan latihan kemiliteran dari Kaigun – pemerintahan militer (Angkatan Laut) Jepang yang mendukung terwujudnya kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

Dalam bulan Juni 1945 sejumlah pemuda Daisangka dari Surabaya dipimpin A.R.Aris (asal Makassar), R.Sutrisno, L.Mochtar, A.Hamzah Tuppu (asal Makassar), J.Geret, Ny.Bernatje Tuegeh dan Abd. Djalil datang ke Jakarta menemui kolonel Yususumi dari Kaigun Bukanfu di Jakarta, untuk menanyakan situasi terakhir Perang Pasific serta janji pihak Jepang untuk membantu terwujudnya kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

Dalam bulan Juli 1945, kelompok pemuda Daisangka ini kembali ke Surabaya, setelah sebelumnya juga menemui sejumlah tokoh pemuda pergerakan  kemerdekaan di Jakarta, seperti Chairul Saleh, Hidayat, Sukarni, Wikabna, dan Chairuddin menanyakan dan meminta petunjuk perihal situasi terakhir upaya pergerakan menuju Indonesia merdeka.

Setiba kembali di Surabaya, mereka lantas membentuk pasukan yang berasal dari bekas-bekas Angkatan Laut Jepang,pegawai-pegawai pelayaran dan pemuda bahariwan lainnya.

Setelah diproklamirkan Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 di Jakarta oleh wakil bangsa Indonesia Soekarno – Hatta, pemuda Daisangka di Surabaya yang beranggotakanbanyak pemuda dari Makassar membentuk sebuah badan yang bersifat kelautan yang menjadi cikal terbentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Pembentukan badan tersebut dimaksudkan untuk mengadakan perlawanan terhadap rencana kedatangan tentara Sekutu yang didalamnya membonceng tentara NICA ke Indonesia setelah Jepang dinyatakan kalah perang. Semangat perlawanan dari para anggota badan tersebut begitu menggebu-gebu untuk menentang kedatangan tentara Sekutu, sekalipun hanya memiliki peralatan perang yang sederhana. Tugas mereka pun bukan hanya untuk melakukan pertahanan di laut, tapi juga dipersiapkan untuk menjadi kesatuan-kesatuan penggempur di darat.

Personil dari badan tersebut terdiri dari A.R.Aris (asal Makassar) dengan pangkat Laksamana Muda, sebagai komandan tertinggi Angkatan Laut RI saat itu. Dilengkapi perwira staf Kolonel A.Hamzah Tuppu 9asal Makassar), Kolonel Sutrisno, dan Letnan Kolonel Ny.Bernetje Tuegeh. Mereka dibantu sejumlah perwira lainnya, dan segala kegiatan berpusat di Modderlust Ujung, Surabaya.

Melihat adanya gelagat curang terhadap kedatangan tentara Sekutu menggantikan kedudukan Jepang di Indonesia, Presiden Soekarno melalui pidato radio pada 23 Agustus 1945 menyatakan, ‘’Revolusi nasional masih menempuh gelombang hebat.’’ Kepada segenap rakyat Indonesia diperintahkan untuk mengatur persiapan-persiapan serta membantu menjaga keamanan dengan jalan mendirikan Badan Kemanan Rakyat (BKR).

Prajurit-prajurit bekas Peta, Heiho, dan pelaut-pelaut serta pemuda lainnya dianjurkan masuk dan bekerja dalam Badan-badan Kemanan Rakyat tersebut. Pidato presiden yang merupakan perintah dari pemerintah pusat tersebut lantas disahuti dengan pembentukan BKR-BKR di daerah-daerah. Hebatnya, karena anggota-anggota BKR yang terbentuk langsung melengkapi diri dengan berbagai srenjata sehingga berubah menjadi tentara bersenjata. Apalagi di beberapa daerah BKR langsung terlibat melakukan pertempuran-pertempuran saat tentara Sekutu mendarat di Indonesia, yang dimulai pada 8 September 1945. Pada tanggal 10 September 1945 di Jakarta terbentuk pula BKR Laut.

Dengan maklumat No.2/x tanggal 5 Oktober 1945, pemerintah RI menyatakan secara resmi juga harus membentuk kekuatan bersenjata yang diberi nama TKR (Tentara Kemanan Rakyat) bagian darat dan TKR bagian laut. Pengesahan pembentukan TKR Laut khususnya dilakukan pada 15 Nopember 1945 dengan Pimpinan Markas Tertinggi TKR Laut M. Pardi.

Pembentukan TKR di Jakarta tersebut kemudian diikuti dengan pembentukan TKR bagian laut di sejumlah kota-kota pantai di Indonesia. Meskipunpada daerah-daerah di luar Pulau Jawa dan Sumatera, saat itu, belum terbentuk BKR atau TKR lantaran faktor kesulitan perhubungan serta telah mendaratnya tentara Sekutu.

Pembentukan BKR Laut di Jakarta kemudian disambut hangat oleh kelompok pemuda Daisangka di Surabaya, yang dalam September 1945 juga segera membentuk BKR Laut di Surabaya. Struktur organisasi intinya, terdiri atas Komanda A.R.Aris, Wakil Komandan R.Sutrisno, Kepala Staf L.Mochtar, Kepala Personalia/Pengerahan Tenaga A.Hamzah tuppu, dan anggota Ny.Barnetje Tuegeh dan Abd.Djalil.

Dari BKR/TKR Laut itulah kemudian berkembang menjadi kekuatan pertahanan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Dari markas BKR Laut Surabaya inilah mulai dikirim ekspedisi ke Sulawesi dalam rangka pembentukan Angkatan Laut Persiapan Seberang sekaligus memberikan spirit terhadap perjuangan perlawanan rakyat di Sulawesi Selatan menentang kehadiran tentara Sekutu/NICA. (Mahaji Noesa, Buku : A.Hamzah Tuppu patriot Bahari Titisan Galesong, Makassar 2002)